Thursday, May 13, 2010

4 Sementara

4. Welcome to Bali.
“Welcome to Bali, Nat, Xavier!” seru Scarlett, seperti tidak pernah pulang kampung saja. “Biasa saja ekspresinya, kau ini, memangnya kau belum pernah ke Bali?” keluh Xavier.
“Aku sibuk menghabiskan hidupku di New York, aku bekerja disana.”
“Oh ya? Sebagai apa?” kataku.
“Harpist. Aku mengajar dan terkadang mengisi pertunjukan juga.”
“Wow. Dirumahmu ada harpa? Mainkanlah untuk kami.” Seru Xavier.
Scarlett hanya mengaggukan kepalanya. Lalu aku membaca nama bandaranya, ‘Ngurah Rai’ bagaimana cara mengejanya?
Lalu kami naik mobil, Mercedes Benz S Class. Setelah kutanya katanya ini mobil keluarga Burney.
Kami sampai saat pukul well, jam 7 malam? Kalau di London ini masih senja. Lalu Scarlett mempertemukan kami dengan keluarganya, dan kami berkenalan saat di ruang tamu, para pelayan mengangkat barang – barangku dan Xavier ke kamar tamu, lalu seluruh anggota berdiri, lalu Scarlett yang memandu mengenalkanku pada mereka dimulai dari yang paling kanan, “Nat, ini ibuku, Carlotta Oliver Burney, ibu, ini Natalie dan Xavier,”
“Senang bertemu dengan anda,” kataku, ia hanya tersenyum, setelah berjabat tangan denganku, lalu berjabat tangan dengan Xavier, Xavier hanya tersenyum, ya cukup aku yang berbicara, “lalu, ini Farrell, dia anak paling tua.” Lanjut Scarlett lagi, lalu Farrell berkata, “how do you do?” aku hanya tersenyum dan menjawab, “I’m great.” Lalu Scarlett melanjutkan, “dan anak nomor dua adalah aku, dan setelahku ada Wanda,” lalu kami bersalaman dan Wanda berkata, “hello,” lalu kujawab, “hi” lalu Scarlett melanjutkan, “David, dia yang paling bandel tapi kreatif.” Lalu aku hanya tersenyum dan dia tersenyum kembali tanpa berkata apa – apa, “dan ini. Loh, kemana dia? Dimana Edwardian?” Tanya Scarlett pada David, lalu David menjawab, “hmm, katanya menginap dirumah temannya, tenang, Maia ikut bersamanya.”
“Ada apa Scarlett?” Tanya Xavier.
“Adikku yang paling kecil, tidak ada, dan Maia adalah pengasuhnya, sudahlah, hmm, makan malam sudah siap dan ayo kita makan.”
Ya sudah, lalu kami makan malam, makanan Indonesia sepertinya, hmm tampilannya seperti daging panggang, dan setelah kuperhatikan, hanya minumanku yang mengandung darah, lalu kami makan, dan rasanya enak sekali, “Scarlett, ini apa namnya, menu utamanya enak sekali.” Kataku.
“Bebek Bali. Enak kan? Walau kami orang asing, tapi alas an kami untuk tetap mtinggal disini karena makanannya luar biasa enak, dan pedagangnya sudah terbiasa dengan wajah kami.”
“Sejujurnya yang wajahnya maih ada Indonesia-nya adalah Edwardian, atau yang akrab dipanggil Edwin, walaupun tidak terlalu, mungkin karena dia sendiri yang lahi di Indonesia.” Kata Carlotta.
“Memang Edwin lahir dimana?” Tanya Xavier.
“Bandung, jauh sekali dari Bali ya?” jelas Carlotta lagi.
Aku tahu Bandung, ibuku dan aku pernah wisata belanja kesana, aku suka daerah itu. Xavier hanya trsenyum, kurasa dia tahu Bandung dimana.
Setelah selesai menghabiskan pencuci mulut, aku diantar Scarlett menuju kamar tamu, dan “WHAT??? Sekamar lagi dengan Xavier?” spontanku.
“Hah? Kalian pernah tidur sekamar, maaf Nat, tapi kamar tamunya hanya satu, secara teknis ada dua, tapi yang satu lagi dipakai untuk menyimpan lukisan –lukisan, kami belum sempat meluaskan rumah,”
“Soal itu, apa bisa minta kasur tambahan?” kata Xavier, “tentu, sudah tersedia, terserah siapa yang mau diatas atau diawah tapi sepertinya Natalie yang tidur diatas. Aku sudah memikirkannya matang – matang.”
What the fucking plan. Terserah apa maunya, tapi kamar tidurnya cukup nyaman. Ada jendela yang cukup besar dan pemandangannya langsung pantai. Hmm boleh juga. “Lalu rencanamu apa, Xavier?”
“Hmm, tujuan kita kesini adalah membicarakan tentang perkembangan kejahatan keluarga Ernesto dan kawanannya, kita harus menuggu Adriano Burney untuk membantu dalam proses ini, Nat.”
“Hmm, entah kenapa aku ingin bertemu Edwin Burney, entah kenapa firasatku ini, sudahlah, mumpung kita di Bali, mungkin besok kirta bisa berjalan – jalan di pantai, menggunakan ini,” lalu aku menunjukan tabir surya extra untuk menjaga kulit vampire agar tidak terbakar dibawah teriknya matahari pantai, (baca di bagian The Vampire’s Files: The Secret File).
Lalu Xavier hanya seyum – senyum saja, dan kemudian kami bergantian menggunakan kamar mandi untuk berganti piyama dan tidur.
Keesokan harinya.
“Good morning Natalie,” kata Scarlett saat aku membuka mataku, “Scarlett kau ini kenapa? Sudah jam berapa sekarang?” aku bingung karena matahari mulai naik.
“Jam 7. Tidak terlalu pagi kan? Biasakanlah dengan perbedaan waktu.” Jawab Scarlett.
What??? Berarti aku harus buru – buru mandi. Entah kenapa aku jadi seperti ada yang mengatur seperti ini, lalu Scarlett membangunkan Xavier yang tidur dibawah.
Setelah kami (aku dan Xavier) siap, lalu sarapan pagi, Farrell dan Carlotta pergi entah kemana, Wanda lalu kembali ke studio lukisnya, dan Scarlett hanya bilang pada kami, “silahkan kalau ingin jalan – jalan ke pantai, Pantai Kuta, ya ini kunci mobil Ferrari ku, sudah disiapkan di depan, yang warna kuning, sudah dilengkapi dengan GPS, nikmatilah sampai makan siang karena ayahku, maksudku Adriano akan datang.”
Ya lalu kami (aku dan Xavier) menikmati fasilitas, Xavier yang menyetir, lalu kami sampai di pantai, dan berjalan – jalan, tabir suryanya tentu sudah kami kenakan, “hmm, masa lalu itu penting tidak? Hanya penasaran saja.” Tanyaku pada Xavier.
“Ya tergantung, kenangan masa lalu terkadang sangatlah penting bagi sebagian orang, bahkan itu sangat diperlukan dalam kondisi sulit,”
“kondisi sulit? Maksudmu, kau…” dug, aku menabrak anak kecil didepanku, “sorry, if I hurt you.” Spontanku, lalu anak kecil tadi berbicara dengan bahasa Inggris, “kau, wanita yang kulihat dalam mimpiku, Natalie Clyde. Dan kau Xavier Nara.”
“Are you paranormal or what? I never meet you and you never meet me, so the problem is who are you? What’s your name, kid?” responku, “just call me Fadel.”
“Farrell?” kata Xavier, “Fadel, F – A – D – E - L, apa aku harus mengejanya?” anak ini pandai sekali berbahasa Inggris, lagi pula tampangnya sedikit Indonesia tapi ada sedikit ke-baratannya, kurasa dia blasteran.
“What are you doing here Edwardian! Just go home now, and where is Maia?” tiba – tiba Scarlett datang, jadi, jadi dia Edwin, tapi kenapa dia mengaku namanya Fadel, dan dia tidak berbohong, “Scarlett?”
“Natalie, what are you dong here? Dan, well, lebih baik dijelaskan dirumah saja. Ayo.” Ajak Scarlett. So? Apakah Edwin anak yang bermasalah? Tapi ada yang berbeda dengannya, lalu kami kembali kekediaman Burney.
“Nama anak ini atau adikku ini adalah Edwardian Fadel Burney. Lahir di Bandung, February 2, 1995. Dan memang wajahnya sedikit Indonesia karena mungkin faktor lahir di Indonesia atau apa tapi dia adalah anggota Burney.” Celoteh Scarlett seakan dengan posisi menghukum adiknya. “Dan pertanyaanku adalah, dimana pengasuhmu, Maia Friedlander? Kau tahu dia sudah tua. WHERE IS SHE!!!! EDWARDIAN FADEL BURNEY!!!! JUST ANSWER IT!!!” Scarlett benar – benar marah, lalu dijawab Edwin, “Maia kusuruh pulang, coba cek kamarnya, aku tahu aku bersalah tapi kumohon jangan over protective padaku, umurku sudah 15 tahun.”
“Kau tahu suatu saat kau bisa terbunuh? Kau mau dibunuh? What the fuck, really I swear, we love you, please understand.” Scarlett sepertinya khawatir sekali, “Scarlett, bolehkah aku berbicara pada Edwin?” kata Xavier tiba – tiba. Lalu Xavier mengajak Edwin kesuatu tempat, dan aku berbicara pada Scarlett.
“What the fucking thing you and Edwin you talking about? Ada apa sebenarnya Scarlett, ini bukan dirimu yang biasanya.” Scarlett hanya terdiam, “Scarlett, Scarlett kau baik – baik saja kan? SCARLETT!”
“Maaf Natalie, ini masalah adikku, dia memang vampire murni yang bernasib sial.”
“Aku tidak mengerti, Scarlett kenapa dengan adikmu?”
“Dia tidak normal, imunitasnya rendah, mentalnya lemah, mudah jatuh, dan terancam terbunuh.”
“Oleh? Kenapa? Ini aneh, seluruh vampire murni tidak ada yang lemah.” Aku bingung dan heran. “Let me guess, Trisha Venn Silver featuring Edmund Silver?”
“Featuring? Hmm, ya ini ulah mereka. Mereka meracuni adikku, merasukinya dengan penih dendam dan berlumurah darah yang tak termaafkan.”
15 years ago…
Saat itu suasana masih dalam keadaan kacau akibat pemberonyakan Edmund dan Trisha. Dimana keluarga Burney belum sekaya semasa sekarang, walaupun memang sudah kaya, mereka masih tinggal di Manchester, sebelum pindah ke Indonesia.
Keluarga Burney saat itu hanya ada Farrell, Scarlett, Wanda dan David, saat itu mereka masih kecil, dan memang potensi keturunan Burney memang cukup membahayakan masa depan Edmund dan Trisha. Hal ini tentu tidak bisa dibiarkan, maka Trisha menyamar menjadi pelayan keluarga Burney, mendengar bahwa memang keluarga Burney kekurangan pelayan. Trisha menyamar dengan baik selama satu bulan disana. Tujuan Trisha jelas, menghancurkan keturunan terkuat Burney, Farrell, karena bakat Farrell sudah terlihat. Dan akhirnya saat itu tiba, malam itu Trisha mengajukan pengunduran diri dan berkata pada Carlotta, “maaf nyonya, biarlah malam ini malam terakhir saya, saya sudha tidak bisa bekerja lagi disini karena faktor keluarga.” Carlotta yang memang tidak tahu menau akhirnya memberentikan Trisha.
Dan tentu saja, semua ini ada campur tangan Larissa Clearwater, ilmuan gila sekaligus kembaran Prof. Clarissa Clearwater ini yang memang bekerja sama dengan Edmund dan Trisha menciptakan ramuan percobaan kedua, yakni Cruelle. Berbeda dengan ramuan sebelumnya yakni Luncructor, racun Cruelle akan meruska sistem pertahanan tubuh atau imunitas sehingga vampire yang mengkonsumsinya akan mati perlahan tapi menyiksa. Dan seperti Luncructor, Cruelle hanya akan efektif bila korban yang mengkomsumsinya masih kecil atau dibawah umur 18 tahun.
Tentunya Cruelle akan diberikan pada Farrell, dan tentunya Cruelle akan dicampur dengan makanan Farrell. Ini memang saat yang tepat karena Adriano, sang kepala keluarga sedang diluar. Jadi perlindungan keluarga Burney sedikit berkurang.
Setelah meracuni makanan Farrell, dengan wajah tanpa dosa Trisha mengantar makanan tersebut, dan setelah itu Carlotta bekata, “aku bosan dengan makananku, Farrell maukah kau bertukar makanan dengan ibu?” lalu Farrell hanya menganggukan kepalanya. Betapa kagetnya Trisha. Tapi dia tidak bisa apa – apa, dan malam itu ia gagal lagi.
Satu kesalahan Trisha, ia tidak tahu bahwa Carlotta sedang hamil 3 bulan, memang kehamilan 3 bulan belum terlalu tampak. Bahkan Carlotta sendiri tidak tahu tentang kehamilannya.
Setelah beberapa bulan karena beberapa faktor, akhirnya keluarga Burney pindah ke Indonesia, awalnya mereka pindah ke Bandung, dan melahirkan Edwin disitu, ya dan mulailah kehidupan Edwin yang mengerikan.
Edwardian Fadel Burney, ya itulah namanya, lahir pada tanggal 2 February, 1995.
Ia juga satu – satunya anak yang memiliki nama dengan 3 suku kata. Nama Fadel diambil karena ia lahir bulan February dan itu juga saran dari tetangganya, agar keluarga Burney ingat akan Indonesia, maka diberi sentuhan Indonesia dinama tengahnya.
Awalnya memang tidak terlalu terlihat, tapi setelah umur 2 tahun, Carlotta mulai merasa aneh dengan anak bungsunya itu. Edwin mudah sekali terkena penyakit, padahal tidak ada vampire yang mudah terkena penyakit apalagi Edwin seperti terkena penyakit rutinan. Carlotta juga tidak sekuat dulu lagi. Lalu ia pulang ke Inggris dan memeriksa keadaanya pada Clarissa.
Clarissa menyatakan bahwa Edwin dan Carlotta terkena suatu racun atau mungkin virus. Clarissa menyataka bahwa ini virus ciptaan kembarannya, karena susunannya sama seperti yang sebelumnya, hanya berbeda sedikit.
Clarissa menyatakan mungkin ia terkena virus ini saat Carlotta mengandung Edwin, karena virus ini terpecah, 15% ada di tubuh Carlotta dan 85% ditubuh Edwin. Clarissa juga mengatakan, efek samping dan efek positifnya. Efek sampingnya seperti yang dijelaskan sebelumnya, merusak imunitas, dan sebagainya. Sedangkan efek positifnya bakat Edwin akan berkembang pesat lebih cepat dari yang seharusnya.
Edwin yang sekarang…
“Scarlett, jadi itu sebabnya kau,” kataku prihatin dengan wajah datar.
“Yeah, over protective.”
“Apa bakat Edwin?”
“Bermain musik pastinya, karena kita semua seniman, dan yang satu lagi, hmm kau akan tahu Natalie.”
Sisi Xavier…
“Begitukah ceritanya, Ed?”
“Ya, Xavier.”
“Jadi orang tuamu yang memberitahukan semua ini?”
“Bukan. Aku tahu sendiri kejadian 15 tahun yang lalu.” Mendengar jawaban Edwin, aku bingung. Apa bakat anak ini? Akankah dia seperti Natalie yang gila membunuh?
“Saat itu umurku 6 tahun, dan seperti biasa aku rutin cek ke dokter. Lalu aku melihat seorang suster menstuhksn cairan infus, dan begitu melihat cairan itu, aku seperti melihat cairan didalam tubuhku dan peristiwa 15 tahun yang lalu, lalu setelah itu secara spontan aku menyebutkan nama Trisha Venn Silver, dan kau bisa menebaknya, ibuku bingung, dan kujelaskan semua yang kulihat.” Jelas Edwin padaku. Jadi apakah Edwin akan menjadi dukun? Entahlah. Jelas saja anak ini menjadi incaran Edmund, justru dia akan berbahaya karena bisa melacak gerak – gerik Edmund dan komplotannya.
“Lalu kau bisa melihat masa lalu? Hmm, hebat juga.” Kataku.
“Dan masa depan, ya terdengar seperti Final Destination ya? Tapi hanya disaat genting, aku bukan seorang peramal yang bisa meramal kapan saja, dan juga aku bisa seperti itu kalau ada benda atau hal yang mendukung, dan satu lagi, mungkin aku tidak bisa membaca pikiran tapi aku bisa membaca suasana.” Terang Edwin, hmm ya mungkin kejadian tidak normal itu akan terjadi, maksudku mungkin saja anak ini pada umur 17 tahun tiba – tiba bisa membaca pikiran seperti Natalie? “Lalu apa kau merasa akan dibunuh?”
“Ya, dan yang akan membunuhku adalah Edmund.”
“Jadi kau bisa tahu kalau kau akan dibunuh Edmund?”
“Tidak, tapi, setiap aku mengingat mereka, punggungku merasa sakit, seolah – olah aku dilukai dengan kapak merah, dan itu menyakitkan walau tidak terlalu sakit, tapi pasti bila saatnya tiba itu akan menyakitkan sekali.”
“Maksudmu kau akan dibunuh dengan kapak atau apa?”
“Aku tidak tahu, dan mungkin hal ini akan mengejutkan Natalie.”
Aku bingung, apa hubungannya dengan Natalie? Siapa sebenarnya anak ini? Apakah dia dewa atau apa? Tapi Natalie? Sudahlah, sekarang aku hanya menuggu Adriano untuk mendapatkan informasi tentang semuanya, lalu Edwin berkata, “Mau mendengarku bermain piano? Kau bisa request lagu.” Aku baru sadar kalau diruangan ini ada grand piano berwarna coklat kayu, ya seperti piano kayu tampilannya. Lalu aku berkata pada Edwin, “apapun yang sesuai dengan suasana, kau bilang kau bisa membaca suasana?”
“Suasana ya, okay.” Lalu Edwin duduk dikursi piano dan melantunkan lagu, hmm instrument ini, ini, ini, ini ‘Evanescence – My Immortal’. Kenapa harus lagu ini? Aku seperti mendengar ada suara Amy Lee padahal hanya ada instrument musiknya. Apa ini pertanda bahwa akan terjadi sesuatu? Atau ini hanya, ah sudhalah, lebih baik aku mencari Natalie, Mirabella sudah membayarku untuk menjaga anaknya ini.
Sisi Natalie…
“Jadi itu bakat Edwin? The sounds like Final Destination.”
“Tapi kan tidak sepenuhnya seperti itu, lagi pula yang ku khawatirkan hanyalah keselamatannya, karena blog itu, karena blog itu, Edwin akan dibunuh, mungkin ini dampak negatif internet.”
“Ada apa dengan blog? Maksudmu situs blogger?” kata Xavier tiba – tiba.
“Yea, itu kenapa Edwin diincar oleh Edmund dan Trisha, karena curahannya pada blogger itu.”
Aku bingung, karena aku memang tidak suka surfing jadi aku bingung. “Label: Paranormal in Me yang dibuat Edwin dibaca oleh mereka,disitu banyak sekali kejadian yang ya, aneh dan saat itu tiba, Edwin menceritakan pengalamannya dirumah sakit pada ia umur 6 tahun. Kalau melihat komentar orang lain, mereka bilang, Edwin cocoklah menjadi penulis, atau apalah, tapi tentu pandangannya akan berbeda bila dibaca oleh Edmund. Dan saat itu, ia mulai meneror kami, lewat situs ‘Facebook’ dan ‘Twitter’ yang sedang menjadi trendsetter sekarang ini, ia berkata akan mengancam akan membunuh Edwin. Maka dari itu, kami pindah dari Bandung ke Bali.”
Jelas Scarlett panjang lebar. Pantas saja dia berpakaian seperti itu saat di bandara, tapi mungkin Amanda dan Luster Ernesto menyangka kami akan ke Bandung? Sepertinya tidak lama lagi, kediaman keluarga Burney di Bali akan ketahuan.
Lalu tidak lama kami mendengar ada mobil yang datang, “Pasti papa.” Kata Scarlett. Lalu Scarlett menujum ruang tamu depan dan menjamu Adriano pastinya, dan kami mengikutinya, disana juga sudah ada Wanda dan Edwin.
“Hey, kalian anak - anakku, dan Wanda, selamat atas prestasi percobaanmu itu.” Kata Adriano, ya mereka bertemu selayaknya keluarga, ini membuatku iri karena aku bahkan tidak tahu siapa ayahku, lalu Adriano melihat kearah kami, “Natalie Clyde, senang bertemu denganmu.” Lalu kami berjabat tangan, “hello Adriano,” lalu adriano melihat kearah Xavier, “kau pasti Xavier. senang bertemu denganmu.” Kata Adriano lalu mereka berjabat tangan, “senang bertemu denganmu juga. Bisa kita mulai urusan kita?” kata Xavier, “hmm, baiklah, mari ikut keruang kerjaku, anak – anak, ayah ada urusan sebentar.” Kata Adriano, lalu kami pergi ke ruangan kerja Adriano.
Setelah masuk, Adriano menutup pintu dan langsung menuju kearah rak yang ada disitu, “ini dia. Ayo dudk disini.” Kata Adriano lalu mempersilahkan kami duduk di sofa yang ada. “Amanda Rosella Ernesto dan Luster Eida Ernesto. Ini kan yang kalian perlukan?” kata Adriano sambil menunjukan dua berkas tentang dia, “Tunggu, Rosella? Eida? Bukankah nama tengah Amanda adalah Lydia dan nama tengah Luster adalah Ola?” kataku bingung.
“Kau mau saja dibodohi dia.” Kata Adriano, lalu aku melihat data tentang Amanda.
Name : Amanda Rosella Ernesto
Born : Newcastle, October 23, 1990
Hair : Red
Eyes : Blue
Height : 168 cm
Personality : Seperti anak kecil, genit, tetapi sadis dan paling suka membantai. Dan ia penuh dendam. Dia juga sangat sensitif serta perfeksionis, terutama dalam berpakaian. Ia juga suka keindahan.
Hmm, pribadi yang unik, jadi rambut dia berwarna merah?
Lalu aku melihat data tentang Luster, aku lalu meminta bertukar berkas pada Xavier.
Name : Luster Eida Ernesto
Born : Newcastle, November 30, 1992
Hair : Red
Eyes : Blue
Height : 165 cm
Personality : Kalau Amanda cerewet, ini kebalikannya, Luster pendiam dan tidak genit. Kalau untuk soal kesadisan, Amanda lebih duka langsung menebas, sedangkan Luster lebih suka menyiksanya terlebih dahulu.
Wow, pribadi yang kusuka, minimal pribadi ini lebih baik dari pada Patricio dan Claudio Ernesto. “Natalie, kau pasti sudah tahu tentang Edwin Burney kan?” celetuk Adriano. “Ya, Edwin Burney adalah korban dari racun Cruelle ciptaan Larissa Clearwater.” Jawab Xavier. “Cruelle? Maksudmu C R U E L L E yang tulisannya seperti itu? Kok kamu tahu itu nama virus, atau mungik racun yang meracuni Edwin?” Tanyaku bingung karena Scarlett tidak memberitahu soal itu. “Edwin yang bilang padaku. Disaat Scarlett bercerita padamu, Edwin juga bercerita padaku, Nat.” Jelas Xavier. “Baguslah kalau kalian sudah tahu, sekarang bisakah kalian membantuku?” Tanya Adriano.

No comments:

Post a Comment