Thursday, May 13, 2010

3 Sementara

3. Terror on the Plane.
“Xavier, apa kau melihat itu, apa mungkin…”
“Sepertinya, ada berapa vampire disini?”
“Entahlah, kita baru berangkat, masih lama untuk sampai ke tempat transit.”
Ya, tidak salah lagi, penumpang itu adalah vampire. Dan kurasa ia wanita, walau kelaminnya tidak jelas.
Tangannya, itu bujan tangan manusia biasa. Itu adalah kuku siap tempur, kuku siap tempur mengingatkanku pada…
Natalie dulu…
“Natalie, cobalah ini.” Kata Alessandro sambil membawa apel dengan bahasa Russia.
“Memangnya apel – apel itu mau diapakan?” jawab Natalie dengan bahasa Russia juga. Kali ini Natalie dan Alessandro berkomunikasi dengan bahsa Russia.
“Lakukan ini.” Alessandro lalu sedikit memanjangkan kuku telunjuknya dan memgupasnya dengan rapih, “kau ingin aku mengupas apel?”
“Aku tidak menyuruhmu begitu. Lakukan ini.” Lalu Alessandro melempar apel itu ke udara telunjuknya mengacung keatas lalu dengan cepat ia memotong apel itu menjadi dua. Lalu Natalie kecil mencobanya dan apelnya malah tertusuk ke jarinya. “Bagaimana bisa?” Natalie bingung. Lalu Natalie melihat dompet Alessandro jatuh, dan ia membukanya, ada foto seorang balita.
“Siapa ini?”
“Kau menemukan dompetku. Ini, anakku, Alyssa.”
“Alyssa? Kenapa aku tidak pernah melihatnya?”
“Dia, berada di Inggris. Sudahlah, coba lagi.”
Natalie dewasa…
“Alyssa.” Kataku spontan.
“Alyssa, siapa dia?” kalau dari tampangnya, sepertinya Xavier kenal dengan gadis bernama Alyssa itu. “Kau kenal dia, Xavier?”
“Eh, tidak, sebentar lagi kita akan sampai menuju ke tempat transit perama.”
“Cepat sekali?”
“Kau kan tadi tertidur. Masalahnya apa dia akan ikut bersama kita?”
Entahlah, akhir – akhir ini aku banyak teringat masa lalu. Entah kenapa? Apa hubungan semua ini? Lalu tak lama kami mendarat, kalau begitu berapa jam aku tertidur. Aku mendarat dimana saja aku tidak tahu. Yang jelas setelah ini kita segera menuju Singapore. Lalu aku dan Xavier turun, lalu penumpang mencurigakan tadi menghampiri kami, dan berbicara pada Xavier, “well, af, kukira ini milikmu?” lalu dia menyerahkan sepucuk surat. “Xavier, itu namamu?”
“Dari mana kau tahu?”
Lalu dia membuka kostumnya, ya, dia mencopot fedora syal dak coat-nya, “Scarlett?” kataku spontan.
“Natalie, apa kabar.” Lalu ia memelukku. Ternyata dia Scarlett Burney. Kawan lamaku. “Haha, aku tahu kau curiga padaku,” “Mirabella menyuruhku menemui kalian, sebenarnya kita akan terbang ke Bali bersama. Dan Carlotta menyuruhku memberikan ini kepada kalian.”
“Apa ini?” kataku sambil menerima surat, surat pernyataan pengunduran diri? Untuk apa? “Siapa yang mengundurkan diri? Kalau dilihat dari warna kertas dan tulisannya, sepertinya ini sudah lama ditulis.”
“Ya, itu sudah bertahun – tahun yang lalu. Semoga berguna.” Kata Scarlett.
“Baiklah,” tanggapku datar. “Apa kau merasakannya?” Tanya Scarlett lagi. Lalu aku berfikir apa mungkin, “tidak begitu, maksudmu kita dibuntuti?”
Scarlett hanya menganggukan kepalanya. Berarti aku belum bisa bernafas lega. “Xavier?” Tanya Scarlett lagi. Xavier menganggukan kepala. Sepertinya hanya aku yang terlambat berfikir kali ini. Ada apa sebenarnya??? Lalu asku berkata pada Xavier bahwa aku ingin segera naik pesawat berikutnya. Aku tidak ingin menunggu lama – lama. Lalu kami segera naik pesawat berikutnya dan ternyata scarlett ikut bersama kami. Kami segera berangkat menuju Singapore. Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Boom? Ular? Atau pesawatnya akan dibajak? Apa ini ulah keluarga brengsek Ernesto? Sepertinya iya kalau kulihat dari wajah mereka. Lalu kami segera naik pesawat berikutnya. Tapi berangkatnya 15 menit lagi. Aku sengaja agar dapat memeriksa sekitar. Lalu setelah dilihat – lihat semuanya mana saja. Lalu kami duduk dan Scarlett duduk disebelah kami. Lalu kami-pun berangkat. Lalu tak lama pramugarinya melewati kami dengan hawa yang mencurigakan. Seperti keadaan normal lainnya selayaknya tugas pramugari ia menawarkan pelayanannya apabila kami membutuhkan sesuatu. “Xavier, aku rasa…” lalu saat aku ingin berbicara padanya dia membungkam mulutku dengan tangannya, “shhhtttt, diam…” sepertnya a merasakan sesuatu. Saat pramugarinya melewati kami aku melihatnya lalu ia tersenyum, “ada yang bisa saya bantu, Nyonya…?”
“Aku ingin minu sesuatu, bisakah kau membuatkan kopi susu untukku?” Tanya Xavier segera. Lalu pramugari itu menatap Xavier, “baiklah tuan.” Tatapan pramugari itu memang berbeda. Lalu Xavier melongo kearah Scarlett, dan wajah Scarlett seperti cemas, tetapi lega. Sulit memang, aku takut pramugari tadi membaca pikiranku bila aku mengguakan via telepati tetapi Xavier maupun Scarlett tidak bisa telepati. Aku hanya bisa menunggu. Dan entah kenapa aku tertidur…
Natalie kecil…
Natalie dan Alessandro sedang berada di lapangan untuk latihan jurus baru. Kali ini mereka berkomunikasi dengan bahasa Russia. “Ini, Natalie.” Lalu Alessandro mengeluarkan peralatan dari tasnya. “Apa ini?”
“Peralatan ninja.” Kata Alessandro. Lalu Natalie melihat keatas dan berkata, “Al, sepertinya anak itu mengintip lagi, apa sebaiknya kita mengajaknya berlatih juga? Apa dia mengerti bahasa Russia?”
“Mungkin kau butuh teman. Baiklah, panggilah dia Natlaie. Kalau soal bahasa aku tidak tahu, munggkin lebih baik kita memakai bahasa Inggris kali ini.”
Natalie lalu menghampiri anak lelaki kecil itu dan mengajaknya berlatih bersama. “Mr. No-name?” kata Natalie. “Eh, Natalie. Aku…”, “Sudahlah, ayo ikut aku…” lalu Natalie mengajak anak lelaki kecil itu berlatih. Lalu Alessandro berfikir mungkin lain kali ia mengajarkan Natalie dengan peralatanh ninja yang berbahaya itu. “Hey, sebenarnya siapa namamu?” Tanya Natalie penasaran. “Namanya Alex, Nat, Alex memang pemalu. Nah Alex, apa kau mau ikut berlatih bersama kami?” kata Alessandro. Alex diam saja dan mengangguk. Lalu Alessandro mengajaran jurus – jurus pada mereka dan mulai praktek, “Nah, Alex, tunjukan pada El, ibumu hasil latihan hari ini, melawan suhu dingin, dan salju bahwa kau adalah anak lelaki yang kuat.” Lalu Alex dan Natalie bertarung, dan sepertinya Natalie yang menang, “Alex, kau ini laki – laki, kenapa payah sekali.” Protes Natalie, “aku, aku… maafkan aku Natalie, aku payah.” Alex tidak berdaya, “sudah Natalie, Alex baru pertama kali latihan bersama kita, jadi wajar kalau kau mengalahkan dia, dan Alex, kerja bagus. Kuharap kita bisa berlatih bersama dan ibumu tidak keberatan bila kau ikut latihan bersama kami.” Kata Alessandro dengan bijak. Lalu latihan selesai hari itu. Natalie sepertinya senang bila ia dapat teman bermain. Ya, bermain disini artinya berlatih jurus – jurus baru bukan bermain seperti anak biasanya. Lalu mereka seperti biasa, mengantar Alex kerumahnya, “Natalie, kau tunggu disini, aku ingin mengantar Alex kerumahnya. Dan juga, hmm, aku harus minta maaf karena Alex pulang dengan babak belur.”
“Aku mengerti, tidak masalah aku menunggu. Oh ya, Alex, maaf ya telah membuatmu seperti ini. Hmm, tapi aku senang, karena kita kau teman pertamaku dan kau mau menemaniku latihan kali ini.”
“Sama – sama. Maaf bila aku mengacewakanmu.” Tanggap Alex dengan sedikit sedih. “Tidak masalah, besok latihan lagi ya.” Kata Natalie ceria, “ayo, Alex, kita temui ibumu.” Alessandro memotong pmbicaraan Natalie dan Alex.
Lalu Natalie menunggu dan berfikir, “kenapa kalau memang Al tahu bahwa nama anak ini Alex dia tidak memberik tahuku dari awal, aku akan menanyakannya setelah Al kembali.
Lalu sekitar 5 menit kemudian Alessandro kembali. “Al, apa ibunya Alex marah padaku?” Tanya Natalie, lalu Alessandro menyalakan mobil dan berangkat pulang lalu menjawab, “Hmm, El? Dia tidak marah. Dia bahkan memberi Alex izin agar dia dapat berlatih bersama kita.”
Lalu Natalie mulai berbicara bahasa Russia, “El? Itu kepanjangan dari apa? Itu pasti panggilannya kan? Dan Al, kenapa kau tidak memberitahuku dari awal bahwa nama anak itu Alex.” Setelah bertanya begitu, lalu Alessandro menjawab dengan tenang. “Namanya Elea kalau soal itu maaf, kukira Alex akan memperkenalkan dirinya sendiri nanti, ternyata dia malu padamau, jadi kuharap kau dan Alex dapat menjadi teman yang baik.”
Natalie dewasa
Aku tersadar dari tidurku, dan bertanya pada Xavier, “sudah berapa lama aku tidur?”
“3-4 jam. Kenapa? Tenang, kopi ini tidak kuminum.”
“Maksudmu?”
“Kopi ini beracun. Sudah kuduga, tapi sekarang, kau diam saja, karena dibawah kursimu ada boom.”
“Apa?”
“Ya, setelah kusadari bahwa dibawah kursimu ada boom, boom itu kecil sekali, dan kulihat punggung pramudari saat membungkuk memberi kopi ini tidak wajar, seperti ada sesuatu, mungkin sayap.”
“Kau gila. Bagaimana ini?”
“Akan kupikirkan caranya, yang jelas, aku sekarang harus meyakini, beraa vampire yang ada disini dan berapa manusia yang ada disini.”
Aku bingung, kenapa aku terus dihantui masa lalu dan sekarang? Ada boom dibawah kursiku. Ini gila, disaat seperti ini, apa yang Alessandro ajarkan padaku??? Ayo ingat, Natalie Mirabella Clyde!!! Kenapa ini???
Kalau tidak salah, bersikap tenang, jangan gegabah dan melakukan gerak – gerik aneh yang dapat membahayakan keselamatan yang lain. “Apa rencanamu Xavier?”
“Belum terfikir, tapi sepertinya Scarlett sudah.” Lalu aku menengok kearah Scarlett dan ia tersenyum licik, lalu ia pergi menuju lavatory, atau kamr kecil pesawat. Dan entah apa yang akan dilakukannya.
Sisi Scarlett…
Aku melihat wajah Natalie sedikit panic tetapi tetap tenang dan Xavier yang sedikit tenang. Aku harus berhasil akan ini, ya ini adalah ulah Amanda dan Luster Ernesto. Tapi entah Amanda atau Luster yang ada disini. Dua wanita mengerikan. Lalu aku mengetuk pintu atau mungkin namanya kabin pilot. Lalu aku menunggu disitu dan benar dugaanku, ada pramugari lewat, ya lalu aku tahan dia disitu, dan berkata, “shttt, pesawat ini tidak aman, aku polisi, ini lencanaku,” lalu aku menunjukan lencanaku, lencana vampire dan manusia memang tidak ada bedanya ,“aku harap kau dapat bekerja sama dengan kami, pesawat ini di boom, dan aku ingn kita bertukaran pakaian. Aku beruntuk hari ini aku tidak memakai BurBerry.” Pramugari itu seperti ketakutan dan diam saja, lalu kami bertukar pakaian, lalu aku menyuruh pramugari itu duduk ditempatku dan memakai topi yang kutinggalkan dikursi pesawat, serta menunjukan ke ruangan dimana dapur dan tempat istirahat pegawai. Setelah itu, aku mengantrkan makanan ringan ke ruangan pilot, lalu kedua pilot itu kaget, karena yang dilihat bukanlah ‘Carmen’ pramgari yang seharusnya melainkan aku. “Siapa kau?” kata salah seorang pilot tersebut. “Shhtttt, sebaiknya kalian dengar aku, jika nyawa kalian ingin selamat.” Lalu aku menjelaskan apa yang terjadi dan menunjukan lencanaku. Lalu ak kelura dengan penuh wibawa dan senyuman, lalu saat sampai ditempat Natalie dan Xavier, aku bilang pada mereka, “ada yang bisa dibantu tuan,” lalu aku berbisik, “dengar, setelak aku keluar dari sini, kalian ikuti aku, dan jangan bersamaan denganku, kurasa kalian paham maksudku,”
“Scarlett, kau gila, tapi baiklah.” Lalu aku kembali berjalan dan keluar dari ruang kelas 1 menuju ruang dimana para pramugari/a berkumpul. Lalu setelah itu tak lama kuliat Natalie dan Xavier mengikutiku secara santi, lalu aku segera berjalan menuju ruangan yang telah ditunjukan Carmen, “now, apa rencana,u. hmm, Carmen? Hahaha…” Tanya Xavier, kita menuju dapur, kata Carmen, pramugari yang ku, well, ultimatum tadi, memang ada pramugari baru bernama Lydia. Tapi sepertinya itu samara dari Amanda Ernesto, kau tahu, Amanda pintar bersandiwara.” Terangku pada Natalie dan Xavier, “but,” lanjutku, “kita kali ini sepertinya kurang beruntung.”
“Kenapa?” Tanya Natalie.
“Pilot pesawat ini telah dipengaruhi si ‘Lydia’ itu, karena, kita akan turun di China, bukan Singapore, tapi tenang saja, aku sudah mengancam pilot – pilot polos itu.” Terangku santai, lalu aku mengajak mereka menuju dapur. Dan, sampai disana, kami mengejutkan mereka. “Polisi, tolong semuanya tenang.” Kataku. “Kau bukan Carmen.” Kata salah seorang koki. Ya dapur pesawat memang tidak terlalu besar hanya sekdarnya saja.
“Dimana Lydia?” kata Xavier.
“L – Y – D – I – A, bukan L – I – D – I - A. apa perlu ku eja?” kataku lagi. Karena Carmen member infonya begitu. “Dia, ada di bagasi.” Kaa salah seorang dari belakang, lalu berusaha menyerang Natalie, dengan mencekeknya, “Ola.” Kata salah seorang petugas disitu, oh ya, kata Carmen ada dua, tapi Lydia yang paling mencurigakan, berarti Ola maksudnya, “pergi kejar Lydia, Scarlett.” Kata Natalie dalam posisi sulit.
Sisi Natalie…
Aku lalu berusaha membanting wanita ini, Ola? Sepertinya ini Amanda atau Luster, Xavier berusaha mengamankan keadaan dengan membawa para petugas keluar dan mengkondisikan keadaan.
Sisi Xavier…
“Ayo, beritahu kepada semua penumpang semuanya aman, dan beritahuku dimana sisa pramugara atau pramugarinya. Dan kau siapa namamu?” Tanyaku pada salah seorang pramugari, “Wendi, with ‘i’.” katanya, “whatever, tapi bisakah kau memberi tahu Carmen dan pilot bahwa situasi aman, Carmen duduk dibangku kelas satu, kurasa kau cukup pandai.”
“Baiklah,” kata Wendi lalu degan cepat ia menghampiri Carmen, “kalian, tolong amankan sekitar, anggap saja tidak ada masala, aku harus menyusul Wendi, dan aku mengharapkan kerja samanya karena ini menyangkut keselamatan semua, paham?”
Mereka hanya mengangguk, ada yang mulai mengecek penumpang, dan aku mungkin harus menyusul Scarlett, karena aku yakin, Natalie akan baik – baik saja, tapi kemana arahnya? Semoga aku tidak tersasar.
Sisi Scarlett…
Lalu setelah aku pergi meninggalkan Natalie dan Xavier, aku menuju bagasi, agak gelap, mengingat isinya hanya barang – barang, dengan sepatu seperti ini tidak akan enak untuk berkelahi, lalu aku merasa diujung bokong pesawat, maksudku entah apa namnya tapi aku ada dibagian bokong pesawat. Aku melihat ada sosok wanita disitu, “Lydia?”
“Hahaha, siapa kau?” lalu Lydia berbalik badan sambil menekan tombol yang membuat well, bagian bokong pesawat itu terbuka sehingga aku dapat melihat awan. “Amanda Ernesto.” Kataku spontan, “well, kau bukan Carmen seperti yang tertera di tanda pengenalmu, Scarlett Burney.”
Sudah kuduga pramugari yang pertama tadi yang menawarkan pelayanan pesawat ini adalah Amanda Ernesto. Kenapa aku baru sadar saat tadi Amanda membuka topi pramugari dan memperlihatkan rambut panjangnya yang berwarna coklat kemerahan.
“Apa yang kau lakukan disini, Amanda?”
“Mengacau, membuat kalian takut, dan kau tahu seperti apa aku ini.”
“Aku tidak mengerti bagaimana kau dapat menyeludup, dan gadis bernama Ola itu Luster kan?”
“Tidak, dia memang Ola, Luster Ola Ernesto.”
“Dan jangan katakan nama panjangmu, Amanda Lydia Ernesto.”
“Aku tidak akan mengatakannya tapi hanya akan menganggukan kepala.”
“Bodoh sekali aku tidak menyadarinya.”
“Kau ini cerewet ya, Scarlett.” Lalu Amanda menyerangku dengan cepet, untung aku cepat mengelak, dan kami mulai berkelahi hebat dengan kostum konyol seperti ini. Amanda memang hebat, gerakannya cukup lincah sampai akhirnya aku dapat mengncunya dan membuat posisinya berada diantara udara dan besi, ya dia ada di bibir pintu pesawat. “Sekarang kau tidak berdaya, Amanda.”
“Siapa bilang,” lalu Amanda menendang pertuku dan menjatuhkan dirinya, dan aku benar – benar tidak percaya dengan apa yang dia lakukan, Amanda, dia… tapi, bagaimana???
Lalu tak lama kudengar suara Xavier, “Scarlett.”
“Xavier,”
“Apa yang terjadi?”
Apa aku harus menceritakannya? “Amanda, Lydia adalah nama tengah Amanda maksudku, Lydia itu Amanda, dan ia terjun kebawah. Dan Ola, Ola adalah Luster, maksudku Ola adalah nama tengah Luster. Ah aku pusing.”
“Mungkin sebaiknya kita tutup pintu besar ini dulu, yang mana tombolnya?”
Lalu aku menghampiri Xavier dan menekan tombol yang tadi ditekan Amanda.
Aku masih tidak mengerti apa itu fatamorgana atau apa. Lalu aku dan Xavier pergi manghampiri Natalie.
Sisi Natalie…
“Jadi kau Ola. Pendeknya.” Hinaku pada Ola.
“Hmm, Ola, ya Luster Ola Ernesto. Sepertinya kau belum kenal aku, Natalie.”
Oh, jadi ini yang namanya Luster, terus yang namanya Amanda yang mana? Posisiku sedang kurabg bagus, di tempat yang kurang leluasa, dengan posisi kuda – kuda yang kuat, dan kami mulai saling menyerang, tubuhnya memang mungil sekali, tetapi bukan termasuk katagori ‘bantet’ seperti Belinda.
Lalu kami mulai salng berkelahi, benar – benar berkelahi, maksudku, bukan berkelahi khas wanita yang bisanya hanya menjabak rambut satu sama lain, Luster memang lincah, dan gerakanya lihai sekali, sampai saatnya, ia kukunci dan kebetulan belakangnya jendela, “kau boleh juga, tapi sayangnya, aku harus pergi,”
“eh, apa maksudmu?” lalu dengan sekuat tenaga, ia memecahkan jendela pesawat, tentu dibanu dengan kuku, lalu ia terjun kebawah, sambil ‘dadah - dadah’ padaku. Dia bunuh diri? Atau apa kau tidak mengerti.
Tapi sepertinya ada yang aneh, apa dia sudah menggendong parasut?
Lalau aku mendengar suara Scarlett dan Xavier datang menghampiriku. “Kemana Luster?” Tanya Scarlett. Aku hanya menunjukan karya pecahan kacanya, tampang Scarlett berubah, sepertinya ada yang dia pikirkan, tapi kosong ketika aku mencoba membacanya. “Scarlett, kau tidak apa – apa? Mukamu seram begitu.” Tanya Xavier. lalu Xavier menoleh padaku, lau aku menggelengkan kepalaku. Aku mengerti maksud Xavier, tetapi aku memang tidak tahu apa yang dipikirkan Scarlett. Ada apa sebenarnya? Lalu kami kembali ke tempat dimana seharusnya penumpang berada. Scarlett disebelahku dan aku duduk bersama Xavier, lalu ada seorang pramugari menghampiri Xavier, “Xavier, suduh kuperiksa, apa maksudmu ini,” katanya sambil menyerahkan sebuah barang yang berkedap – kedip. “Wendi, inikan…” jawab Xavier.
“Ya, ini mainan anak - anak. Dan bukan boom yang seperti kalian kira.” Jawab wanita itu, oh namanya Wendi.
Berarti kita sudah dijebak oleh Luster dan Amanda. Lalu Xavier menjawab, “kalau begitu, lebih baik barang ini kusimpan, dan usahakan hal ini tidak sampai terdengar oleh media massa, okay?”
Dia hanya mengangguk, lalu berjalan kembali, aku lelah sekali, entah sampai kapan aku sampai, lelah sekali rasanya. Lalu aku tertidur, sepertinya tidur sudah jadi kegiatan rutinku, akhir – akhir ini aku jadi mudah lelah dan gampang tidur.
Lalu yak lama kemudan kau dibangunkan Xavier, dan ia berkata, “sudah sampai, ayo turun, Natalie.”
“Eh, sudah di Singapore?” Tanyaku pada Xavier.
“Dasar tukang tidur, ayo Nat, kita menuju Bali!!!” respon Scarlett.
“Setahuku, Singapore ke Bali jauh, berarti kita naik pesawat sekali lagi?” kataku.
Scarlett hanya menganggukan kepalanya, dan setelah beberapa lama, maksudku aku tidak tahu aku menunggu pesawat berikutnya, kami menuju Bali, bertemu dengan keluarga Burney…

No comments:

Post a Comment