7. Brother or Partner?
“Siapa kau sebenarnya Xavier?” Tanya Natalie.
Aku harus jawab apa? “Aku? I’m your partner, Nat.”
“Bohong. Tidak mungkin kalau kau bukan siapa – siapa ku kau tidak mungkin sebaik ini.”
“Natalie, aku, aku…”
“What?!”
“Apakah perlu suatu penjelasan untuk berbuat suatu kebaikan? Apakah setiap kebaikan selalu ada upahnya?”
“Tidak, tetapi kebaikanmu berbeda, tidak mungkin ada teman atau partner yang benar – benar mengerti diriku seperti ini, masalahnya aku baru saja sedikit mempercayaimu, lain ceritanya kalau kita sudah akrab sejak dulu, kau berbeda.”
“Nat, kau boleh menyiksaku atau apapun, tetapi jangan, tolong jangan sekali – kali kau menanyakan pertanyaan yang aneh – aneh padaku, bisa?”
Natalie hanya diam, aku pun juga bingung harus bagaimana, ia seperti kehabisan kata – kata untuk menjawab rasa penasarannya.
Lalu aku melihat kearah Natalie, iya memejamkan matanya, aku bingung, apa yang terjadi, mungkinkah ia tertidur?
15 tahun yang lalu…
“Natalie, kau tidak ingin latihan hari ini? Kau tampak tidak bersemangat.” Tanya Alessandro, Natalie hanya tersenyum lalu berkata, “apa tidak ada libur untukku? Hari ini tanggal 9 January, ini ulang tahunku. Aku ingin istirahat, sejak umur 3 tahun, aku sepertinya tidak pernah merayakan ulang tahunku.”
Alessandro lalu mengingat memori itu, saat Natalie terlalu lelah, sehingga ia harus melewati hari ulang tahunnya di ranjang dengan tubuh lemas, lalu saat umur 4 tahun, iya harus berlatih keras dan latihan piano dan biola, untuk mengasah kemampuan tangannya, dan saat ulang tahun ke 5, dia harus menghabiskan waktunya untuk berlatih berburu, mungkin ia harus libur? Ia tidak pernah ulang tahun mengundang teman – temannya, mungkin…
“Apa yang kau inginkan, hari ini kau boleh libur.” Lalu wajah Natalie kecil yang murung sedikit ada pencerahan, ya, semakin dewasa Natalie, sifat cerianya semakin hilang, ini karena memang gen Natalie sudah rusak. Yang kemarin bisa tertawa layaknya anak normal, sekarang mungkin hanya senyuman – senyuman kecil nan licik. Alessandro tentu menyadari hal ini. Sudah 5 bulan lebih Natalie berlatih bersama Alex, dan El, ibunda Alex harus hijarah dari kediamannya sekarang dan pindah ke London, ini membuat hari itu adalah hari terakhir Natalie bertemu Alex.
“Ikutlah denganku Nat, ayo.” Natalie hanya diam saja, lalu Alessandro membawanya ke pinggir sebuah danau. “Aku pergi dulu ya.” Kata Alessandro lagi. Lalu tidak lama, Alex datang membawa keranjang piknik, “Happy birthday! Sekarang umurmu 6 tahun, Natalie.”
“Alex, whoa, terima kasih,” kata Natalie. Alex juga membawakan kue, blueberry cheese cake, ya, Natalie sangat suka sekali dengan keju.
Lalu mereka makan dan mengobrol bersama. Bermain selayaknya anak kecil, berlarian di hutan, dan pada saat sore hari, Alex mengajaknya naik perahu di danau. Lalu Alex berkata, “apakah pertemanan kita akan terus berlajut? Sampai kita dewasa?” lalu Natalie menjawab, “Tentu, kenapa?”
Alex hanya tersenyum, ya karena sebentar lagi mereka akan bepisah.
“Ke alamat manakah aku harus mencarimu, sahabatku?” Tanya Alex lagi, lalu sambil mendekatkan posisi perahu ke pingir danau.
“What are you talking about?” lalu mereka turun, dan Alex berkata lagi, “ini mungkin saat terakhir kau bersama Alex, karena aku harus pergi ke London, dan hidup disana, dan melanjutkan sekolah dasar disana.”
Betapa hancurnya hati Natalie, karena ia harus sendiri lagi. “Don’t go, please, stay here.” Ucap Natalie dengan suaranya yang terdengar sedih. “Aku harus pergi, selamat tinggal sahabatku, kita pasti bertemu kembali.”
Lalu Natalie menahan Alex dengan memegang tangannya. “Jangan tinggalkan aku, aku tidak mau sendiri lagi, please, tetap disini.”
Lalu Alex berbalik badan dan memeluk Natalie, “kita akan tetap bersahabat, jangan khawatir, okay?” lalu Alex melepas Natalie, dan mengucapkan kata terakhirnya, “selamat tinggal, Natalie.”
“No, no please, don’t go, Alex…” Natalie lalu berteriak dan mulai mengejar Alex, tetapi sebelum langkahnya melaju, ia ditahan Alessandro, “biarkan ia pergi, Natalie.”
“Al.”
Lalu untuk pertama kalinya setelah Natalie dilahirkan, ia menangis. Ia menagis tanpa suara, dan tanpa ekspresi, ya air matanya keluar begitu saja, dan ekspresi wajahnya tidak berubah sama sekali.
Natalie dewasa…
“Natalie?” aku mendengar suara Xavier manggilku. “Xavier, kau tahu, mengapa aku senang sekali pergi ke danau?”
Xavier hanya menggelengkan kepalanya, “agar aku tetap bisa mengingat “wajah sahabat kecilku, entah dimana ia berada sekarang.”
“Itu bagus, artinya kau tetap ingat dengan seseorang, seseorang yang pernah membuatmu bahagia. Iya kan?”
“Haha, tetapi aku sangat sedih karena harus kehilangannya, kau tahu? Sakit sekali rasanya, dibagian sini,” lalu Natalie memegang jantungnya, (dalam artian hati), natalie lalu melanjutkan pembicaraannya, “aku tidak mengerti mengapa, rasanya sakit sekali dibagian situ.”
“Aku mengerti Natalie, aku mengerti.”
“Sampai kapan kau akan menemaniku disini?”
“Sampai kapanpun. Kau akan kujaga terus, itulah perintah ibumu.”
Tadinya aku ingin bertanya berapa upahnya karena harus menjagaku yang menyebalkan ini? Tapi katanya jangan bertanya yang aneh – aneh, mungkin itu termasuk pertanyaan aneh. Jadi aku diam saja.
Keesokan harinya………………………………………………………………………………
“What the bloody hell??? Homeschooling?! Mama, are you lost your mind?” reaksiku ketika bangun pagi dan dikejutkan dengan berita bahwa Edwin akan belajar dirumahku, “sejujurnya mama sedikit meminta bantuan padamu sayang, kau akan menjadi guru piano bagi Edwin.”
“Hah? Kalau memang begitu, sepertinya lebih baik kalau Edwin disekolahklan di Demonita Royal School of Music?”
“Iya rencananya memang begitu, tetapi mengingat kalau nyawa Edwin terancam, sepertinya ia lebih baik homeschooling.”
“Whatever, but why me? Kenapa harus aku yang menjadi guru musiknya?”
“Kau kan alumni disitu, lagi pula kau kan juga berpengalaman dalam homeschooling.”
“Ya, karena sejak kecil aku homeschooling kecuali saat Senior High School dan kau menyekolahkanku di Demonita Royal School of Music.”
“Natalie, karena kau berpengalaman akan ini, lebih baik kau yang mengajarnya, mengerti? Berhematlah sedikit.”
“Kita bangsawan mama, keluarga kolongmerat yang hartanya dimana – mana, uang kita terlalu banyak, kenapa kita harus pelit? Tidak aku tidak mau.”
Mama hanya menggelengkan kepalanya dan entahlah, beberapa saat kemudian aku mengenakan pakaian selayaknya seorang guru. Mama benar – benar memakasaku. Jas hitam, kemeja tangan buntung putih, rok hitam, stoking putih, dan kaca mata kotak berwarna abu – abu. What? Kacamata? Mataku tidak bermasalah. Belum lagi rambutku yang tidak digerai, aku terlihat benar – benar seperti guru dengan rambut dikonde.
“Untuk apa kacamata ini?”
“Hmm, supaya lebih meyakinkan kalau kau memang seorang guru, lagi pula ini menggunakan kaca anti radiasi.”
“Hah? Itu penting?”
“Sejujurnya tidak, ini jadwal mata pelajaran Edwin.”
“Sains, sosial, bahasa Russia, ilmu beladiri, dan musik? Untuk pa dia belajar bahasa Russia? Mama bagaimana dengan posisiku di department of vampire?”
“Untuk posisimu kau tidak perlu khawatir, lagi pula kau kan bisa bahasa Russia, tidak masalah kan? Sudahlah, Edwin sudah menunggu di ruang belajarnya, cepat.”
Ini sudah gila, aku bisa mati kebosanan karena tidak menghajar sesuatu. Dan menjadi guru? Ini benar – benar kegilaan yang menyiksa, mama itu sebenarnya apa? Apa yang ia rencanakan? Dan mengapa aku harus menjalani semua ini?
Lalu aku masuk keruang belajarku, ya ruangan ini adalah ruangan diwaktu aku menjalani masa homeschooling. Dan Edwin sudah menunggu, dengan pakaian rapih. Sepertinya ini seragam? Kemeja, jas celana bahan dan pantopel? Whatever…
“Biar kutebak, kau akan menyiksaku bukan?” celetuk Edwin.
“Bagus kalau kau cepat tanggap, kau ingin belajar apa sekarang?”
Lalu Edwin menunjuk kearah meja belajar, dan disitu sudah terdapat buku sejarah musisi legendaris, tetapi kalu kulihat jadwal, seharusnya belajar sains.
“Sekarang fisika, keluarkan buku fisikanya.” Kataku, “aku tidak mau belajar itu, aku maunya musik. Ya sedikit beladiri, karena dalam beladiri ada gerakan seninya.”
“Fisika, kau butuh pelajaran ini.” Kataku semakin tegas, Edwin mangkin terlihat jengkel. Lalu aku mulai mengajarinya, ini bab mudah, bab listrik. Ia cepat tanggap dan mudah mengerti, sebenarnya anak ini pintar, setelah itu kita belajar biologi, biologi vampire tentu berbeda, ya, karena kita ada bab khusus, yaitu susunan anatomi tubuh vampire. Kali ini Edwin sedikit kewalahan dengan jantung vampire, walaupun secara teknis ia bisa.
“Aku masih tidak mengerti, dengan 4 bilik ini, perbedaan jantung manusia dan jantung vampire salah satunya adalah manusia mempunyai 2 bilik, bilik kanan dan kiri, kenapa jantung vampire bikinya ganda?”
“Disini sudah dijelaskan, karena peredaran darah kita 5X lebih cepat dari manusia, dan produksi darah kita lebih besar, dibutuhkan tenaga extra untuk ini, paham?”
“Lalu kenapa? Kenapa aku hanya punya 2 bilik? Apa artinya aku akan mati?”
“Apa yang kau bicarakan?”
“Miss. Clyde, aku hanya mempunyai 2 bilik jantung. Lalu bagaimana dengan hidupku? Apa penawar racun akan membuat jantungku tumbuh?”
Aku harus jawab apa? Jadi intinya aku sedang mengajarkan seorang anak yang akan segera meninggal?
“Jawab aku, Miss. Clyde, guru homeschooling-ku.”
“Edwardian Burney, dengarkan aku, apapun yang ada di dalam tubuhmu, kita tetap sama, aku dan aku, kita sama – sama vampire murni, kita tidak berbeda, dan kita harus memperjuangkan hidup kita tersebut, mengerti? Bisakah kita belajar lagi?”
Edwin hanya diam, dia seperti tidak terima tentang apa yang terjadi dengan tubuhnya, lalu aku berkata lagi, “jangan bahas hal yang aneh – aneh, okay? Aku tahu kau begitu terpukul akan tubuhmu, aku yakin kita bisa memperbaikinya, that’s why, you here. Untuk mendapat yang lebih baik, kau mengerti?” lalu Edwin hanya tersenyum, dan dengan lantang aku berkata, “siapa itu? Siapa yang mengintip itu?” kataku tanpa menengok sedikitpun kearah pintu.
“Ini aku. Maaf kalau mengganggu, aku akan menunggumu diluar.” Katanya, jelas, dia Xavier.
Lalu aku melanjutkan kegiatanku. Aku kembali menjelaskan tentang susunan jantung vampire, dan akhirnya kita memasuki pelajaran terakhir, bahasa Russia.
“Mana buku panduan bahasa Russia-nya?” Tanyaku pada Edwin.
Ia hanya menggelengkan kepala, huh menyusahkan sekali, lalu aku pergi ke perpustakaan dan mengambil buku panduan bahasa Russia. Masalahnya aku juga lupa-lupa ingat jadi aku butuh panduan, aku sebenarnya bisa tetapi harus langsung praktek. Aku masuk ke perpustakaan, dan mulai mencari bukunya, nah ini dia, tunggu, siapa itu? Pria berkacamata sedang membaca buku. Entah buku apa, sepertinya aku belum pernah melihatnya, eh dia? Xavier? sejak kapan ia memakai kacamata?
“Apa kau Xavier?” aku bertanya, sepertinya ini pertanyaan bodoh. “Tentu saja. Kau lupa padaku?” responnya. Aku diam saja, terpana akan wajanhya yang berbeda, maksudku, ia well, secara teknis memang tampan sekali, tetapi dengan kacamata ini, ia terlihat tampan sekali, apa yang kupikirkan? Kenapa aku terdiam mendadak seperti ini? Pasti tampangku terlihat bodoh. “Natalie? Kau kenapa?” Tanya Xavier tiba-tiba. “Tidak, hanya saja kau terlihat berbeda, sejak kapan kau memakai kacamata?”
“Mataku memang sudah kurang bagus, ini minus 1.”
“Kau memakai softlense selama ini?”
“Tidak, kalau membaca biasanya aku memang memakai kacamata. Kau pikir warna mata abu-abu ini palsu?”
“Tidak, tidak, kau hanya terlihat berbeda. Itu saja.”
“Kau kenapa berpakaian seperti guru? Serta kacamata? Kau ini guru tetapi kenapa terlihat ‘sexy’ seperti ini?”
“Ini paksaan mama, padahal aku juga tidak mau berpakaian seperti ini, ini karena aku harus mengajar Edwin, bahkan kacamata ini hanya kacamata biasa. Apa aku terlihat buruk? Sudah kuduga.”
“Tidak, pakaian ini cocok untukmu, hanya saja well,” lalu ia medekat dan melepas kacamataku, “begini kan lebih baik, aku suka warna matamu yang hijau.” Lanjutnya, aku diam saja, sejujurnya aku ingin bilang mataku dan mata kucing tidak ada bedanya, kenapa aku diam saja? Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya terhadap pria. Lalu mama masuk sambil merapihkan pergelangan tangannya dan berkata, “maaf kau harus menunggu lama Xavier,” lalu ia melihat kami berdua dan berkata lagi, “apa yang kau lakukan disini, Natalie?”
Lalu aku segera memakai kacamata ‘tidak penting itu’ dari tangan Xavier dan memakainya, aku tidak ingin ada masalah dengan wanita (baca: mama) itu, “Tidak aku hanya mengambil buku ini.” Kataku sambil meunjukan buku panduan belajar bahasa Russia. “Omong-omong, untuk apa pria ini disini?” tanyaku sambil menunjuk Xavier, bicaraku jadi kacau sepertinya, pasti tampangku terlihat bodoh sekali, “ini rumah mama, jadi terserah mama mau mengundang siapa saja, apa itu masalah?” kata mama.
“Tidak, lebih baik aku pergi dari sini, aku tidak ingin menggangu. Permisi.” Kataku, sepertinya nada bicaraku tadi kacau, lalu aku segera keluar dan menemui Edwin dan melanjutkan pembelajaran. Mama dan Xavier terlihat bingung dengan sikapku sepertinya, dan mama hanya menggelengkan kepalanya, kenapa aku jadi aneh begini?
Sisi Mirabella.
“Wow, kau berhasil mengubah anakku sepertinya, Xavier.” kataku.
“Tidak juga, ia masih kasar.”
“Aku ingin dengar semua laporanmu, ia lepas kendali lagi bukan? Karena itu aku rugi dan langsung memperbaiki danau Forbidden Hills.”
“Maaf, itu kecerobohanku, harusnya aku tidak meninggalkan dia.”
“Itu bukan salahmu, ia sudah jadi lebih sabar sekarang, terima kasih Xavier, teruslah seperti ini,” Xavier diam saja, lalu melanjutkan pembicaraanku, “aku tahu Xavier, aku berjanji akan membebaskanmu dari semua ini, setelah ini berakhir, kau silahkan pergi, kau bebas kemanapun tanpa harus mengikuti Natalie. Kau bisa meninggalkan dia.”
“Aku tahu, aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk anakmu.”
“Okay, sepertinya suasana menjadi tegang seperti ini, well, kembali ke rencana gila suamiku. Aku ingin rencana ini berjalan baik.”
______________________________________________________________________________
Sisi Natalie.
“Apa kau mengerti Edwin?” tanyaku pada Edwin.
“Well, secara teknis mengerti, tetapi kenapa kita harus belajar bahasa ini? Menurutku ini tidak penting.”
“Kau tidak boleh berbicara seperti itu. Memang pusat department vampire ada di London, tetapi Russia adalah rumah kedua kami, disanalah kita dilatih menjadi vampire yang kuat.”
“Okay, aku bosan guru Natalie. Bolehkah aku bermain gitar?”
“Jadwal kita hari ini adalah piano.”
“Mungkin kita bisa menjadi duo?” lalu Edwin bangkit dari kursi dan pergi keruang musik, aku hanya mengikutinya. “Ayo Natalie, okay kau mau jadi melod atau apa? Okay aku melod-nya ya.”
“Hey aku belum menjawabnya, okay.” Lalu ia mulai memetik gitar, aku tahu ini, ini lagu Depapepe, duo gitar dari Jepang, “jangan kau pikir aku tidak tahu, ini Depapepe - Summer Parade, iya kan?” lalu Edwin hanya mengangguk, luamyan juga tangannya, setelah itu aku menantangnya, “bagaimana kalau lagu ini?” lalu aku memainkan lagu dari Depapepe – Snow Dance, ya melod-nya memang susah, tapi aku bisa. Edwin hanya terheran-heran aku bisa memainkan lagu ini. Lalu ia mulai mengiringiku. “Whoa Natalie, tangamu hebat juga, aku sampai sekarang belum bisa lagu ini. Dan untuk memainkan Summer Parade, butuh waktu yang lama.” Kata Edwin, aku hanya tersenyum penuh kemenangan karena aku lebih hebat darinya. Aku mmempunyai peralatan lengakap diruang musikku, ada cello, grand piano, flute, harp, violin, saxophone dan gitar, ya lalu Edwin berjalan-jalan dan memasuki pintu yang ada diruangan ini, terpampang studio musik dengan sound system yang berkualitas tinggi, ada drum, bass, keyboard, dan dua gitar. Edwin terdiam seakan tidak bisa bicara, aku tahu yang ia pikirkan, belum lagi teknologi canggih yang ada untuk meng-compose sebuah lagu, “ini bukan apa-apa Edwin, aku tidak punya studio rekaman. Karena menurutku itu tidak penting.”
“Kau bercanda? Ini semua benar-benar hebat, ini lebih dari cukup.”
“Tetapi aku menutupi kekurangan tersebut dengan suatu hal, ayo ikut denganku keruang melukisku,” lalu aku mengajak Edwin ke studio lukis, saat melewati ruang santai dan ada perapian disitu, “kau bahkan bermain organ?” celetuk Edwin tiba-tiba. “Ya, dimusim dingin saat berkumpul dengan keluargaku, secara teknis biasanya kalau kita sedang berkumpul, ayo kita hampir sampai.” Kataku, lalu sampailah diruang lukisku, keramik berubah menjadi tatami, ya tatami adalah alas lantai di Jepang, dan ada alat musik Jepang seperti samisen, dan kecapi Jepang. “Aku biasa melukis disini, atau bermain alat musik ini. Aku hanya punya dua alat musik tradisional Jepang.” Jelasku, “hanya dua? Ini lebih dari cukup, lukisan yang bagus, aku suka yang ini, ini pasti kau lukis dengan kuku.” Kata Edwin sambil menunjuk kearah lukisanku yang bertema, ‘Devil Imagination’.
“Kau ini seniman yang hebat, kukira yang ada dipikiranmu hanya kekejaman saja.”
“Aku hargai pujianmu, aku bukan apa-apa karena aku baru 2 kali tampil di, dimana ya? Kau tahu panggung theater paling terkemuka di America?”
“Boardway?”
“Ya itu maksudku, sekali mendapat peran utama, dan juga peran pendukung.”
“Gila, kau ini hebat sekali.”
“Sejak kecil aku belajar semua ini, didampingi juga ilmu pengetahuan alam yang memadai, tetapi aku memainkan semua ini sendiri. Aku tidak punya teman yang cocok untuk berduet denganku, dan duo gitar tadi? Itu untuk pertama kalinya dilakukan dirumah ini.”
“Rumah ini?” Edwin terlihat bingung.
“Demonita Royal School of Music, itu sekolahku sejak sekolah dasar.jadi musik bukanlah hal asing bagiku, disana banya teman untuk diajak bermain musik disana, ya disana, bukan disini.”
“Keluargamu? Tunggu, Demonita? Itu sekolah musik vampire terbaik yang pernah ada, benar?”
“Ya, benar, dan aku lulusan dari universitas Evila Royal College of Music. Yang kualitasnya setara dengan Demonita, maksudku itu lanjutan dari Demonita.”
“Jadi kau kesepian bukan?” Tanya Edwin.
“Mungkin bisa dibilang begitu.” Jawabku dengan nada sedikit murung, ya sedikit murung.
“Tidak lagi. Keluargaku akan memainkan alat musik itu semua, jadi kau tidak akan bermain sendiri lagi, betul tidak?”
Aku diam saja, lalu Edwin keluar dan memberi tahu kakak-kakakknya, ya ia membuat rumahku yang sepi ini menjad ramai.
“Senorita Natalia?” sapa Xavier padaku nada bicaranya seperti petugas well, entah apa namanya yang jelas saat berjalan-jalan ke Italy tepatnya di Venice, pria yang menjalankan perahu di sungai Venice juga memanggilku seperti itu, “Natalia? Sejak kapan namaku berubah menjadi seperti itu?”
“Sudah selesai mengajarnya?”
“Sudah. Kau ada urusan apa dengan mama?”
“Kau tidak perlu tahu Natalie karena itu urusanku dengan Xavier, paham?” tiba-tiba mama lewat dan berkata seperti itu, “okay mom,”
“Omong-omong Xavier, kau kan jago bermai piano, aku bosan dengan alunan piano yang dimainkan Natalie,” lalau mama melirikku sinis, aku hanya memasang tampang sebal, lalu mama melanjutkan lagi “maukah kau memainkan lagu untuk kami?”
“Tentu Mirabella,” jawab Xavier. Lalu mama membisikku, “lepas saja jas dan sesuatu yang menempel dirambutmu, aku hanya ingin kau terlihat seperti guru, aku tahu kau merasa dirimu aneh dengan penampilas seperti ini.” Aku lalu melepas jas yang kukennakan dan ‘sesuatu yang menempel dirambutku’ dan kubiarkan saja tergeletak dilantai. Tak lama kemudian, kami semua berkumpul di ruang musik. “Sepertinya ada yang berbeda dari penampilanmu,” kata Xavier, “diam kau.” Jawabku. “Tetapi jujur, aku suka kacamatamu, Nat.” kata Xavier lagi, aki diam saja dengan tatapan sinis. Ya sekarang aku hanya memakai tank top putih dan rambut yang tergerai, aku lupa melepas kacamata ini, yasudahlah.
Xavier duduk di grand piano-ku, dan berkata, “lagu dari Edvin Marton, Love Story, maukah kau mengiringiku Natalie?”
“Tentu,” lalu aku mengambil biolaku, dan Xavier mulai memainkan lagunya. Aku juga mulai memainkan bagian biolanya, ya aku tahu persis lagu ini, tapi entah kenapa aku merasa lagu ini menggambarkan perasaan Xavier? memangnya ia sedang jatuh cinta? Jatuh cinta hanya membuang waktu bagiku. Aku memainkan biola dengan sebaik mungkin, mungkin setara dengan Edvin Marton itu sendiri, ya anggaplah itu khyalanku.
Setelah lagu selesai, lalu semua tepuk tangan, tunggu? Ternyata ada kakak-kakak Edwin disini, kenapa aku tidak menyadarinya?
“Wow, Natalie, itu keren. Kau bisa jadi saingan Scarlett.” Kata Farrell, “apa maksudmu Farrell? Kau meledekku?” celetuk Scarlett.
“Sejujurnya Natalie memainkan biolanya lebih baik dari kau Scarlett, jadi secara teknis Farrell tidak meledekmu, ia hanya berbicara yang sejujurnya memancing reaksi untuk ‘menyinggungmu’.” Jelas David.
“Itu sama saja bodoh.” Kata Scarlett, Edwin hanya menggelengkan kepalanya melihat kakak-kakakknya bertengkar. Lalu aku melihat ekspresi Xavier yang matanya masih tertuju pada piano, ekspresinya, ekspresi sedih. Kenapa dia?
Showing posts with label The Vampire's Documents: The Boy Who Must Be Killed. Show all posts
Showing posts with label The Vampire's Documents: The Boy Who Must Be Killed. Show all posts
Monday, June 28, 2010
Tuesday, May 25, 2010
6. (Sementara)
6. Medical check up
“WHAT?! Aku harus ikut menemani Edwin? Mama, oh please.” Kataku kaget karena mama hari ini mama mengejutkanku karena ia yang membangunkanku dan kejutannya adalah aku harus ikut menemani Edwin melakukan cek kesehatan konyolnya. What a surprise. Lalu aku bangun, mandi dan sarapan. Hari ini aku menggunakan go-go boot panjang berwarna putih, hot pans, tank top, dan coat panjang, dan semuanya serba putih. Ya bedanya kalau kepemakaman, aku memakai kemeja putih dan celana panjang putih, ya biasanya aku serba putih begini kalau ke pemakaman. Berbeda dengan orang – orang yang memakai baju hitam ke pemakaman, aku memakai baju putih.
“Kau mau kemana Natalie, pemakaman?” sapa mama saat aku turun dari tangga. “Anggap saja begitu.” Jawabku, “pemakaman kok memakai pakaian putih?” tanya David. “Beginilah Natalie, khusus ke pemakaman ia memakai baju serba putih, kalau pergi biasa jarang dia seperti ini, kalaupun ada warna putihnya, pasti tidak putih semua.” Terang mama, baguslah, aku tidak perlu menjelaskan, David hanya terheran, dan Farrell menggelengkan kepalanya.
“Apa aku ketinggalan sesuatu?” tiba – tiba Xavier datang, dengan kemeja garis – garis lagi, tetapi lebih rapih. “Jangan katakana kalu kau mengundang Xavier juga mama.”
“Mengundang apa? Memangnya ada apa? Aku kesini hanya diperintahkan ibumu, hanya itu.” Terang Xavier.
“Jadi kau tidak tahu? Kita akan mengantar bocah ini.” Kataku sambil melirik Edwin.
“Edwin?” Tanya Xavier lagi. Mama hanya menggelengkan kepala. “Natalie, aku harap kau bisa beradaptasi dengan lingkungan barumu.“ ancam mama dengan wajah yang tidak sedap dipandang.
Xavier hanya tersenyum, seakan meledekku, lalu aku membawa Ferrari ku sendiri sedangkan Edwin beserta pasukannya diantar oleh supirku, untung saja diantar dengan mobil mama, aku malas menyetir, jadi aku membiarkan Xavier yang menyetir.
Aku hanya cemberut sepanjang perjalanan. “Natalie, sudahlah, okay, aku sudah lama tidak melihatmu tersenyum, ternenyumlah, kau akan merasa lebih baik.” Xavier mencoba menghiburku. “Memangnya aku pernah tersenyum?”
“Kau lupa ya?”
Aku hanya memasang tampang bingung, karena aku memang jarang tersenyum, maksudnya bukan tersenyum licik seperti biasanya, maksudku tersenyum lepas, lalu aku mengingat – ingat kapan terakhir aku tersenyum bahagia. Kalau tidak salah, hmm, saat itu, tunggu kalu tidak salah, kenapa banyanganku langsung, ah ini saat itu, tiba – tiba aku mengingat saat kami bermain ke taman rekreasi, kami naik roller coaster, marry-go-round, boom – boom car, dan permainan lainya. Dan aku? Aku tertawa gembira. Seaakan tidak pernah merasakan masa remaja, ya memang aku kehilangan masa mudaku hanya untuk berlatih dan belajar. Aku benar – benar bingung, siapa sebenarnya dia? Siapa Xavier itu? Apakah dia saudaraku? Kenapa aku merasa kalau Xavier sudah mengenalku dengan sangat baik, padahal kami juga baru kenalnya, secara teknis, kami sudah lama saling mengenal, tetapi keakraban dan kekompakan kami baru terjalin, aku jadi curiga, apa dia memang betul saudaraku?
“Kau kenapa? Natalie, tampangmu kenapa seram dan panik begitu?” Tanya Xavier. “Tidak apa – apa,”
“Natalie, jangan menatapku seperi itu, seram sekali, apa aku menyakitimu? Maaf kalau begitu.”
“Tidak, aku, hmm, aku hanya bingung, tidak usah dipikirkan.”
“Okay.” Wajah Xavier jadi seperti orang kebingungan. Jangankan Xavier, aku sendiri juga bingung. Lalu tak lama kami sampai di rumah sakit, Prof. Clearwater sendiri yang melayani Edwin. Setelah itu, ia juga diperiksa oleh dr. Osborne.
Hasilnya Edwin harus di rawat beberapa hari untuk memastikan keadaanya stabil. Lalu aku menunggu diluar, dan tentu saja ditanganku sudah ada papan beserta keterangan kesehatan Edwin. Aku membacanya di taman, sambil bersandar aku membacanya, “ya ampun.” Celetukku.
Ya, badannya benar – benar lemah. Tulangnya, sama saja dengan tulang manusia, karena tulang vampire dua kali lebih kuat dari tulang manusia. Kulitnya lebih tipis dari biasanya, biasanya kalu vampire terluka, atau terkena luka bakar, paling lama 10 menit sembuhnya, Edwin? Paling cepat 1 jam akan sembuh, dan paling lama? Sebulan lebih. Lemaknya, tidak bisa melindungnya dan memberikannya cukup tenaga. Kalau daya imunitas tidak perlu diragukan lagi, ia memang lemah, tapi fisiknya? Kasihan sekali anak ini, bahkan bayi vampire yang baru lahir saja tulangnya masih lebih kuat. “Ayo tebak siapa aku?” tiba – tiba ada yang menutup mataku dengan kedua telapak tangan, hebat juga dia bisa menghilangkan hawanya, “Xavier? kau mau apa?” kataku datar. “Ketahuan ya? Padahal aku sudah berusaha menghilangkan hawaku.” Terang Xavier. “Secara teknis hawamu memang tidak terbaca, tetapi aku tahu tanganmu, dan bicara soal tangan, bisakah kau melepaskan cengkramanmu?” lanjutku.
“Ups, maaf.” Lalu Xavier melepaskan tangannya, “bagaimana kau tahu tanganku?” lanjutnya. Lalu ak menaru papan laporan itu dan berkata, “pertama, hanya kau yang laki – laki yang berani melakukannya, kedua, tidak mungkin wanita karena memang tekstur yang berbeda, dan ketiga, kau sering memegang tanganku, bahkan kalau kau tidak sadar, kau memegangnya sangat erat, puas dengan hipotesaku?” jelasku panjang lebar dengan nada yang sedikit judes.
Xavier diam saja, lalu ia memperhatikan tangan kirinya, “apa kau masih tidak percaya juga, Xavier?” dia tetap diam saja dan memperhatikan tangan kirinya. Huh, lalu aku maju dan mendekat, lalu memperlihatkan tangan kananku, “beda kan bentuk tangannya? Pentingkah bagimu mempermasalahkan tangan?” Xavier tetap diam saja, lalu aku menyetuh tangan krinya, seakan sedang memberikan high five tetap tidak terlepas. “Ukurannya beda kan?” kataku lagi, kali ini Xavier malah ‘bengong’. Aku juga merasa sedikit tegang, kenapa ya? Bukankah kita saudara? “Okay, apa kita harus mebahas ini?” kataku sambil melepas tanganku. Lalu Xavier memasukan tangannya ke saku celananya, lalu tersenyum heran. Lalu entah kenapa aku jadi ‘nyengir’ sendiri. Konyol rasanya kalu kita hanay memperdepatkan masalah tangan. “Nah, itu lebih baik, kalau kau tersenyum seperti itu.” Kata Xavier, eh iya juga ya, aku tersenyum? Entah kenapa aku jadi malu begini, aku tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dia benar – benar berbeda. Dia bisa membuatku senang, dan menghiburku? Tidak ada vampire atau siapapun yang bisa begini.
“Sudahlah, tidak perlu dibahas, lebih baik kita menengok Edwin, dia sudah selesai diperiksa.” Lanjut Xavier.
Aku hanya mengangguk. Lalu saat menuju kekamar Super VIP, ya sampai kamarnya saja Super VIP, sebegitu pentingkah anak itu?
Lalu aku melihat sosok wanita remaja, seperinya semuruan Edwin, ia berjalan bersama David. Aku diam saja, lalu mereka masuk, aku tidak langsung masuk kekamar Edwin, lalu saat anak gadis itu masuk, secara spontan Edwin berkata, “Amelia? Kau? Bagaimana bisa kau kesini?” hmm, jadi gadis itu bernama Amelia, gadis itu hanya tersenyum dan duduk disebelah Edwin, lalu dr. Osborne melewatiku dan Xavier, “kalian tidak masuk?” Tanyanya. “Hmm, apa itu Mary?” kataku, “ini? Hasil dari test Edwin, tak kusangka ia ia masih waras.” Tanpa panjang lebar, aku memanta dr. Osborne untuk menjelaskan segalanya, lalu ia bercerita panjang lebar, seperti tentang kemampuan Edwin, dan akhirnya ia membicarakan tentang inti dari test jiwa yang dilakukannya, “jadi begini, Nat, Xavier, Edwin bisa gila kapan saja, ia bisa kehilangan akalnya begitu saja, bukan berarti dia saiko, dan hal ini juga bukan berarti mentalonya lemah atau dia tidak bisa ditekan, ia bisa dimarahi dan tidak gampang bersedih, tetapi, suatu saat ia bisa gila mendadak. Dan ini memang belum terjadi, jika ini terjadi, kesembuhannya bisa sangat lama. Dan hal ini tidak bisa dipredeiksikan.”
Jelas dr. Osborne, mendengar hal itu, aku jadi tidak membencinya lagi, setidaknya ia memang menyebalkan, tetapi apakah ia tahu kalau ia akan gila? Apa mungkin ia sudah tahu duluan? Lalu Xavier bertanya, “apakah ia akan menjadi anak yang, hmm, keterbelakangan?”
“Dua kemungkinan atau mungkin satu kemungkinan, maksudku, ia bisa saja keterbelakangan, ia bisa saja menjadi gila, atau…” lalu kupotong pembicaraanya, “atau apa?”
“Atau besar kemungkinannya ia menjadi keterbelakangan lalu gila.” Jelasnya. Apa? Segitu parahnya? Lalu aku bertanya lagi, “mengapa hal ini bisa terjadi?”
“Effect dari racun yang diberikan olehnya dulu, ini agak mengganggu saraf otaknya.” Jawab dr. Osborne.
“Haruskah Edwin tahu akan hal ini?” Tanya Xavier.
“Ya, kurasa iya, kita tidak boleh menyembunyikan sesuatu dari dia. Yang jelas ia tidak pernah mengasah kemampuan mistisnya, terutama untuk mengetahui masa lalu, tetapi kalau ia terlalu mengasahnya juga mungkin ia bisa gila.” Jelas dr. Osborne lagi.
“Serba salah sekali hidupnya,” kataku, “hmm kalau begitu mungkin sebaiknya kita masuk,” celetuk Xavier. lalu aku bangkit dari kursi dan masuk ke kamar Edwin tanpa ketuk pintu terlebih dahulu. Lalu disusuh dengan Xavier dan dr. Osborne. “Apa aku mengganggu acara kalian?” kataku.
Lalu segera dr. Osborne menjelaskan kondisi psikis Edwin. Farrell terlihat stress dan David seperti memasang tampabg tidak percaya, Amelia hanya sedih, dan Edwin, Edwin wajahnya tetap santai, tetapi berubah jadi khawatir. “Apakah tidak cukup? Apakah tidak cukup dengan menyiksa kondisi fisik adikku ini, apa tidak cukup!!!” Kata David dengan nada akhir yang seperti orang yang marah. “David, sudahlah.” Farrell berusaha menenangkan, “Farrell, umurnya baru 15 tahun, ia sudah home schooling, ketika ia bermain, ia harus selalu diikuti pengasuh, Farrell, dia adik kita. Tetapi ia sudah menderita begitu saja.” David benar – benar kesal, bercampur sedih, wajahku- pun berubah menjadi prihatin, begitu juga dengan Xavier, “David, kita tidak bisa melakukan apa – apa, Prof. Clearwater bilang ia bisa sembuh.” Kata Farrell lagi.
“Ya, iya akan sembuh bila ia diberi penawar racun tingkat tinggi.” Kata David lagi, lalu Xavier seperti berbisik, “huh, Natalie…”
“What?” bisiku, tampang Xavier benar – benar seakan aku yang terkena racun, lalu ia hanya menggelengkan kepalanya. “Sudahlah, David, Farrell, kalian tidak perlu menghawatirkan aku, aku akan baik – baik saja dengan dukungan dari kalian.” Kata Edwin dengan wajah yang seakan malaikat, aku jadi tidak tega dengan anak ini. “Hey Ed, siapa gadis ini?” kataku berusaha mengalihkan suasana, “Oh, Mel, perkenalkanlah dirimu, ayo,” kata Edwin.
“Well, namaku Amelia, Amelia Jones. Aku sahabat Edwin dari kecil, senang bertemu denganmu.” Katanya sambil tersenyum. Lalu ia bangun dan menjulurkan tangannya, lalu aku menjabat tangannya dan berkata, “aku Natalie, dan ini temanku Xavier.” lalu Amelia juga berjabat tangan denga Xavier, dan berkata, “ya aku tahu kau, jadi ini yang namanya Natalie, cantik sekali.” Puji Amelia, aku hanya tersenyum, “kau tahu? Aku sudah mendengar banyak tentangmu, ya kuakui, kau memang terkenal. Kolongmerat Natalie, kemampuan - kemampuanmu, wow.” Kata Amelia lagi, dan aku hanya berkata, “haha, sejujurnya ibuku yang kolongmerat, bukan aku. Kau bisa mengunjungi Edwin sesukamu. Well, aku dan Xavier harus pergi, have a nice day everyone!” kataku, lalu aku segera menarik Xavier keluar, dengan tampang bodohnya Xavier hanya mengikutiku, “oh, please,” gerutuku. Xavier diam saja lalu aku mengajaknya ke kantin, aku memesan cheese burger dan lemon tea. Xavier memesan makanan yang sama, lalu aku duduk. “Kau kenapa?” Tanya Xavier. aku hanya menggelengkan kepala, lalu makanan datang. Didepanku duduk dua orang remaja, laki – laki dan perempuan. Lalu mereka seperti malu – malu tidak jelas dan well seperti memberikan ya, nafas buatan. Aku bingung memangnya salah satu dar mereka sakit asthma?
“Mereka itu kenapa sih?” kataku, “siapa Nat?” Tanya Xavier, lalu aku menunjuk orang didepanku, “oh, ya mereka mungkin sedang berpacaran. Bukitnya, sang pria memberikan kecupannya, apa itu masalah buatmu?”
“Hah? Kukira salah satu dari mereka sakit asthma, apa enaknya seperti itu?” kataku, lalu dengan nafsu yang besar, aku melahap burger-ku.
“Hahahahahahahahahaha, kau ini, kau sedang melawak ya? Itu kan sudah biasa Natalie, memangnya kau tidak pernah melakukan hal itu? Apa kau tidak pernah, hmm, pacaran?”
“Tidak, itu tidak penting menurutku, selama ini aku hanya memfokuskan diri tehadap kemampuanku. Aku tidak suka melakukan hal yang tidak penting bagiku.” Jelasku, lalu Xavier menjawab, “hmm, sejujurnya aku juga belum pernah,”
“Kalau belum pernah ya sudah, memangnya apa rasanya sampai mereka kok bahagia sekali?”
“Hmm, aku tidak tahu, kan aku juga belum pernah, tetapi,” tiba – tiba omongannya terhenti. Sambil melahap makannaku lalu kutanggap, “tetapi apa hah?” entah kenapa nafsu makanku jadi seperti ini. “whoa, santai saja Nat makannya,” kata Xavier, lalu aku meliriknya dengan lirikan sinisku. “Tetapi,” lalu Xavier membisiki ku, “tetapi aku rela, bila kau memintaku untuk memberikan kecupanku, aku mau melakukannya untukmu.” Lalu wajahnya menjauh dari telingaku, “hah?”
“Aku hanya bercanda Natalie, aku tidak mau mati ditanganmu.” Lalu Xavier mulai memakan makanannya dan aku juga mulai menghabiskan makananku, aku, kenapa ya? Sepertinya aku pernah mendengar seseorang mengucapkan kalimat yang sama, ‘aku tidak mau mati ditanganmu’. Kalimat itu membayangi telingaku, siapa ya? Ingatanku memang tidak terlalu bagus.
Ekspresi wajahku berubah menjadi menyeramkan, aku lalu melanjutkan makanku dan segera menghabiskannya, lalu aku meminum minumaku langsung habis seketika bsampai mengeluarkan bunyi, “whoa, santai Natalie, Natalie? Kau kenapa memasang tampang menyeramkan lagi?” kata Xavier, “kau ini, cerewet sekali.” Kataku, lalu aku berusaha mengingatnya, ‘aku tidak mau mati ditanganmu, aku tidak mau mati ditanganmu, aku tidak mau mati ditanganmu’ ah, kalau tidak salah…
15 tahun yang lalu…
“Latihan hari ini cukup, hari sudah sore, kita lanjutakna besok.” Kata Alessandro.
“Hey Alex, kau lumayan juga, minimal lebih baik dari sebelumnya.” Kata Natalie, “Nat, maaf kalau aku memang payah, tapi kan umur kita masih 5 tahun,” jawab Alex polos.
“Huh, okay, tapi kita adalah vampire, kita lebih istimewa bukan? Besok latihan lagi, okay?” jawab Natalie dengan penuh semangat.
“Okay, tapi Natalie, aku tidak mau mati ditanganmu.” Jawab Alex.
Natalie dewasa…
“Alex?” kataku tiba – tiba.
Xavier kaget, “siapa Alex yang kau maksud?”
“Eh, nothing.”
Ada apa denganku ini? Kenapa aku jadi ingat masa lalu? Aku terus mengingat masa laluku, aku bahkan baru menyadari, sebelum Xavier, aku juga pernah dekat dengan Alex, temanku diamasa kecil. Dia teman berlatihku. Alessandro juga yang mengajarkannya, dan dia, aku salah, bukan Xavier yang membuatku tertawa lepas, vampire pertama yang membuatku tertawa adalah Alex. Bahakan aku tidak tahu diaman dia. Sudahlah, mungkin Alex juga tidak ingat padaku. “Xavier, aku ingin pergi ke suatu tempat, tapi kali ini jangan kau ikut denganku, silahkan ikuti aku dengan catatan, jangan sampai aku tahu, bisa? Aku ingin sendiri.”
“Okay.” Jawab Xavier singkat, lalu aku bangkit dari kursiku, lalu pergi. Aku pergi kemanapun kakiku membawaku, entah kenapa kakiku yang dilapisi go-go boots putih ini membawaku ke taman kota. Aku berjalan – jalan saja, tiba – tiba aku melihat David, ia sepertinya sedang merenung, lalu aku hampiri dia dan dudk disebelahnya, “David, apa yang kau lakukan disini?”
“Hah? Kenapa kau ada disebelahku Natalie? Dan sejak kapan aku duduk disini? Sekarang aku baru percaya, ternyata memang kau bisa menghilangkan hawamu.”
“Ha? Baru aku duduk. Kau sedang apa disini David?”
“Entah, aku juga bingung, rasanya aku rindu piano dan gitarku.”
“Hmm, kalau kau ingin bernyanyi, bernyanyi saja, aku tantang kau, apa kau berani mengamen disini?”
“Whoa, Natalie, kau meragukanku? Siapa takut?!” lalu David berdiri, dan mulai bernyanyi, ia menghentakan kakinya, lalu bernyanyi seakan syuting video klip. Ia lalu mengeluarkan sapu tangan, dan meletakannya dibawah, orang – orang mulai datang dan menonton aksi David, aku hanya menggeleng – gelengkan kepalaku. Aku kenal lagu ini, Jonas Brothers – Still in Love with You. Dia menyanyikan lagu band favoritku. Wow. Aku serasa menonton musical theater.
Lalu aku maju, dan ikut menontonnya, ia lalu maju dan seakan bernyanyi untukku. Lalu ia mengitari kami, dan setelah ia selesai bernyanyi, ia member hormat dan banyak yang memberinya uang dan tepuk tangan. Aku serasa sedang menonton film ‘Mr. Bean: Holliday.’ Suara David memang bagus, lalu aku tepuk tangan untuknya. Lalu David memungut upah mengamennya dan memasukannya kedalam sakunya.
“Wow, kau bisa menjawab tantanganku. Hebat, kenapa kau menyanyikan lagu Jonas Brothers?”
“Aku suka mereka dan menurutku lagunya enak untuk dibuat menari, kenapa?”
“Jujur, aku fans berat mereka, well, banyak yang tidak menyangka wanita sangar sepertiku bisa mengagumi mereka. Mereka mengira selera musiku Gothic Rock, Rock, Punk, aku juga suka lagu Rock, dan lagu Jazz. Tetapi favoritku adalah Jonas Brothers. Lagu – lagunya membuatku semangat.” Jelasku.
“Wow, aku terkejut, omong – omong, kenapa kau ada disini?”
“Mencari udara segar. Hmm, aku punya lengkap koleksi alat musik, kalau kau mau, kau bisa pinjam gitarku, tetapi berjanjilah, untuk menyanyikanku sebuah lagu. Okay?” David hanya menganggukan kepalanya, aku merasakanhawa Xavier, kenapa aku baru merasakannya sekarang, secara logika, harusnya kalau ia memang mengikutiku, aku merasakannya dari tadi. Lalu aku menengok kebelakang, aku sempat melihat tampangnya, ia seperti orang yang sedang kesal, lalu hawanya hilang, sepertinya ia pergi.
Lalu aku berjalan – jalan sebentar dengan David. Kami mengobrol – ngobrol, ternyata David nyaman juga kalau diajak berbicara, ia juga pernah belajar jurus – jurus ninja saat berumur 7 tahun, jadi ia tahu beberapa. Berbeda denganku yang dari umur 4 tahun sampai umur 18 tahun terus mempelajari dan berlatih. Gila memang kalu kuingat masa kecilku, masa kecilku? Lalu tiba – tiba seperti muncul lagi, bayangan masa kecil. Lalu aku bertanya, “berapa umurmu?” lalu David menjawab, “18 tahun, aku sebenarnya ingin melanjutkan sekolah musikku disini.” Aku hanya menganggukan kepala. Kalau membicarakan masa laluku, kalau dipikir – pikir, aku sudah lama tidak bertemu dengan Alessandro. Terakhir aku menemuinya di Moscow. Saat membantu para vampire kanibal yang seakan kerasukan iblis. Bahkan mereka seperti menciptakan klonling vampire, banayk sekali musuh saat aku bertarung di Moscow, kalau mengingatnya sangat menyeramkan sekali, aku hampir mati saat bertarung di Moscow, untung warga Paris tidak terlalu dirsahkan oleh komplotan Ernesto, Silver, Venn. Keluarga Silver dan Venn sudah seperti iblis, kalu Ernesto seperti setan, mereka lebih dari itu. “Natalie, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu? Biasanya kau bersama Xavier, kemana dia?”
“Memangnya aku harus selalu bersama dia?”
“Tidak juga sih, ku pikir, Xavier itu kekashimu, ternyata bukan.”
“Hah? Dia adalah partner yang baik, bukan berarti dia kekasihku.”
“Ups, maaf, aku menyangka begitu bukan tanpa alasan, Xavier, saat ia menatapmu, rasanya berbeda saja, walau kau biasa saja menatapnya.”
“Memangnya ia menatapku seperti apa? Jangan berlebihan, ia itu memang fokus dan teliti. Lagi pula, kurasa ia saudaraku.”
“Maksudmu?”
“Sudahlah lupakan, aku sudah menganggapnya sebagai saudaraku sendiri.”
Sisi Xavier…
Hmm, saudara ya, tidak masalah, maaf Natalie, aku sudah berbohong padamu. Inilah misiku. Misi dari ibumu, untuk melindungimu selalu, sejak tadi aku selalu mengikutimu, aku rela berlatih keras hanya untuk melindungimu, karena itu tugasku. Sebenarnya, sejak dulu, aku selalu melindungimu, bukan hanya sekarang saja, sejak kau masuk sekolah lanjutan tingkat pertama, lalu saat kau masuk sekolah menengah pertama, bahkan saat masa itu, aku sempat hampir mati karena melindungimu, tanap ketahuan olehmu, tanpa kau sadari, semua yang kulakukan, untuk melindungimu.
Aku rela, kehilangan masa mudaku, demi kau, aku rela menolak semua wanita yang menginginkanku demi kau, aku rela tidak menjalin kasih dengan wanita, itu juga demi kau. Aku rela melakukan semuanya, untukmu. Semuanya kulakukan untuk menyelamatkanmu, karena kau adalah calon pemimpin vampire generasi selanjutnya. Aku rela melakukan semuanya, bahkan aku rela jatuh cinta padamu. Sejak kecil, aku sudah menyukaimu, tetapi semakin lama, aku semakin hanyut pada perasaanku, semakin tumbuh dewasa, semakin aku jatuh hati padamu. Aku rela mati untukmu, bahkan aku rela disiksa olehmu, karena tugas terberatku adalah mengajarimu, agar kau lebih memiliki perasaan. Kau tahu Natalie? Betapa susahnya diriku untuk bersabar menanganimu? Tetapi aku rela, sejujurnya, semua kulakukan bukan karena misiku, aku, aku rela melakukan semua ini karena aku memang mencintaimu.
Tetapi, untuk mendapatkanmu, rasanya tidak mungkin, karena kemungkinan untukmu jatuh cinta sangatlah tipis, aku bahkan masih ingat perkataan Megan sebelum kita pergi ke Bali,
Sebelumnya…
“Xavier, jagalah anakku, aku tahu, selama ini kau sudah jatuh hati padanya, iya kan? Tetapi ini demi kebaikanmu, Xavier, kau tahu kan, Natalie itu seperti apa, kemungkinannya untuk jatuh cinta sangatlah tipis, kuharap kau mengerti, karena setelah semuanya berakhir, kusarankan kau menjauhi anakku.” Jelas Megan.
“What?”
“Sudah kuduga reaksimu seperti itu, baiklah, aku tidak memaksamu, tetapi, aku tidak tega melihatmu seperti ini, dari kecil, kurasa jika kau menjauhi anakku, kau akan bebas, Xavier.”
………………………………………………………………………………………………………
Masih teringat jelas perkataannya, Natalie, aku bahkan tidak yakin kau akan jatuh hati padaku, vampire sepertimu, karena sejujurnya, gen yang ada dalam dirimu sudah hancur. Itu sebabnya, sifatmu tidak beraturan.
Ya, aku, obsesiku untuk memilikimu, setiap aku bersamamu, rasanya seperti ingin mati saja, karena aku tidak yakin apakah aku tetap bisa melihatmu? Suatu kehormatan rasanya melihatmu tersenyum, karena aku tidak yakin, apakah senyumanmu yang kau berikan padaku, akan menjadi senyuman terakhirmu? Wanita yang jarang tersenyum sepertimu mampu meracuni hatiku, mampu menusuk tulangku, dingin sekali rasanya, tersiksa setiap hari, aku hanya bisa menahan diriku, untuk memilikimu. Sial, andai saja kau tidak diracuni waktu itu, andai saja pemberontakan yang haus kekuasaan ini tidak terjadi, mungkin, mungkin aku dapat memilikimu semudah membaikan telapak tanganku.
Kau bahkan dapat menjadi vampire yang normal dan ceria, tidak seperti sekarang, vampire yang gelap dan penuh dendam, vampire yang haus akan membunuh, vampire yang dapat membunuh dengan mudahnya, lalu tersenyum bila melihat korban yang mati ditangannya. Rasanya aku seperti jatuh cinta pada monster, dan aku harus menerima kenyataan ini. Aku bahkan belum dapat mengubahmu 100% sesuai harapan ibu dan ayahmu, maaf Natalie, sejujurnya aku tahu siapa ayah biologismu, pria yang menghamili ibumu, dan kau tahu? Aku sungguh tersiksa akan kebohongan ini, akan wajah palsuku, yang selalu mengikutimu. Mungkin aku bodoh, karena aku rela menyiksa diriku seperti ini, rela menyiksa batinku seperti ini…
Maafkan aku, Natalie…
Maafkan aku…
Lalu tiba – tiba Natalie menengok kebelakang, ia seperti merasakan bahwa ada seseorang yang mengikutinya, ya mungkin ia tahu aku mengikutinya, lalu ia berkata, “David, apa kau mau kembali kerumah sakit?”
“Ya, hari sudah sore, ayo kembali.” Jawab David.
Mereka ingin kembali, aku harus mendahului mereka, aku harus membuat Natalie mengira aku tidak mengikutinya. Lalu aku berlari sekencang mungkin, aku harus lebih dahulu sampai dirumah sakit, walau aku tahu jarak dari sini kerumah sakit tidaklah dekat, tapi aku vampire, lariku jauh lebih kencang dari pada manusia, kurang lebih 5 menit aku sudah sampai, lalu aku langsung menuju keruangan Edwin. Disana ada Farrell dan Amelia. Aku mengetuk pintu, lalu masuk. Natalie dan David belum sampai. “Wow, Xavier, kukira kau bersama Natalie?” Tanya Farrell, aku hanya menggelengkan kepala, “apa kau melihat David?” Tanya Farrell lagi, “memangnya dia pergo kemana?” Tanyaku balik.
Lalu tiba – tiba seseorang membuka pinta, “Aku disini,” katanya, rupanya David, “whoa, kau dari mana saja David?” Tanya Edwin. “Mencari udara segar, dan aku juga mendapat banyak uang receh.” Jawabnya.
“Mengamen lagi?”Tanya Farrell, David hanya mengangguk, sepertinya memang David berpengalaman mengamen. Aku hanya tersenyum, tetapi dimana Natalie? “Jika kau mencari Natalie, ia, sejujurnya aku juga tidak tahu dia dimana, walaupun secara teknis ia bersamaku tadi.”
“Secara teknis? Maksudmu kau tadi bersama Natalie?” Farrell berbicara lagi.
“Ya, sejujurnya tadi kami tidak sengaja bertemu ditaman dan ia menantangku mengamen, ya kulakukan, lau kita mengobrol sebentar dan saat aku sampai ke kamar ini, ia yang tadinya ada disebelahku…”
“Intinya tidak ada kan?” kata Farrell. David hanya mengangguk dan tersenyum bodoh. Dimana Natalie? Biasanya disaat seperti ini, dia, mungkin saja.
“Kau tidak mencarinya Xavier?” Tanya David.
“Eh?”
“Iya, maksudku, sebaiknya kau mencarinya, karena, sepertinya ia sedang stress, carilah dia Xavier.” jawab David. Lalu aku segera keluar dan mencarinya, aku mencari mobilnya di tempat parkir dan mobilnya tidak ada. Mungkinkah ia ketempat itu? Aku segera keluar dan sialnya ada kecelakaan, aku terpaksa berlari sekuat tenaga, ya berlari ala vampire.
Dengan secepat kilat aku mulai berlari, ketempat itu.
Hawa ini, firasatku tidak enak, lalu saat sampai di pintu gerbang Jetsetter Residence aku bertanya kepada keamana disitu, dan katanya ya, Natalie sudah datang 5 menit yang lalu. Lalu aku meminjam motor keamanan tersebut, dan segera menuju tempat itu.
Lalu aku sampai di danau didaerah Forbidden Hills, ya, itu disana ada danau buatan yang sangat jernih, biasanya memang kalau Natalie sedang banyak pikiran, ia pasti kesini.
Lalu aku berhenti, dan what the hell? Natalie baru 5 menit masuk kesini dan ia sudah hampir menghancurkan daerah ini.
Aku segera menghentikannya, ya rumput – ruput mulai tertata tidak rapih, pohon – pohon berantakan, bahkan ada yang tumbang, dan ia bersikap seperti monster.
“Enough Natalie, Natalie…” kataku yang segera berlari menenangkan dirinya, aku langsung menangkapnya dari belakng dan mengunci tangannya, Natalie yang berteriak seakan kerasukan setan, ya jika kondisinya tidak stabil ini yang terjadi. “Natalie, cukup sudah, Natalie, please…” kataku. Aku benar – benar sedang menenangkan vampire yang sedang sakit jiwa. Natalie benar – benar kehilangan akal sehatnya kurasa. Natalie lalu mulai mengambil nafasnya, dan mulai tenang, apakah dia menyadarinya, kalau aku sedang memeluknya wlau dari belakang?
Apa yang kupikirkan? Aku harus professional akan ini. “Say something.” Kataku, “ah, hah, hah,” Natalie seperti mengambil nafas dengan paksa selayaknya orang yang menangis, tetapi dia tidak memangis, “apa yang baru saja aku lakukan?” kata Natalie. “Seperti yang kau lihat, kau baru saja memulai mengacak – acak. Untung aku segera datang.”
“Ini, ini terjadi lagi?”
“Maksudmu?” aku pura – pura tidak tahu, yah al ini pernah terjadi sebelumya, dan di hari itu, dia hampir mengnacurkan rumanhnya. Disaat itu ibunya yang menenangkannya. “Aku pernah melakukan hal ini tanpa sadar sebelumnya, Xavier, apa yang terjadi padaku?”
Aku diam saja, ya mungkin ia memang sudah tenang. Lalu aku sedikit melemaskan tanganku yang menahannya, lalu Natalie balik badan dan mendekap padaku, ia seperti seseorang yang sedang ketakutan dan kedinginan, tangannya menyentuh pundakku, dan berkata “tolong aku, tolong aku, tolong aku…”
“Natalie, kau aman sekarang, okay, kau bisa pulang dengan tenang.”
“Bolehkah aku mengatakan sesuatu, yang kubutuhkan hanyalah berbicara.”
“Lebih baik kita duduk dulu,” lalu ia melepasku dan kami duduk, lalu ia mulai berbicara lagi, “aku tidak tahu apa yang terjadi padaku, aku menyadarinya, aku memang sangat tidak berperasaan, aku sendiri bingung kenapa,”
“Aku, tidak tahu, suatu saat pasti kau bisa merubahnya.”
“Ibuku, dia tidak pernah mengatakan apa – apa kepadaku, kau tahu bagaimana rasanya? Rasanya seperti tidak punya orang tua, sama saja, aku hanya penerus bisnis – bisnisnya, dan ia tidak pernah memikirkan perasaanku,” lalu ia menghela nafas, lali ia menyandarkan kepalanya dipundakku, apa? Ia menyandarkan kepalanya dikepalaku, kenapa aku ini? Lalu ia lanjut berbecara, “terima kasih ya, kau baik sekali Xavier, kau tahu bagaimana rasanya? Bagaimana rasanya diacuhkan oleh orang tuamu sendiri?”
“Sama – sama Natalie, aku akan selalu menemanimu, kau tidak perlu khawatir, kau tidak sendirian.”
“Huh? Xavier, siapa kau sebenarnya? Rasa tanggung jawabmu terhadapku, apa benar, apa benar kalau kita punya hubungan darah? Apa benar kau saudaraku? Xavier jawab aku.”
“WHAT?! Aku harus ikut menemani Edwin? Mama, oh please.” Kataku kaget karena mama hari ini mama mengejutkanku karena ia yang membangunkanku dan kejutannya adalah aku harus ikut menemani Edwin melakukan cek kesehatan konyolnya. What a surprise. Lalu aku bangun, mandi dan sarapan. Hari ini aku menggunakan go-go boot panjang berwarna putih, hot pans, tank top, dan coat panjang, dan semuanya serba putih. Ya bedanya kalau kepemakaman, aku memakai kemeja putih dan celana panjang putih, ya biasanya aku serba putih begini kalau ke pemakaman. Berbeda dengan orang – orang yang memakai baju hitam ke pemakaman, aku memakai baju putih.
“Kau mau kemana Natalie, pemakaman?” sapa mama saat aku turun dari tangga. “Anggap saja begitu.” Jawabku, “pemakaman kok memakai pakaian putih?” tanya David. “Beginilah Natalie, khusus ke pemakaman ia memakai baju serba putih, kalau pergi biasa jarang dia seperti ini, kalaupun ada warna putihnya, pasti tidak putih semua.” Terang mama, baguslah, aku tidak perlu menjelaskan, David hanya terheran, dan Farrell menggelengkan kepalanya.
“Apa aku ketinggalan sesuatu?” tiba – tiba Xavier datang, dengan kemeja garis – garis lagi, tetapi lebih rapih. “Jangan katakana kalu kau mengundang Xavier juga mama.”
“Mengundang apa? Memangnya ada apa? Aku kesini hanya diperintahkan ibumu, hanya itu.” Terang Xavier.
“Jadi kau tidak tahu? Kita akan mengantar bocah ini.” Kataku sambil melirik Edwin.
“Edwin?” Tanya Xavier lagi. Mama hanya menggelengkan kepala. “Natalie, aku harap kau bisa beradaptasi dengan lingkungan barumu.“ ancam mama dengan wajah yang tidak sedap dipandang.
Xavier hanya tersenyum, seakan meledekku, lalu aku membawa Ferrari ku sendiri sedangkan Edwin beserta pasukannya diantar oleh supirku, untung saja diantar dengan mobil mama, aku malas menyetir, jadi aku membiarkan Xavier yang menyetir.
Aku hanya cemberut sepanjang perjalanan. “Natalie, sudahlah, okay, aku sudah lama tidak melihatmu tersenyum, ternenyumlah, kau akan merasa lebih baik.” Xavier mencoba menghiburku. “Memangnya aku pernah tersenyum?”
“Kau lupa ya?”
Aku hanya memasang tampang bingung, karena aku memang jarang tersenyum, maksudnya bukan tersenyum licik seperti biasanya, maksudku tersenyum lepas, lalu aku mengingat – ingat kapan terakhir aku tersenyum bahagia. Kalau tidak salah, hmm, saat itu, tunggu kalu tidak salah, kenapa banyanganku langsung, ah ini saat itu, tiba – tiba aku mengingat saat kami bermain ke taman rekreasi, kami naik roller coaster, marry-go-round, boom – boom car, dan permainan lainya. Dan aku? Aku tertawa gembira. Seaakan tidak pernah merasakan masa remaja, ya memang aku kehilangan masa mudaku hanya untuk berlatih dan belajar. Aku benar – benar bingung, siapa sebenarnya dia? Siapa Xavier itu? Apakah dia saudaraku? Kenapa aku merasa kalau Xavier sudah mengenalku dengan sangat baik, padahal kami juga baru kenalnya, secara teknis, kami sudah lama saling mengenal, tetapi keakraban dan kekompakan kami baru terjalin, aku jadi curiga, apa dia memang betul saudaraku?
“Kau kenapa? Natalie, tampangmu kenapa seram dan panik begitu?” Tanya Xavier. “Tidak apa – apa,”
“Natalie, jangan menatapku seperi itu, seram sekali, apa aku menyakitimu? Maaf kalau begitu.”
“Tidak, aku, hmm, aku hanya bingung, tidak usah dipikirkan.”
“Okay.” Wajah Xavier jadi seperti orang kebingungan. Jangankan Xavier, aku sendiri juga bingung. Lalu tak lama kami sampai di rumah sakit, Prof. Clearwater sendiri yang melayani Edwin. Setelah itu, ia juga diperiksa oleh dr. Osborne.
Hasilnya Edwin harus di rawat beberapa hari untuk memastikan keadaanya stabil. Lalu aku menunggu diluar, dan tentu saja ditanganku sudah ada papan beserta keterangan kesehatan Edwin. Aku membacanya di taman, sambil bersandar aku membacanya, “ya ampun.” Celetukku.
Ya, badannya benar – benar lemah. Tulangnya, sama saja dengan tulang manusia, karena tulang vampire dua kali lebih kuat dari tulang manusia. Kulitnya lebih tipis dari biasanya, biasanya kalu vampire terluka, atau terkena luka bakar, paling lama 10 menit sembuhnya, Edwin? Paling cepat 1 jam akan sembuh, dan paling lama? Sebulan lebih. Lemaknya, tidak bisa melindungnya dan memberikannya cukup tenaga. Kalau daya imunitas tidak perlu diragukan lagi, ia memang lemah, tapi fisiknya? Kasihan sekali anak ini, bahkan bayi vampire yang baru lahir saja tulangnya masih lebih kuat. “Ayo tebak siapa aku?” tiba – tiba ada yang menutup mataku dengan kedua telapak tangan, hebat juga dia bisa menghilangkan hawanya, “Xavier? kau mau apa?” kataku datar. “Ketahuan ya? Padahal aku sudah berusaha menghilangkan hawaku.” Terang Xavier. “Secara teknis hawamu memang tidak terbaca, tetapi aku tahu tanganmu, dan bicara soal tangan, bisakah kau melepaskan cengkramanmu?” lanjutku.
“Ups, maaf.” Lalu Xavier melepaskan tangannya, “bagaimana kau tahu tanganku?” lanjutnya. Lalu ak menaru papan laporan itu dan berkata, “pertama, hanya kau yang laki – laki yang berani melakukannya, kedua, tidak mungkin wanita karena memang tekstur yang berbeda, dan ketiga, kau sering memegang tanganku, bahkan kalau kau tidak sadar, kau memegangnya sangat erat, puas dengan hipotesaku?” jelasku panjang lebar dengan nada yang sedikit judes.
Xavier diam saja, lalu ia memperhatikan tangan kirinya, “apa kau masih tidak percaya juga, Xavier?” dia tetap diam saja dan memperhatikan tangan kirinya. Huh, lalu aku maju dan mendekat, lalu memperlihatkan tangan kananku, “beda kan bentuk tangannya? Pentingkah bagimu mempermasalahkan tangan?” Xavier tetap diam saja, lalu aku menyetuh tangan krinya, seakan sedang memberikan high five tetap tidak terlepas. “Ukurannya beda kan?” kataku lagi, kali ini Xavier malah ‘bengong’. Aku juga merasa sedikit tegang, kenapa ya? Bukankah kita saudara? “Okay, apa kita harus mebahas ini?” kataku sambil melepas tanganku. Lalu Xavier memasukan tangannya ke saku celananya, lalu tersenyum heran. Lalu entah kenapa aku jadi ‘nyengir’ sendiri. Konyol rasanya kalu kita hanay memperdepatkan masalah tangan. “Nah, itu lebih baik, kalau kau tersenyum seperti itu.” Kata Xavier, eh iya juga ya, aku tersenyum? Entah kenapa aku jadi malu begini, aku tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dia benar – benar berbeda. Dia bisa membuatku senang, dan menghiburku? Tidak ada vampire atau siapapun yang bisa begini.
“Sudahlah, tidak perlu dibahas, lebih baik kita menengok Edwin, dia sudah selesai diperiksa.” Lanjut Xavier.
Aku hanya mengangguk. Lalu saat menuju kekamar Super VIP, ya sampai kamarnya saja Super VIP, sebegitu pentingkah anak itu?
Lalu aku melihat sosok wanita remaja, seperinya semuruan Edwin, ia berjalan bersama David. Aku diam saja, lalu mereka masuk, aku tidak langsung masuk kekamar Edwin, lalu saat anak gadis itu masuk, secara spontan Edwin berkata, “Amelia? Kau? Bagaimana bisa kau kesini?” hmm, jadi gadis itu bernama Amelia, gadis itu hanya tersenyum dan duduk disebelah Edwin, lalu dr. Osborne melewatiku dan Xavier, “kalian tidak masuk?” Tanyanya. “Hmm, apa itu Mary?” kataku, “ini? Hasil dari test Edwin, tak kusangka ia ia masih waras.” Tanpa panjang lebar, aku memanta dr. Osborne untuk menjelaskan segalanya, lalu ia bercerita panjang lebar, seperti tentang kemampuan Edwin, dan akhirnya ia membicarakan tentang inti dari test jiwa yang dilakukannya, “jadi begini, Nat, Xavier, Edwin bisa gila kapan saja, ia bisa kehilangan akalnya begitu saja, bukan berarti dia saiko, dan hal ini juga bukan berarti mentalonya lemah atau dia tidak bisa ditekan, ia bisa dimarahi dan tidak gampang bersedih, tetapi, suatu saat ia bisa gila mendadak. Dan ini memang belum terjadi, jika ini terjadi, kesembuhannya bisa sangat lama. Dan hal ini tidak bisa dipredeiksikan.”
Jelas dr. Osborne, mendengar hal itu, aku jadi tidak membencinya lagi, setidaknya ia memang menyebalkan, tetapi apakah ia tahu kalau ia akan gila? Apa mungkin ia sudah tahu duluan? Lalu Xavier bertanya, “apakah ia akan menjadi anak yang, hmm, keterbelakangan?”
“Dua kemungkinan atau mungkin satu kemungkinan, maksudku, ia bisa saja keterbelakangan, ia bisa saja menjadi gila, atau…” lalu kupotong pembicaraanya, “atau apa?”
“Atau besar kemungkinannya ia menjadi keterbelakangan lalu gila.” Jelasnya. Apa? Segitu parahnya? Lalu aku bertanya lagi, “mengapa hal ini bisa terjadi?”
“Effect dari racun yang diberikan olehnya dulu, ini agak mengganggu saraf otaknya.” Jawab dr. Osborne.
“Haruskah Edwin tahu akan hal ini?” Tanya Xavier.
“Ya, kurasa iya, kita tidak boleh menyembunyikan sesuatu dari dia. Yang jelas ia tidak pernah mengasah kemampuan mistisnya, terutama untuk mengetahui masa lalu, tetapi kalau ia terlalu mengasahnya juga mungkin ia bisa gila.” Jelas dr. Osborne lagi.
“Serba salah sekali hidupnya,” kataku, “hmm kalau begitu mungkin sebaiknya kita masuk,” celetuk Xavier. lalu aku bangkit dari kursi dan masuk ke kamar Edwin tanpa ketuk pintu terlebih dahulu. Lalu disusuh dengan Xavier dan dr. Osborne. “Apa aku mengganggu acara kalian?” kataku.
Lalu segera dr. Osborne menjelaskan kondisi psikis Edwin. Farrell terlihat stress dan David seperti memasang tampabg tidak percaya, Amelia hanya sedih, dan Edwin, Edwin wajahnya tetap santai, tetapi berubah jadi khawatir. “Apakah tidak cukup? Apakah tidak cukup dengan menyiksa kondisi fisik adikku ini, apa tidak cukup!!!” Kata David dengan nada akhir yang seperti orang yang marah. “David, sudahlah.” Farrell berusaha menenangkan, “Farrell, umurnya baru 15 tahun, ia sudah home schooling, ketika ia bermain, ia harus selalu diikuti pengasuh, Farrell, dia adik kita. Tetapi ia sudah menderita begitu saja.” David benar – benar kesal, bercampur sedih, wajahku- pun berubah menjadi prihatin, begitu juga dengan Xavier, “David, kita tidak bisa melakukan apa – apa, Prof. Clearwater bilang ia bisa sembuh.” Kata Farrell lagi.
“Ya, iya akan sembuh bila ia diberi penawar racun tingkat tinggi.” Kata David lagi, lalu Xavier seperti berbisik, “huh, Natalie…”
“What?” bisiku, tampang Xavier benar – benar seakan aku yang terkena racun, lalu ia hanya menggelengkan kepalanya. “Sudahlah, David, Farrell, kalian tidak perlu menghawatirkan aku, aku akan baik – baik saja dengan dukungan dari kalian.” Kata Edwin dengan wajah yang seakan malaikat, aku jadi tidak tega dengan anak ini. “Hey Ed, siapa gadis ini?” kataku berusaha mengalihkan suasana, “Oh, Mel, perkenalkanlah dirimu, ayo,” kata Edwin.
“Well, namaku Amelia, Amelia Jones. Aku sahabat Edwin dari kecil, senang bertemu denganmu.” Katanya sambil tersenyum. Lalu ia bangun dan menjulurkan tangannya, lalu aku menjabat tangannya dan berkata, “aku Natalie, dan ini temanku Xavier.” lalu Amelia juga berjabat tangan denga Xavier, dan berkata, “ya aku tahu kau, jadi ini yang namanya Natalie, cantik sekali.” Puji Amelia, aku hanya tersenyum, “kau tahu? Aku sudah mendengar banyak tentangmu, ya kuakui, kau memang terkenal. Kolongmerat Natalie, kemampuan - kemampuanmu, wow.” Kata Amelia lagi, dan aku hanya berkata, “haha, sejujurnya ibuku yang kolongmerat, bukan aku. Kau bisa mengunjungi Edwin sesukamu. Well, aku dan Xavier harus pergi, have a nice day everyone!” kataku, lalu aku segera menarik Xavier keluar, dengan tampang bodohnya Xavier hanya mengikutiku, “oh, please,” gerutuku. Xavier diam saja lalu aku mengajaknya ke kantin, aku memesan cheese burger dan lemon tea. Xavier memesan makanan yang sama, lalu aku duduk. “Kau kenapa?” Tanya Xavier. aku hanya menggelengkan kepala, lalu makanan datang. Didepanku duduk dua orang remaja, laki – laki dan perempuan. Lalu mereka seperti malu – malu tidak jelas dan well seperti memberikan ya, nafas buatan. Aku bingung memangnya salah satu dar mereka sakit asthma?
“Mereka itu kenapa sih?” kataku, “siapa Nat?” Tanya Xavier, lalu aku menunjuk orang didepanku, “oh, ya mereka mungkin sedang berpacaran. Bukitnya, sang pria memberikan kecupannya, apa itu masalah buatmu?”
“Hah? Kukira salah satu dari mereka sakit asthma, apa enaknya seperti itu?” kataku, lalu dengan nafsu yang besar, aku melahap burger-ku.
“Hahahahahahahahahaha, kau ini, kau sedang melawak ya? Itu kan sudah biasa Natalie, memangnya kau tidak pernah melakukan hal itu? Apa kau tidak pernah, hmm, pacaran?”
“Tidak, itu tidak penting menurutku, selama ini aku hanya memfokuskan diri tehadap kemampuanku. Aku tidak suka melakukan hal yang tidak penting bagiku.” Jelasku, lalu Xavier menjawab, “hmm, sejujurnya aku juga belum pernah,”
“Kalau belum pernah ya sudah, memangnya apa rasanya sampai mereka kok bahagia sekali?”
“Hmm, aku tidak tahu, kan aku juga belum pernah, tetapi,” tiba – tiba omongannya terhenti. Sambil melahap makannaku lalu kutanggap, “tetapi apa hah?” entah kenapa nafsu makanku jadi seperti ini. “whoa, santai saja Nat makannya,” kata Xavier, lalu aku meliriknya dengan lirikan sinisku. “Tetapi,” lalu Xavier membisiki ku, “tetapi aku rela, bila kau memintaku untuk memberikan kecupanku, aku mau melakukannya untukmu.” Lalu wajahnya menjauh dari telingaku, “hah?”
“Aku hanya bercanda Natalie, aku tidak mau mati ditanganmu.” Lalu Xavier mulai memakan makanannya dan aku juga mulai menghabiskan makananku, aku, kenapa ya? Sepertinya aku pernah mendengar seseorang mengucapkan kalimat yang sama, ‘aku tidak mau mati ditanganmu’. Kalimat itu membayangi telingaku, siapa ya? Ingatanku memang tidak terlalu bagus.
Ekspresi wajahku berubah menjadi menyeramkan, aku lalu melanjutkan makanku dan segera menghabiskannya, lalu aku meminum minumaku langsung habis seketika bsampai mengeluarkan bunyi, “whoa, santai Natalie, Natalie? Kau kenapa memasang tampang menyeramkan lagi?” kata Xavier, “kau ini, cerewet sekali.” Kataku, lalu aku berusaha mengingatnya, ‘aku tidak mau mati ditanganmu, aku tidak mau mati ditanganmu, aku tidak mau mati ditanganmu’ ah, kalau tidak salah…
15 tahun yang lalu…
“Latihan hari ini cukup, hari sudah sore, kita lanjutakna besok.” Kata Alessandro.
“Hey Alex, kau lumayan juga, minimal lebih baik dari sebelumnya.” Kata Natalie, “Nat, maaf kalau aku memang payah, tapi kan umur kita masih 5 tahun,” jawab Alex polos.
“Huh, okay, tapi kita adalah vampire, kita lebih istimewa bukan? Besok latihan lagi, okay?” jawab Natalie dengan penuh semangat.
“Okay, tapi Natalie, aku tidak mau mati ditanganmu.” Jawab Alex.
Natalie dewasa…
“Alex?” kataku tiba – tiba.
Xavier kaget, “siapa Alex yang kau maksud?”
“Eh, nothing.”
Ada apa denganku ini? Kenapa aku jadi ingat masa lalu? Aku terus mengingat masa laluku, aku bahkan baru menyadari, sebelum Xavier, aku juga pernah dekat dengan Alex, temanku diamasa kecil. Dia teman berlatihku. Alessandro juga yang mengajarkannya, dan dia, aku salah, bukan Xavier yang membuatku tertawa lepas, vampire pertama yang membuatku tertawa adalah Alex. Bahakan aku tidak tahu diaman dia. Sudahlah, mungkin Alex juga tidak ingat padaku. “Xavier, aku ingin pergi ke suatu tempat, tapi kali ini jangan kau ikut denganku, silahkan ikuti aku dengan catatan, jangan sampai aku tahu, bisa? Aku ingin sendiri.”
“Okay.” Jawab Xavier singkat, lalu aku bangkit dari kursiku, lalu pergi. Aku pergi kemanapun kakiku membawaku, entah kenapa kakiku yang dilapisi go-go boots putih ini membawaku ke taman kota. Aku berjalan – jalan saja, tiba – tiba aku melihat David, ia sepertinya sedang merenung, lalu aku hampiri dia dan dudk disebelahnya, “David, apa yang kau lakukan disini?”
“Hah? Kenapa kau ada disebelahku Natalie? Dan sejak kapan aku duduk disini? Sekarang aku baru percaya, ternyata memang kau bisa menghilangkan hawamu.”
“Ha? Baru aku duduk. Kau sedang apa disini David?”
“Entah, aku juga bingung, rasanya aku rindu piano dan gitarku.”
“Hmm, kalau kau ingin bernyanyi, bernyanyi saja, aku tantang kau, apa kau berani mengamen disini?”
“Whoa, Natalie, kau meragukanku? Siapa takut?!” lalu David berdiri, dan mulai bernyanyi, ia menghentakan kakinya, lalu bernyanyi seakan syuting video klip. Ia lalu mengeluarkan sapu tangan, dan meletakannya dibawah, orang – orang mulai datang dan menonton aksi David, aku hanya menggeleng – gelengkan kepalaku. Aku kenal lagu ini, Jonas Brothers – Still in Love with You. Dia menyanyikan lagu band favoritku. Wow. Aku serasa menonton musical theater.
Lalu aku maju, dan ikut menontonnya, ia lalu maju dan seakan bernyanyi untukku. Lalu ia mengitari kami, dan setelah ia selesai bernyanyi, ia member hormat dan banyak yang memberinya uang dan tepuk tangan. Aku serasa sedang menonton film ‘Mr. Bean: Holliday.’ Suara David memang bagus, lalu aku tepuk tangan untuknya. Lalu David memungut upah mengamennya dan memasukannya kedalam sakunya.
“Wow, kau bisa menjawab tantanganku. Hebat, kenapa kau menyanyikan lagu Jonas Brothers?”
“Aku suka mereka dan menurutku lagunya enak untuk dibuat menari, kenapa?”
“Jujur, aku fans berat mereka, well, banyak yang tidak menyangka wanita sangar sepertiku bisa mengagumi mereka. Mereka mengira selera musiku Gothic Rock, Rock, Punk, aku juga suka lagu Rock, dan lagu Jazz. Tetapi favoritku adalah Jonas Brothers. Lagu – lagunya membuatku semangat.” Jelasku.
“Wow, aku terkejut, omong – omong, kenapa kau ada disini?”
“Mencari udara segar. Hmm, aku punya lengkap koleksi alat musik, kalau kau mau, kau bisa pinjam gitarku, tetapi berjanjilah, untuk menyanyikanku sebuah lagu. Okay?” David hanya menganggukan kepalanya, aku merasakanhawa Xavier, kenapa aku baru merasakannya sekarang, secara logika, harusnya kalau ia memang mengikutiku, aku merasakannya dari tadi. Lalu aku menengok kebelakang, aku sempat melihat tampangnya, ia seperti orang yang sedang kesal, lalu hawanya hilang, sepertinya ia pergi.
Lalu aku berjalan – jalan sebentar dengan David. Kami mengobrol – ngobrol, ternyata David nyaman juga kalau diajak berbicara, ia juga pernah belajar jurus – jurus ninja saat berumur 7 tahun, jadi ia tahu beberapa. Berbeda denganku yang dari umur 4 tahun sampai umur 18 tahun terus mempelajari dan berlatih. Gila memang kalu kuingat masa kecilku, masa kecilku? Lalu tiba – tiba seperti muncul lagi, bayangan masa kecil. Lalu aku bertanya, “berapa umurmu?” lalu David menjawab, “18 tahun, aku sebenarnya ingin melanjutkan sekolah musikku disini.” Aku hanya menganggukan kepala. Kalau membicarakan masa laluku, kalau dipikir – pikir, aku sudah lama tidak bertemu dengan Alessandro. Terakhir aku menemuinya di Moscow. Saat membantu para vampire kanibal yang seakan kerasukan iblis. Bahkan mereka seperti menciptakan klonling vampire, banayk sekali musuh saat aku bertarung di Moscow, kalau mengingatnya sangat menyeramkan sekali, aku hampir mati saat bertarung di Moscow, untung warga Paris tidak terlalu dirsahkan oleh komplotan Ernesto, Silver, Venn. Keluarga Silver dan Venn sudah seperti iblis, kalu Ernesto seperti setan, mereka lebih dari itu. “Natalie, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu? Biasanya kau bersama Xavier, kemana dia?”
“Memangnya aku harus selalu bersama dia?”
“Tidak juga sih, ku pikir, Xavier itu kekashimu, ternyata bukan.”
“Hah? Dia adalah partner yang baik, bukan berarti dia kekasihku.”
“Ups, maaf, aku menyangka begitu bukan tanpa alasan, Xavier, saat ia menatapmu, rasanya berbeda saja, walau kau biasa saja menatapnya.”
“Memangnya ia menatapku seperti apa? Jangan berlebihan, ia itu memang fokus dan teliti. Lagi pula, kurasa ia saudaraku.”
“Maksudmu?”
“Sudahlah lupakan, aku sudah menganggapnya sebagai saudaraku sendiri.”
Sisi Xavier…
Hmm, saudara ya, tidak masalah, maaf Natalie, aku sudah berbohong padamu. Inilah misiku. Misi dari ibumu, untuk melindungimu selalu, sejak tadi aku selalu mengikutimu, aku rela berlatih keras hanya untuk melindungimu, karena itu tugasku. Sebenarnya, sejak dulu, aku selalu melindungimu, bukan hanya sekarang saja, sejak kau masuk sekolah lanjutan tingkat pertama, lalu saat kau masuk sekolah menengah pertama, bahkan saat masa itu, aku sempat hampir mati karena melindungimu, tanap ketahuan olehmu, tanpa kau sadari, semua yang kulakukan, untuk melindungimu.
Aku rela, kehilangan masa mudaku, demi kau, aku rela menolak semua wanita yang menginginkanku demi kau, aku rela tidak menjalin kasih dengan wanita, itu juga demi kau. Aku rela melakukan semuanya, untukmu. Semuanya kulakukan untuk menyelamatkanmu, karena kau adalah calon pemimpin vampire generasi selanjutnya. Aku rela melakukan semuanya, bahkan aku rela jatuh cinta padamu. Sejak kecil, aku sudah menyukaimu, tetapi semakin lama, aku semakin hanyut pada perasaanku, semakin tumbuh dewasa, semakin aku jatuh hati padamu. Aku rela mati untukmu, bahkan aku rela disiksa olehmu, karena tugas terberatku adalah mengajarimu, agar kau lebih memiliki perasaan. Kau tahu Natalie? Betapa susahnya diriku untuk bersabar menanganimu? Tetapi aku rela, sejujurnya, semua kulakukan bukan karena misiku, aku, aku rela melakukan semua ini karena aku memang mencintaimu.
Tetapi, untuk mendapatkanmu, rasanya tidak mungkin, karena kemungkinan untukmu jatuh cinta sangatlah tipis, aku bahkan masih ingat perkataan Megan sebelum kita pergi ke Bali,
Sebelumnya…
“Xavier, jagalah anakku, aku tahu, selama ini kau sudah jatuh hati padanya, iya kan? Tetapi ini demi kebaikanmu, Xavier, kau tahu kan, Natalie itu seperti apa, kemungkinannya untuk jatuh cinta sangatlah tipis, kuharap kau mengerti, karena setelah semuanya berakhir, kusarankan kau menjauhi anakku.” Jelas Megan.
“What?”
“Sudah kuduga reaksimu seperti itu, baiklah, aku tidak memaksamu, tetapi, aku tidak tega melihatmu seperti ini, dari kecil, kurasa jika kau menjauhi anakku, kau akan bebas, Xavier.”
………………………………………………………………………………………………………
Masih teringat jelas perkataannya, Natalie, aku bahkan tidak yakin kau akan jatuh hati padaku, vampire sepertimu, karena sejujurnya, gen yang ada dalam dirimu sudah hancur. Itu sebabnya, sifatmu tidak beraturan.
Ya, aku, obsesiku untuk memilikimu, setiap aku bersamamu, rasanya seperti ingin mati saja, karena aku tidak yakin apakah aku tetap bisa melihatmu? Suatu kehormatan rasanya melihatmu tersenyum, karena aku tidak yakin, apakah senyumanmu yang kau berikan padaku, akan menjadi senyuman terakhirmu? Wanita yang jarang tersenyum sepertimu mampu meracuni hatiku, mampu menusuk tulangku, dingin sekali rasanya, tersiksa setiap hari, aku hanya bisa menahan diriku, untuk memilikimu. Sial, andai saja kau tidak diracuni waktu itu, andai saja pemberontakan yang haus kekuasaan ini tidak terjadi, mungkin, mungkin aku dapat memilikimu semudah membaikan telapak tanganku.
Kau bahkan dapat menjadi vampire yang normal dan ceria, tidak seperti sekarang, vampire yang gelap dan penuh dendam, vampire yang haus akan membunuh, vampire yang dapat membunuh dengan mudahnya, lalu tersenyum bila melihat korban yang mati ditangannya. Rasanya aku seperti jatuh cinta pada monster, dan aku harus menerima kenyataan ini. Aku bahkan belum dapat mengubahmu 100% sesuai harapan ibu dan ayahmu, maaf Natalie, sejujurnya aku tahu siapa ayah biologismu, pria yang menghamili ibumu, dan kau tahu? Aku sungguh tersiksa akan kebohongan ini, akan wajah palsuku, yang selalu mengikutimu. Mungkin aku bodoh, karena aku rela menyiksa diriku seperti ini, rela menyiksa batinku seperti ini…
Maafkan aku, Natalie…
Maafkan aku…
Lalu tiba – tiba Natalie menengok kebelakang, ia seperti merasakan bahwa ada seseorang yang mengikutinya, ya mungkin ia tahu aku mengikutinya, lalu ia berkata, “David, apa kau mau kembali kerumah sakit?”
“Ya, hari sudah sore, ayo kembali.” Jawab David.
Mereka ingin kembali, aku harus mendahului mereka, aku harus membuat Natalie mengira aku tidak mengikutinya. Lalu aku berlari sekencang mungkin, aku harus lebih dahulu sampai dirumah sakit, walau aku tahu jarak dari sini kerumah sakit tidaklah dekat, tapi aku vampire, lariku jauh lebih kencang dari pada manusia, kurang lebih 5 menit aku sudah sampai, lalu aku langsung menuju keruangan Edwin. Disana ada Farrell dan Amelia. Aku mengetuk pintu, lalu masuk. Natalie dan David belum sampai. “Wow, Xavier, kukira kau bersama Natalie?” Tanya Farrell, aku hanya menggelengkan kepala, “apa kau melihat David?” Tanya Farrell lagi, “memangnya dia pergo kemana?” Tanyaku balik.
Lalu tiba – tiba seseorang membuka pinta, “Aku disini,” katanya, rupanya David, “whoa, kau dari mana saja David?” Tanya Edwin. “Mencari udara segar, dan aku juga mendapat banyak uang receh.” Jawabnya.
“Mengamen lagi?”Tanya Farrell, David hanya mengangguk, sepertinya memang David berpengalaman mengamen. Aku hanya tersenyum, tetapi dimana Natalie? “Jika kau mencari Natalie, ia, sejujurnya aku juga tidak tahu dia dimana, walaupun secara teknis ia bersamaku tadi.”
“Secara teknis? Maksudmu kau tadi bersama Natalie?” Farrell berbicara lagi.
“Ya, sejujurnya tadi kami tidak sengaja bertemu ditaman dan ia menantangku mengamen, ya kulakukan, lau kita mengobrol sebentar dan saat aku sampai ke kamar ini, ia yang tadinya ada disebelahku…”
“Intinya tidak ada kan?” kata Farrell. David hanya mengangguk dan tersenyum bodoh. Dimana Natalie? Biasanya disaat seperti ini, dia, mungkin saja.
“Kau tidak mencarinya Xavier?” Tanya David.
“Eh?”
“Iya, maksudku, sebaiknya kau mencarinya, karena, sepertinya ia sedang stress, carilah dia Xavier.” jawab David. Lalu aku segera keluar dan mencarinya, aku mencari mobilnya di tempat parkir dan mobilnya tidak ada. Mungkinkah ia ketempat itu? Aku segera keluar dan sialnya ada kecelakaan, aku terpaksa berlari sekuat tenaga, ya berlari ala vampire.
Dengan secepat kilat aku mulai berlari, ketempat itu.
Hawa ini, firasatku tidak enak, lalu saat sampai di pintu gerbang Jetsetter Residence aku bertanya kepada keamana disitu, dan katanya ya, Natalie sudah datang 5 menit yang lalu. Lalu aku meminjam motor keamanan tersebut, dan segera menuju tempat itu.
Lalu aku sampai di danau didaerah Forbidden Hills, ya, itu disana ada danau buatan yang sangat jernih, biasanya memang kalau Natalie sedang banyak pikiran, ia pasti kesini.
Lalu aku berhenti, dan what the hell? Natalie baru 5 menit masuk kesini dan ia sudah hampir menghancurkan daerah ini.
Aku segera menghentikannya, ya rumput – ruput mulai tertata tidak rapih, pohon – pohon berantakan, bahkan ada yang tumbang, dan ia bersikap seperti monster.
“Enough Natalie, Natalie…” kataku yang segera berlari menenangkan dirinya, aku langsung menangkapnya dari belakng dan mengunci tangannya, Natalie yang berteriak seakan kerasukan setan, ya jika kondisinya tidak stabil ini yang terjadi. “Natalie, cukup sudah, Natalie, please…” kataku. Aku benar – benar sedang menenangkan vampire yang sedang sakit jiwa. Natalie benar – benar kehilangan akal sehatnya kurasa. Natalie lalu mulai mengambil nafasnya, dan mulai tenang, apakah dia menyadarinya, kalau aku sedang memeluknya wlau dari belakang?
Apa yang kupikirkan? Aku harus professional akan ini. “Say something.” Kataku, “ah, hah, hah,” Natalie seperti mengambil nafas dengan paksa selayaknya orang yang menangis, tetapi dia tidak memangis, “apa yang baru saja aku lakukan?” kata Natalie. “Seperti yang kau lihat, kau baru saja memulai mengacak – acak. Untung aku segera datang.”
“Ini, ini terjadi lagi?”
“Maksudmu?” aku pura – pura tidak tahu, yah al ini pernah terjadi sebelumya, dan di hari itu, dia hampir mengnacurkan rumanhnya. Disaat itu ibunya yang menenangkannya. “Aku pernah melakukan hal ini tanpa sadar sebelumnya, Xavier, apa yang terjadi padaku?”
Aku diam saja, ya mungkin ia memang sudah tenang. Lalu aku sedikit melemaskan tanganku yang menahannya, lalu Natalie balik badan dan mendekap padaku, ia seperti seseorang yang sedang ketakutan dan kedinginan, tangannya menyentuh pundakku, dan berkata “tolong aku, tolong aku, tolong aku…”
“Natalie, kau aman sekarang, okay, kau bisa pulang dengan tenang.”
“Bolehkah aku mengatakan sesuatu, yang kubutuhkan hanyalah berbicara.”
“Lebih baik kita duduk dulu,” lalu ia melepasku dan kami duduk, lalu ia mulai berbicara lagi, “aku tidak tahu apa yang terjadi padaku, aku menyadarinya, aku memang sangat tidak berperasaan, aku sendiri bingung kenapa,”
“Aku, tidak tahu, suatu saat pasti kau bisa merubahnya.”
“Ibuku, dia tidak pernah mengatakan apa – apa kepadaku, kau tahu bagaimana rasanya? Rasanya seperti tidak punya orang tua, sama saja, aku hanya penerus bisnis – bisnisnya, dan ia tidak pernah memikirkan perasaanku,” lalu ia menghela nafas, lali ia menyandarkan kepalanya dipundakku, apa? Ia menyandarkan kepalanya dikepalaku, kenapa aku ini? Lalu ia lanjut berbecara, “terima kasih ya, kau baik sekali Xavier, kau tahu bagaimana rasanya? Bagaimana rasanya diacuhkan oleh orang tuamu sendiri?”
“Sama – sama Natalie, aku akan selalu menemanimu, kau tidak perlu khawatir, kau tidak sendirian.”
“Huh? Xavier, siapa kau sebenarnya? Rasa tanggung jawabmu terhadapku, apa benar, apa benar kalau kita punya hubungan darah? Apa benar kau saudaraku? Xavier jawab aku.”
5. (Sementara)
5. Edwin Burney aka Edwardian Fadel Burney
“Membantu anda? Bantuan seperti apa?” Tanya Xavier.
“Bawa Edwin berserta kakak – kakaknya meninggalkan Bali. Aku percaya dengan tenaga dan kemampuan Hercules Natalie, anak – anakku akan aman, terutama Edwin.”
Sisi Edwin…
“Edwin, maaf tuan, ada Ravi mengunjungi tuan.” Kata Maia. Aku lantas menghampiri Ravi, sahabatku. Dulunya kami suka bermain di Bandung, lalu 3 tahun lalu aki pindah ke Bali, kebetulan ada keluarga Ravi yang di Bali, jadi kita tetap bersama. Dan Ravi juga vampire, tapi dia bukan vampire murni, dan kulitnya pun sawo matang berbeda denganku yang benar – benar barat. Tapi kupikir tampangku masih ada Indonesia-nya. “Edwin, ayo main.” Kata Ravi dengan bahasa Indonesia, ternyata ada gerombolan anak kampung yang diajaknya. Lalu aku menghampiri mereka, dan tentu kami bermain bola, ya itulah hobby-ku. Seperti biasa Maia mengfikuti kami, Maia bisa menjadi wasit. Maia juga sangat ramah dengan teman – temanku. Kami terbiasa dengan bahasa Indonesia, dari semua yang bermain bola, hanya Ravi yang berbahasa Inggris. Lalu kita mulai bermain, untng saja aku belum melepas sepatuku, jadi tidak perlu memakai sepatu lagi.
Permainan dimulai, kali ini aku dapat jatah jadi penjaga gawang. Entah kenapa aku tidak bisa konsentrasi, aku semerti melihat danau didepanku, lalu aku bermain disitu, dan ah, kepalaku pusing, lalu Ravi berteriak, “Fadel, awas,” dan GOL! Ini untuk pertama kalinya aku kebobolan. Ya disini aku biasa dipanggil Fadel. “Hey, what’s wrong with you? Edwardian?” Tanya Ravi, “Please don’t called me like that. I’m fine.” Aku sendiri tidak yakin ada apa dengan diriku, “aku tahu kau kurang baik, kenapa? Melihat sesuatu lagi? Apa ini tentang Amelia?” kata Ravi dengan nada bercanda, “hey, Amelia ada di Inggris sekarang, jangan kau sebut namanya. Ayo mulai lagi!”
Amelia adalah cinta pertamaku, ya dia vampire juga, rambutnya pirang matanya coklat terang, dia cantik sekali, hey! Kenapa jadi ada Amelia dipikiranku?
Lalu kami mulai lagi. Kali ini aku harus lebih berkonsentrasi.
Lalu setelah permainan berjalan, kami berhasil menyamai kedudukan menjadi 1 – 1. Ya Ravi berhasil mencetak gol. Setelah berjalan 30 menit, kami lelah, dan akhirnya pertandingan berakhir. Lalu Ravi main dulu kerumahku, “Fadel, hmm,” kata Ravi saat perjalanan pulang, “what?” Ravi lalu menggelengkan kepalanya. Apakah dia merasakan bahwa kita akan segera berpisah? Entah kenapa aku merasa aku akan pergi jauh. Lalu tak lama kami sampai dirumah, lalu masuk, dan Ravi melihat Natalie berjalan, lalu aku memperhatikannya, sepertinya Ravi menyukai Natalie, lalu Ravi berbicara bahasa Indonesia padaku, “Fadel, itu Natalie Clyde kan? Cantiknya, huft.”
“Naksir? Gue kasih tahu ya, dia tuh sadis banget.”
“Iya, tahu, yakin lo sob? Sumpah cantik banget! Dia udah punya cowok belum?”
“Belum sih, HTS (Hubungan Tanpa Status) kayanya iya sob,”
“HTS? Sama siapa? Yah, gak apa – apalah. Selama belum pacaran ini.”
“Yakin lo? Liat tuh cowok? Saingan lo kaya gitu, gue gak yakin deh sob.” Lalu aku menunjuk kearah Xavier, yang jauh lebih tampan dari Ravi.
“Yah, susah sob, rambut dia pirang, tinggi pula, kulit putih badan? Wah dibandingkan gue, gue jauh lebih kerempeng, gak jadi deh bro, susah.”
Lalu Natalie melihat kearah kami, “what are you looking at? Edwin? And who are you?” lalu Natalie menghampiri kami, lantas kami berbahasa Inggris kembali, “Natalie, ini Ravi, dia kawanku.” Kataku, “Ravi.” Kata Ravi sambil menyodorkan tangannya, lalu mereka berjabat tangan, “Natalie. Rupanya kau ada tamu ya Edwin, lain kali saja bicaranya.” Kataku. Xavier hanya melihat dari jauh. “Eh, kalau memang ada perlu tidak apa – apa, lebih baik aku pergi.” Kata Ravi, “Eh jangan, Ravi, kau ikut saja, tidak apakan?” Tanyaku pada Natalie, “Tidak masalah, ayo ikut aku.” Kata Natalie, “dan Mrs. Friedlander juga ikut.” Kataku, Maia hanya mengangguk saja.
Lalu kami menuju ke ruang kerja Adriano, ya ruang kerja ayah.
“Edwin, kemana saja kau, oh ada Ravi juga. Ayo duduk – duduk.” Kata ayah.
“Ada apa ayah?” Tanyaku penasaran. Disaat aku penasaran, Ravi hanya melihat Natalie yang sedang serius, lalu wajahnya agak jengkel karena Xavier duduk disebelah Natalie. Dasar. “Begini Edwin, hmm, kau harus ikut Natalie pulang ke Inggris, Farrell, Scarlett dan Maia juga ikut, kecuali ayah dan ibu yang memang harus menyelesaikan urusan disini, juga Wanda yang harus melanjutkan ilmu kedokterannya di Jepang.”
“Enak sekali Wanda, dari Jerman langsung ke Jepang. Jadi gossip dia berkerja di suatu perusahaan alat kesehatan itu benar?” kataku.
“Yah Edwin, jadi kita?” sepertinya Ravi terdengar sedih.
“Tak apa, kita tetap bisa saling berkomunikasi, kalau kau ikut, bisa bahaya, ingat ceritaku? Aku akan selalu menghubungimu.” Kataku pada Ravi tentu masih dengan bahasa Inggris. Maia juga ikut? Kalau dari raut wajahnya sepertinya ia ingin pulang kampung.
“Sudah itu saja? Kalau begitu aku ingin melakukan perawatan kaki, Ravi kau mau ikut?”
“Perawatan kaki? Maksudmu?” Ravi bingung.
“Maksudnya adalah luluran, spa? Iya ka Edwin?” kata Natalie.
“Luluran? Edwin masa laki – laki luluran?” protes Ravi.
“Kalau kau cinta kakimu, berilah dia perawatan yang maksimal, aku tidak mau asuransi kakiku harus keluar karena kakiku jelek.”
“Kau mengasuransi kakimu Edwin? Oh brother.” Kata Xavier. ayah hanya geleng – geleng kepala, Maia hanya tertawa kecil, dan wajah Natalie sepertinya menampilkan wajah heran, Ravi? Dia sepertinya shok. Apa salah jika aku memberikan perawatan yang maksimal pasa kakiku?
“Tidak, tapi kau berlebihan, kau kan laki – laki, Edwin, jangan sampai aku memanggilmu Edwina.” Kata Natalie, pasti dia membaca pikiranku. “HAHAHAHAHAHAAAA EDWINA!!!!!” Ravi tertawa terbahak – bahak mendengarnya. Ya Edwina adalah pacar Ravi, makanya sekarang ia suka memanggilku Fadel atau Edwardian.
Aku hanya menggeleng – gelengkan kepala lalu keluar menuju ke kamar. Dan disitu sudah ada orang untuk me-massage kakiku. “Tunggu Fadel.” Kata Ravi, lalu saat Maia ingin keluar, ayah menahannya, “sebaiknya kau tetap disini, Mrs. Friedlander.”
Sisi Natalie…
Lalu Edwin pergi. Dan Maia tetap disini. Maia memang terlihat seperti ibu – ibu yang sayang pada anaknya, maksudku, saying kepada Edwin, tergambar jelas diwajahnya dan aku sempat membaca pikirannya beberapa kali. “Mrs. Friedlander, saya tahu, anda sudah bekerja disini mulai dari Farrell lahir. Kau menjaga kandungan istriku dengan baik pula, saya, saya tidak ingin kau mati. Jadi ini keputusanmu, kau mau kemana, kau mau ikut Edwin ke London, atau pulang ke Malibu?” Tanya Adriano.
“Miami, maaf saya tinggal di Miami bersama orang tua saya.” Jawab Maia.
“Maaf, maksud saya Miami.” Kata Adriano.
Miami? Keren sekali, aku membaca pikiran Maia, iya ingin sekali pulang kampung. Sepertinya memang keluarganya berkerja di pantai.
“Tidak. Saya akan terus menjaga Edwin. Lagi pula kemarin kan saya suah pulang, jadi tidak apa – apa.” Jawab Maia.
“Maia, kemarin? Itu 2 tahun yang lalu, Maia, saya tahu kau butuh rumah. Anda rindu dengan saudara – saudara anda, tapi saya mohon, kau jangan memaksakan diri.” Bantah Adriano.
“Itu terjadi lagi, saat Tn. Muda Edwardian bermain futsal, ia seperti melihat sesuatu lagi. Dan saya takut, saya merasa harus tetap menjaganya.” Jawab Maia seperti ketakutan.
“Tenang Mrs. Friedlander, saya akan menjaga Edwin dengan baik. Anda tidak perlu khawatir.” Kataku, sepertinya Maia sedikit lega, “bukankah itu akan merepotkan anda, Miss. Clyde?” lanjut Maia.
“Percayalah pada kami, kami akan melakukan usaha sebaik mungkin untuk menjaga Edwin karena itu juga merupakan dari tugas kami,” lajut Xavier meyakinkan.
“Tapi, apa tidak apa – apa? Ini tugas saya, saya takut merepotkan.” Maia membantah. “Tidak apa, Maia, kau tidak perlu meragukan mereka, mereka sangatlah handal. Jadi saya sarankan anda pulang kampung.” Tegas Adriano.
“Baiklah, kalau itu yang Mr. Burney inginkan, saya akan ikuti kemauan tuan.”
Maia hanya menurut saja. Walau wajahnya merana sekali, lalu Maia berkata, “kalau begitu saya permisi, Mr. Burney.” Lalu Maia keluar.
“Kau dengar itu Xavier, ‘asuransi kaki’ huahahahahahahahahaaa…” aku tertawa puas, karena geli. Xavier hanya tersenyum. Adriano sepertinya malu, tapi ia tertawa juga. “Adriano, anakmu benar – benar gila. So, kapan kami membawa anakkmu ke London?”
“Mungkin lusa. Kau tidak perlu membeli souvenir, untuk Mirabella, ibumu yang gila belanja itu? Aku sudah menyiapkan segala bentuk cendra mata, karena waktumu di Bali tidak banyak.” Kata Adriano, ya aku sadar aku di Bali, makanya aku memakai tank top dan sneakers, serta hot pans.
Lalu tiba – tiba Maia masuk secara tiba – tiba, “Tuan dan Nyonya yang ada disini, maaf tapi, Edwin mwnghilang!”
“What the hell? Ayo kita cari dia!” kata Xavier, aku hanya menangguk. Lalu Adriano melempar kunci mobil padaku, “aku sudah menduga akan hal ini, ini, pakailah, dilengkapi GPS, dan alat pelacak, kalian akan mudah menemukan Edwin,” lalu kulihat lambing mobilnya, Lamborghini.
Wow, berarti keluarga Burney memang kaya, nanti akan kutanyakan jumlah mobil keluarga ini, apa lebih banyak dari jumlah yang ada di museum mobil milikku?
Aku dan Xavier lantas lari menuju pintu masuk diluar, dan benar, sudah ada Lamborghini berwarna perak diluar, langsung dari jauh kunyalakan mesinnya. Aku lantas menaikinya dan ternyata aku beruntung, aku yang menyetir, lantas Xavier menyalakan GPS. Lalu berangkat, Xavier mengatur agar GPS itu mengarah kearah dimana Edwin kabur. Lalu kami melaju dengan kencang, mensalip – salip mobil yang menghalangi perjalanan, bahkan saat lampu merah-pun kuterjang dengan santainya, sampai akhirnya, semakin dekat, semakin dekat dengan letak Edwin berada. Lalu aku berhenti disebuah ruko. Lalu aku parkir dan turun, lalu menuju lantai atas ruko tersebut.
Sisi Edwin…
“Fadel, lihat itu,” Ravi menunjuk kearah Natalie dan Xavier yang mulai menaiki ruko, ya aku dan Ravi sedang berada di warung internet. Lalu aku segera bayar dan tidak mempedulikan game online yang sedang kumainkan, dan kabur. Saat Natalie dan Xavier sampai, kami bersembunyi dibawah meja yang kosong, lalu disaat mereka lengah, aku dan Ravi kabur kebawah, lalu Natalie dan Xavier menyadarinya dan mengejar kami. Kami mulai berlari, dan turun, lalu berbelok dan berlari melewati gang kecil. lalu kami berpencar, aku kearah kiri, dan Ravi kearah kanan. Aku sempat menengok kebelakang, dan ternyata unfortunately Natalie yang mengejarku. Aku menambah kecepatanku, tapi bagaimanapun juga, dia Natalie, sangat susah menghindar darinya, aku benar – benar bingung, lalu aku melakukan hal gila, aku melompati pagar rumah orang, dan masuk kedalamnya, dengan wajah santai, Natalie mengikutiku lebih mudah. Aku masuk rumah itu, dan tentunya pemilik rumah itu kaget. Dan aku melihat tangga, lalu menuju lantai atas, lalu aku membuka salah satu pintu kamar, aku tidak bias kabr lewat situ, lalu kamar ke dua, sampai kamar ke lima, disitu ada jendela dan jendelanya tidak dipasang tralist. Aku masuk, dan membuka jendela itu, ternyata dikunci, aku tending paksa kacanya dan pecah, lalu aku melihat kebawah, dan ternyata jalan raya.
Aku harus siap, lalu aku melompat kebawah, hampir saja aku tertabrak mobil, dan menyebrang kedepan, lalu aku melihat kebelakang, tentu Natalie melompat dengan santainya, dan kembali mengejarku.
Sisi Xavier…
“Mau lari kemana kau, Ravi?” tanyaku pada Ravi, karena Ravi terjebak dijalan buntu. Dengan mudah aku menangkapnya. “Maaf, ini ide Edwin. Dan aku hanya menurut saja.” Kata Ravi, padahal aku belum bertanya. “Okay, santai saja, akutidak akan memarahimu. Sekarang aku hanya ingin berbicara padamu. Bagaimana?” kataku sambil menjulurkan tanganku, ya mungkin Ravi takut, itu sebabnya ia duduk dipojokan. Lalu ia meraih tanganku, dan aku membawanya ke mobul dan bertanya beberapa hal mengenai Edwin padanya.
Sisi Edwin…
Huh, huh, huh, aku sudah lelah, banyak sekali pepohonan didaerah ini. Aku takut kalau aku kepanasan, kulitku bias terbakar, karena aku baru sedikit mengoleskan tabir surya. Bagaimana ini? Aku panik, sepanik-paniknya. Lalu aku mulai merasa aneh dengan jalur pelarianku, aku mulai merasakan pasir? Sebentar, lalu tak lama, aku bertemu dengan hal yang paling aku hindari hari ini, ya pantai, entah pantai apa ini, aku tidak peduli, aku tetap berlari, anehnya aku berlari lurus kedepan, dan menuju air. Sebentar? Kenapa aku lari kesini? Mau tidak mau aku harus berenang?
Sial, lalu aku semakin mendekati air, dan voila, aku berenang, tapi kenapa aku merasa, matahari akan terbenam ya? Aku lupa, tadi kan aku kabur bersama Ravi pada saat sore hari? Betapa kasihannya aku harus berenang pada malam hari?
Lalu pada saat aku berenang, aku melihat sesuatu, ini berhubungan dengan aku? Aku melihat air dengan penuh darah, darahku? Sebentar, aku, aku…
………………………………………………………………………………………………………
Sisi Natalie…
Sebentar, Edwin dia… pingsan? Dia pingsan didalam air? Sungguh merepotkan.
Lalu aku menyelam kedalam, untung haribelum terlalu gelap, jasi aku masih bisa melihat dengan jelas. Lalu aku meraih Edwin, dan membawanya kedaratan. Sepertinya aku juga tidak perlu memberi nafas buatan.
Lalu aku sampai kedaratan, dan aku meraa sakuku mengambih ponselku, tunggu tadi kan aku berenang, pasti ponselku basah, tunggu aku tidak membawa ponsel, bagaimana ini? Xavier, Xavier aku butuh pertolonganmu, “Edwin, wake up! Xavier, huh, huh, Xavier where are you, XAVIER…”
“It’s alright, I’m here Natalie.” Kata Xavier, aku menoleh kesamping dan disitu ada Xavier yang sedang berdiri bersama Ravi, lalu Xavier melihat keadaan Edwin, “kenapa bisa basah – basahan seperti ini? Untung saja ponselmu tertinggal, kan rugi kalu terkena air.” Kata Xavier sambil memeriksa denyut nadi Edwin.
“Itu tidak penting, bagaimana kau tahu aku ada disini?” tanyaku, lalu Ravi menunjukan sebuah benda yang menuntun mereka, ya GPS. Seperinya ia mencabut GPS mobil dan mengikuti petualanganku mengejar Edwin.
Lalu tak lama Edwin bangun, “Edwin, kau tidak apa – apa? Kukira kau sudah tewas.” Spontanku. “Edwin, apa itu terjadi lagi?” tanya Ravi.
“Ya, sepertinya, sekarang aku sudah tertangkap, dan aku, well, silahkan bawa aku ke London.” Kata Edwin pasrah.
“Kenapa? Kenapa kau tidak mau pergi ke London bersama kami?” tanya Xavier.
“Kalian pikir, aku mau ikut? Aku tidak mau mati dengan cara yang menyakitkan.” Jawab Edwin.
“Wow, menyakitkan? Maksudmu?” tanyaku.
Kami diam, lalu Edwin bangun, “hari ini cukup, ayo, aku mau pulang.”
Lalu kami pulang, walau tidak ada pimtu belakang, setidaknya Ferrari ini memiliki kursi belakang. Kali ini Xavier yang menyetir.
Tampang edwin sangat tidak wnak untuk dilihat, Ravi hanya ketakutan. Padahal ini semua salah Edwin dan Ravi tidak perlu dihukum. Lalu tak lama kami sampai, dan Ravi, pulang kerumahnya, rumah Ravi dan Edwin tidak jauh.
“Edwin, kau dihukum, kau tidak boleh melakukan spa kaki selama 3 bulan!” bentak Scarlett. Edwin hanya diam, tetapi ekspresinya jelas – jelas melawan.
“Edwardian, kau harus ikut dengan Natalie dan Xavier.” Kata Carlotta, “Farrell dan david juga akan ikut, untuk menemanimu bermain futsal.” Lanjut Carlotta lagi dengan penuh senyuman, “WHAT???” kata Farrell dan David kompak.
“Oh, please.” Kata David pasrah dengan tampang juteknya. “Haruskah kita ikut, hanya untuk menemani Edwin yang sama sekali tidak peduli dengan hidupnya? Scarlett, apa dia ikut?” tanya Farrell.
“Scarlett akan itut, tapi nanti. Kalian harus pindah, memangnya masalah besar kalau kalian ikut? Mrs. Friedlander harus istirahat. Jadi kalian harus menjaga adikmu ini.” Lanjut Carlotta dengan lembut tetapi tegas. Wajah Carlotta yng tanpa dosa mendadak menjadi menyeramkan.
“Wanda? Ia tidak ikut?” tanya David. “Dia harus melanjutkan studinya ke Jepang. Kalian akan aman bersama Natalie. Rumah Natalie jauh lebih besar dari rumah kita ini, kalian bisa tinggal disana.” Jelas Adriano, “dan kalian akan berangkat besok, dan untuk medical check up Edwin, akan dilakukan di Inggris.” Tambah Carlotta.
“Medical check up, again???” tanya Edwin. “kau pingsan lagi, dan kondisi kejiwaanmu juga harus diperiksa, well, secara teknis kau tidak gila, tetapi ini demi kebaikanmu.” Jelas Carlotta.
“dr. Maryanne Osborne. Dia yang akan melayanimu kesehatan jiwamu, adikku tersayang, itu rekomendasi terbaik dari Mirabella Clyde. Ibu Natalie.” Jelas Scarlett nada yang jutek.
Suasana menjadi hening, sepertinya mereka memang tidak akur, atau sebaliknya, lebih baik kutanya Farrell, dia yang paling tua disini, “Farrell, bisa bicara sebentar?” tanyaku. “Eh, tentu Miss. Clyde, mari ikut denganku.” Kata Farrell, lalu ia mengajakku ketempat yang lebih privasi.
Lalu kami sampai di kolam renang, ya lebih baik bocara disini, “okay, apa yang ingin anda bicarakan, Miss. Clyde?” tanya Farrell.
“Natalie saja, hmm, apa kalian, kalian semua tidak akur?”
“Bukan seperti itu, tetapi terkadang Edwin suka tidak tahu terimakasih.”
“Hah?”
“Maksudku, ia suka bertindak seenaknya, padahal kita sudah memberinya perhatian yang cukup baik.”
“Sekarang aku mengerti, itu sebabnya, kalian menyewa dr. Osborne.”
“Okay, terima kasih atas perlindunganmu terhadap keluarga kami, jujur, aku sangat menghargai kebaikan kalian.”
“Asal kau tahu Farrell, berterimakasihlah pada ibuku dan departemen vampire, mereka yang membantumu, bukan aku, dan aku bukan makhluk yang baik hati.”
“Ya, aku tahu, tapi setidaknya berterima kasih padamu dapat diartikan bahwa aku menghargaimu, Natalie.”
Aku hanya tersenyum licik dan berkata, “aku hargai itu, terima kasih atas penghargaanmu, Farrell, aku permisi dulu.”
Lalu aku pergi. Appreciation. Mungkin aku harus belajar menghargai makhluk lain. Llu saat perjalanan kekamar, aku bertemu Xavier, wow, aku baru menyadari kalau dia mempunyai tampang yang enak dilihat (maksud: tampan, Natalie masih belum bisa membedakan mana yang tampan atau mana yang enak dilihat) dan, aku baru menyadari kalau ia memakai kemeja garis – garis, dan berantakan, lalu ia memakai jas atau jaket ya aku tidak tahu lah apa itu, dan kerah kemeja itu diluar? Aku tidak pernah terpikir akan model seperti itu, dan dasinya, dasinya berantakan, aku suka penampilannya.
“Wow,” kataku dengan wajah seperti orang bodoh.
“Apa? Ayo istirahat, besok kita akan kembali ke Inggris. Natalie kau tidak apa – apa?” kata Xavier, anehnya ia tetap wangi. Aku bingung harus berkata apa.
“Xavier, hmm, menurutku, hmm, pertahankan gayamu, aku suka gayamu, ayo istirahat.” Kataku, lalu aku langsung berbalik badan dan menuju kamar, “Natalie, apa maksudmu?” tentu saja Xavier bingung, aneh kalau dia tidak bingung, dan aku diam saja, kenapa aku jadi tegang begini? Sudahlah.
Keesokan harinya…
Aku sudah siap untuk pulang, setelah sarapan, kami berangkat.
Setelah berpamitan dengan semuanya, kami berangkat, tetapi Maia tidak berangkat bersama kami, sepertinya ia masih harus banyak membantu dirumah keluarga Burney. Edwin hanya vemberit sepanjang pesawat, Farrell hanya membaca novel karangan William Shakespeare, wow, Shakespeare, aku suka tulisan – tulisannya, dan David, hanya mendengarkan musik, aku dan Xavier hanya memperhatikan keadaan sekitar. Setelah berjam – jam kami dipesawat, akhrinya sampai di London pada sore hari. Supirku sudah menuggu dan kami pulang kerumah.
Saat sampai dirumah, kai disambut dengan ibuku tanpa nenekku, berarti nenekku masih berada di Paris. Lalu para pelayan segera membawa barang – barang kami, kecuali Xavier, karena ia langsung pulang kerumahnya.
Lalu aku segera istirahat, dan mama meberitahuku bahwa Edwin besok ada medical check up. Lalu kami makan malam dan segera istirahat. Edwin tetap terlihat tidak senang, sedangkan Farrell dan David terlihat santai saja.
“Membantu anda? Bantuan seperti apa?” Tanya Xavier.
“Bawa Edwin berserta kakak – kakaknya meninggalkan Bali. Aku percaya dengan tenaga dan kemampuan Hercules Natalie, anak – anakku akan aman, terutama Edwin.”
Sisi Edwin…
“Edwin, maaf tuan, ada Ravi mengunjungi tuan.” Kata Maia. Aku lantas menghampiri Ravi, sahabatku. Dulunya kami suka bermain di Bandung, lalu 3 tahun lalu aki pindah ke Bali, kebetulan ada keluarga Ravi yang di Bali, jadi kita tetap bersama. Dan Ravi juga vampire, tapi dia bukan vampire murni, dan kulitnya pun sawo matang berbeda denganku yang benar – benar barat. Tapi kupikir tampangku masih ada Indonesia-nya. “Edwin, ayo main.” Kata Ravi dengan bahasa Indonesia, ternyata ada gerombolan anak kampung yang diajaknya. Lalu aku menghampiri mereka, dan tentu kami bermain bola, ya itulah hobby-ku. Seperti biasa Maia mengfikuti kami, Maia bisa menjadi wasit. Maia juga sangat ramah dengan teman – temanku. Kami terbiasa dengan bahasa Indonesia, dari semua yang bermain bola, hanya Ravi yang berbahasa Inggris. Lalu kita mulai bermain, untng saja aku belum melepas sepatuku, jadi tidak perlu memakai sepatu lagi.
Permainan dimulai, kali ini aku dapat jatah jadi penjaga gawang. Entah kenapa aku tidak bisa konsentrasi, aku semerti melihat danau didepanku, lalu aku bermain disitu, dan ah, kepalaku pusing, lalu Ravi berteriak, “Fadel, awas,” dan GOL! Ini untuk pertama kalinya aku kebobolan. Ya disini aku biasa dipanggil Fadel. “Hey, what’s wrong with you? Edwardian?” Tanya Ravi, “Please don’t called me like that. I’m fine.” Aku sendiri tidak yakin ada apa dengan diriku, “aku tahu kau kurang baik, kenapa? Melihat sesuatu lagi? Apa ini tentang Amelia?” kata Ravi dengan nada bercanda, “hey, Amelia ada di Inggris sekarang, jangan kau sebut namanya. Ayo mulai lagi!”
Amelia adalah cinta pertamaku, ya dia vampire juga, rambutnya pirang matanya coklat terang, dia cantik sekali, hey! Kenapa jadi ada Amelia dipikiranku?
Lalu kami mulai lagi. Kali ini aku harus lebih berkonsentrasi.
Lalu setelah permainan berjalan, kami berhasil menyamai kedudukan menjadi 1 – 1. Ya Ravi berhasil mencetak gol. Setelah berjalan 30 menit, kami lelah, dan akhirnya pertandingan berakhir. Lalu Ravi main dulu kerumahku, “Fadel, hmm,” kata Ravi saat perjalanan pulang, “what?” Ravi lalu menggelengkan kepalanya. Apakah dia merasakan bahwa kita akan segera berpisah? Entah kenapa aku merasa aku akan pergi jauh. Lalu tak lama kami sampai dirumah, lalu masuk, dan Ravi melihat Natalie berjalan, lalu aku memperhatikannya, sepertinya Ravi menyukai Natalie, lalu Ravi berbicara bahasa Indonesia padaku, “Fadel, itu Natalie Clyde kan? Cantiknya, huft.”
“Naksir? Gue kasih tahu ya, dia tuh sadis banget.”
“Iya, tahu, yakin lo sob? Sumpah cantik banget! Dia udah punya cowok belum?”
“Belum sih, HTS (Hubungan Tanpa Status) kayanya iya sob,”
“HTS? Sama siapa? Yah, gak apa – apalah. Selama belum pacaran ini.”
“Yakin lo? Liat tuh cowok? Saingan lo kaya gitu, gue gak yakin deh sob.” Lalu aku menunjuk kearah Xavier, yang jauh lebih tampan dari Ravi.
“Yah, susah sob, rambut dia pirang, tinggi pula, kulit putih badan? Wah dibandingkan gue, gue jauh lebih kerempeng, gak jadi deh bro, susah.”
Lalu Natalie melihat kearah kami, “what are you looking at? Edwin? And who are you?” lalu Natalie menghampiri kami, lantas kami berbahasa Inggris kembali, “Natalie, ini Ravi, dia kawanku.” Kataku, “Ravi.” Kata Ravi sambil menyodorkan tangannya, lalu mereka berjabat tangan, “Natalie. Rupanya kau ada tamu ya Edwin, lain kali saja bicaranya.” Kataku. Xavier hanya melihat dari jauh. “Eh, kalau memang ada perlu tidak apa – apa, lebih baik aku pergi.” Kata Ravi, “Eh jangan, Ravi, kau ikut saja, tidak apakan?” Tanyaku pada Natalie, “Tidak masalah, ayo ikut aku.” Kata Natalie, “dan Mrs. Friedlander juga ikut.” Kataku, Maia hanya mengangguk saja.
Lalu kami menuju ke ruang kerja Adriano, ya ruang kerja ayah.
“Edwin, kemana saja kau, oh ada Ravi juga. Ayo duduk – duduk.” Kata ayah.
“Ada apa ayah?” Tanyaku penasaran. Disaat aku penasaran, Ravi hanya melihat Natalie yang sedang serius, lalu wajahnya agak jengkel karena Xavier duduk disebelah Natalie. Dasar. “Begini Edwin, hmm, kau harus ikut Natalie pulang ke Inggris, Farrell, Scarlett dan Maia juga ikut, kecuali ayah dan ibu yang memang harus menyelesaikan urusan disini, juga Wanda yang harus melanjutkan ilmu kedokterannya di Jepang.”
“Enak sekali Wanda, dari Jerman langsung ke Jepang. Jadi gossip dia berkerja di suatu perusahaan alat kesehatan itu benar?” kataku.
“Yah Edwin, jadi kita?” sepertinya Ravi terdengar sedih.
“Tak apa, kita tetap bisa saling berkomunikasi, kalau kau ikut, bisa bahaya, ingat ceritaku? Aku akan selalu menghubungimu.” Kataku pada Ravi tentu masih dengan bahasa Inggris. Maia juga ikut? Kalau dari raut wajahnya sepertinya ia ingin pulang kampung.
“Sudah itu saja? Kalau begitu aku ingin melakukan perawatan kaki, Ravi kau mau ikut?”
“Perawatan kaki? Maksudmu?” Ravi bingung.
“Maksudnya adalah luluran, spa? Iya ka Edwin?” kata Natalie.
“Luluran? Edwin masa laki – laki luluran?” protes Ravi.
“Kalau kau cinta kakimu, berilah dia perawatan yang maksimal, aku tidak mau asuransi kakiku harus keluar karena kakiku jelek.”
“Kau mengasuransi kakimu Edwin? Oh brother.” Kata Xavier. ayah hanya geleng – geleng kepala, Maia hanya tertawa kecil, dan wajah Natalie sepertinya menampilkan wajah heran, Ravi? Dia sepertinya shok. Apa salah jika aku memberikan perawatan yang maksimal pasa kakiku?
“Tidak, tapi kau berlebihan, kau kan laki – laki, Edwin, jangan sampai aku memanggilmu Edwina.” Kata Natalie, pasti dia membaca pikiranku. “HAHAHAHAHAHAAAA EDWINA!!!!!” Ravi tertawa terbahak – bahak mendengarnya. Ya Edwina adalah pacar Ravi, makanya sekarang ia suka memanggilku Fadel atau Edwardian.
Aku hanya menggeleng – gelengkan kepala lalu keluar menuju ke kamar. Dan disitu sudah ada orang untuk me-massage kakiku. “Tunggu Fadel.” Kata Ravi, lalu saat Maia ingin keluar, ayah menahannya, “sebaiknya kau tetap disini, Mrs. Friedlander.”
Sisi Natalie…
Lalu Edwin pergi. Dan Maia tetap disini. Maia memang terlihat seperti ibu – ibu yang sayang pada anaknya, maksudku, saying kepada Edwin, tergambar jelas diwajahnya dan aku sempat membaca pikirannya beberapa kali. “Mrs. Friedlander, saya tahu, anda sudah bekerja disini mulai dari Farrell lahir. Kau menjaga kandungan istriku dengan baik pula, saya, saya tidak ingin kau mati. Jadi ini keputusanmu, kau mau kemana, kau mau ikut Edwin ke London, atau pulang ke Malibu?” Tanya Adriano.
“Miami, maaf saya tinggal di Miami bersama orang tua saya.” Jawab Maia.
“Maaf, maksud saya Miami.” Kata Adriano.
Miami? Keren sekali, aku membaca pikiran Maia, iya ingin sekali pulang kampung. Sepertinya memang keluarganya berkerja di pantai.
“Tidak. Saya akan terus menjaga Edwin. Lagi pula kemarin kan saya suah pulang, jadi tidak apa – apa.” Jawab Maia.
“Maia, kemarin? Itu 2 tahun yang lalu, Maia, saya tahu kau butuh rumah. Anda rindu dengan saudara – saudara anda, tapi saya mohon, kau jangan memaksakan diri.” Bantah Adriano.
“Itu terjadi lagi, saat Tn. Muda Edwardian bermain futsal, ia seperti melihat sesuatu lagi. Dan saya takut, saya merasa harus tetap menjaganya.” Jawab Maia seperti ketakutan.
“Tenang Mrs. Friedlander, saya akan menjaga Edwin dengan baik. Anda tidak perlu khawatir.” Kataku, sepertinya Maia sedikit lega, “bukankah itu akan merepotkan anda, Miss. Clyde?” lanjut Maia.
“Percayalah pada kami, kami akan melakukan usaha sebaik mungkin untuk menjaga Edwin karena itu juga merupakan dari tugas kami,” lajut Xavier meyakinkan.
“Tapi, apa tidak apa – apa? Ini tugas saya, saya takut merepotkan.” Maia membantah. “Tidak apa, Maia, kau tidak perlu meragukan mereka, mereka sangatlah handal. Jadi saya sarankan anda pulang kampung.” Tegas Adriano.
“Baiklah, kalau itu yang Mr. Burney inginkan, saya akan ikuti kemauan tuan.”
Maia hanya menurut saja. Walau wajahnya merana sekali, lalu Maia berkata, “kalau begitu saya permisi, Mr. Burney.” Lalu Maia keluar.
“Kau dengar itu Xavier, ‘asuransi kaki’ huahahahahahahahahaaa…” aku tertawa puas, karena geli. Xavier hanya tersenyum. Adriano sepertinya malu, tapi ia tertawa juga. “Adriano, anakmu benar – benar gila. So, kapan kami membawa anakkmu ke London?”
“Mungkin lusa. Kau tidak perlu membeli souvenir, untuk Mirabella, ibumu yang gila belanja itu? Aku sudah menyiapkan segala bentuk cendra mata, karena waktumu di Bali tidak banyak.” Kata Adriano, ya aku sadar aku di Bali, makanya aku memakai tank top dan sneakers, serta hot pans.
Lalu tiba – tiba Maia masuk secara tiba – tiba, “Tuan dan Nyonya yang ada disini, maaf tapi, Edwin mwnghilang!”
“What the hell? Ayo kita cari dia!” kata Xavier, aku hanya menangguk. Lalu Adriano melempar kunci mobil padaku, “aku sudah menduga akan hal ini, ini, pakailah, dilengkapi GPS, dan alat pelacak, kalian akan mudah menemukan Edwin,” lalu kulihat lambing mobilnya, Lamborghini.
Wow, berarti keluarga Burney memang kaya, nanti akan kutanyakan jumlah mobil keluarga ini, apa lebih banyak dari jumlah yang ada di museum mobil milikku?
Aku dan Xavier lantas lari menuju pintu masuk diluar, dan benar, sudah ada Lamborghini berwarna perak diluar, langsung dari jauh kunyalakan mesinnya. Aku lantas menaikinya dan ternyata aku beruntung, aku yang menyetir, lantas Xavier menyalakan GPS. Lalu berangkat, Xavier mengatur agar GPS itu mengarah kearah dimana Edwin kabur. Lalu kami melaju dengan kencang, mensalip – salip mobil yang menghalangi perjalanan, bahkan saat lampu merah-pun kuterjang dengan santainya, sampai akhirnya, semakin dekat, semakin dekat dengan letak Edwin berada. Lalu aku berhenti disebuah ruko. Lalu aku parkir dan turun, lalu menuju lantai atas ruko tersebut.
Sisi Edwin…
“Fadel, lihat itu,” Ravi menunjuk kearah Natalie dan Xavier yang mulai menaiki ruko, ya aku dan Ravi sedang berada di warung internet. Lalu aku segera bayar dan tidak mempedulikan game online yang sedang kumainkan, dan kabur. Saat Natalie dan Xavier sampai, kami bersembunyi dibawah meja yang kosong, lalu disaat mereka lengah, aku dan Ravi kabur kebawah, lalu Natalie dan Xavier menyadarinya dan mengejar kami. Kami mulai berlari, dan turun, lalu berbelok dan berlari melewati gang kecil. lalu kami berpencar, aku kearah kiri, dan Ravi kearah kanan. Aku sempat menengok kebelakang, dan ternyata unfortunately Natalie yang mengejarku. Aku menambah kecepatanku, tapi bagaimanapun juga, dia Natalie, sangat susah menghindar darinya, aku benar – benar bingung, lalu aku melakukan hal gila, aku melompati pagar rumah orang, dan masuk kedalamnya, dengan wajah santai, Natalie mengikutiku lebih mudah. Aku masuk rumah itu, dan tentunya pemilik rumah itu kaget. Dan aku melihat tangga, lalu menuju lantai atas, lalu aku membuka salah satu pintu kamar, aku tidak bias kabr lewat situ, lalu kamar ke dua, sampai kamar ke lima, disitu ada jendela dan jendelanya tidak dipasang tralist. Aku masuk, dan membuka jendela itu, ternyata dikunci, aku tending paksa kacanya dan pecah, lalu aku melihat kebawah, dan ternyata jalan raya.
Aku harus siap, lalu aku melompat kebawah, hampir saja aku tertabrak mobil, dan menyebrang kedepan, lalu aku melihat kebelakang, tentu Natalie melompat dengan santainya, dan kembali mengejarku.
Sisi Xavier…
“Mau lari kemana kau, Ravi?” tanyaku pada Ravi, karena Ravi terjebak dijalan buntu. Dengan mudah aku menangkapnya. “Maaf, ini ide Edwin. Dan aku hanya menurut saja.” Kata Ravi, padahal aku belum bertanya. “Okay, santai saja, akutidak akan memarahimu. Sekarang aku hanya ingin berbicara padamu. Bagaimana?” kataku sambil menjulurkan tanganku, ya mungkin Ravi takut, itu sebabnya ia duduk dipojokan. Lalu ia meraih tanganku, dan aku membawanya ke mobul dan bertanya beberapa hal mengenai Edwin padanya.
Sisi Edwin…
Huh, huh, huh, aku sudah lelah, banyak sekali pepohonan didaerah ini. Aku takut kalau aku kepanasan, kulitku bias terbakar, karena aku baru sedikit mengoleskan tabir surya. Bagaimana ini? Aku panik, sepanik-paniknya. Lalu aku mulai merasa aneh dengan jalur pelarianku, aku mulai merasakan pasir? Sebentar, lalu tak lama, aku bertemu dengan hal yang paling aku hindari hari ini, ya pantai, entah pantai apa ini, aku tidak peduli, aku tetap berlari, anehnya aku berlari lurus kedepan, dan menuju air. Sebentar? Kenapa aku lari kesini? Mau tidak mau aku harus berenang?
Sial, lalu aku semakin mendekati air, dan voila, aku berenang, tapi kenapa aku merasa, matahari akan terbenam ya? Aku lupa, tadi kan aku kabur bersama Ravi pada saat sore hari? Betapa kasihannya aku harus berenang pada malam hari?
Lalu pada saat aku berenang, aku melihat sesuatu, ini berhubungan dengan aku? Aku melihat air dengan penuh darah, darahku? Sebentar, aku, aku…
………………………………………………………………………………………………………
Sisi Natalie…
Sebentar, Edwin dia… pingsan? Dia pingsan didalam air? Sungguh merepotkan.
Lalu aku menyelam kedalam, untung haribelum terlalu gelap, jasi aku masih bisa melihat dengan jelas. Lalu aku meraih Edwin, dan membawanya kedaratan. Sepertinya aku juga tidak perlu memberi nafas buatan.
Lalu aku sampai kedaratan, dan aku meraa sakuku mengambih ponselku, tunggu tadi kan aku berenang, pasti ponselku basah, tunggu aku tidak membawa ponsel, bagaimana ini? Xavier, Xavier aku butuh pertolonganmu, “Edwin, wake up! Xavier, huh, huh, Xavier where are you, XAVIER…”
“It’s alright, I’m here Natalie.” Kata Xavier, aku menoleh kesamping dan disitu ada Xavier yang sedang berdiri bersama Ravi, lalu Xavier melihat keadaan Edwin, “kenapa bisa basah – basahan seperti ini? Untung saja ponselmu tertinggal, kan rugi kalu terkena air.” Kata Xavier sambil memeriksa denyut nadi Edwin.
“Itu tidak penting, bagaimana kau tahu aku ada disini?” tanyaku, lalu Ravi menunjukan sebuah benda yang menuntun mereka, ya GPS. Seperinya ia mencabut GPS mobil dan mengikuti petualanganku mengejar Edwin.
Lalu tak lama Edwin bangun, “Edwin, kau tidak apa – apa? Kukira kau sudah tewas.” Spontanku. “Edwin, apa itu terjadi lagi?” tanya Ravi.
“Ya, sepertinya, sekarang aku sudah tertangkap, dan aku, well, silahkan bawa aku ke London.” Kata Edwin pasrah.
“Kenapa? Kenapa kau tidak mau pergi ke London bersama kami?” tanya Xavier.
“Kalian pikir, aku mau ikut? Aku tidak mau mati dengan cara yang menyakitkan.” Jawab Edwin.
“Wow, menyakitkan? Maksudmu?” tanyaku.
Kami diam, lalu Edwin bangun, “hari ini cukup, ayo, aku mau pulang.”
Lalu kami pulang, walau tidak ada pimtu belakang, setidaknya Ferrari ini memiliki kursi belakang. Kali ini Xavier yang menyetir.
Tampang edwin sangat tidak wnak untuk dilihat, Ravi hanya ketakutan. Padahal ini semua salah Edwin dan Ravi tidak perlu dihukum. Lalu tak lama kami sampai, dan Ravi, pulang kerumahnya, rumah Ravi dan Edwin tidak jauh.
“Edwin, kau dihukum, kau tidak boleh melakukan spa kaki selama 3 bulan!” bentak Scarlett. Edwin hanya diam, tetapi ekspresinya jelas – jelas melawan.
“Edwardian, kau harus ikut dengan Natalie dan Xavier.” Kata Carlotta, “Farrell dan david juga akan ikut, untuk menemanimu bermain futsal.” Lanjut Carlotta lagi dengan penuh senyuman, “WHAT???” kata Farrell dan David kompak.
“Oh, please.” Kata David pasrah dengan tampang juteknya. “Haruskah kita ikut, hanya untuk menemani Edwin yang sama sekali tidak peduli dengan hidupnya? Scarlett, apa dia ikut?” tanya Farrell.
“Scarlett akan itut, tapi nanti. Kalian harus pindah, memangnya masalah besar kalau kalian ikut? Mrs. Friedlander harus istirahat. Jadi kalian harus menjaga adikmu ini.” Lanjut Carlotta dengan lembut tetapi tegas. Wajah Carlotta yng tanpa dosa mendadak menjadi menyeramkan.
“Wanda? Ia tidak ikut?” tanya David. “Dia harus melanjutkan studinya ke Jepang. Kalian akan aman bersama Natalie. Rumah Natalie jauh lebih besar dari rumah kita ini, kalian bisa tinggal disana.” Jelas Adriano, “dan kalian akan berangkat besok, dan untuk medical check up Edwin, akan dilakukan di Inggris.” Tambah Carlotta.
“Medical check up, again???” tanya Edwin. “kau pingsan lagi, dan kondisi kejiwaanmu juga harus diperiksa, well, secara teknis kau tidak gila, tetapi ini demi kebaikanmu.” Jelas Carlotta.
“dr. Maryanne Osborne. Dia yang akan melayanimu kesehatan jiwamu, adikku tersayang, itu rekomendasi terbaik dari Mirabella Clyde. Ibu Natalie.” Jelas Scarlett nada yang jutek.
Suasana menjadi hening, sepertinya mereka memang tidak akur, atau sebaliknya, lebih baik kutanya Farrell, dia yang paling tua disini, “Farrell, bisa bicara sebentar?” tanyaku. “Eh, tentu Miss. Clyde, mari ikut denganku.” Kata Farrell, lalu ia mengajakku ketempat yang lebih privasi.
Lalu kami sampai di kolam renang, ya lebih baik bocara disini, “okay, apa yang ingin anda bicarakan, Miss. Clyde?” tanya Farrell.
“Natalie saja, hmm, apa kalian, kalian semua tidak akur?”
“Bukan seperti itu, tetapi terkadang Edwin suka tidak tahu terimakasih.”
“Hah?”
“Maksudku, ia suka bertindak seenaknya, padahal kita sudah memberinya perhatian yang cukup baik.”
“Sekarang aku mengerti, itu sebabnya, kalian menyewa dr. Osborne.”
“Okay, terima kasih atas perlindunganmu terhadap keluarga kami, jujur, aku sangat menghargai kebaikan kalian.”
“Asal kau tahu Farrell, berterimakasihlah pada ibuku dan departemen vampire, mereka yang membantumu, bukan aku, dan aku bukan makhluk yang baik hati.”
“Ya, aku tahu, tapi setidaknya berterima kasih padamu dapat diartikan bahwa aku menghargaimu, Natalie.”
Aku hanya tersenyum licik dan berkata, “aku hargai itu, terima kasih atas penghargaanmu, Farrell, aku permisi dulu.”
Lalu aku pergi. Appreciation. Mungkin aku harus belajar menghargai makhluk lain. Llu saat perjalanan kekamar, aku bertemu Xavier, wow, aku baru menyadari kalau dia mempunyai tampang yang enak dilihat (maksud: tampan, Natalie masih belum bisa membedakan mana yang tampan atau mana yang enak dilihat) dan, aku baru menyadari kalau ia memakai kemeja garis – garis, dan berantakan, lalu ia memakai jas atau jaket ya aku tidak tahu lah apa itu, dan kerah kemeja itu diluar? Aku tidak pernah terpikir akan model seperti itu, dan dasinya, dasinya berantakan, aku suka penampilannya.
“Wow,” kataku dengan wajah seperti orang bodoh.
“Apa? Ayo istirahat, besok kita akan kembali ke Inggris. Natalie kau tidak apa – apa?” kata Xavier, anehnya ia tetap wangi. Aku bingung harus berkata apa.
“Xavier, hmm, menurutku, hmm, pertahankan gayamu, aku suka gayamu, ayo istirahat.” Kataku, lalu aku langsung berbalik badan dan menuju kamar, “Natalie, apa maksudmu?” tentu saja Xavier bingung, aneh kalau dia tidak bingung, dan aku diam saja, kenapa aku jadi tegang begini? Sudahlah.
Keesokan harinya…
Aku sudah siap untuk pulang, setelah sarapan, kami berangkat.
Setelah berpamitan dengan semuanya, kami berangkat, tetapi Maia tidak berangkat bersama kami, sepertinya ia masih harus banyak membantu dirumah keluarga Burney. Edwin hanya vemberit sepanjang pesawat, Farrell hanya membaca novel karangan William Shakespeare, wow, Shakespeare, aku suka tulisan – tulisannya, dan David, hanya mendengarkan musik, aku dan Xavier hanya memperhatikan keadaan sekitar. Setelah berjam – jam kami dipesawat, akhrinya sampai di London pada sore hari. Supirku sudah menuggu dan kami pulang kerumah.
Saat sampai dirumah, kai disambut dengan ibuku tanpa nenekku, berarti nenekku masih berada di Paris. Lalu para pelayan segera membawa barang – barang kami, kecuali Xavier, karena ia langsung pulang kerumahnya.
Lalu aku segera istirahat, dan mama meberitahuku bahwa Edwin besok ada medical check up. Lalu kami makan malam dan segera istirahat. Edwin tetap terlihat tidak senang, sedangkan Farrell dan David terlihat santai saja.
Thursday, May 13, 2010
4 Sementara
4. Welcome to Bali.
“Welcome to Bali, Nat, Xavier!” seru Scarlett, seperti tidak pernah pulang kampung saja. “Biasa saja ekspresinya, kau ini, memangnya kau belum pernah ke Bali?” keluh Xavier.
“Aku sibuk menghabiskan hidupku di New York, aku bekerja disana.”
“Oh ya? Sebagai apa?” kataku.
“Harpist. Aku mengajar dan terkadang mengisi pertunjukan juga.”
“Wow. Dirumahmu ada harpa? Mainkanlah untuk kami.” Seru Xavier.
Scarlett hanya mengaggukan kepalanya. Lalu aku membaca nama bandaranya, ‘Ngurah Rai’ bagaimana cara mengejanya?
Lalu kami naik mobil, Mercedes Benz S Class. Setelah kutanya katanya ini mobil keluarga Burney.
Kami sampai saat pukul well, jam 7 malam? Kalau di London ini masih senja. Lalu Scarlett mempertemukan kami dengan keluarganya, dan kami berkenalan saat di ruang tamu, para pelayan mengangkat barang – barangku dan Xavier ke kamar tamu, lalu seluruh anggota berdiri, lalu Scarlett yang memandu mengenalkanku pada mereka dimulai dari yang paling kanan, “Nat, ini ibuku, Carlotta Oliver Burney, ibu, ini Natalie dan Xavier,”
“Senang bertemu dengan anda,” kataku, ia hanya tersenyum, setelah berjabat tangan denganku, lalu berjabat tangan dengan Xavier, Xavier hanya tersenyum, ya cukup aku yang berbicara, “lalu, ini Farrell, dia anak paling tua.” Lanjut Scarlett lagi, lalu Farrell berkata, “how do you do?” aku hanya tersenyum dan menjawab, “I’m great.” Lalu Scarlett melanjutkan, “dan anak nomor dua adalah aku, dan setelahku ada Wanda,” lalu kami bersalaman dan Wanda berkata, “hello,” lalu kujawab, “hi” lalu Scarlett melanjutkan, “David, dia yang paling bandel tapi kreatif.” Lalu aku hanya tersenyum dan dia tersenyum kembali tanpa berkata apa – apa, “dan ini. Loh, kemana dia? Dimana Edwardian?” Tanya Scarlett pada David, lalu David menjawab, “hmm, katanya menginap dirumah temannya, tenang, Maia ikut bersamanya.”
“Ada apa Scarlett?” Tanya Xavier.
“Adikku yang paling kecil, tidak ada, dan Maia adalah pengasuhnya, sudahlah, hmm, makan malam sudah siap dan ayo kita makan.”
Ya sudah, lalu kami makan malam, makanan Indonesia sepertinya, hmm tampilannya seperti daging panggang, dan setelah kuperhatikan, hanya minumanku yang mengandung darah, lalu kami makan, dan rasanya enak sekali, “Scarlett, ini apa namnya, menu utamanya enak sekali.” Kataku.
“Bebek Bali. Enak kan? Walau kami orang asing, tapi alas an kami untuk tetap mtinggal disini karena makanannya luar biasa enak, dan pedagangnya sudah terbiasa dengan wajah kami.”
“Sejujurnya yang wajahnya maih ada Indonesia-nya adalah Edwardian, atau yang akrab dipanggil Edwin, walaupun tidak terlalu, mungkin karena dia sendiri yang lahi di Indonesia.” Kata Carlotta.
“Memang Edwin lahir dimana?” Tanya Xavier.
“Bandung, jauh sekali dari Bali ya?” jelas Carlotta lagi.
Aku tahu Bandung, ibuku dan aku pernah wisata belanja kesana, aku suka daerah itu. Xavier hanya trsenyum, kurasa dia tahu Bandung dimana.
Setelah selesai menghabiskan pencuci mulut, aku diantar Scarlett menuju kamar tamu, dan “WHAT??? Sekamar lagi dengan Xavier?” spontanku.
“Hah? Kalian pernah tidur sekamar, maaf Nat, tapi kamar tamunya hanya satu, secara teknis ada dua, tapi yang satu lagi dipakai untuk menyimpan lukisan –lukisan, kami belum sempat meluaskan rumah,”
“Soal itu, apa bisa minta kasur tambahan?” kata Xavier, “tentu, sudah tersedia, terserah siapa yang mau diatas atau diawah tapi sepertinya Natalie yang tidur diatas. Aku sudah memikirkannya matang – matang.”
What the fucking plan. Terserah apa maunya, tapi kamar tidurnya cukup nyaman. Ada jendela yang cukup besar dan pemandangannya langsung pantai. Hmm boleh juga. “Lalu rencanamu apa, Xavier?”
“Hmm, tujuan kita kesini adalah membicarakan tentang perkembangan kejahatan keluarga Ernesto dan kawanannya, kita harus menuggu Adriano Burney untuk membantu dalam proses ini, Nat.”
“Hmm, entah kenapa aku ingin bertemu Edwin Burney, entah kenapa firasatku ini, sudahlah, mumpung kita di Bali, mungkin besok kirta bisa berjalan – jalan di pantai, menggunakan ini,” lalu aku menunjukan tabir surya extra untuk menjaga kulit vampire agar tidak terbakar dibawah teriknya matahari pantai, (baca di bagian The Vampire’s Files: The Secret File).
Lalu Xavier hanya seyum – senyum saja, dan kemudian kami bergantian menggunakan kamar mandi untuk berganti piyama dan tidur.
Keesokan harinya.
“Good morning Natalie,” kata Scarlett saat aku membuka mataku, “Scarlett kau ini kenapa? Sudah jam berapa sekarang?” aku bingung karena matahari mulai naik.
“Jam 7. Tidak terlalu pagi kan? Biasakanlah dengan perbedaan waktu.” Jawab Scarlett.
What??? Berarti aku harus buru – buru mandi. Entah kenapa aku jadi seperti ada yang mengatur seperti ini, lalu Scarlett membangunkan Xavier yang tidur dibawah.
Setelah kami (aku dan Xavier) siap, lalu sarapan pagi, Farrell dan Carlotta pergi entah kemana, Wanda lalu kembali ke studio lukisnya, dan Scarlett hanya bilang pada kami, “silahkan kalau ingin jalan – jalan ke pantai, Pantai Kuta, ya ini kunci mobil Ferrari ku, sudah disiapkan di depan, yang warna kuning, sudah dilengkapi dengan GPS, nikmatilah sampai makan siang karena ayahku, maksudku Adriano akan datang.”
Ya lalu kami (aku dan Xavier) menikmati fasilitas, Xavier yang menyetir, lalu kami sampai di pantai, dan berjalan – jalan, tabir suryanya tentu sudah kami kenakan, “hmm, masa lalu itu penting tidak? Hanya penasaran saja.” Tanyaku pada Xavier.
“Ya tergantung, kenangan masa lalu terkadang sangatlah penting bagi sebagian orang, bahkan itu sangat diperlukan dalam kondisi sulit,”
“kondisi sulit? Maksudmu, kau…” dug, aku menabrak anak kecil didepanku, “sorry, if I hurt you.” Spontanku, lalu anak kecil tadi berbicara dengan bahasa Inggris, “kau, wanita yang kulihat dalam mimpiku, Natalie Clyde. Dan kau Xavier Nara.”
“Are you paranormal or what? I never meet you and you never meet me, so the problem is who are you? What’s your name, kid?” responku, “just call me Fadel.”
“Farrell?” kata Xavier, “Fadel, F – A – D – E - L, apa aku harus mengejanya?” anak ini pandai sekali berbahasa Inggris, lagi pula tampangnya sedikit Indonesia tapi ada sedikit ke-baratannya, kurasa dia blasteran.
“What are you doing here Edwardian! Just go home now, and where is Maia?” tiba – tiba Scarlett datang, jadi, jadi dia Edwin, tapi kenapa dia mengaku namanya Fadel, dan dia tidak berbohong, “Scarlett?”
“Natalie, what are you dong here? Dan, well, lebih baik dijelaskan dirumah saja. Ayo.” Ajak Scarlett. So? Apakah Edwin anak yang bermasalah? Tapi ada yang berbeda dengannya, lalu kami kembali kekediaman Burney.
“Nama anak ini atau adikku ini adalah Edwardian Fadel Burney. Lahir di Bandung, February 2, 1995. Dan memang wajahnya sedikit Indonesia karena mungkin faktor lahir di Indonesia atau apa tapi dia adalah anggota Burney.” Celoteh Scarlett seakan dengan posisi menghukum adiknya. “Dan pertanyaanku adalah, dimana pengasuhmu, Maia Friedlander? Kau tahu dia sudah tua. WHERE IS SHE!!!! EDWARDIAN FADEL BURNEY!!!! JUST ANSWER IT!!!” Scarlett benar – benar marah, lalu dijawab Edwin, “Maia kusuruh pulang, coba cek kamarnya, aku tahu aku bersalah tapi kumohon jangan over protective padaku, umurku sudah 15 tahun.”
“Kau tahu suatu saat kau bisa terbunuh? Kau mau dibunuh? What the fuck, really I swear, we love you, please understand.” Scarlett sepertinya khawatir sekali, “Scarlett, bolehkah aku berbicara pada Edwin?” kata Xavier tiba – tiba. Lalu Xavier mengajak Edwin kesuatu tempat, dan aku berbicara pada Scarlett.
“What the fucking thing you and Edwin you talking about? Ada apa sebenarnya Scarlett, ini bukan dirimu yang biasanya.” Scarlett hanya terdiam, “Scarlett, Scarlett kau baik – baik saja kan? SCARLETT!”
“Maaf Natalie, ini masalah adikku, dia memang vampire murni yang bernasib sial.”
“Aku tidak mengerti, Scarlett kenapa dengan adikmu?”
“Dia tidak normal, imunitasnya rendah, mentalnya lemah, mudah jatuh, dan terancam terbunuh.”
“Oleh? Kenapa? Ini aneh, seluruh vampire murni tidak ada yang lemah.” Aku bingung dan heran. “Let me guess, Trisha Venn Silver featuring Edmund Silver?”
“Featuring? Hmm, ya ini ulah mereka. Mereka meracuni adikku, merasukinya dengan penih dendam dan berlumurah darah yang tak termaafkan.”
15 years ago…
Saat itu suasana masih dalam keadaan kacau akibat pemberonyakan Edmund dan Trisha. Dimana keluarga Burney belum sekaya semasa sekarang, walaupun memang sudah kaya, mereka masih tinggal di Manchester, sebelum pindah ke Indonesia.
Keluarga Burney saat itu hanya ada Farrell, Scarlett, Wanda dan David, saat itu mereka masih kecil, dan memang potensi keturunan Burney memang cukup membahayakan masa depan Edmund dan Trisha. Hal ini tentu tidak bisa dibiarkan, maka Trisha menyamar menjadi pelayan keluarga Burney, mendengar bahwa memang keluarga Burney kekurangan pelayan. Trisha menyamar dengan baik selama satu bulan disana. Tujuan Trisha jelas, menghancurkan keturunan terkuat Burney, Farrell, karena bakat Farrell sudah terlihat. Dan akhirnya saat itu tiba, malam itu Trisha mengajukan pengunduran diri dan berkata pada Carlotta, “maaf nyonya, biarlah malam ini malam terakhir saya, saya sudha tidak bisa bekerja lagi disini karena faktor keluarga.” Carlotta yang memang tidak tahu menau akhirnya memberentikan Trisha.
Dan tentu saja, semua ini ada campur tangan Larissa Clearwater, ilmuan gila sekaligus kembaran Prof. Clarissa Clearwater ini yang memang bekerja sama dengan Edmund dan Trisha menciptakan ramuan percobaan kedua, yakni Cruelle. Berbeda dengan ramuan sebelumnya yakni Luncructor, racun Cruelle akan meruska sistem pertahanan tubuh atau imunitas sehingga vampire yang mengkonsumsinya akan mati perlahan tapi menyiksa. Dan seperti Luncructor, Cruelle hanya akan efektif bila korban yang mengkomsumsinya masih kecil atau dibawah umur 18 tahun.
Tentunya Cruelle akan diberikan pada Farrell, dan tentunya Cruelle akan dicampur dengan makanan Farrell. Ini memang saat yang tepat karena Adriano, sang kepala keluarga sedang diluar. Jadi perlindungan keluarga Burney sedikit berkurang.
Setelah meracuni makanan Farrell, dengan wajah tanpa dosa Trisha mengantar makanan tersebut, dan setelah itu Carlotta bekata, “aku bosan dengan makananku, Farrell maukah kau bertukar makanan dengan ibu?” lalu Farrell hanya menganggukan kepalanya. Betapa kagetnya Trisha. Tapi dia tidak bisa apa – apa, dan malam itu ia gagal lagi.
Satu kesalahan Trisha, ia tidak tahu bahwa Carlotta sedang hamil 3 bulan, memang kehamilan 3 bulan belum terlalu tampak. Bahkan Carlotta sendiri tidak tahu tentang kehamilannya.
Setelah beberapa bulan karena beberapa faktor, akhirnya keluarga Burney pindah ke Indonesia, awalnya mereka pindah ke Bandung, dan melahirkan Edwin disitu, ya dan mulailah kehidupan Edwin yang mengerikan.
Edwardian Fadel Burney, ya itulah namanya, lahir pada tanggal 2 February, 1995.
Ia juga satu – satunya anak yang memiliki nama dengan 3 suku kata. Nama Fadel diambil karena ia lahir bulan February dan itu juga saran dari tetangganya, agar keluarga Burney ingat akan Indonesia, maka diberi sentuhan Indonesia dinama tengahnya.
Awalnya memang tidak terlalu terlihat, tapi setelah umur 2 tahun, Carlotta mulai merasa aneh dengan anak bungsunya itu. Edwin mudah sekali terkena penyakit, padahal tidak ada vampire yang mudah terkena penyakit apalagi Edwin seperti terkena penyakit rutinan. Carlotta juga tidak sekuat dulu lagi. Lalu ia pulang ke Inggris dan memeriksa keadaanya pada Clarissa.
Clarissa menyatakan bahwa Edwin dan Carlotta terkena suatu racun atau mungkin virus. Clarissa menyataka bahwa ini virus ciptaan kembarannya, karena susunannya sama seperti yang sebelumnya, hanya berbeda sedikit.
Clarissa menyatakan mungkin ia terkena virus ini saat Carlotta mengandung Edwin, karena virus ini terpecah, 15% ada di tubuh Carlotta dan 85% ditubuh Edwin. Clarissa juga mengatakan, efek samping dan efek positifnya. Efek sampingnya seperti yang dijelaskan sebelumnya, merusak imunitas, dan sebagainya. Sedangkan efek positifnya bakat Edwin akan berkembang pesat lebih cepat dari yang seharusnya.
Edwin yang sekarang…
“Scarlett, jadi itu sebabnya kau,” kataku prihatin dengan wajah datar.
“Yeah, over protective.”
“Apa bakat Edwin?”
“Bermain musik pastinya, karena kita semua seniman, dan yang satu lagi, hmm kau akan tahu Natalie.”
Sisi Xavier…
“Begitukah ceritanya, Ed?”
“Ya, Xavier.”
“Jadi orang tuamu yang memberitahukan semua ini?”
“Bukan. Aku tahu sendiri kejadian 15 tahun yang lalu.” Mendengar jawaban Edwin, aku bingung. Apa bakat anak ini? Akankah dia seperti Natalie yang gila membunuh?
“Saat itu umurku 6 tahun, dan seperti biasa aku rutin cek ke dokter. Lalu aku melihat seorang suster menstuhksn cairan infus, dan begitu melihat cairan itu, aku seperti melihat cairan didalam tubuhku dan peristiwa 15 tahun yang lalu, lalu setelah itu secara spontan aku menyebutkan nama Trisha Venn Silver, dan kau bisa menebaknya, ibuku bingung, dan kujelaskan semua yang kulihat.” Jelas Edwin padaku. Jadi apakah Edwin akan menjadi dukun? Entahlah. Jelas saja anak ini menjadi incaran Edmund, justru dia akan berbahaya karena bisa melacak gerak – gerik Edmund dan komplotannya.
“Lalu kau bisa melihat masa lalu? Hmm, hebat juga.” Kataku.
“Dan masa depan, ya terdengar seperti Final Destination ya? Tapi hanya disaat genting, aku bukan seorang peramal yang bisa meramal kapan saja, dan juga aku bisa seperti itu kalau ada benda atau hal yang mendukung, dan satu lagi, mungkin aku tidak bisa membaca pikiran tapi aku bisa membaca suasana.” Terang Edwin, hmm ya mungkin kejadian tidak normal itu akan terjadi, maksudku mungkin saja anak ini pada umur 17 tahun tiba – tiba bisa membaca pikiran seperti Natalie? “Lalu apa kau merasa akan dibunuh?”
“Ya, dan yang akan membunuhku adalah Edmund.”
“Jadi kau bisa tahu kalau kau akan dibunuh Edmund?”
“Tidak, tapi, setiap aku mengingat mereka, punggungku merasa sakit, seolah – olah aku dilukai dengan kapak merah, dan itu menyakitkan walau tidak terlalu sakit, tapi pasti bila saatnya tiba itu akan menyakitkan sekali.”
“Maksudmu kau akan dibunuh dengan kapak atau apa?”
“Aku tidak tahu, dan mungkin hal ini akan mengejutkan Natalie.”
Aku bingung, apa hubungannya dengan Natalie? Siapa sebenarnya anak ini? Apakah dia dewa atau apa? Tapi Natalie? Sudahlah, sekarang aku hanya menuggu Adriano untuk mendapatkan informasi tentang semuanya, lalu Edwin berkata, “Mau mendengarku bermain piano? Kau bisa request lagu.” Aku baru sadar kalau diruangan ini ada grand piano berwarna coklat kayu, ya seperti piano kayu tampilannya. Lalu aku berkata pada Edwin, “apapun yang sesuai dengan suasana, kau bilang kau bisa membaca suasana?”
“Suasana ya, okay.” Lalu Edwin duduk dikursi piano dan melantunkan lagu, hmm instrument ini, ini, ini, ini ‘Evanescence – My Immortal’. Kenapa harus lagu ini? Aku seperti mendengar ada suara Amy Lee padahal hanya ada instrument musiknya. Apa ini pertanda bahwa akan terjadi sesuatu? Atau ini hanya, ah sudhalah, lebih baik aku mencari Natalie, Mirabella sudah membayarku untuk menjaga anaknya ini.
Sisi Natalie…
“Jadi itu bakat Edwin? The sounds like Final Destination.”
“Tapi kan tidak sepenuhnya seperti itu, lagi pula yang ku khawatirkan hanyalah keselamatannya, karena blog itu, karena blog itu, Edwin akan dibunuh, mungkin ini dampak negatif internet.”
“Ada apa dengan blog? Maksudmu situs blogger?” kata Xavier tiba – tiba.
“Yea, itu kenapa Edwin diincar oleh Edmund dan Trisha, karena curahannya pada blogger itu.”
Aku bingung, karena aku memang tidak suka surfing jadi aku bingung. “Label: Paranormal in Me yang dibuat Edwin dibaca oleh mereka,disitu banyak sekali kejadian yang ya, aneh dan saat itu tiba, Edwin menceritakan pengalamannya dirumah sakit pada ia umur 6 tahun. Kalau melihat komentar orang lain, mereka bilang, Edwin cocoklah menjadi penulis, atau apalah, tapi tentu pandangannya akan berbeda bila dibaca oleh Edmund. Dan saat itu, ia mulai meneror kami, lewat situs ‘Facebook’ dan ‘Twitter’ yang sedang menjadi trendsetter sekarang ini, ia berkata akan mengancam akan membunuh Edwin. Maka dari itu, kami pindah dari Bandung ke Bali.”
Jelas Scarlett panjang lebar. Pantas saja dia berpakaian seperti itu saat di bandara, tapi mungkin Amanda dan Luster Ernesto menyangka kami akan ke Bandung? Sepertinya tidak lama lagi, kediaman keluarga Burney di Bali akan ketahuan.
Lalu tidak lama kami mendengar ada mobil yang datang, “Pasti papa.” Kata Scarlett. Lalu Scarlett menujum ruang tamu depan dan menjamu Adriano pastinya, dan kami mengikutinya, disana juga sudah ada Wanda dan Edwin.
“Hey, kalian anak - anakku, dan Wanda, selamat atas prestasi percobaanmu itu.” Kata Adriano, ya mereka bertemu selayaknya keluarga, ini membuatku iri karena aku bahkan tidak tahu siapa ayahku, lalu Adriano melihat kearah kami, “Natalie Clyde, senang bertemu denganmu.” Lalu kami berjabat tangan, “hello Adriano,” lalu adriano melihat kearah Xavier, “kau pasti Xavier. senang bertemu denganmu.” Kata Adriano lalu mereka berjabat tangan, “senang bertemu denganmu juga. Bisa kita mulai urusan kita?” kata Xavier, “hmm, baiklah, mari ikut keruang kerjaku, anak – anak, ayah ada urusan sebentar.” Kata Adriano, lalu kami pergi ke ruangan kerja Adriano.
Setelah masuk, Adriano menutup pintu dan langsung menuju kearah rak yang ada disitu, “ini dia. Ayo dudk disini.” Kata Adriano lalu mempersilahkan kami duduk di sofa yang ada. “Amanda Rosella Ernesto dan Luster Eida Ernesto. Ini kan yang kalian perlukan?” kata Adriano sambil menunjukan dua berkas tentang dia, “Tunggu, Rosella? Eida? Bukankah nama tengah Amanda adalah Lydia dan nama tengah Luster adalah Ola?” kataku bingung.
“Kau mau saja dibodohi dia.” Kata Adriano, lalu aku melihat data tentang Amanda.
Name : Amanda Rosella Ernesto
Born : Newcastle, October 23, 1990
Hair : Red
Eyes : Blue
Height : 168 cm
Personality : Seperti anak kecil, genit, tetapi sadis dan paling suka membantai. Dan ia penuh dendam. Dia juga sangat sensitif serta perfeksionis, terutama dalam berpakaian. Ia juga suka keindahan.
Hmm, pribadi yang unik, jadi rambut dia berwarna merah?
Lalu aku melihat data tentang Luster, aku lalu meminta bertukar berkas pada Xavier.
Name : Luster Eida Ernesto
Born : Newcastle, November 30, 1992
Hair : Red
Eyes : Blue
Height : 165 cm
Personality : Kalau Amanda cerewet, ini kebalikannya, Luster pendiam dan tidak genit. Kalau untuk soal kesadisan, Amanda lebih duka langsung menebas, sedangkan Luster lebih suka menyiksanya terlebih dahulu.
Wow, pribadi yang kusuka, minimal pribadi ini lebih baik dari pada Patricio dan Claudio Ernesto. “Natalie, kau pasti sudah tahu tentang Edwin Burney kan?” celetuk Adriano. “Ya, Edwin Burney adalah korban dari racun Cruelle ciptaan Larissa Clearwater.” Jawab Xavier. “Cruelle? Maksudmu C R U E L L E yang tulisannya seperti itu? Kok kamu tahu itu nama virus, atau mungik racun yang meracuni Edwin?” Tanyaku bingung karena Scarlett tidak memberitahu soal itu. “Edwin yang bilang padaku. Disaat Scarlett bercerita padamu, Edwin juga bercerita padaku, Nat.” Jelas Xavier. “Baguslah kalau kalian sudah tahu, sekarang bisakah kalian membantuku?” Tanya Adriano.
“Welcome to Bali, Nat, Xavier!” seru Scarlett, seperti tidak pernah pulang kampung saja. “Biasa saja ekspresinya, kau ini, memangnya kau belum pernah ke Bali?” keluh Xavier.
“Aku sibuk menghabiskan hidupku di New York, aku bekerja disana.”
“Oh ya? Sebagai apa?” kataku.
“Harpist. Aku mengajar dan terkadang mengisi pertunjukan juga.”
“Wow. Dirumahmu ada harpa? Mainkanlah untuk kami.” Seru Xavier.
Scarlett hanya mengaggukan kepalanya. Lalu aku membaca nama bandaranya, ‘Ngurah Rai’ bagaimana cara mengejanya?
Lalu kami naik mobil, Mercedes Benz S Class. Setelah kutanya katanya ini mobil keluarga Burney.
Kami sampai saat pukul well, jam 7 malam? Kalau di London ini masih senja. Lalu Scarlett mempertemukan kami dengan keluarganya, dan kami berkenalan saat di ruang tamu, para pelayan mengangkat barang – barangku dan Xavier ke kamar tamu, lalu seluruh anggota berdiri, lalu Scarlett yang memandu mengenalkanku pada mereka dimulai dari yang paling kanan, “Nat, ini ibuku, Carlotta Oliver Burney, ibu, ini Natalie dan Xavier,”
“Senang bertemu dengan anda,” kataku, ia hanya tersenyum, setelah berjabat tangan denganku, lalu berjabat tangan dengan Xavier, Xavier hanya tersenyum, ya cukup aku yang berbicara, “lalu, ini Farrell, dia anak paling tua.” Lanjut Scarlett lagi, lalu Farrell berkata, “how do you do?” aku hanya tersenyum dan menjawab, “I’m great.” Lalu Scarlett melanjutkan, “dan anak nomor dua adalah aku, dan setelahku ada Wanda,” lalu kami bersalaman dan Wanda berkata, “hello,” lalu kujawab, “hi” lalu Scarlett melanjutkan, “David, dia yang paling bandel tapi kreatif.” Lalu aku hanya tersenyum dan dia tersenyum kembali tanpa berkata apa – apa, “dan ini. Loh, kemana dia? Dimana Edwardian?” Tanya Scarlett pada David, lalu David menjawab, “hmm, katanya menginap dirumah temannya, tenang, Maia ikut bersamanya.”
“Ada apa Scarlett?” Tanya Xavier.
“Adikku yang paling kecil, tidak ada, dan Maia adalah pengasuhnya, sudahlah, hmm, makan malam sudah siap dan ayo kita makan.”
Ya sudah, lalu kami makan malam, makanan Indonesia sepertinya, hmm tampilannya seperti daging panggang, dan setelah kuperhatikan, hanya minumanku yang mengandung darah, lalu kami makan, dan rasanya enak sekali, “Scarlett, ini apa namnya, menu utamanya enak sekali.” Kataku.
“Bebek Bali. Enak kan? Walau kami orang asing, tapi alas an kami untuk tetap mtinggal disini karena makanannya luar biasa enak, dan pedagangnya sudah terbiasa dengan wajah kami.”
“Sejujurnya yang wajahnya maih ada Indonesia-nya adalah Edwardian, atau yang akrab dipanggil Edwin, walaupun tidak terlalu, mungkin karena dia sendiri yang lahi di Indonesia.” Kata Carlotta.
“Memang Edwin lahir dimana?” Tanya Xavier.
“Bandung, jauh sekali dari Bali ya?” jelas Carlotta lagi.
Aku tahu Bandung, ibuku dan aku pernah wisata belanja kesana, aku suka daerah itu. Xavier hanya trsenyum, kurasa dia tahu Bandung dimana.
Setelah selesai menghabiskan pencuci mulut, aku diantar Scarlett menuju kamar tamu, dan “WHAT??? Sekamar lagi dengan Xavier?” spontanku.
“Hah? Kalian pernah tidur sekamar, maaf Nat, tapi kamar tamunya hanya satu, secara teknis ada dua, tapi yang satu lagi dipakai untuk menyimpan lukisan –lukisan, kami belum sempat meluaskan rumah,”
“Soal itu, apa bisa minta kasur tambahan?” kata Xavier, “tentu, sudah tersedia, terserah siapa yang mau diatas atau diawah tapi sepertinya Natalie yang tidur diatas. Aku sudah memikirkannya matang – matang.”
What the fucking plan. Terserah apa maunya, tapi kamar tidurnya cukup nyaman. Ada jendela yang cukup besar dan pemandangannya langsung pantai. Hmm boleh juga. “Lalu rencanamu apa, Xavier?”
“Hmm, tujuan kita kesini adalah membicarakan tentang perkembangan kejahatan keluarga Ernesto dan kawanannya, kita harus menuggu Adriano Burney untuk membantu dalam proses ini, Nat.”
“Hmm, entah kenapa aku ingin bertemu Edwin Burney, entah kenapa firasatku ini, sudahlah, mumpung kita di Bali, mungkin besok kirta bisa berjalan – jalan di pantai, menggunakan ini,” lalu aku menunjukan tabir surya extra untuk menjaga kulit vampire agar tidak terbakar dibawah teriknya matahari pantai, (baca di bagian The Vampire’s Files: The Secret File).
Lalu Xavier hanya seyum – senyum saja, dan kemudian kami bergantian menggunakan kamar mandi untuk berganti piyama dan tidur.
Keesokan harinya.
“Good morning Natalie,” kata Scarlett saat aku membuka mataku, “Scarlett kau ini kenapa? Sudah jam berapa sekarang?” aku bingung karena matahari mulai naik.
“Jam 7. Tidak terlalu pagi kan? Biasakanlah dengan perbedaan waktu.” Jawab Scarlett.
What??? Berarti aku harus buru – buru mandi. Entah kenapa aku jadi seperti ada yang mengatur seperti ini, lalu Scarlett membangunkan Xavier yang tidur dibawah.
Setelah kami (aku dan Xavier) siap, lalu sarapan pagi, Farrell dan Carlotta pergi entah kemana, Wanda lalu kembali ke studio lukisnya, dan Scarlett hanya bilang pada kami, “silahkan kalau ingin jalan – jalan ke pantai, Pantai Kuta, ya ini kunci mobil Ferrari ku, sudah disiapkan di depan, yang warna kuning, sudah dilengkapi dengan GPS, nikmatilah sampai makan siang karena ayahku, maksudku Adriano akan datang.”
Ya lalu kami (aku dan Xavier) menikmati fasilitas, Xavier yang menyetir, lalu kami sampai di pantai, dan berjalan – jalan, tabir suryanya tentu sudah kami kenakan, “hmm, masa lalu itu penting tidak? Hanya penasaran saja.” Tanyaku pada Xavier.
“Ya tergantung, kenangan masa lalu terkadang sangatlah penting bagi sebagian orang, bahkan itu sangat diperlukan dalam kondisi sulit,”
“kondisi sulit? Maksudmu, kau…” dug, aku menabrak anak kecil didepanku, “sorry, if I hurt you.” Spontanku, lalu anak kecil tadi berbicara dengan bahasa Inggris, “kau, wanita yang kulihat dalam mimpiku, Natalie Clyde. Dan kau Xavier Nara.”
“Are you paranormal or what? I never meet you and you never meet me, so the problem is who are you? What’s your name, kid?” responku, “just call me Fadel.”
“Farrell?” kata Xavier, “Fadel, F – A – D – E - L, apa aku harus mengejanya?” anak ini pandai sekali berbahasa Inggris, lagi pula tampangnya sedikit Indonesia tapi ada sedikit ke-baratannya, kurasa dia blasteran.
“What are you doing here Edwardian! Just go home now, and where is Maia?” tiba – tiba Scarlett datang, jadi, jadi dia Edwin, tapi kenapa dia mengaku namanya Fadel, dan dia tidak berbohong, “Scarlett?”
“Natalie, what are you dong here? Dan, well, lebih baik dijelaskan dirumah saja. Ayo.” Ajak Scarlett. So? Apakah Edwin anak yang bermasalah? Tapi ada yang berbeda dengannya, lalu kami kembali kekediaman Burney.
“Nama anak ini atau adikku ini adalah Edwardian Fadel Burney. Lahir di Bandung, February 2, 1995. Dan memang wajahnya sedikit Indonesia karena mungkin faktor lahir di Indonesia atau apa tapi dia adalah anggota Burney.” Celoteh Scarlett seakan dengan posisi menghukum adiknya. “Dan pertanyaanku adalah, dimana pengasuhmu, Maia Friedlander? Kau tahu dia sudah tua. WHERE IS SHE!!!! EDWARDIAN FADEL BURNEY!!!! JUST ANSWER IT!!!” Scarlett benar – benar marah, lalu dijawab Edwin, “Maia kusuruh pulang, coba cek kamarnya, aku tahu aku bersalah tapi kumohon jangan over protective padaku, umurku sudah 15 tahun.”
“Kau tahu suatu saat kau bisa terbunuh? Kau mau dibunuh? What the fuck, really I swear, we love you, please understand.” Scarlett sepertinya khawatir sekali, “Scarlett, bolehkah aku berbicara pada Edwin?” kata Xavier tiba – tiba. Lalu Xavier mengajak Edwin kesuatu tempat, dan aku berbicara pada Scarlett.
“What the fucking thing you and Edwin you talking about? Ada apa sebenarnya Scarlett, ini bukan dirimu yang biasanya.” Scarlett hanya terdiam, “Scarlett, Scarlett kau baik – baik saja kan? SCARLETT!”
“Maaf Natalie, ini masalah adikku, dia memang vampire murni yang bernasib sial.”
“Aku tidak mengerti, Scarlett kenapa dengan adikmu?”
“Dia tidak normal, imunitasnya rendah, mentalnya lemah, mudah jatuh, dan terancam terbunuh.”
“Oleh? Kenapa? Ini aneh, seluruh vampire murni tidak ada yang lemah.” Aku bingung dan heran. “Let me guess, Trisha Venn Silver featuring Edmund Silver?”
“Featuring? Hmm, ya ini ulah mereka. Mereka meracuni adikku, merasukinya dengan penih dendam dan berlumurah darah yang tak termaafkan.”
15 years ago…
Saat itu suasana masih dalam keadaan kacau akibat pemberonyakan Edmund dan Trisha. Dimana keluarga Burney belum sekaya semasa sekarang, walaupun memang sudah kaya, mereka masih tinggal di Manchester, sebelum pindah ke Indonesia.
Keluarga Burney saat itu hanya ada Farrell, Scarlett, Wanda dan David, saat itu mereka masih kecil, dan memang potensi keturunan Burney memang cukup membahayakan masa depan Edmund dan Trisha. Hal ini tentu tidak bisa dibiarkan, maka Trisha menyamar menjadi pelayan keluarga Burney, mendengar bahwa memang keluarga Burney kekurangan pelayan. Trisha menyamar dengan baik selama satu bulan disana. Tujuan Trisha jelas, menghancurkan keturunan terkuat Burney, Farrell, karena bakat Farrell sudah terlihat. Dan akhirnya saat itu tiba, malam itu Trisha mengajukan pengunduran diri dan berkata pada Carlotta, “maaf nyonya, biarlah malam ini malam terakhir saya, saya sudha tidak bisa bekerja lagi disini karena faktor keluarga.” Carlotta yang memang tidak tahu menau akhirnya memberentikan Trisha.
Dan tentu saja, semua ini ada campur tangan Larissa Clearwater, ilmuan gila sekaligus kembaran Prof. Clarissa Clearwater ini yang memang bekerja sama dengan Edmund dan Trisha menciptakan ramuan percobaan kedua, yakni Cruelle. Berbeda dengan ramuan sebelumnya yakni Luncructor, racun Cruelle akan meruska sistem pertahanan tubuh atau imunitas sehingga vampire yang mengkonsumsinya akan mati perlahan tapi menyiksa. Dan seperti Luncructor, Cruelle hanya akan efektif bila korban yang mengkomsumsinya masih kecil atau dibawah umur 18 tahun.
Tentunya Cruelle akan diberikan pada Farrell, dan tentunya Cruelle akan dicampur dengan makanan Farrell. Ini memang saat yang tepat karena Adriano, sang kepala keluarga sedang diluar. Jadi perlindungan keluarga Burney sedikit berkurang.
Setelah meracuni makanan Farrell, dengan wajah tanpa dosa Trisha mengantar makanan tersebut, dan setelah itu Carlotta bekata, “aku bosan dengan makananku, Farrell maukah kau bertukar makanan dengan ibu?” lalu Farrell hanya menganggukan kepalanya. Betapa kagetnya Trisha. Tapi dia tidak bisa apa – apa, dan malam itu ia gagal lagi.
Satu kesalahan Trisha, ia tidak tahu bahwa Carlotta sedang hamil 3 bulan, memang kehamilan 3 bulan belum terlalu tampak. Bahkan Carlotta sendiri tidak tahu tentang kehamilannya.
Setelah beberapa bulan karena beberapa faktor, akhirnya keluarga Burney pindah ke Indonesia, awalnya mereka pindah ke Bandung, dan melahirkan Edwin disitu, ya dan mulailah kehidupan Edwin yang mengerikan.
Edwardian Fadel Burney, ya itulah namanya, lahir pada tanggal 2 February, 1995.
Ia juga satu – satunya anak yang memiliki nama dengan 3 suku kata. Nama Fadel diambil karena ia lahir bulan February dan itu juga saran dari tetangganya, agar keluarga Burney ingat akan Indonesia, maka diberi sentuhan Indonesia dinama tengahnya.
Awalnya memang tidak terlalu terlihat, tapi setelah umur 2 tahun, Carlotta mulai merasa aneh dengan anak bungsunya itu. Edwin mudah sekali terkena penyakit, padahal tidak ada vampire yang mudah terkena penyakit apalagi Edwin seperti terkena penyakit rutinan. Carlotta juga tidak sekuat dulu lagi. Lalu ia pulang ke Inggris dan memeriksa keadaanya pada Clarissa.
Clarissa menyatakan bahwa Edwin dan Carlotta terkena suatu racun atau mungkin virus. Clarissa menyataka bahwa ini virus ciptaan kembarannya, karena susunannya sama seperti yang sebelumnya, hanya berbeda sedikit.
Clarissa menyatakan mungkin ia terkena virus ini saat Carlotta mengandung Edwin, karena virus ini terpecah, 15% ada di tubuh Carlotta dan 85% ditubuh Edwin. Clarissa juga mengatakan, efek samping dan efek positifnya. Efek sampingnya seperti yang dijelaskan sebelumnya, merusak imunitas, dan sebagainya. Sedangkan efek positifnya bakat Edwin akan berkembang pesat lebih cepat dari yang seharusnya.
Edwin yang sekarang…
“Scarlett, jadi itu sebabnya kau,” kataku prihatin dengan wajah datar.
“Yeah, over protective.”
“Apa bakat Edwin?”
“Bermain musik pastinya, karena kita semua seniman, dan yang satu lagi, hmm kau akan tahu Natalie.”
Sisi Xavier…
“Begitukah ceritanya, Ed?”
“Ya, Xavier.”
“Jadi orang tuamu yang memberitahukan semua ini?”
“Bukan. Aku tahu sendiri kejadian 15 tahun yang lalu.” Mendengar jawaban Edwin, aku bingung. Apa bakat anak ini? Akankah dia seperti Natalie yang gila membunuh?
“Saat itu umurku 6 tahun, dan seperti biasa aku rutin cek ke dokter. Lalu aku melihat seorang suster menstuhksn cairan infus, dan begitu melihat cairan itu, aku seperti melihat cairan didalam tubuhku dan peristiwa 15 tahun yang lalu, lalu setelah itu secara spontan aku menyebutkan nama Trisha Venn Silver, dan kau bisa menebaknya, ibuku bingung, dan kujelaskan semua yang kulihat.” Jelas Edwin padaku. Jadi apakah Edwin akan menjadi dukun? Entahlah. Jelas saja anak ini menjadi incaran Edmund, justru dia akan berbahaya karena bisa melacak gerak – gerik Edmund dan komplotannya.
“Lalu kau bisa melihat masa lalu? Hmm, hebat juga.” Kataku.
“Dan masa depan, ya terdengar seperti Final Destination ya? Tapi hanya disaat genting, aku bukan seorang peramal yang bisa meramal kapan saja, dan juga aku bisa seperti itu kalau ada benda atau hal yang mendukung, dan satu lagi, mungkin aku tidak bisa membaca pikiran tapi aku bisa membaca suasana.” Terang Edwin, hmm ya mungkin kejadian tidak normal itu akan terjadi, maksudku mungkin saja anak ini pada umur 17 tahun tiba – tiba bisa membaca pikiran seperti Natalie? “Lalu apa kau merasa akan dibunuh?”
“Ya, dan yang akan membunuhku adalah Edmund.”
“Jadi kau bisa tahu kalau kau akan dibunuh Edmund?”
“Tidak, tapi, setiap aku mengingat mereka, punggungku merasa sakit, seolah – olah aku dilukai dengan kapak merah, dan itu menyakitkan walau tidak terlalu sakit, tapi pasti bila saatnya tiba itu akan menyakitkan sekali.”
“Maksudmu kau akan dibunuh dengan kapak atau apa?”
“Aku tidak tahu, dan mungkin hal ini akan mengejutkan Natalie.”
Aku bingung, apa hubungannya dengan Natalie? Siapa sebenarnya anak ini? Apakah dia dewa atau apa? Tapi Natalie? Sudahlah, sekarang aku hanya menuggu Adriano untuk mendapatkan informasi tentang semuanya, lalu Edwin berkata, “Mau mendengarku bermain piano? Kau bisa request lagu.” Aku baru sadar kalau diruangan ini ada grand piano berwarna coklat kayu, ya seperti piano kayu tampilannya. Lalu aku berkata pada Edwin, “apapun yang sesuai dengan suasana, kau bilang kau bisa membaca suasana?”
“Suasana ya, okay.” Lalu Edwin duduk dikursi piano dan melantunkan lagu, hmm instrument ini, ini, ini, ini ‘Evanescence – My Immortal’. Kenapa harus lagu ini? Aku seperti mendengar ada suara Amy Lee padahal hanya ada instrument musiknya. Apa ini pertanda bahwa akan terjadi sesuatu? Atau ini hanya, ah sudhalah, lebih baik aku mencari Natalie, Mirabella sudah membayarku untuk menjaga anaknya ini.
Sisi Natalie…
“Jadi itu bakat Edwin? The sounds like Final Destination.”
“Tapi kan tidak sepenuhnya seperti itu, lagi pula yang ku khawatirkan hanyalah keselamatannya, karena blog itu, karena blog itu, Edwin akan dibunuh, mungkin ini dampak negatif internet.”
“Ada apa dengan blog? Maksudmu situs blogger?” kata Xavier tiba – tiba.
“Yea, itu kenapa Edwin diincar oleh Edmund dan Trisha, karena curahannya pada blogger itu.”
Aku bingung, karena aku memang tidak suka surfing jadi aku bingung. “Label: Paranormal in Me yang dibuat Edwin dibaca oleh mereka,disitu banyak sekali kejadian yang ya, aneh dan saat itu tiba, Edwin menceritakan pengalamannya dirumah sakit pada ia umur 6 tahun. Kalau melihat komentar orang lain, mereka bilang, Edwin cocoklah menjadi penulis, atau apalah, tapi tentu pandangannya akan berbeda bila dibaca oleh Edmund. Dan saat itu, ia mulai meneror kami, lewat situs ‘Facebook’ dan ‘Twitter’ yang sedang menjadi trendsetter sekarang ini, ia berkata akan mengancam akan membunuh Edwin. Maka dari itu, kami pindah dari Bandung ke Bali.”
Jelas Scarlett panjang lebar. Pantas saja dia berpakaian seperti itu saat di bandara, tapi mungkin Amanda dan Luster Ernesto menyangka kami akan ke Bandung? Sepertinya tidak lama lagi, kediaman keluarga Burney di Bali akan ketahuan.
Lalu tidak lama kami mendengar ada mobil yang datang, “Pasti papa.” Kata Scarlett. Lalu Scarlett menujum ruang tamu depan dan menjamu Adriano pastinya, dan kami mengikutinya, disana juga sudah ada Wanda dan Edwin.
“Hey, kalian anak - anakku, dan Wanda, selamat atas prestasi percobaanmu itu.” Kata Adriano, ya mereka bertemu selayaknya keluarga, ini membuatku iri karena aku bahkan tidak tahu siapa ayahku, lalu Adriano melihat kearah kami, “Natalie Clyde, senang bertemu denganmu.” Lalu kami berjabat tangan, “hello Adriano,” lalu adriano melihat kearah Xavier, “kau pasti Xavier. senang bertemu denganmu.” Kata Adriano lalu mereka berjabat tangan, “senang bertemu denganmu juga. Bisa kita mulai urusan kita?” kata Xavier, “hmm, baiklah, mari ikut keruang kerjaku, anak – anak, ayah ada urusan sebentar.” Kata Adriano, lalu kami pergi ke ruangan kerja Adriano.
Setelah masuk, Adriano menutup pintu dan langsung menuju kearah rak yang ada disitu, “ini dia. Ayo dudk disini.” Kata Adriano lalu mempersilahkan kami duduk di sofa yang ada. “Amanda Rosella Ernesto dan Luster Eida Ernesto. Ini kan yang kalian perlukan?” kata Adriano sambil menunjukan dua berkas tentang dia, “Tunggu, Rosella? Eida? Bukankah nama tengah Amanda adalah Lydia dan nama tengah Luster adalah Ola?” kataku bingung.
“Kau mau saja dibodohi dia.” Kata Adriano, lalu aku melihat data tentang Amanda.
Name : Amanda Rosella Ernesto
Born : Newcastle, October 23, 1990
Hair : Red
Eyes : Blue
Height : 168 cm
Personality : Seperti anak kecil, genit, tetapi sadis dan paling suka membantai. Dan ia penuh dendam. Dia juga sangat sensitif serta perfeksionis, terutama dalam berpakaian. Ia juga suka keindahan.
Hmm, pribadi yang unik, jadi rambut dia berwarna merah?
Lalu aku melihat data tentang Luster, aku lalu meminta bertukar berkas pada Xavier.
Name : Luster Eida Ernesto
Born : Newcastle, November 30, 1992
Hair : Red
Eyes : Blue
Height : 165 cm
Personality : Kalau Amanda cerewet, ini kebalikannya, Luster pendiam dan tidak genit. Kalau untuk soal kesadisan, Amanda lebih duka langsung menebas, sedangkan Luster lebih suka menyiksanya terlebih dahulu.
Wow, pribadi yang kusuka, minimal pribadi ini lebih baik dari pada Patricio dan Claudio Ernesto. “Natalie, kau pasti sudah tahu tentang Edwin Burney kan?” celetuk Adriano. “Ya, Edwin Burney adalah korban dari racun Cruelle ciptaan Larissa Clearwater.” Jawab Xavier. “Cruelle? Maksudmu C R U E L L E yang tulisannya seperti itu? Kok kamu tahu itu nama virus, atau mungik racun yang meracuni Edwin?” Tanyaku bingung karena Scarlett tidak memberitahu soal itu. “Edwin yang bilang padaku. Disaat Scarlett bercerita padamu, Edwin juga bercerita padaku, Nat.” Jelas Xavier. “Baguslah kalau kalian sudah tahu, sekarang bisakah kalian membantuku?” Tanya Adriano.
3 Sementara
3. Terror on the Plane.
“Xavier, apa kau melihat itu, apa mungkin…”
“Sepertinya, ada berapa vampire disini?”
“Entahlah, kita baru berangkat, masih lama untuk sampai ke tempat transit.”
Ya, tidak salah lagi, penumpang itu adalah vampire. Dan kurasa ia wanita, walau kelaminnya tidak jelas.
Tangannya, itu bujan tangan manusia biasa. Itu adalah kuku siap tempur, kuku siap tempur mengingatkanku pada…
Natalie dulu…
“Natalie, cobalah ini.” Kata Alessandro sambil membawa apel dengan bahasa Russia.
“Memangnya apel – apel itu mau diapakan?” jawab Natalie dengan bahasa Russia juga. Kali ini Natalie dan Alessandro berkomunikasi dengan bahsa Russia.
“Lakukan ini.” Alessandro lalu sedikit memanjangkan kuku telunjuknya dan memgupasnya dengan rapih, “kau ingin aku mengupas apel?”
“Aku tidak menyuruhmu begitu. Lakukan ini.” Lalu Alessandro melempar apel itu ke udara telunjuknya mengacung keatas lalu dengan cepat ia memotong apel itu menjadi dua. Lalu Natalie kecil mencobanya dan apelnya malah tertusuk ke jarinya. “Bagaimana bisa?” Natalie bingung. Lalu Natalie melihat dompet Alessandro jatuh, dan ia membukanya, ada foto seorang balita.
“Siapa ini?”
“Kau menemukan dompetku. Ini, anakku, Alyssa.”
“Alyssa? Kenapa aku tidak pernah melihatnya?”
“Dia, berada di Inggris. Sudahlah, coba lagi.”
Natalie dewasa…
“Alyssa.” Kataku spontan.
“Alyssa, siapa dia?” kalau dari tampangnya, sepertinya Xavier kenal dengan gadis bernama Alyssa itu. “Kau kenal dia, Xavier?”
“Eh, tidak, sebentar lagi kita akan sampai menuju ke tempat transit perama.”
“Cepat sekali?”
“Kau kan tadi tertidur. Masalahnya apa dia akan ikut bersama kita?”
Entahlah, akhir – akhir ini aku banyak teringat masa lalu. Entah kenapa? Apa hubungan semua ini? Lalu tak lama kami mendarat, kalau begitu berapa jam aku tertidur. Aku mendarat dimana saja aku tidak tahu. Yang jelas setelah ini kita segera menuju Singapore. Lalu aku dan Xavier turun, lalu penumpang mencurigakan tadi menghampiri kami, dan berbicara pada Xavier, “well, af, kukira ini milikmu?” lalu dia menyerahkan sepucuk surat. “Xavier, itu namamu?”
“Dari mana kau tahu?”
Lalu dia membuka kostumnya, ya, dia mencopot fedora syal dak coat-nya, “Scarlett?” kataku spontan.
“Natalie, apa kabar.” Lalu ia memelukku. Ternyata dia Scarlett Burney. Kawan lamaku. “Haha, aku tahu kau curiga padaku,” “Mirabella menyuruhku menemui kalian, sebenarnya kita akan terbang ke Bali bersama. Dan Carlotta menyuruhku memberikan ini kepada kalian.”
“Apa ini?” kataku sambil menerima surat, surat pernyataan pengunduran diri? Untuk apa? “Siapa yang mengundurkan diri? Kalau dilihat dari warna kertas dan tulisannya, sepertinya ini sudah lama ditulis.”
“Ya, itu sudah bertahun – tahun yang lalu. Semoga berguna.” Kata Scarlett.
“Baiklah,” tanggapku datar. “Apa kau merasakannya?” Tanya Scarlett lagi. Lalu aku berfikir apa mungkin, “tidak begitu, maksudmu kita dibuntuti?”
Scarlett hanya menganggukan kepalanya. Berarti aku belum bisa bernafas lega. “Xavier?” Tanya Scarlett lagi. Xavier menganggukan kepala. Sepertinya hanya aku yang terlambat berfikir kali ini. Ada apa sebenarnya??? Lalu asku berkata pada Xavier bahwa aku ingin segera naik pesawat berikutnya. Aku tidak ingin menunggu lama – lama. Lalu kami segera naik pesawat berikutnya dan ternyata scarlett ikut bersama kami. Kami segera berangkat menuju Singapore. Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Boom? Ular? Atau pesawatnya akan dibajak? Apa ini ulah keluarga brengsek Ernesto? Sepertinya iya kalau kulihat dari wajah mereka. Lalu kami segera naik pesawat berikutnya. Tapi berangkatnya 15 menit lagi. Aku sengaja agar dapat memeriksa sekitar. Lalu setelah dilihat – lihat semuanya mana saja. Lalu kami duduk dan Scarlett duduk disebelah kami. Lalu kami-pun berangkat. Lalu tak lama pramugarinya melewati kami dengan hawa yang mencurigakan. Seperti keadaan normal lainnya selayaknya tugas pramugari ia menawarkan pelayanannya apabila kami membutuhkan sesuatu. “Xavier, aku rasa…” lalu saat aku ingin berbicara padanya dia membungkam mulutku dengan tangannya, “shhhtttt, diam…” sepertnya a merasakan sesuatu. Saat pramugarinya melewati kami aku melihatnya lalu ia tersenyum, “ada yang bisa saya bantu, Nyonya…?”
“Aku ingin minu sesuatu, bisakah kau membuatkan kopi susu untukku?” Tanya Xavier segera. Lalu pramugari itu menatap Xavier, “baiklah tuan.” Tatapan pramugari itu memang berbeda. Lalu Xavier melongo kearah Scarlett, dan wajah Scarlett seperti cemas, tetapi lega. Sulit memang, aku takut pramugari tadi membaca pikiranku bila aku mengguakan via telepati tetapi Xavier maupun Scarlett tidak bisa telepati. Aku hanya bisa menunggu. Dan entah kenapa aku tertidur…
Natalie kecil…
Natalie dan Alessandro sedang berada di lapangan untuk latihan jurus baru. Kali ini mereka berkomunikasi dengan bahasa Russia. “Ini, Natalie.” Lalu Alessandro mengeluarkan peralatan dari tasnya. “Apa ini?”
“Peralatan ninja.” Kata Alessandro. Lalu Natalie melihat keatas dan berkata, “Al, sepertinya anak itu mengintip lagi, apa sebaiknya kita mengajaknya berlatih juga? Apa dia mengerti bahasa Russia?”
“Mungkin kau butuh teman. Baiklah, panggilah dia Natlaie. Kalau soal bahasa aku tidak tahu, munggkin lebih baik kita memakai bahasa Inggris kali ini.”
Natalie lalu menghampiri anak lelaki kecil itu dan mengajaknya berlatih bersama. “Mr. No-name?” kata Natalie. “Eh, Natalie. Aku…”, “Sudahlah, ayo ikut aku…” lalu Natalie mengajak anak lelaki kecil itu berlatih. Lalu Alessandro berfikir mungkin lain kali ia mengajarkan Natalie dengan peralatanh ninja yang berbahaya itu. “Hey, sebenarnya siapa namamu?” Tanya Natalie penasaran. “Namanya Alex, Nat, Alex memang pemalu. Nah Alex, apa kau mau ikut berlatih bersama kami?” kata Alessandro. Alex diam saja dan mengangguk. Lalu Alessandro mengajaran jurus – jurus pada mereka dan mulai praktek, “Nah, Alex, tunjukan pada El, ibumu hasil latihan hari ini, melawan suhu dingin, dan salju bahwa kau adalah anak lelaki yang kuat.” Lalu Alex dan Natalie bertarung, dan sepertinya Natalie yang menang, “Alex, kau ini laki – laki, kenapa payah sekali.” Protes Natalie, “aku, aku… maafkan aku Natalie, aku payah.” Alex tidak berdaya, “sudah Natalie, Alex baru pertama kali latihan bersama kita, jadi wajar kalau kau mengalahkan dia, dan Alex, kerja bagus. Kuharap kita bisa berlatih bersama dan ibumu tidak keberatan bila kau ikut latihan bersama kami.” Kata Alessandro dengan bijak. Lalu latihan selesai hari itu. Natalie sepertinya senang bila ia dapat teman bermain. Ya, bermain disini artinya berlatih jurus – jurus baru bukan bermain seperti anak biasanya. Lalu mereka seperti biasa, mengantar Alex kerumahnya, “Natalie, kau tunggu disini, aku ingin mengantar Alex kerumahnya. Dan juga, hmm, aku harus minta maaf karena Alex pulang dengan babak belur.”
“Aku mengerti, tidak masalah aku menunggu. Oh ya, Alex, maaf ya telah membuatmu seperti ini. Hmm, tapi aku senang, karena kita kau teman pertamaku dan kau mau menemaniku latihan kali ini.”
“Sama – sama. Maaf bila aku mengacewakanmu.” Tanggap Alex dengan sedikit sedih. “Tidak masalah, besok latihan lagi ya.” Kata Natalie ceria, “ayo, Alex, kita temui ibumu.” Alessandro memotong pmbicaraan Natalie dan Alex.
Lalu Natalie menunggu dan berfikir, “kenapa kalau memang Al tahu bahwa nama anak ini Alex dia tidak memberik tahuku dari awal, aku akan menanyakannya setelah Al kembali.
Lalu sekitar 5 menit kemudian Alessandro kembali. “Al, apa ibunya Alex marah padaku?” Tanya Natalie, lalu Alessandro menyalakan mobil dan berangkat pulang lalu menjawab, “Hmm, El? Dia tidak marah. Dia bahkan memberi Alex izin agar dia dapat berlatih bersama kita.”
Lalu Natalie mulai berbicara bahasa Russia, “El? Itu kepanjangan dari apa? Itu pasti panggilannya kan? Dan Al, kenapa kau tidak memberitahuku dari awal bahwa nama anak itu Alex.” Setelah bertanya begitu, lalu Alessandro menjawab dengan tenang. “Namanya Elea kalau soal itu maaf, kukira Alex akan memperkenalkan dirinya sendiri nanti, ternyata dia malu padamau, jadi kuharap kau dan Alex dapat menjadi teman yang baik.”
Natalie dewasa
Aku tersadar dari tidurku, dan bertanya pada Xavier, “sudah berapa lama aku tidur?”
“3-4 jam. Kenapa? Tenang, kopi ini tidak kuminum.”
“Maksudmu?”
“Kopi ini beracun. Sudah kuduga, tapi sekarang, kau diam saja, karena dibawah kursimu ada boom.”
“Apa?”
“Ya, setelah kusadari bahwa dibawah kursimu ada boom, boom itu kecil sekali, dan kulihat punggung pramudari saat membungkuk memberi kopi ini tidak wajar, seperti ada sesuatu, mungkin sayap.”
“Kau gila. Bagaimana ini?”
“Akan kupikirkan caranya, yang jelas, aku sekarang harus meyakini, beraa vampire yang ada disini dan berapa manusia yang ada disini.”
Aku bingung, kenapa aku terus dihantui masa lalu dan sekarang? Ada boom dibawah kursiku. Ini gila, disaat seperti ini, apa yang Alessandro ajarkan padaku??? Ayo ingat, Natalie Mirabella Clyde!!! Kenapa ini???
Kalau tidak salah, bersikap tenang, jangan gegabah dan melakukan gerak – gerik aneh yang dapat membahayakan keselamatan yang lain. “Apa rencanamu Xavier?”
“Belum terfikir, tapi sepertinya Scarlett sudah.” Lalu aku menengok kearah Scarlett dan ia tersenyum licik, lalu ia pergi menuju lavatory, atau kamr kecil pesawat. Dan entah apa yang akan dilakukannya.
Sisi Scarlett…
Aku melihat wajah Natalie sedikit panic tetapi tetap tenang dan Xavier yang sedikit tenang. Aku harus berhasil akan ini, ya ini adalah ulah Amanda dan Luster Ernesto. Tapi entah Amanda atau Luster yang ada disini. Dua wanita mengerikan. Lalu aku mengetuk pintu atau mungkin namanya kabin pilot. Lalu aku menunggu disitu dan benar dugaanku, ada pramugari lewat, ya lalu aku tahan dia disitu, dan berkata, “shttt, pesawat ini tidak aman, aku polisi, ini lencanaku,” lalu aku menunjukan lencanaku, lencana vampire dan manusia memang tidak ada bedanya ,“aku harap kau dapat bekerja sama dengan kami, pesawat ini di boom, dan aku ingn kita bertukaran pakaian. Aku beruntuk hari ini aku tidak memakai BurBerry.” Pramugari itu seperti ketakutan dan diam saja, lalu kami bertukar pakaian, lalu aku menyuruh pramugari itu duduk ditempatku dan memakai topi yang kutinggalkan dikursi pesawat, serta menunjukan ke ruangan dimana dapur dan tempat istirahat pegawai. Setelah itu, aku mengantrkan makanan ringan ke ruangan pilot, lalu kedua pilot itu kaget, karena yang dilihat bukanlah ‘Carmen’ pramgari yang seharusnya melainkan aku. “Siapa kau?” kata salah seorang pilot tersebut. “Shhtttt, sebaiknya kalian dengar aku, jika nyawa kalian ingin selamat.” Lalu aku menjelaskan apa yang terjadi dan menunjukan lencanaku. Lalu ak kelura dengan penuh wibawa dan senyuman, lalu saat sampai ditempat Natalie dan Xavier, aku bilang pada mereka, “ada yang bisa dibantu tuan,” lalu aku berbisik, “dengar, setelak aku keluar dari sini, kalian ikuti aku, dan jangan bersamaan denganku, kurasa kalian paham maksudku,”
“Scarlett, kau gila, tapi baiklah.” Lalu aku kembali berjalan dan keluar dari ruang kelas 1 menuju ruang dimana para pramugari/a berkumpul. Lalu setelah itu tak lama kuliat Natalie dan Xavier mengikutiku secara santi, lalu aku segera berjalan menuju ruangan yang telah ditunjukan Carmen, “now, apa rencana,u. hmm, Carmen? Hahaha…” Tanya Xavier, kita menuju dapur, kata Carmen, pramugari yang ku, well, ultimatum tadi, memang ada pramugari baru bernama Lydia. Tapi sepertinya itu samara dari Amanda Ernesto, kau tahu, Amanda pintar bersandiwara.” Terangku pada Natalie dan Xavier, “but,” lanjutku, “kita kali ini sepertinya kurang beruntung.”
“Kenapa?” Tanya Natalie.
“Pilot pesawat ini telah dipengaruhi si ‘Lydia’ itu, karena, kita akan turun di China, bukan Singapore, tapi tenang saja, aku sudah mengancam pilot – pilot polos itu.” Terangku santai, lalu aku mengajak mereka menuju dapur. Dan, sampai disana, kami mengejutkan mereka. “Polisi, tolong semuanya tenang.” Kataku. “Kau bukan Carmen.” Kata salah seorang koki. Ya dapur pesawat memang tidak terlalu besar hanya sekdarnya saja.
“Dimana Lydia?” kata Xavier.
“L – Y – D – I – A, bukan L – I – D – I - A. apa perlu ku eja?” kataku lagi. Karena Carmen member infonya begitu. “Dia, ada di bagasi.” Kaa salah seorang dari belakang, lalu berusaha menyerang Natalie, dengan mencekeknya, “Ola.” Kata salah seorang petugas disitu, oh ya, kata Carmen ada dua, tapi Lydia yang paling mencurigakan, berarti Ola maksudnya, “pergi kejar Lydia, Scarlett.” Kata Natalie dalam posisi sulit.
Sisi Natalie…
Aku lalu berusaha membanting wanita ini, Ola? Sepertinya ini Amanda atau Luster, Xavier berusaha mengamankan keadaan dengan membawa para petugas keluar dan mengkondisikan keadaan.
Sisi Xavier…
“Ayo, beritahu kepada semua penumpang semuanya aman, dan beritahuku dimana sisa pramugara atau pramugarinya. Dan kau siapa namamu?” Tanyaku pada salah seorang pramugari, “Wendi, with ‘i’.” katanya, “whatever, tapi bisakah kau memberi tahu Carmen dan pilot bahwa situasi aman, Carmen duduk dibangku kelas satu, kurasa kau cukup pandai.”
“Baiklah,” kata Wendi lalu degan cepat ia menghampiri Carmen, “kalian, tolong amankan sekitar, anggap saja tidak ada masala, aku harus menyusul Wendi, dan aku mengharapkan kerja samanya karena ini menyangkut keselamatan semua, paham?”
Mereka hanya mengangguk, ada yang mulai mengecek penumpang, dan aku mungkin harus menyusul Scarlett, karena aku yakin, Natalie akan baik – baik saja, tapi kemana arahnya? Semoga aku tidak tersasar.
Sisi Scarlett…
Lalu setelah aku pergi meninggalkan Natalie dan Xavier, aku menuju bagasi, agak gelap, mengingat isinya hanya barang – barang, dengan sepatu seperti ini tidak akan enak untuk berkelahi, lalu aku merasa diujung bokong pesawat, maksudku entah apa namnya tapi aku ada dibagian bokong pesawat. Aku melihat ada sosok wanita disitu, “Lydia?”
“Hahaha, siapa kau?” lalu Lydia berbalik badan sambil menekan tombol yang membuat well, bagian bokong pesawat itu terbuka sehingga aku dapat melihat awan. “Amanda Ernesto.” Kataku spontan, “well, kau bukan Carmen seperti yang tertera di tanda pengenalmu, Scarlett Burney.”
Sudah kuduga pramugari yang pertama tadi yang menawarkan pelayanan pesawat ini adalah Amanda Ernesto. Kenapa aku baru sadar saat tadi Amanda membuka topi pramugari dan memperlihatkan rambut panjangnya yang berwarna coklat kemerahan.
“Apa yang kau lakukan disini, Amanda?”
“Mengacau, membuat kalian takut, dan kau tahu seperti apa aku ini.”
“Aku tidak mengerti bagaimana kau dapat menyeludup, dan gadis bernama Ola itu Luster kan?”
“Tidak, dia memang Ola, Luster Ola Ernesto.”
“Dan jangan katakan nama panjangmu, Amanda Lydia Ernesto.”
“Aku tidak akan mengatakannya tapi hanya akan menganggukan kepala.”
“Bodoh sekali aku tidak menyadarinya.”
“Kau ini cerewet ya, Scarlett.” Lalu Amanda menyerangku dengan cepet, untung aku cepat mengelak, dan kami mulai berkelahi hebat dengan kostum konyol seperti ini. Amanda memang hebat, gerakannya cukup lincah sampai akhirnya aku dapat mengncunya dan membuat posisinya berada diantara udara dan besi, ya dia ada di bibir pintu pesawat. “Sekarang kau tidak berdaya, Amanda.”
“Siapa bilang,” lalu Amanda menendang pertuku dan menjatuhkan dirinya, dan aku benar – benar tidak percaya dengan apa yang dia lakukan, Amanda, dia… tapi, bagaimana???
Lalu tak lama kudengar suara Xavier, “Scarlett.”
“Xavier,”
“Apa yang terjadi?”
Apa aku harus menceritakannya? “Amanda, Lydia adalah nama tengah Amanda maksudku, Lydia itu Amanda, dan ia terjun kebawah. Dan Ola, Ola adalah Luster, maksudku Ola adalah nama tengah Luster. Ah aku pusing.”
“Mungkin sebaiknya kita tutup pintu besar ini dulu, yang mana tombolnya?”
Lalu aku menghampiri Xavier dan menekan tombol yang tadi ditekan Amanda.
Aku masih tidak mengerti apa itu fatamorgana atau apa. Lalu aku dan Xavier pergi manghampiri Natalie.
Sisi Natalie…
“Jadi kau Ola. Pendeknya.” Hinaku pada Ola.
“Hmm, Ola, ya Luster Ola Ernesto. Sepertinya kau belum kenal aku, Natalie.”
Oh, jadi ini yang namanya Luster, terus yang namanya Amanda yang mana? Posisiku sedang kurabg bagus, di tempat yang kurang leluasa, dengan posisi kuda – kuda yang kuat, dan kami mulai saling menyerang, tubuhnya memang mungil sekali, tetapi bukan termasuk katagori ‘bantet’ seperti Belinda.
Lalu kami mulai salng berkelahi, benar – benar berkelahi, maksudku, bukan berkelahi khas wanita yang bisanya hanya menjabak rambut satu sama lain, Luster memang lincah, dan gerakanya lihai sekali, sampai saatnya, ia kukunci dan kebetulan belakangnya jendela, “kau boleh juga, tapi sayangnya, aku harus pergi,”
“eh, apa maksudmu?” lalu dengan sekuat tenaga, ia memecahkan jendela pesawat, tentu dibanu dengan kuku, lalu ia terjun kebawah, sambil ‘dadah - dadah’ padaku. Dia bunuh diri? Atau apa kau tidak mengerti.
Tapi sepertinya ada yang aneh, apa dia sudah menggendong parasut?
Lalau aku mendengar suara Scarlett dan Xavier datang menghampiriku. “Kemana Luster?” Tanya Scarlett. Aku hanya menunjukan karya pecahan kacanya, tampang Scarlett berubah, sepertinya ada yang dia pikirkan, tapi kosong ketika aku mencoba membacanya. “Scarlett, kau tidak apa – apa? Mukamu seram begitu.” Tanya Xavier. lalu Xavier menoleh padaku, lau aku menggelengkan kepalaku. Aku mengerti maksud Xavier, tetapi aku memang tidak tahu apa yang dipikirkan Scarlett. Ada apa sebenarnya? Lalu kami kembali ke tempat dimana seharusnya penumpang berada. Scarlett disebelahku dan aku duduk bersama Xavier, lalu ada seorang pramugari menghampiri Xavier, “Xavier, suduh kuperiksa, apa maksudmu ini,” katanya sambil menyerahkan sebuah barang yang berkedap – kedip. “Wendi, inikan…” jawab Xavier.
“Ya, ini mainan anak - anak. Dan bukan boom yang seperti kalian kira.” Jawab wanita itu, oh namanya Wendi.
Berarti kita sudah dijebak oleh Luster dan Amanda. Lalu Xavier menjawab, “kalau begitu, lebih baik barang ini kusimpan, dan usahakan hal ini tidak sampai terdengar oleh media massa, okay?”
Dia hanya mengangguk, lalu berjalan kembali, aku lelah sekali, entah sampai kapan aku sampai, lelah sekali rasanya. Lalu aku tertidur, sepertinya tidur sudah jadi kegiatan rutinku, akhir – akhir ini aku jadi mudah lelah dan gampang tidur.
Lalu yak lama kemudan kau dibangunkan Xavier, dan ia berkata, “sudah sampai, ayo turun, Natalie.”
“Eh, sudah di Singapore?” Tanyaku pada Xavier.
“Dasar tukang tidur, ayo Nat, kita menuju Bali!!!” respon Scarlett.
“Setahuku, Singapore ke Bali jauh, berarti kita naik pesawat sekali lagi?” kataku.
Scarlett hanya menganggukan kepalanya, dan setelah beberapa lama, maksudku aku tidak tahu aku menunggu pesawat berikutnya, kami menuju Bali, bertemu dengan keluarga Burney…
“Xavier, apa kau melihat itu, apa mungkin…”
“Sepertinya, ada berapa vampire disini?”
“Entahlah, kita baru berangkat, masih lama untuk sampai ke tempat transit.”
Ya, tidak salah lagi, penumpang itu adalah vampire. Dan kurasa ia wanita, walau kelaminnya tidak jelas.
Tangannya, itu bujan tangan manusia biasa. Itu adalah kuku siap tempur, kuku siap tempur mengingatkanku pada…
Natalie dulu…
“Natalie, cobalah ini.” Kata Alessandro sambil membawa apel dengan bahasa Russia.
“Memangnya apel – apel itu mau diapakan?” jawab Natalie dengan bahasa Russia juga. Kali ini Natalie dan Alessandro berkomunikasi dengan bahsa Russia.
“Lakukan ini.” Alessandro lalu sedikit memanjangkan kuku telunjuknya dan memgupasnya dengan rapih, “kau ingin aku mengupas apel?”
“Aku tidak menyuruhmu begitu. Lakukan ini.” Lalu Alessandro melempar apel itu ke udara telunjuknya mengacung keatas lalu dengan cepat ia memotong apel itu menjadi dua. Lalu Natalie kecil mencobanya dan apelnya malah tertusuk ke jarinya. “Bagaimana bisa?” Natalie bingung. Lalu Natalie melihat dompet Alessandro jatuh, dan ia membukanya, ada foto seorang balita.
“Siapa ini?”
“Kau menemukan dompetku. Ini, anakku, Alyssa.”
“Alyssa? Kenapa aku tidak pernah melihatnya?”
“Dia, berada di Inggris. Sudahlah, coba lagi.”
Natalie dewasa…
“Alyssa.” Kataku spontan.
“Alyssa, siapa dia?” kalau dari tampangnya, sepertinya Xavier kenal dengan gadis bernama Alyssa itu. “Kau kenal dia, Xavier?”
“Eh, tidak, sebentar lagi kita akan sampai menuju ke tempat transit perama.”
“Cepat sekali?”
“Kau kan tadi tertidur. Masalahnya apa dia akan ikut bersama kita?”
Entahlah, akhir – akhir ini aku banyak teringat masa lalu. Entah kenapa? Apa hubungan semua ini? Lalu tak lama kami mendarat, kalau begitu berapa jam aku tertidur. Aku mendarat dimana saja aku tidak tahu. Yang jelas setelah ini kita segera menuju Singapore. Lalu aku dan Xavier turun, lalu penumpang mencurigakan tadi menghampiri kami, dan berbicara pada Xavier, “well, af, kukira ini milikmu?” lalu dia menyerahkan sepucuk surat. “Xavier, itu namamu?”
“Dari mana kau tahu?”
Lalu dia membuka kostumnya, ya, dia mencopot fedora syal dak coat-nya, “Scarlett?” kataku spontan.
“Natalie, apa kabar.” Lalu ia memelukku. Ternyata dia Scarlett Burney. Kawan lamaku. “Haha, aku tahu kau curiga padaku,” “Mirabella menyuruhku menemui kalian, sebenarnya kita akan terbang ke Bali bersama. Dan Carlotta menyuruhku memberikan ini kepada kalian.”
“Apa ini?” kataku sambil menerima surat, surat pernyataan pengunduran diri? Untuk apa? “Siapa yang mengundurkan diri? Kalau dilihat dari warna kertas dan tulisannya, sepertinya ini sudah lama ditulis.”
“Ya, itu sudah bertahun – tahun yang lalu. Semoga berguna.” Kata Scarlett.
“Baiklah,” tanggapku datar. “Apa kau merasakannya?” Tanya Scarlett lagi. Lalu aku berfikir apa mungkin, “tidak begitu, maksudmu kita dibuntuti?”
Scarlett hanya menganggukan kepalanya. Berarti aku belum bisa bernafas lega. “Xavier?” Tanya Scarlett lagi. Xavier menganggukan kepala. Sepertinya hanya aku yang terlambat berfikir kali ini. Ada apa sebenarnya??? Lalu asku berkata pada Xavier bahwa aku ingin segera naik pesawat berikutnya. Aku tidak ingin menunggu lama – lama. Lalu kami segera naik pesawat berikutnya dan ternyata scarlett ikut bersama kami. Kami segera berangkat menuju Singapore. Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Boom? Ular? Atau pesawatnya akan dibajak? Apa ini ulah keluarga brengsek Ernesto? Sepertinya iya kalau kulihat dari wajah mereka. Lalu kami segera naik pesawat berikutnya. Tapi berangkatnya 15 menit lagi. Aku sengaja agar dapat memeriksa sekitar. Lalu setelah dilihat – lihat semuanya mana saja. Lalu kami duduk dan Scarlett duduk disebelah kami. Lalu kami-pun berangkat. Lalu tak lama pramugarinya melewati kami dengan hawa yang mencurigakan. Seperti keadaan normal lainnya selayaknya tugas pramugari ia menawarkan pelayanannya apabila kami membutuhkan sesuatu. “Xavier, aku rasa…” lalu saat aku ingin berbicara padanya dia membungkam mulutku dengan tangannya, “shhhtttt, diam…” sepertnya a merasakan sesuatu. Saat pramugarinya melewati kami aku melihatnya lalu ia tersenyum, “ada yang bisa saya bantu, Nyonya…?”
“Aku ingin minu sesuatu, bisakah kau membuatkan kopi susu untukku?” Tanya Xavier segera. Lalu pramugari itu menatap Xavier, “baiklah tuan.” Tatapan pramugari itu memang berbeda. Lalu Xavier melongo kearah Scarlett, dan wajah Scarlett seperti cemas, tetapi lega. Sulit memang, aku takut pramugari tadi membaca pikiranku bila aku mengguakan via telepati tetapi Xavier maupun Scarlett tidak bisa telepati. Aku hanya bisa menunggu. Dan entah kenapa aku tertidur…
Natalie kecil…
Natalie dan Alessandro sedang berada di lapangan untuk latihan jurus baru. Kali ini mereka berkomunikasi dengan bahasa Russia. “Ini, Natalie.” Lalu Alessandro mengeluarkan peralatan dari tasnya. “Apa ini?”
“Peralatan ninja.” Kata Alessandro. Lalu Natalie melihat keatas dan berkata, “Al, sepertinya anak itu mengintip lagi, apa sebaiknya kita mengajaknya berlatih juga? Apa dia mengerti bahasa Russia?”
“Mungkin kau butuh teman. Baiklah, panggilah dia Natlaie. Kalau soal bahasa aku tidak tahu, munggkin lebih baik kita memakai bahasa Inggris kali ini.”
Natalie lalu menghampiri anak lelaki kecil itu dan mengajaknya berlatih bersama. “Mr. No-name?” kata Natalie. “Eh, Natalie. Aku…”, “Sudahlah, ayo ikut aku…” lalu Natalie mengajak anak lelaki kecil itu berlatih. Lalu Alessandro berfikir mungkin lain kali ia mengajarkan Natalie dengan peralatanh ninja yang berbahaya itu. “Hey, sebenarnya siapa namamu?” Tanya Natalie penasaran. “Namanya Alex, Nat, Alex memang pemalu. Nah Alex, apa kau mau ikut berlatih bersama kami?” kata Alessandro. Alex diam saja dan mengangguk. Lalu Alessandro mengajaran jurus – jurus pada mereka dan mulai praktek, “Nah, Alex, tunjukan pada El, ibumu hasil latihan hari ini, melawan suhu dingin, dan salju bahwa kau adalah anak lelaki yang kuat.” Lalu Alex dan Natalie bertarung, dan sepertinya Natalie yang menang, “Alex, kau ini laki – laki, kenapa payah sekali.” Protes Natalie, “aku, aku… maafkan aku Natalie, aku payah.” Alex tidak berdaya, “sudah Natalie, Alex baru pertama kali latihan bersama kita, jadi wajar kalau kau mengalahkan dia, dan Alex, kerja bagus. Kuharap kita bisa berlatih bersama dan ibumu tidak keberatan bila kau ikut latihan bersama kami.” Kata Alessandro dengan bijak. Lalu latihan selesai hari itu. Natalie sepertinya senang bila ia dapat teman bermain. Ya, bermain disini artinya berlatih jurus – jurus baru bukan bermain seperti anak biasanya. Lalu mereka seperti biasa, mengantar Alex kerumahnya, “Natalie, kau tunggu disini, aku ingin mengantar Alex kerumahnya. Dan juga, hmm, aku harus minta maaf karena Alex pulang dengan babak belur.”
“Aku mengerti, tidak masalah aku menunggu. Oh ya, Alex, maaf ya telah membuatmu seperti ini. Hmm, tapi aku senang, karena kita kau teman pertamaku dan kau mau menemaniku latihan kali ini.”
“Sama – sama. Maaf bila aku mengacewakanmu.” Tanggap Alex dengan sedikit sedih. “Tidak masalah, besok latihan lagi ya.” Kata Natalie ceria, “ayo, Alex, kita temui ibumu.” Alessandro memotong pmbicaraan Natalie dan Alex.
Lalu Natalie menunggu dan berfikir, “kenapa kalau memang Al tahu bahwa nama anak ini Alex dia tidak memberik tahuku dari awal, aku akan menanyakannya setelah Al kembali.
Lalu sekitar 5 menit kemudian Alessandro kembali. “Al, apa ibunya Alex marah padaku?” Tanya Natalie, lalu Alessandro menyalakan mobil dan berangkat pulang lalu menjawab, “Hmm, El? Dia tidak marah. Dia bahkan memberi Alex izin agar dia dapat berlatih bersama kita.”
Lalu Natalie mulai berbicara bahasa Russia, “El? Itu kepanjangan dari apa? Itu pasti panggilannya kan? Dan Al, kenapa kau tidak memberitahuku dari awal bahwa nama anak itu Alex.” Setelah bertanya begitu, lalu Alessandro menjawab dengan tenang. “Namanya Elea kalau soal itu maaf, kukira Alex akan memperkenalkan dirinya sendiri nanti, ternyata dia malu padamau, jadi kuharap kau dan Alex dapat menjadi teman yang baik.”
Natalie dewasa
Aku tersadar dari tidurku, dan bertanya pada Xavier, “sudah berapa lama aku tidur?”
“3-4 jam. Kenapa? Tenang, kopi ini tidak kuminum.”
“Maksudmu?”
“Kopi ini beracun. Sudah kuduga, tapi sekarang, kau diam saja, karena dibawah kursimu ada boom.”
“Apa?”
“Ya, setelah kusadari bahwa dibawah kursimu ada boom, boom itu kecil sekali, dan kulihat punggung pramudari saat membungkuk memberi kopi ini tidak wajar, seperti ada sesuatu, mungkin sayap.”
“Kau gila. Bagaimana ini?”
“Akan kupikirkan caranya, yang jelas, aku sekarang harus meyakini, beraa vampire yang ada disini dan berapa manusia yang ada disini.”
Aku bingung, kenapa aku terus dihantui masa lalu dan sekarang? Ada boom dibawah kursiku. Ini gila, disaat seperti ini, apa yang Alessandro ajarkan padaku??? Ayo ingat, Natalie Mirabella Clyde!!! Kenapa ini???
Kalau tidak salah, bersikap tenang, jangan gegabah dan melakukan gerak – gerik aneh yang dapat membahayakan keselamatan yang lain. “Apa rencanamu Xavier?”
“Belum terfikir, tapi sepertinya Scarlett sudah.” Lalu aku menengok kearah Scarlett dan ia tersenyum licik, lalu ia pergi menuju lavatory, atau kamr kecil pesawat. Dan entah apa yang akan dilakukannya.
Sisi Scarlett…
Aku melihat wajah Natalie sedikit panic tetapi tetap tenang dan Xavier yang sedikit tenang. Aku harus berhasil akan ini, ya ini adalah ulah Amanda dan Luster Ernesto. Tapi entah Amanda atau Luster yang ada disini. Dua wanita mengerikan. Lalu aku mengetuk pintu atau mungkin namanya kabin pilot. Lalu aku menunggu disitu dan benar dugaanku, ada pramugari lewat, ya lalu aku tahan dia disitu, dan berkata, “shttt, pesawat ini tidak aman, aku polisi, ini lencanaku,” lalu aku menunjukan lencanaku, lencana vampire dan manusia memang tidak ada bedanya ,“aku harap kau dapat bekerja sama dengan kami, pesawat ini di boom, dan aku ingn kita bertukaran pakaian. Aku beruntuk hari ini aku tidak memakai BurBerry.” Pramugari itu seperti ketakutan dan diam saja, lalu kami bertukar pakaian, lalu aku menyuruh pramugari itu duduk ditempatku dan memakai topi yang kutinggalkan dikursi pesawat, serta menunjukan ke ruangan dimana dapur dan tempat istirahat pegawai. Setelah itu, aku mengantrkan makanan ringan ke ruangan pilot, lalu kedua pilot itu kaget, karena yang dilihat bukanlah ‘Carmen’ pramgari yang seharusnya melainkan aku. “Siapa kau?” kata salah seorang pilot tersebut. “Shhtttt, sebaiknya kalian dengar aku, jika nyawa kalian ingin selamat.” Lalu aku menjelaskan apa yang terjadi dan menunjukan lencanaku. Lalu ak kelura dengan penuh wibawa dan senyuman, lalu saat sampai ditempat Natalie dan Xavier, aku bilang pada mereka, “ada yang bisa dibantu tuan,” lalu aku berbisik, “dengar, setelak aku keluar dari sini, kalian ikuti aku, dan jangan bersamaan denganku, kurasa kalian paham maksudku,”
“Scarlett, kau gila, tapi baiklah.” Lalu aku kembali berjalan dan keluar dari ruang kelas 1 menuju ruang dimana para pramugari/a berkumpul. Lalu setelah itu tak lama kuliat Natalie dan Xavier mengikutiku secara santi, lalu aku segera berjalan menuju ruangan yang telah ditunjukan Carmen, “now, apa rencana,u. hmm, Carmen? Hahaha…” Tanya Xavier, kita menuju dapur, kata Carmen, pramugari yang ku, well, ultimatum tadi, memang ada pramugari baru bernama Lydia. Tapi sepertinya itu samara dari Amanda Ernesto, kau tahu, Amanda pintar bersandiwara.” Terangku pada Natalie dan Xavier, “but,” lanjutku, “kita kali ini sepertinya kurang beruntung.”
“Kenapa?” Tanya Natalie.
“Pilot pesawat ini telah dipengaruhi si ‘Lydia’ itu, karena, kita akan turun di China, bukan Singapore, tapi tenang saja, aku sudah mengancam pilot – pilot polos itu.” Terangku santai, lalu aku mengajak mereka menuju dapur. Dan, sampai disana, kami mengejutkan mereka. “Polisi, tolong semuanya tenang.” Kataku. “Kau bukan Carmen.” Kata salah seorang koki. Ya dapur pesawat memang tidak terlalu besar hanya sekdarnya saja.
“Dimana Lydia?” kata Xavier.
“L – Y – D – I – A, bukan L – I – D – I - A. apa perlu ku eja?” kataku lagi. Karena Carmen member infonya begitu. “Dia, ada di bagasi.” Kaa salah seorang dari belakang, lalu berusaha menyerang Natalie, dengan mencekeknya, “Ola.” Kata salah seorang petugas disitu, oh ya, kata Carmen ada dua, tapi Lydia yang paling mencurigakan, berarti Ola maksudnya, “pergi kejar Lydia, Scarlett.” Kata Natalie dalam posisi sulit.
Sisi Natalie…
Aku lalu berusaha membanting wanita ini, Ola? Sepertinya ini Amanda atau Luster, Xavier berusaha mengamankan keadaan dengan membawa para petugas keluar dan mengkondisikan keadaan.
Sisi Xavier…
“Ayo, beritahu kepada semua penumpang semuanya aman, dan beritahuku dimana sisa pramugara atau pramugarinya. Dan kau siapa namamu?” Tanyaku pada salah seorang pramugari, “Wendi, with ‘i’.” katanya, “whatever, tapi bisakah kau memberi tahu Carmen dan pilot bahwa situasi aman, Carmen duduk dibangku kelas satu, kurasa kau cukup pandai.”
“Baiklah,” kata Wendi lalu degan cepat ia menghampiri Carmen, “kalian, tolong amankan sekitar, anggap saja tidak ada masala, aku harus menyusul Wendi, dan aku mengharapkan kerja samanya karena ini menyangkut keselamatan semua, paham?”
Mereka hanya mengangguk, ada yang mulai mengecek penumpang, dan aku mungkin harus menyusul Scarlett, karena aku yakin, Natalie akan baik – baik saja, tapi kemana arahnya? Semoga aku tidak tersasar.
Sisi Scarlett…
Lalu setelah aku pergi meninggalkan Natalie dan Xavier, aku menuju bagasi, agak gelap, mengingat isinya hanya barang – barang, dengan sepatu seperti ini tidak akan enak untuk berkelahi, lalu aku merasa diujung bokong pesawat, maksudku entah apa namnya tapi aku ada dibagian bokong pesawat. Aku melihat ada sosok wanita disitu, “Lydia?”
“Hahaha, siapa kau?” lalu Lydia berbalik badan sambil menekan tombol yang membuat well, bagian bokong pesawat itu terbuka sehingga aku dapat melihat awan. “Amanda Ernesto.” Kataku spontan, “well, kau bukan Carmen seperti yang tertera di tanda pengenalmu, Scarlett Burney.”
Sudah kuduga pramugari yang pertama tadi yang menawarkan pelayanan pesawat ini adalah Amanda Ernesto. Kenapa aku baru sadar saat tadi Amanda membuka topi pramugari dan memperlihatkan rambut panjangnya yang berwarna coklat kemerahan.
“Apa yang kau lakukan disini, Amanda?”
“Mengacau, membuat kalian takut, dan kau tahu seperti apa aku ini.”
“Aku tidak mengerti bagaimana kau dapat menyeludup, dan gadis bernama Ola itu Luster kan?”
“Tidak, dia memang Ola, Luster Ola Ernesto.”
“Dan jangan katakan nama panjangmu, Amanda Lydia Ernesto.”
“Aku tidak akan mengatakannya tapi hanya akan menganggukan kepala.”
“Bodoh sekali aku tidak menyadarinya.”
“Kau ini cerewet ya, Scarlett.” Lalu Amanda menyerangku dengan cepet, untung aku cepat mengelak, dan kami mulai berkelahi hebat dengan kostum konyol seperti ini. Amanda memang hebat, gerakannya cukup lincah sampai akhirnya aku dapat mengncunya dan membuat posisinya berada diantara udara dan besi, ya dia ada di bibir pintu pesawat. “Sekarang kau tidak berdaya, Amanda.”
“Siapa bilang,” lalu Amanda menendang pertuku dan menjatuhkan dirinya, dan aku benar – benar tidak percaya dengan apa yang dia lakukan, Amanda, dia… tapi, bagaimana???
Lalu tak lama kudengar suara Xavier, “Scarlett.”
“Xavier,”
“Apa yang terjadi?”
Apa aku harus menceritakannya? “Amanda, Lydia adalah nama tengah Amanda maksudku, Lydia itu Amanda, dan ia terjun kebawah. Dan Ola, Ola adalah Luster, maksudku Ola adalah nama tengah Luster. Ah aku pusing.”
“Mungkin sebaiknya kita tutup pintu besar ini dulu, yang mana tombolnya?”
Lalu aku menghampiri Xavier dan menekan tombol yang tadi ditekan Amanda.
Aku masih tidak mengerti apa itu fatamorgana atau apa. Lalu aku dan Xavier pergi manghampiri Natalie.
Sisi Natalie…
“Jadi kau Ola. Pendeknya.” Hinaku pada Ola.
“Hmm, Ola, ya Luster Ola Ernesto. Sepertinya kau belum kenal aku, Natalie.”
Oh, jadi ini yang namanya Luster, terus yang namanya Amanda yang mana? Posisiku sedang kurabg bagus, di tempat yang kurang leluasa, dengan posisi kuda – kuda yang kuat, dan kami mulai saling menyerang, tubuhnya memang mungil sekali, tetapi bukan termasuk katagori ‘bantet’ seperti Belinda.
Lalu kami mulai salng berkelahi, benar – benar berkelahi, maksudku, bukan berkelahi khas wanita yang bisanya hanya menjabak rambut satu sama lain, Luster memang lincah, dan gerakanya lihai sekali, sampai saatnya, ia kukunci dan kebetulan belakangnya jendela, “kau boleh juga, tapi sayangnya, aku harus pergi,”
“eh, apa maksudmu?” lalu dengan sekuat tenaga, ia memecahkan jendela pesawat, tentu dibanu dengan kuku, lalu ia terjun kebawah, sambil ‘dadah - dadah’ padaku. Dia bunuh diri? Atau apa kau tidak mengerti.
Tapi sepertinya ada yang aneh, apa dia sudah menggendong parasut?
Lalau aku mendengar suara Scarlett dan Xavier datang menghampiriku. “Kemana Luster?” Tanya Scarlett. Aku hanya menunjukan karya pecahan kacanya, tampang Scarlett berubah, sepertinya ada yang dia pikirkan, tapi kosong ketika aku mencoba membacanya. “Scarlett, kau tidak apa – apa? Mukamu seram begitu.” Tanya Xavier. lalu Xavier menoleh padaku, lau aku menggelengkan kepalaku. Aku mengerti maksud Xavier, tetapi aku memang tidak tahu apa yang dipikirkan Scarlett. Ada apa sebenarnya? Lalu kami kembali ke tempat dimana seharusnya penumpang berada. Scarlett disebelahku dan aku duduk bersama Xavier, lalu ada seorang pramugari menghampiri Xavier, “Xavier, suduh kuperiksa, apa maksudmu ini,” katanya sambil menyerahkan sebuah barang yang berkedap – kedip. “Wendi, inikan…” jawab Xavier.
“Ya, ini mainan anak - anak. Dan bukan boom yang seperti kalian kira.” Jawab wanita itu, oh namanya Wendi.
Berarti kita sudah dijebak oleh Luster dan Amanda. Lalu Xavier menjawab, “kalau begitu, lebih baik barang ini kusimpan, dan usahakan hal ini tidak sampai terdengar oleh media massa, okay?”
Dia hanya mengangguk, lalu berjalan kembali, aku lelah sekali, entah sampai kapan aku sampai, lelah sekali rasanya. Lalu aku tertidur, sepertinya tidur sudah jadi kegiatan rutinku, akhir – akhir ini aku jadi mudah lelah dan gampang tidur.
Lalu yak lama kemudan kau dibangunkan Xavier, dan ia berkata, “sudah sampai, ayo turun, Natalie.”
“Eh, sudah di Singapore?” Tanyaku pada Xavier.
“Dasar tukang tidur, ayo Nat, kita menuju Bali!!!” respon Scarlett.
“Setahuku, Singapore ke Bali jauh, berarti kita naik pesawat sekali lagi?” kataku.
Scarlett hanya menganggukan kepalanya, dan setelah beberapa lama, maksudku aku tidak tahu aku menunggu pesawat berikutnya, kami menuju Bali, bertemu dengan keluarga Burney…
Subscribe to:
Posts (Atom)