10. Got You!!!
Oh my fuck, dia, dia serius menantangku. Mungkin saatnya aku sendiri yang kesana, lalu aku mendengar hentakan kaki ditangga, kurasa Xavier baru bangun, aku segera keluar dengan mobilku, kali ini aku naik mobil apa adanya yang ada didepan mata, ya Skyline. Okay, lalu aku langsung tancap gas menuju danau yang ada diperumahanku. Tidak terlalu jauh jaraknya. What the bloody scandal, baiklah, aku sudah siap akan semua ini. Lalu tak lama aku akhirnya sampai juga, lalu aku turun, dan berteriak, “KELUAR KALIAN!!! ARE YOU AFRAID? HELL!!!”
Lalu tiba – tiba ada suara yang kedengarannaya seperti sedang menertawakanku, “Kasarnya kau… hahahahaaaa….”
“Who is that??? Are you scare??? I just wanna say ‘Hasta la Vista, Baby’ to you, jerk.”
“No, that’s my words to you, Hasta la Vista, Baby Natalie.” Setelah berkata begitu, sosok misteruis itu mendekap Natalie dari belakang dan Natalie pingsan. Lalu mereka membawa Natalie pergi jauh, Natalie ditaruh di mobil pick-up, dan kawanan satu lagi membawa mobil Natalie pergi jauh kesuatu hutan, tetapi rumah dimana tempat Natalie disekap tidak terlalu jauh.
Sementara disisi Xavier…
“Fiona, kemana perginya Natalie?”
“Entahlah, Tuan, saya tidak tahu. Tadi pagi, Nyonya Muda menerima surat, entah apa isinya, setelah membaca itu, ia langsung pergi.”
“Dan kau tidak tahu Natalie pergi kemana?”
Fiona hanya menggelengkan kepala, Xavier segera menemui ibu Natalie, yakni Megan, atau yang dikenal dengan sebutan Mirabella. Xavier segera menuju ruang kerja Mirabella, dan langsung membuka pintu, “Megan, saatnya telah tiba.”
“Bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu?” Katanya tenang sambil menandatangani kontrak.
“Maaf, tetapi sesuai rencana kita, mungkin efeknya dia akan membenciku setelah ini.”
“Aku tidak mau tahu, bagaimanapun caranya, buat anakku percaya padaku, duduklah, aku ingin bertanya sesuatu padamu.” Lalu Xavier duduk.
“Dengar Xavier, aku tahu ini memang membebanimu, tetapi sejak peristiwa dimana anakku diracuni, gen yang ada didalam tubuhnya rusak, sehingga itu berakibat kedalam kondisi kejiwaannya yang semakin hari semakin buruk. Ini data terakhri bulan kemarin oleh dr. Osborne.” Lalu Xavier melihat data tersebut dan berkata, “Apa yang harus kulakukan lagi sekarang?”
“Pertanyaan sederhana dariku, sejak kecil kau sudah dapat beban berat seperti ini yang sangat menyita waktumu, ini agak pribadi tapi apakah kau, mencintai anakku itu? Terlihat sekali kau tulus.”
“Haruskah aku menjawab pertanyaan itu?”
“Xavier, please, baiklah, mungkin pertanyaan itu nanti saja. Kau tahu apa yang harus kau lakukan setelah ini bukan? Bersiaplah, mungkin malam anak itu akan pulang.”
“Kalau begitu aku permisi, Megan.” Megan hanya menganggukkan kepala. Xavier keluar dan bersiap diri. Sesuai yang diperhitungkannya, hal ini terjadi juga.
Natalie…
Hari hapir petang dan Natalie masih disekap. Sepetinya kadar obat bius yang diberikan cukup efektif. Natalie disekap dengan mulut tidak dilakpab, ia disekat dengan tali tambang yang tebel yang sepertinya kuat dan menyakitkan. Setelah sekian lama akhirnya sadar juga.
Natalie lalu membuka mata, ia melihat keadaan ruangan sekitar yang kosong. Tetapi diatas dekat langit – langit ada jendela. Sepanjang perbatasan antara langit – ada jendela. Mungkin lebar jendelanya hanay selebar tubuh Natalie yang langsing tetapi lebih lebar sedikit. Diatas dia duduk, ada bohlam lampu, seperti di film – film. Keadaan tempat seseorang diculik ya seperti ini lah suasananya. Naqtalie sadar tangan dan kakinya diikat dengan tali tambang.
“Eh, dimana aku? Dengan keadaan seperti ini? Oh my fuck.” Aku mengeluh.
“Welcome to my world, my daughter. ”
“You, you…”
To be continue to the next book…
The Vampire’s Documents: The Boy Who Must Be Killed.
Showing posts with label The Vampire's Files : The Secert Files. Show all posts
Showing posts with label The Vampire's Files : The Secert Files. Show all posts
Wednesday, April 7, 2010
9. A Secret File
9. A Secret File.
Hmm, aku bangun dan mengucek – ucek mataku pagi ini, dengan posisi yang sama, Xavier tidur sambil duduk. Aku masih penasaran akan keluarga Ernesto. Lalu kau bangun dan melakukan ritual pagi. Apa sekarang saatnya, seperti yang dikatakan oleh guru Alessandro? Lalu aku mengingta perkataannya saat aku meninggalkan Moscow pada umur 17 tahun, ‘Ada saatnya, waktunya akan datang, saat kau mempercayai vampire maupun manusia lain, kau istimewa, aku yakin kau tahu waktu yang tepat, murid terbaikku.’ Huh, believe? Konyol sekali. Tapi, mungkinkah? Bisakah aku mempercayai pria yang tidur diranjangku itu? Pria yang sudah kusuruh – suruh? Ada hal yang mengganjalku, mengapa? Mengapa ia mau melakukan hal itu? Kenapa juga aku tidak ingat bahwa aku pernah satu sekolah dengannya di Moscow? Apa dia lebih canggih dariku? Lalu setelah selesai, aku menghampirinya lagi, manis juga wajahnya melihat dia tertidur. Sudahlah, “Hey, Xavier, bangun kau.” Kataku sambil menepuk tangannya. Sepertinya ia bereaksi, “Huaamm, selamat pagi, Princess Natalie, okay, aku bangun.” Lalu ia mengucek – ucek matanya, hah? Princess? Aku suka panggilan itu walau ‘Your Majesty’ atau ‘Master’ lebih jauh lebih bagus. “Hmm, Xavier, maaf ya.”
“Apa? Kau tidak salah apa – apa.”
“Bagus kalau aku tidak salah apa – apa, tapi, aku sudah membuat hidupmu menderita beberapa hari ini, secara teknis, dua hari ini.” Lalu ia menepuk pipiku 2 kali, mungkin kalau ia menginap lagi, 3 kali ia menepuk pipiku.
“Tidak apa – apa, senang bisa vampire sepertimu, aku lapar ayo turun.”
Okay, lalu aku bangun dan turun kebawah. Dia ini, aneh sekali, kadang memanggilku Nyonya Muda, sekarang Princess? Dasar aneh, lalu kami sarapan dengan tenang, setelah makan selesai, aku bertanya padanya, “Kau tidak meminum darah babi?” Aku sengaja menanyakannya saat selesai makan agar aku tidak jijik. “Tidak, kau bercanda? Babi itu menjijikan.”
“Haha, akhirnya ada yang sepikiran denganku, aku tidak rela memakan hewan yang memakan kotorannya sendiri.”
“Kau ini, pandai sekali membuat istilah, lucu sekali.”
“Apa yang lucu, kau ini aneh.” Dia hanya tersenyum aneh. Terkadang ia terlihat keren dan mengagumkan, tapi keseringan terlihat bodoh dan aneh, terkadang aku mendengar detak jantungnya keras sekali, apa dia abnormal? “Cepat kau mandi, kita ada urusan dalam kasus Vikki.” Dia diam saja, lalu bangkit, kurasa ia menuju kamar mandi yang kutunjukan kemarin. Lalu aku menyuruh Nina untuk menyiapkan mobil BMW Seri 7-ku, tapi kata Fiona, Nina sedikit ada masalah, jadi kusuruh Fiona saja. Memang aneh, Nina dan Fiona itu akhir – akhir ini. Setelah itu, aku bertanya pada Fiona, “Fiona, kau baik – baik saja?”
“Nyonya Muda, aku tidak apa – apa.”
“Wajahmu, mengambarkan semuanya, kau berusaha mengosongkan pikiranmu, ada apa?”
“Maaf, tapi,”
“Aku tidak mau mendengar urusanmu, tapi, susunlah laporan tentang usaha keluargaku bulan ini, paham?”
“Paham, permisi Nyonya Muda.”
Lalu aku menunggu Xavier didalam mobil. Ada sekitar 5 menit aku menunggu, lalu ia muncul dan membuka pintu mobil bagian kemudi, itu dimana aku sedang duduk, lalu ia berkata, “Aku yang menyetir, kau istirahat saja.” Tanpa banyak bicara, aku keluar, lalu aku duduk disamping supir Xavier. Entah apa yang sekarang telah direncanakan Katherine, sebegitu kejamnya kah aku dimatanya? Apa dia tahu aku juga sedang banyak masalah. “Kathy pasti percaya padamu bila kau saksinya, Natalie, tenang saja.”
“Maksudmu? Katherine, dia memang begitu, huh, nanti kita akan langsung keruang sidang.”
“Mungkin kau harus sedikit lebih perempuan, kau tahulah. I believe, Natalie is not a ordinary girl, Natalie, is a bold girl.”
“Yes, I’m different right? Killer, scary, I don’t know what’s wrong with me.”
“No, hmm, yes, you right, but I think you, hmm, well…”
“Apa? Jahat? Memang.”
“Haha…”
“Kenapa? Kenapa kau merasa nyaman denganku, itu terpampang jelas diwajahmu.”
“Hmm, apa perlu kujawab?”
“Terserah, itulah mengapa aku tidak mengerti akan diriku, apa ini bagian dari lelucon?”
“Lelucon apa? Kau ini. Sudahlah, dengarkan lagu saja ya.” Lalu ia menyetel radio, radio? Aku kan punya koleksi CD. Saat ia nyalakan ternyata dia mendengar berita pagi, berita adalah hal yang membosankan tapi sangat berguna, masalahnya tidak ada berita penting yang menarik, hanya berita masalah fashion, sneakers, dan promosi iklan, lalu Xavier menggantinya kesaluran lain, hmm, ini baru aku suka, saluran musik jazz. Lalu tak lama kami sampai, setelah itu, aku menyuruh penjaga tentunya untuk memarkirkan mobil. Lalu sepertinya aku sudah ditunggu, kami segera kelantai 2, hmm, pengadilan dimulai. Dan hakimya adalah Rosalina Summer? Bukankah dia orang laboratorum? Memang dia cukup adil, dia juga belajar hukum dengan serius, aku hanya heran karena aku sudah lama tidak melihatnya. Diruangan itu ada Katherine, Kurt, Sallie, Shellie, dan Romeo, untuk apa juga Romeo disini, kalau Sallie dan Shellie jelas, agar mereka bisa waspada, kalau Romeo? “Rosaline? Apa kabar?” Tanya Xavier padanya, “Ah, Xavier, kabarku baik. Kau bersama Natalie, hmm, okay, kalian adalah saksinya, nikmatilah persidangan konyol ini.” Ya, memang, ruang sidangnya seperti ruang rekreasi, fasilitas lengkap, TV LCD, pembuat kopi, dan lainnya, kami saja duduk disofa. Sofa? Aneh memang. Lalu persidangan dimulai, ini lebih mirip dengan acara introgasi massal dari pada sidang. Lalu Rosalina bertanya pada Xavier, tentang posisi Eden dan Vikki. Lalu tentang belati dan bla-bla-bla… lalu bertanya padaku, “Nyonya Muda Natalie yang terhormat, apa anda yakin anda tidak membunuh Vikki dengan big foot milik anda?”
“Rosa, Rosa, Rosalina, aku serius, aku tidak mebunuhnya, okay, apa kesaksian Xavier kurang akurat?”
“Masalahnya tidak ada yang bisa mendeteksi saat kau berbohong atau tidak Natalie, kecuali…”
“Apa, Mrs. Summer?”
“Tidak, kesaksian Xavier kuat, hmm, mari kita bicarakan soal Amanda dan Luster. Romeo, kau pemimpin dari keamanan Eden, pastikan team kalian menjaga Eden dengan baik.” Kata Rosalina yang ingin bijaksana tapi tampangnya kurang mendukung untukk menjadi vampire yang bijaksana. Jadi itu fungsi Romeo, lalu aku bertanya pada Romeo, “Rom, kalau kau pemimpinnya, siapa yang menjaga Eden sekarang?”
“Hmm, mungkin kau tidak suka mendengar ini tapi, Mr. Renville yang ambil alih.” Aku heran mendengarnya, Kevin adalah vampire tolol menurutku. “Kat, menurutmu, apa modus Amanda maupun Luster untuk melakukannya? Melukai Eden dan Vikki? Sungguh kurang kerjaan.”
“Itu tidak bisa dipastikan sekarang, mungkin itu ancaman untuk kita, atau apalah, kita hanya bisa menuggu Eden, hmm, Mr. Lee siuman.” Jawab Katherine.
“Bagaimana kalau Lee tidak siuman?”
“Plan B, Red One. Kau tahukan, maksudku, Red One, bila aku sudah memanggilmu seperti ini?”
“Sabotase? Oh Please.” Lalu aku memutar bola mataku. “Hold the break, what?” Respon Kurt. “Keberatan? Menurutku hidupmu memang berat, Kurt.” Responku pada Kurt. Kurt hanya senyum tidak penting lalu kau melanjutkan, “Rosalina, boleh kupinta satu hal?”
“Apa itu?”
“Aku ingin tahu wajah Amanda dan Luster itu.”
“Sayangnya, Nyonya Muda, kami tidak punya fotonya, tapi akan diusahakan.”
“Benarkah? Apa ini bohong?”
“Sejujurnya Natalie, sebelum kau pindah kesini, semua dokumen tentang keluarga Ernesto, keluarga Silver, keluarga Venn, keluarga Diaz, bahkan keluarda Nara dan tentang Larissa Clearwater-pun dibumihanguskan oleh kerluarga Ernesto, entah kenapa mereka juga membakar data tentang keluarga Diaz dan Nara, padahal setahuku mereka tidak akur. Marga Ernesto berkerabat baik hanya dengan keluarga Venn dan Silver.” Terang Katherine. Lalu dari mana Belinda bisa mendapat foto Giovanni dan Wolfgang?
“Kenapa bisa? Untuk keluarga Nara aku tidak peduli, aku punya kartunya disini, aku hanya ingin keluarga Ernesto yang bermasalah itu.” Lalu aku melirik Xavier.
“What?” Spontan Xavier padaku.
“Okay, akan kuusahakan Natalie, aku tidak menyangka hal ini akan terjadi, saatnya tiba ternyata.” Kata Katherine, aku heran kenapa ia menjadi unprofessional? Tidak biasanya ia begini, apa hal ini memang ingin dukubur selamanya? Lalu aku bangkit dan aku menggretak meja lalu berteriak, “ADA APA INI!!! APA YANG KALIAN RAHASIAKAN??? WAHAI PARA ORANG TUA!!!”
“Natalie, would you please be quiet, and calm down?” Mama berkata padaku dengan nada sinis. Sejak kapan mama ada disini? “Sebenarnya aku tidak mengerti, kenapa sih kalian ini? Apa yang kalian rahasiakan? Sebegitu pentingnya kah? Baiklah, kalau aku memang tidak bisa membantu disini, mungkin lebih baik aku keluar, sekian dan terima kasih.” Lalu aku keluar, dan kulihat Xavier mengejarku, biarkan saja, “Natalie, hey, tunggu…” katanya sambil mengejarku. “What? Kau mau menceramahiku? What a suck?!”
“Sejujurnya tidak, sikapmu itu tidak sopan sebenarnya,”
“So what? I do not care about that, hell, cari saja gadis yang lebih sopan, supaya kau senang, kalau kau tidak suka dengan sikapku, aku tidak peduli.” Sepertinya perkataanku ketus sekali, ya itulah aku, tapi aku heran dengan vampire ini, sabar sekali dia menghadapiku, belum pernah ada yang sesabar ini. “Natalie, mau jalan – jalan?”
“Apa? Kau bilang apa? Kenapa kau tidak kembali keruang rapat?”
“Aku tidak akan membiarkan kau membunuh orang sembarangan. ”
“Kenapa kau peduli padaku? Ini aneh…”
“Mau tidak?” lalu aku hanya mengaggukan kepala. Lalu ia berjalan keluar, aku hanya mengikutinya, aku tidak peduli apa yang terjadi saat rapat.
Sementara itu, disisi Mirabella…
“Mirabella, apa sebaiknya anakmu kita beri tahu saja?” Jelas Katherine pada Mirabella. “Entahlah. Natalie itu, emosinya meledak – ledak, kau tahu sendiri, setelah apa yang dilakukan Edmund dan Trisha padanya, mereka telah meracuni anakku.” Keluh Mirabella.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan? Edmund jelas telah member tanda akan terbunuhnya sekretarisku, Vikki, dan Eden lalu, mungkin berikutnya Natalie akan terkena terror tersebut.” Jelas Katherine, “Alessandra, aku tidak tahu apa lagi yang akan terjadi kedepannya, tetapi, yang aku khawatirkan, putriku, akan kehilangan akal sehatnya.” Kata Mirabella pada Katherine. Ya, Alessandra adalah nama asli Katherine, “Megan, apa perkembangan terakhir kejiwaan putimu itu?” Tanya Alessandra, dan Megan adalah nama asli Mirabella.
Ya, selama ini Mirabella, Katherine, Azalea adalah nama palsu, mereka menyamarkan identitas mereka agar tidak diketahui olah Edmund, walau akhirnya pasti ketahuan juga. “Kau tahu dokter jiwa rekomendasi Clarissa? Maryanne Osborne, data terahkhir yang kulihat, anakku dia, semakin hari akan kehilangan sisi baiknya, entah apa yang harus kulakukan.” Jelas Megan. “Menyedihkan sekali, lalu apa solusinya?” Alessandra mulai serius kali ini. “Kidnapper, dia tahu solusinya. Akhir – akhir ini aku sebenarnya tahu, dia diteror, oleh Kidnapper, mungkin dimulai dari situ, dia bias mengetahui semuanya.”
“Megan, aku tidak mengerti maksudmu? Maksudmu dia adalah…” lalu Alessandra mulai berfikir dan mengeri rencana Megan. “Mungkin putrimu itu akan mendapat kejutan yang luar biasa.” Akhir kata dari Alessandra.
Kembali ke sisi Natalie…
“Huh, kita mau kemana? Kenapa tidak naik mobil saja?” Keluhku pada Xavier. “Lebih asyik naik bus, ayolah, nanti juga kau tahu…”
Huh, pria ini benar – benar membuatku penasaran, mungkin aku harus lebih sabar, lalu kami naik bus, dan kami duduk diatas. Lalu entah kenapa aku ingin bercerita pada Xavier tentang perasaanku.
“Aku tidak pernah tahu seperti apa wujud papa, bahkan aku tidak tahu namanya. Kau tahu seperti apa rasanya, tidak tahu siapa ayahmu?” Aku mulai berbicara.
“Well, memang benar sedih sekali, apa? Kau tidak tahu nama ayahmu?”
“Bahkan aku tidak pernah melihat fotonya sekalipun dan aku tidak pernah melihat akta kelahiranku.”
“Hmm, mungkin sedikit refreshing dapat menenangkan pikiranmu. Kau ikut sajalah.”
“Kalaupun papa sudah meninggal, aku tidak pernah menginjak kuburannya.” Sepertinya Xavier tidak terlalu mempedulikan curahan hatiku. Lalu ia mengelus – elus rambutku, selayaknya anjing kurasa, lalu sepertinya maksud dia tidak seperti itu, lalu ia berkata sambil merangkulku, “Hmm, mungkin pada saatnya kau akan tahu dan percayalah, keputusan ibumu merahasiakan ini untuk kebaikanmu, tetapi hal ini jangan disalah artikan, mungkin akan ada kejutan dibalik ini semua yang kau tidak akan duga, bahkan mungkin, hal ini akan jadi hal yang seru untuk dijadikan bahan pendewasaan diri.” Setelah berkata begitu, lalu ia melepas rangkulannya. Aku bingung dengan kata – katanya, aku tidak pernah berfikir sebijak itu.
“Apa kau peduli padaku? Xavier, menurutku, aku sering mengeluarkan kata – kata menyakitkan dan seenaknya padamu, sikapku-pun sering memaksa kehendakmu, kenapa aku baik sekali?”
“Nanti kau juga tahu, kenapa aku seperti itu. Eh, itu dia tempatnya, ayo turun disini.” Lalu Xavier menarik tanganku dan kita turun dari bus.
“Tempat apa ini? Ini tempat rekreasi kan?” Kataku begitu turun.
“Yup, ayo main…” Lalu Xavier menarik tanganku menuju tempat rekreasi outdoor tersebut. Lalu kami masuk ke taman rekreasi tersebut, kami main boom – boom car, roller coaster, menyaksikan film 3D, bahkan merry-go-round. Kami juga main tembak – tembakan, dan makan disana. Seumur hidup baru pertama kali aku kesini. Ternyata menyenangkan juga, bahkan aku sempat tertawa dibeberapa moment. Dia, Xavier, vampire pertama yang bisa membuatku tertawa lepas karena senang, maksudku bukan karena membunuh, ini benar – benar pertama kalinya aku tertawa. Aku tidak pernah pada teman – temanku yang lain, bahkan aku jarang tertawa dengan mama atau nenek sekalipun. Dia, berbeda. Xavier Wolfgang Nara. Walau ayahnya adalah salah satu daftar vampire yang dicari, tetapi dia berbeda dan aku percaya padanya, seorang diriku percaya padanya? Sepertinya hal ini mustahil. Sepertinya aku harus menggeser posisi Belinda dengan Xavier? Aku nyaman sekali berada didekatnya, ada apa ini? Aneh sekali rasanya. Setelah puas dan lelah, kami kembali ke markas untuk mengambil mobil tentunya, dan pulang, Xavier yang meneytir kali ini.
Saat dijalan, Xavier bertanya padaku, “Senang? Apa kau merasa lebih baik?”
“Sejujurnya ya, ini lebih menyenangkan dari membunuh. Aku senang, kapan – kapan jalan – jalan lagi, okay?”
“Kau ini ternyata, manis juga.”
“Manis? Apa aku tidak salah dengar? Aku kan seperti monster. Jahat dan kejam.”
“Sadar juga kau, haha… ya sejujurnya kau cantik sekali.” Setelah mendengar kata – kata Xavier aku merasa aneh, sikapnya yang tidak wajar, kenapa ia berkata begitu? Dan mengapa aku senang dipujinya seperti itu? Apa dia tertarik apa wanita monster sepertiku, secara teknis aku memang cantik, bertubuh langsing dan indah, tapi dengan sikapku yang seperti ini, apa mungkin dia tertarik pada wanita sepertiku? Wanita haus darah yang siap membunuh kapan saja. Entah kenapa hal ini merasa janggal dikepalaku, seluruh kebaikan dan sebagainya. “Kau tahu, setiap sebulan sekali aku periksa rutin ke psikolog. Dari kecil sampai sekarang, aku tidak pernah tahu hasilnya, bagaimana aku tidak marah dengan mama.” Kataku pada Xavier.
“Untuk apa? Mengecek kewarasanmu? Kurasa kau cukup waras.”
“Dan jahat, aku memang jahat sekali, bedanya dengan psikopat aku membunuh dengan sadar, bila ada yang membuatku kesal, kepalanya langsung kutebas. Saat kukecil saja, korbanku sudah bayak sekali. Apa kau tidak takut padaku?”
“Untuk apa? Takut padamu? Konyol sekali, kedengarannya, dengar ya, kita sesama vampire, sama – sama Dracula, kita sama – sama monster, sama – sama setan, kita satu jenis, jadi untuk apa takut?” Kata Xavier.
“Tapi aku berbeda. Sifatku, siapa yang tahan akan itu?”
“Aku, sudahlah, jangan dipikirkan ya.”
Lalu, tentunya aku diam, aku semakin heran dengan makhluk ini. Mungkin lebih baik aku diam. Itu lebih baik kurasa. Lalu tanpa sadar aku tertidur. Lalu setelah sampai rumah, Xavier menggendong Natalie yang tertidur pulas kekamarnya. Xavier lalu tidur di sofa dekat TV yang ada didekat tempat tidur Natalie.
Keesokan harinya…
“Hoam… eh, aku ada dikamarku?” Aku bingung dengan keadaan sekitar, lalu aku beranjak dari tempat tidurku. Dan aku melihat Xavier tidur di sofa. Lalu aku mandi dan berganti baju serta memakai lotion dan sebagainya, dan saat aku selesai berganti baju. Xavier masih tidur. Aku turun dan sarapan, sekitar 15 menit, lalu kata pelayanku, Nina ada yang mencariku diluar, entah siapa namanya, lalu Nina juga meninggalkan pesan dari yang mencariku tadi. Lalu aku membuka pesannya,
Dear Natalie…
Mungkin memang sekarang saatnya kita bertemu, temui aku di danau Jetsetter Residence.
NB: You will be surprise about this.
Oh my fuck, dia, dia serius menantangku. Mungkin saatnya aku sendiri yang kesana, lalu aku mendengar hentakan kaki ditangga, kurasa Xavier baru bangun, aku segera keluar dengan mobilku, kali ini aku naik mobil apa adanya yang ada didepan mata, ya Skyline. Okay, lalu aku langsung tancap gas menuju danau yang ada diperumahanku. Tidak terlalu jauh jaraknya.
Hmm, aku bangun dan mengucek – ucek mataku pagi ini, dengan posisi yang sama, Xavier tidur sambil duduk. Aku masih penasaran akan keluarga Ernesto. Lalu kau bangun dan melakukan ritual pagi. Apa sekarang saatnya, seperti yang dikatakan oleh guru Alessandro? Lalu aku mengingta perkataannya saat aku meninggalkan Moscow pada umur 17 tahun, ‘Ada saatnya, waktunya akan datang, saat kau mempercayai vampire maupun manusia lain, kau istimewa, aku yakin kau tahu waktu yang tepat, murid terbaikku.’ Huh, believe? Konyol sekali. Tapi, mungkinkah? Bisakah aku mempercayai pria yang tidur diranjangku itu? Pria yang sudah kusuruh – suruh? Ada hal yang mengganjalku, mengapa? Mengapa ia mau melakukan hal itu? Kenapa juga aku tidak ingat bahwa aku pernah satu sekolah dengannya di Moscow? Apa dia lebih canggih dariku? Lalu setelah selesai, aku menghampirinya lagi, manis juga wajahnya melihat dia tertidur. Sudahlah, “Hey, Xavier, bangun kau.” Kataku sambil menepuk tangannya. Sepertinya ia bereaksi, “Huaamm, selamat pagi, Princess Natalie, okay, aku bangun.” Lalu ia mengucek – ucek matanya, hah? Princess? Aku suka panggilan itu walau ‘Your Majesty’ atau ‘Master’ lebih jauh lebih bagus. “Hmm, Xavier, maaf ya.”
“Apa? Kau tidak salah apa – apa.”
“Bagus kalau aku tidak salah apa – apa, tapi, aku sudah membuat hidupmu menderita beberapa hari ini, secara teknis, dua hari ini.” Lalu ia menepuk pipiku 2 kali, mungkin kalau ia menginap lagi, 3 kali ia menepuk pipiku.
“Tidak apa – apa, senang bisa vampire sepertimu, aku lapar ayo turun.”
Okay, lalu aku bangun dan turun kebawah. Dia ini, aneh sekali, kadang memanggilku Nyonya Muda, sekarang Princess? Dasar aneh, lalu kami sarapan dengan tenang, setelah makan selesai, aku bertanya padanya, “Kau tidak meminum darah babi?” Aku sengaja menanyakannya saat selesai makan agar aku tidak jijik. “Tidak, kau bercanda? Babi itu menjijikan.”
“Haha, akhirnya ada yang sepikiran denganku, aku tidak rela memakan hewan yang memakan kotorannya sendiri.”
“Kau ini, pandai sekali membuat istilah, lucu sekali.”
“Apa yang lucu, kau ini aneh.” Dia hanya tersenyum aneh. Terkadang ia terlihat keren dan mengagumkan, tapi keseringan terlihat bodoh dan aneh, terkadang aku mendengar detak jantungnya keras sekali, apa dia abnormal? “Cepat kau mandi, kita ada urusan dalam kasus Vikki.” Dia diam saja, lalu bangkit, kurasa ia menuju kamar mandi yang kutunjukan kemarin. Lalu aku menyuruh Nina untuk menyiapkan mobil BMW Seri 7-ku, tapi kata Fiona, Nina sedikit ada masalah, jadi kusuruh Fiona saja. Memang aneh, Nina dan Fiona itu akhir – akhir ini. Setelah itu, aku bertanya pada Fiona, “Fiona, kau baik – baik saja?”
“Nyonya Muda, aku tidak apa – apa.”
“Wajahmu, mengambarkan semuanya, kau berusaha mengosongkan pikiranmu, ada apa?”
“Maaf, tapi,”
“Aku tidak mau mendengar urusanmu, tapi, susunlah laporan tentang usaha keluargaku bulan ini, paham?”
“Paham, permisi Nyonya Muda.”
Lalu aku menunggu Xavier didalam mobil. Ada sekitar 5 menit aku menunggu, lalu ia muncul dan membuka pintu mobil bagian kemudi, itu dimana aku sedang duduk, lalu ia berkata, “Aku yang menyetir, kau istirahat saja.” Tanpa banyak bicara, aku keluar, lalu aku duduk disamping supir Xavier. Entah apa yang sekarang telah direncanakan Katherine, sebegitu kejamnya kah aku dimatanya? Apa dia tahu aku juga sedang banyak masalah. “Kathy pasti percaya padamu bila kau saksinya, Natalie, tenang saja.”
“Maksudmu? Katherine, dia memang begitu, huh, nanti kita akan langsung keruang sidang.”
“Mungkin kau harus sedikit lebih perempuan, kau tahulah. I believe, Natalie is not a ordinary girl, Natalie, is a bold girl.”
“Yes, I’m different right? Killer, scary, I don’t know what’s wrong with me.”
“No, hmm, yes, you right, but I think you, hmm, well…”
“Apa? Jahat? Memang.”
“Haha…”
“Kenapa? Kenapa kau merasa nyaman denganku, itu terpampang jelas diwajahmu.”
“Hmm, apa perlu kujawab?”
“Terserah, itulah mengapa aku tidak mengerti akan diriku, apa ini bagian dari lelucon?”
“Lelucon apa? Kau ini. Sudahlah, dengarkan lagu saja ya.” Lalu ia menyetel radio, radio? Aku kan punya koleksi CD. Saat ia nyalakan ternyata dia mendengar berita pagi, berita adalah hal yang membosankan tapi sangat berguna, masalahnya tidak ada berita penting yang menarik, hanya berita masalah fashion, sneakers, dan promosi iklan, lalu Xavier menggantinya kesaluran lain, hmm, ini baru aku suka, saluran musik jazz. Lalu tak lama kami sampai, setelah itu, aku menyuruh penjaga tentunya untuk memarkirkan mobil. Lalu sepertinya aku sudah ditunggu, kami segera kelantai 2, hmm, pengadilan dimulai. Dan hakimya adalah Rosalina Summer? Bukankah dia orang laboratorum? Memang dia cukup adil, dia juga belajar hukum dengan serius, aku hanya heran karena aku sudah lama tidak melihatnya. Diruangan itu ada Katherine, Kurt, Sallie, Shellie, dan Romeo, untuk apa juga Romeo disini, kalau Sallie dan Shellie jelas, agar mereka bisa waspada, kalau Romeo? “Rosaline? Apa kabar?” Tanya Xavier padanya, “Ah, Xavier, kabarku baik. Kau bersama Natalie, hmm, okay, kalian adalah saksinya, nikmatilah persidangan konyol ini.” Ya, memang, ruang sidangnya seperti ruang rekreasi, fasilitas lengkap, TV LCD, pembuat kopi, dan lainnya, kami saja duduk disofa. Sofa? Aneh memang. Lalu persidangan dimulai, ini lebih mirip dengan acara introgasi massal dari pada sidang. Lalu Rosalina bertanya pada Xavier, tentang posisi Eden dan Vikki. Lalu tentang belati dan bla-bla-bla… lalu bertanya padaku, “Nyonya Muda Natalie yang terhormat, apa anda yakin anda tidak membunuh Vikki dengan big foot milik anda?”
“Rosa, Rosa, Rosalina, aku serius, aku tidak mebunuhnya, okay, apa kesaksian Xavier kurang akurat?”
“Masalahnya tidak ada yang bisa mendeteksi saat kau berbohong atau tidak Natalie, kecuali…”
“Apa, Mrs. Summer?”
“Tidak, kesaksian Xavier kuat, hmm, mari kita bicarakan soal Amanda dan Luster. Romeo, kau pemimpin dari keamanan Eden, pastikan team kalian menjaga Eden dengan baik.” Kata Rosalina yang ingin bijaksana tapi tampangnya kurang mendukung untukk menjadi vampire yang bijaksana. Jadi itu fungsi Romeo, lalu aku bertanya pada Romeo, “Rom, kalau kau pemimpinnya, siapa yang menjaga Eden sekarang?”
“Hmm, mungkin kau tidak suka mendengar ini tapi, Mr. Renville yang ambil alih.” Aku heran mendengarnya, Kevin adalah vampire tolol menurutku. “Kat, menurutmu, apa modus Amanda maupun Luster untuk melakukannya? Melukai Eden dan Vikki? Sungguh kurang kerjaan.”
“Itu tidak bisa dipastikan sekarang, mungkin itu ancaman untuk kita, atau apalah, kita hanya bisa menuggu Eden, hmm, Mr. Lee siuman.” Jawab Katherine.
“Bagaimana kalau Lee tidak siuman?”
“Plan B, Red One. Kau tahukan, maksudku, Red One, bila aku sudah memanggilmu seperti ini?”
“Sabotase? Oh Please.” Lalu aku memutar bola mataku. “Hold the break, what?” Respon Kurt. “Keberatan? Menurutku hidupmu memang berat, Kurt.” Responku pada Kurt. Kurt hanya senyum tidak penting lalu kau melanjutkan, “Rosalina, boleh kupinta satu hal?”
“Apa itu?”
“Aku ingin tahu wajah Amanda dan Luster itu.”
“Sayangnya, Nyonya Muda, kami tidak punya fotonya, tapi akan diusahakan.”
“Benarkah? Apa ini bohong?”
“Sejujurnya Natalie, sebelum kau pindah kesini, semua dokumen tentang keluarga Ernesto, keluarga Silver, keluarga Venn, keluarga Diaz, bahkan keluarda Nara dan tentang Larissa Clearwater-pun dibumihanguskan oleh kerluarga Ernesto, entah kenapa mereka juga membakar data tentang keluarga Diaz dan Nara, padahal setahuku mereka tidak akur. Marga Ernesto berkerabat baik hanya dengan keluarga Venn dan Silver.” Terang Katherine. Lalu dari mana Belinda bisa mendapat foto Giovanni dan Wolfgang?
“Kenapa bisa? Untuk keluarga Nara aku tidak peduli, aku punya kartunya disini, aku hanya ingin keluarga Ernesto yang bermasalah itu.” Lalu aku melirik Xavier.
“What?” Spontan Xavier padaku.
“Okay, akan kuusahakan Natalie, aku tidak menyangka hal ini akan terjadi, saatnya tiba ternyata.” Kata Katherine, aku heran kenapa ia menjadi unprofessional? Tidak biasanya ia begini, apa hal ini memang ingin dukubur selamanya? Lalu aku bangkit dan aku menggretak meja lalu berteriak, “ADA APA INI!!! APA YANG KALIAN RAHASIAKAN??? WAHAI PARA ORANG TUA!!!”
“Natalie, would you please be quiet, and calm down?” Mama berkata padaku dengan nada sinis. Sejak kapan mama ada disini? “Sebenarnya aku tidak mengerti, kenapa sih kalian ini? Apa yang kalian rahasiakan? Sebegitu pentingnya kah? Baiklah, kalau aku memang tidak bisa membantu disini, mungkin lebih baik aku keluar, sekian dan terima kasih.” Lalu aku keluar, dan kulihat Xavier mengejarku, biarkan saja, “Natalie, hey, tunggu…” katanya sambil mengejarku. “What? Kau mau menceramahiku? What a suck?!”
“Sejujurnya tidak, sikapmu itu tidak sopan sebenarnya,”
“So what? I do not care about that, hell, cari saja gadis yang lebih sopan, supaya kau senang, kalau kau tidak suka dengan sikapku, aku tidak peduli.” Sepertinya perkataanku ketus sekali, ya itulah aku, tapi aku heran dengan vampire ini, sabar sekali dia menghadapiku, belum pernah ada yang sesabar ini. “Natalie, mau jalan – jalan?”
“Apa? Kau bilang apa? Kenapa kau tidak kembali keruang rapat?”
“Aku tidak akan membiarkan kau membunuh orang sembarangan. ”
“Kenapa kau peduli padaku? Ini aneh…”
“Mau tidak?” lalu aku hanya mengaggukan kepala. Lalu ia berjalan keluar, aku hanya mengikutinya, aku tidak peduli apa yang terjadi saat rapat.
Sementara itu, disisi Mirabella…
“Mirabella, apa sebaiknya anakmu kita beri tahu saja?” Jelas Katherine pada Mirabella. “Entahlah. Natalie itu, emosinya meledak – ledak, kau tahu sendiri, setelah apa yang dilakukan Edmund dan Trisha padanya, mereka telah meracuni anakku.” Keluh Mirabella.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan? Edmund jelas telah member tanda akan terbunuhnya sekretarisku, Vikki, dan Eden lalu, mungkin berikutnya Natalie akan terkena terror tersebut.” Jelas Katherine, “Alessandra, aku tidak tahu apa lagi yang akan terjadi kedepannya, tetapi, yang aku khawatirkan, putriku, akan kehilangan akal sehatnya.” Kata Mirabella pada Katherine. Ya, Alessandra adalah nama asli Katherine, “Megan, apa perkembangan terakhir kejiwaan putimu itu?” Tanya Alessandra, dan Megan adalah nama asli Mirabella.
Ya, selama ini Mirabella, Katherine, Azalea adalah nama palsu, mereka menyamarkan identitas mereka agar tidak diketahui olah Edmund, walau akhirnya pasti ketahuan juga. “Kau tahu dokter jiwa rekomendasi Clarissa? Maryanne Osborne, data terahkhir yang kulihat, anakku dia, semakin hari akan kehilangan sisi baiknya, entah apa yang harus kulakukan.” Jelas Megan. “Menyedihkan sekali, lalu apa solusinya?” Alessandra mulai serius kali ini. “Kidnapper, dia tahu solusinya. Akhir – akhir ini aku sebenarnya tahu, dia diteror, oleh Kidnapper, mungkin dimulai dari situ, dia bias mengetahui semuanya.”
“Megan, aku tidak mengerti maksudmu? Maksudmu dia adalah…” lalu Alessandra mulai berfikir dan mengeri rencana Megan. “Mungkin putrimu itu akan mendapat kejutan yang luar biasa.” Akhir kata dari Alessandra.
Kembali ke sisi Natalie…
“Huh, kita mau kemana? Kenapa tidak naik mobil saja?” Keluhku pada Xavier. “Lebih asyik naik bus, ayolah, nanti juga kau tahu…”
Huh, pria ini benar – benar membuatku penasaran, mungkin aku harus lebih sabar, lalu kami naik bus, dan kami duduk diatas. Lalu entah kenapa aku ingin bercerita pada Xavier tentang perasaanku.
“Aku tidak pernah tahu seperti apa wujud papa, bahkan aku tidak tahu namanya. Kau tahu seperti apa rasanya, tidak tahu siapa ayahmu?” Aku mulai berbicara.
“Well, memang benar sedih sekali, apa? Kau tidak tahu nama ayahmu?”
“Bahkan aku tidak pernah melihat fotonya sekalipun dan aku tidak pernah melihat akta kelahiranku.”
“Hmm, mungkin sedikit refreshing dapat menenangkan pikiranmu. Kau ikut sajalah.”
“Kalaupun papa sudah meninggal, aku tidak pernah menginjak kuburannya.” Sepertinya Xavier tidak terlalu mempedulikan curahan hatiku. Lalu ia mengelus – elus rambutku, selayaknya anjing kurasa, lalu sepertinya maksud dia tidak seperti itu, lalu ia berkata sambil merangkulku, “Hmm, mungkin pada saatnya kau akan tahu dan percayalah, keputusan ibumu merahasiakan ini untuk kebaikanmu, tetapi hal ini jangan disalah artikan, mungkin akan ada kejutan dibalik ini semua yang kau tidak akan duga, bahkan mungkin, hal ini akan jadi hal yang seru untuk dijadikan bahan pendewasaan diri.” Setelah berkata begitu, lalu ia melepas rangkulannya. Aku bingung dengan kata – katanya, aku tidak pernah berfikir sebijak itu.
“Apa kau peduli padaku? Xavier, menurutku, aku sering mengeluarkan kata – kata menyakitkan dan seenaknya padamu, sikapku-pun sering memaksa kehendakmu, kenapa aku baik sekali?”
“Nanti kau juga tahu, kenapa aku seperti itu. Eh, itu dia tempatnya, ayo turun disini.” Lalu Xavier menarik tanganku dan kita turun dari bus.
“Tempat apa ini? Ini tempat rekreasi kan?” Kataku begitu turun.
“Yup, ayo main…” Lalu Xavier menarik tanganku menuju tempat rekreasi outdoor tersebut. Lalu kami masuk ke taman rekreasi tersebut, kami main boom – boom car, roller coaster, menyaksikan film 3D, bahkan merry-go-round. Kami juga main tembak – tembakan, dan makan disana. Seumur hidup baru pertama kali aku kesini. Ternyata menyenangkan juga, bahkan aku sempat tertawa dibeberapa moment. Dia, Xavier, vampire pertama yang bisa membuatku tertawa lepas karena senang, maksudku bukan karena membunuh, ini benar – benar pertama kalinya aku tertawa. Aku tidak pernah pada teman – temanku yang lain, bahkan aku jarang tertawa dengan mama atau nenek sekalipun. Dia, berbeda. Xavier Wolfgang Nara. Walau ayahnya adalah salah satu daftar vampire yang dicari, tetapi dia berbeda dan aku percaya padanya, seorang diriku percaya padanya? Sepertinya hal ini mustahil. Sepertinya aku harus menggeser posisi Belinda dengan Xavier? Aku nyaman sekali berada didekatnya, ada apa ini? Aneh sekali rasanya. Setelah puas dan lelah, kami kembali ke markas untuk mengambil mobil tentunya, dan pulang, Xavier yang meneytir kali ini.
Saat dijalan, Xavier bertanya padaku, “Senang? Apa kau merasa lebih baik?”
“Sejujurnya ya, ini lebih menyenangkan dari membunuh. Aku senang, kapan – kapan jalan – jalan lagi, okay?”
“Kau ini ternyata, manis juga.”
“Manis? Apa aku tidak salah dengar? Aku kan seperti monster. Jahat dan kejam.”
“Sadar juga kau, haha… ya sejujurnya kau cantik sekali.” Setelah mendengar kata – kata Xavier aku merasa aneh, sikapnya yang tidak wajar, kenapa ia berkata begitu? Dan mengapa aku senang dipujinya seperti itu? Apa dia tertarik apa wanita monster sepertiku, secara teknis aku memang cantik, bertubuh langsing dan indah, tapi dengan sikapku yang seperti ini, apa mungkin dia tertarik pada wanita sepertiku? Wanita haus darah yang siap membunuh kapan saja. Entah kenapa hal ini merasa janggal dikepalaku, seluruh kebaikan dan sebagainya. “Kau tahu, setiap sebulan sekali aku periksa rutin ke psikolog. Dari kecil sampai sekarang, aku tidak pernah tahu hasilnya, bagaimana aku tidak marah dengan mama.” Kataku pada Xavier.
“Untuk apa? Mengecek kewarasanmu? Kurasa kau cukup waras.”
“Dan jahat, aku memang jahat sekali, bedanya dengan psikopat aku membunuh dengan sadar, bila ada yang membuatku kesal, kepalanya langsung kutebas. Saat kukecil saja, korbanku sudah bayak sekali. Apa kau tidak takut padaku?”
“Untuk apa? Takut padamu? Konyol sekali, kedengarannya, dengar ya, kita sesama vampire, sama – sama Dracula, kita sama – sama monster, sama – sama setan, kita satu jenis, jadi untuk apa takut?” Kata Xavier.
“Tapi aku berbeda. Sifatku, siapa yang tahan akan itu?”
“Aku, sudahlah, jangan dipikirkan ya.”
Lalu, tentunya aku diam, aku semakin heran dengan makhluk ini. Mungkin lebih baik aku diam. Itu lebih baik kurasa. Lalu tanpa sadar aku tertidur. Lalu setelah sampai rumah, Xavier menggendong Natalie yang tertidur pulas kekamarnya. Xavier lalu tidur di sofa dekat TV yang ada didekat tempat tidur Natalie.
Keesokan harinya…
“Hoam… eh, aku ada dikamarku?” Aku bingung dengan keadaan sekitar, lalu aku beranjak dari tempat tidurku. Dan aku melihat Xavier tidur di sofa. Lalu aku mandi dan berganti baju serta memakai lotion dan sebagainya, dan saat aku selesai berganti baju. Xavier masih tidur. Aku turun dan sarapan, sekitar 15 menit, lalu kata pelayanku, Nina ada yang mencariku diluar, entah siapa namanya, lalu Nina juga meninggalkan pesan dari yang mencariku tadi. Lalu aku membuka pesannya,
Dear Natalie…
Mungkin memang sekarang saatnya kita bertemu, temui aku di danau Jetsetter Residence.
NB: You will be surprise about this.
Oh my fuck, dia, dia serius menantangku. Mungkin saatnya aku sendiri yang kesana, lalu aku mendengar hentakan kaki ditangga, kurasa Xavier baru bangun, aku segera keluar dengan mobilku, kali ini aku naik mobil apa adanya yang ada didepan mata, ya Skyline. Okay, lalu aku langsung tancap gas menuju danau yang ada diperumahanku. Tidak terlalu jauh jaraknya.
8. Handsome?
8. Handsome?
“Yes, so?” Aku bingung.
“Giovanni Diaz. You know what? Dia tampan sekali walaupun sudah tua. Hmm, maksudku sudah bapak – bapak. But, I love him.” Kata Belinda sambil memeluk foto buronan kelas kakap itu.
“Belle, dia buronan.”
“So what? Dan lihat Wolfgang, kau tahu, ia juga tak kalah tampan dengan Xavier, walaupun ia ayahnya sendiri.”
“Coba kulihat fotonya.” Kataku sambil merebut foto buronan itu. Lalu Belinda menyerahkan fotonya dan aku melihat – lihat, entah dari mana ia dapat fotonya. Kalau diperhatikan, Giovanni dan Wolfgang memang tampan, gagah, ya sempurna. Hmm, Elena juga cantik, Helena, walau sudah tua tetap gagah. Tunggu, kenapa foto Megan, dan Alessandra tidak ada? Tunggu, kalu tidak salah, tidak ada yang tahu keberadaan mereka, disini hanya tertera foto saat remaja mereka saja. Dan Trisha dan Edmund Silver? Mereka juga tidak jelas. Aku rasa ada yang aneh dari foto Giovanni ini? Apa ya? “Sudah belum melihat – lihatnya?” Tanya Belinda.
Lalu aku menerahkan foto – foto itu. Aku merasa ada ikatan batin pada Giovanni. Perasaan macam apa ini? “Natalie, apa yang kau pikirkan, kenapa tampangmu seram begitu?” Belinda mengejutkan lamunanku.
“Eh, nothing.” Jawabku.
3 hari kemudian.
“Hmm, kerja bagus.” Komentarku pada para pekerja. Ya, restorannya sudah jadi. Dan tebak, dibelakangku sudah ada pasukan penghabis a.k.a pasukan tong sampah makanan karena ini launching restoranku. ‘The Lasagna.’ Ya, kemarin mama bilang jangan menggunakan nama ‘Supernova’ karena terdengar kejam, entah apa maksudnya, lalu aku berfikir makanan kesukaanku, ya lasagna. Aku merenovasinya dengan model berbeda. Nuansa classic nan artistic untuk lantai satu dan dua. Lantai dua bisa digunakan untuk acara – acara, seperti meeting, birthday party, gathering, dan lainnya, sedangkan lantai tiga, adalah sebuah salsa’s place, nuansanya futuristic, gothic but, comfortable, dan cocok untuk berkumpul. Tentunya aku menaikan tarif makanan 0.5%.
Lalu para pasukan gila yang kubawa menyerbu dan memborong makanan. Lalu aku naik ke balkon lantai dua, lantai tiga masih ada beberapa renovasi, jadi kelantai dua saja. Huh, lelahnya, sekarang sudah jam 05.00 pm, pemandangan petang yang menyenangkan. “Apa masih ada sisa makanan untukku?” Tanya seseorang dibelakangku, hey, kenapa aku tak merasakan hawanya, dan sepertinya aku kenal, lalu aku berbalik badan. “Xavier, sejak kapan kau ada disini?”
“Baru datang.” Katanya lalu ia mendekat dan berdiri disampingku, apa maunya?
“Apa maumu? Maaf, tapi untukmu tak ada diskon.” Kataku.
“HAHAHA… tenang saja akan kubayar penuh.” Dia tertawa? Apanya yang lucu?
“Ada yang lucu?”
“Tidak, kau ini hebat, masih muda bisnisnya lancar, sayangnya pelit.”
“Kurang ajar.” Mukaku sinis.
“Tenang, aku hanya bercanda.”
“Apa tujuanmu untuk menyerahkan ayahmu, Wolfgang untuk kupenggal kepalanya?” Pertanyaanku sepertinya terdengar kejam.
“Tidak tentunya. Sudahlah, aku ingin memesan makanan, ayo.”
“Ayo?”
“Kebawah, kau tidak mau menikmati makan malam? Ayo.” Ajaknya kebawah. Lalu aku turun bersamanya. Aneh, dia muncul tanpa sebab. Lalu ia duduk dan memesan makanan. Anehnya kenapa aku mau duduk satu meja dengannya? Sebentar, ada yang mengawasiku? Siapa, aku melihat keadaan, semua makan dengan tenang. Sudahlah. Lalu tak lama makanan kami datang. Aku berusaha makan dengan tenang, lalu tak lama mama datang dengan Jena. Jena Ron? Bukankah ia asisten Melinda, oh ya, katanya Melinda ingin pindah, kapan tapi pindahnya? Lalu mama duduk satu meja dengan Katherine. Dan sepertinya melihat fenomena aneh yang terjadi padaku, yaitu satu meja dengan Xavier. “Hey, kau terlihat tidak berselera, apa ada yang mengganggumu?” Tanya Xavier, ku yakin ia heran dengan sikapku.
“Nothing.”
“You know what? Aku heran padamu, kau akutansi saja tidak bagus tapi, usahamu sukses.”
“Tahu dari mana? Ya, bagian itu memang aku malas mempelajarinya walau penting, aku lebih berminat pada sejarahnya. Tapi aku tidak mendalami ilmu itu.”
“Kau lupa, bertahun – tahun kita satu sekolah?”
“Apa iya? Entahlah, hmm, apa kau sudah bertemu ayahmu lagi?”
“Belum, aku tinggal sendiri, well, tentu aku punya pelayan, tapi aku sendirian.” Jawabnya, lalu iya melanjutkan makannya, kalau kulihat, sepertinya iya tidak bohong. Lalu aku juga mulai memakan makananku.
“Kau tinggal dimana?” Tanyaku lagi.
“Jetsetter Residence, kau ini bagaimana. Sama sepertimu, hanya berbeda lokasi saja.” Jawabnya lagi, oh ya, seluruh vampire yang tinggal di Inggris terutama perkotaanya tinggal di Jetsetter.
“Oh ya, kau belum mengatakan kenapa kau bisa sukses.” Lanjutnya lagi.
“Aku pintar meyakinkan dan pintar bicara. Kau tinggal dibagian mana?”
“Kau kan di Forbidden Hills, aku di Cleopatra City, No. 1, hmm, jangan – jangan kau tak tahu kerjaku di markas bagian apa? Dan untuk perkataanmu yang pintar meyakinkan aku mengerti akan hal itu.” Tanya Xavier lagi. Aku hanya menggelengkan kepala sambil memakan makananku. “Memangnya apa yang kau mengerti?” Lalu ia tidak melanjutkan tetapi malah memakan makanannya sambil tersenyum.
“Memang dibagian apa?” Tanyaku.
“Patroli, makanya kau tidak pernah melihatku kan?” Katanya, aku hanya nyengir tanpa dosa dengan tampang tidak ikhlas.
“Kau naik apa kesini?” Aku bertanya lagi.
“Bus.”
“Bus? Kendaraan manusia itu? Payah.”
“Kau ini menghina saja. Lalu maumu apa?”
“Karena aku tidak tahu rumahmu, aku akan mengantarmu. Dan, sebagai rasa bersalahku karena tidak menganggapmu, makanan ini biar aku yang bayar, makanlah sepuas hati.” Kataku. Sepertinya, dari tampangnya ia puas sekali karena makan gratis. Dasar pria. Lalu tak lama, setelah kami semua selesai makan, mama mengucapkan terima kasih atas kehadiran pasukan lapar yang datang kesini dan menutup acara makan massal ini. Padahal aku yang membuka acar, siapa juga yang mengijinkannya menutup acaraku. Sudahlah. Lalu kami semua pulang, dan aku menuju ke parkiran dan Xavier mengikutiku dari belakang. “Biar aku yang menyetir, anggaplah sebgai rasa terima kasih atas traktiranmu.” Katanya, aku hanya menganggukkan kepala dan melemparkan kunci mobil padanya. Kali ini aku naik mobil sport, Nissan Skyline. Lalu kami naik kemobil, lalu pergi menuju kerumah pria ini. Lalu aku menyetel musik, hmm, mungkin lagu Jonas Brothers.
“Jonas Brothers – That’s Just The Way We Roll? Kau suka itu? Ini lagu yang bagus.” Tanya Xavier.
“Mereka keren menurutku.”
“Lebih tampan mana dia denganku?”
“Eh? Pertanyaan bodoh, memangnya kau kenapa? Sudahlah, kendarai saja mobil ini dengan benar.” Kataku ketus. Dia hanya tersenyum licik. “Apa senyum – senyum?“ Tanyaku ketus lagi.
“When You Look Me In The Eyes, aku suka lagi yang ini. Kau ini galak sekali.” Sepertinya ia protes tapi nadanya tidak begitu, dan seenaknya saja mengganti lagunya. Aku diam saja. Lalu sepertinya aku melihat sosok aneh, siapa itu? Tidak mungkin setan kan? Aku tidak pernah percaya akan itu. Siapa yang membuntutiku? Sekarang aku lebih paranoid, aku tidak ingin seperti itu. “Tampangmu seram sekali ada apa?” Tanya Xavier.
“Tidak. Kenapa kita berhenti?”
“Sudah sampai. Apa kau tidak menyadarinya.”
“Cepat sekali.”
“Tidak juga, tadikan jalanan sedikit macet, kau tadi tertidur. Kalau kau tidak macet, mungkin 30 minute sudah sampai. Ini, 1 jam lebih lama.” Jelasnya, ini bukan rumahku, ini rumahnya? Cukup besar tetapi lebih sederhana. “Ini rumahmu?” Sepertinya pertanyaanku terdengar bodoh. Dia hanya menganggukan kepala, lalu berkata, “Mau masuk?”
“Kapan – kapan saja, terima kasih.” Jawabku, lalu ia turun dan aku segera berpindah tempat kekursi kemudi. Lalu ia melambaikan tangan dan aku menanggapi lambaiannya. Lalu aku pulang, jaraknya tidak terlalu jauh. Setelah sampai dirumah, aku mencari ibuku yang ternyata ada didekat kolam renang, tidak persis dipinggirannya, karena sebelum memasuki kolam renang, ada meja billiard dan mama sedang main billiard dengan Melinda dan Jena. “Hmm, ada tamu rupanya, apa ini malam terakhir kalian di London?” Tanyaku pada Melinda dan Jena.
“Sejujurnya secara teknis, ya ini malam terakhirku bersenang – senang di London karena aku akan pindah ke Paris, tetapi Jena tidak ikut, hanya aku saja, kadi seharusnya kau memakai kata – kata ‘kau’ bukan ‘kalian’.” Terang Melinda sambil memperhatikan bola – bola itu, lalu kujawab, “Okay, selamat bersenang – senang, dan aku ingin tidur, sampai jumpa.” Kataku lalu berbalik badan. “Hey, Natalie, besok temani mama ke bandara untuk mengantar mereka okay, dengan jet pribadi mama, maksudku mama ingin berlibur ke Paris, karena sudah memasuki musim gugur sepertinya, pemandangannya pasti bagus. Tapi tenang, kau tidak perlu ikut.” Terang mama, lalu aku berjalan kekamarku, sedah memasuki musim gugur rupanya, pantas saja agak berangin dan dingin, okay. Aku lalu menuju kekamar, sikat gigi, cuci muka, dan berganti pakaian lalu tidur.
Keesokan harinya…
Hari ini aku mengantar mama, secara teknis menemani mama, kali ini aku berangkat dengan supir pribadi. Setelah hal rutin dipagi hari, yakni sarapan, mandi dan kawan – kawannya selesai, aku berangkat dengan mama. Lalu sambil menunggu sampai ke bandara, aku mendengarkan musik di i-Pod, hmm, aku mencoba memejamkan mata agar tidak melihat keluar. Tentu aku masih trauma karena peristiwa akhir – akhir ini. Mama hanya sibuk dengan majalah fashion ya baru terbit untuk sesi autumn. Lalu tanpa diduga, aku tertidur.
Beberapa lama kemudian…
“Bangun, dasar tukang tidur, Natalie!!!” Teriak mama diakhir kata dengan nada yang sedikit ditekkan.
“Eh, sudah sampaikah?” Aku kaget.
“Kau tidak ingin melihat aku ya? Aku sengaja mengajakmu agar aku bisa mengucapkan salam perpisahan, tidak seperti saat nenekmu berangkat.” Omel mama. Lalu kami turun dari mobil. Dan kulihat pesawat jet didepan mata, jadi kami mamng masuk bandara, ya seperti biasanya, kenapa aku ling-lung? Mungkin karena baru bangun tidur, lalu setelah ritual perpisahan maksudku, salam perpisahan selesai, aku merasa ada hal yang aneh akan terjadi, seperti firasat. Lalu aku masuk mobil bersama Jena. Ya, tidak lucu kalau kita satu arah tapi Jena kuterlantarkan disini dan menunggu serta menaiki alat transportasi manusia. Lalu kami berangkat, ditengah perjalanan aku bertanya pada Jena, “Apa kau merasa aneh selama perjalanan, Jen?”
“Tidak juga, ada apa memangnya?”
“Tidak. Mungkin firasatku saja. Bagaimana Melinda itu orangnya?”
“Seperti yang kau ketahui, agak manja, suka mengeluh, memangnya kenapa?“
“Tidak. Mungkin saja dia berbeda bila bersamamu.”
“Sama saja, oh ya, terima kasih atas voucher makannya. Enak sekali, aku pernah kesana sebelum namanya bernubah jadi ‘Lasagna’, yang ini lebih enak. Lalu siapa manager restorannya?”
“Entahlah, saat diperjalanan tadi, mama mengusulkan ide gila yang akhirnya aku terima yaitu, Lucie.” Terangku, lalu aku langsung mengingat peristiwa saat dimobil tadi, mama cerewet sekali sampai aku tertidur.
“Pasti alasannya karena ia punya firasat – firasat jitu.”
“Ya, dan hebatnya, kata mama, sekarang ia sudah ada disana. Kurasa ini alasan mengapa mama pulang lebih lama dariku, walau aku yang sampai belakangan dirumah.” Disaat mukaku tertekuk saat berbicara dengannya, ia malah tertawa. Kukira hanya Xavier yang seperti itu, ternyata itu memang sikap natural. Aku sepertinya harus mulai membiasakan hal ini. Bertahun – tahun aku di Moscow yang isinya para vampire siap tempur, saat pulang ke London, malah yang kuterima sikap vampire yang berselera humor. Mana kutahu akan hal ini, sepertinya aku harus banyak belajar. Lalu setelah beberapa lama, kami sampai juga. Aku dan Jena keluar dari mobil di pintu masuk lobby utama dan segera menuju ruangan. Tidak ada yang special hari ini, lalu giliranku berpatroli. Aku berpatroli menggunakan mobil Belinda, hebatnya hari ini ada kasus pencurian toko didaerah Jetsetter Residence. Hali ini jarang terjadi, biasanya para pemberontak vampire mencuri toko – toko besar di kota, sayangnya saat kami sampai, pencurinya sudah diringkus dikeamanan setempat dan sisanya, selayaknya polisi aku yang menanganinya. Ternyata pencurinya adalah buronan, kenapa harus sudah tertangkap sih? Kan lumayan ada mainan, sebelum kumasukan kemobil patroli yang ada dibelakangku tentunya, aku menendang perutnya dengan dengkulku lalu aku memukul wajahnya sampai memar. Lalu setelah itu, ada rumah yang kebakaran, lalu team pemadam kebakaran vampire menanganinya lalu aku juga yang menangani kasusnya, tentunya bersama Belinda. Belinda kali ini tidak banyak bicara. Aku jadi curiga. Sampai malam kamli mangerjakan kasus. Aku ingin membunuh apa salahnya sih? Memang pertahanan perumahan ini kuperketat tetapi malah tidak seru. Kalau sudah tahu begitu seharusnya kubiarkan saja sistim keamanan yang lama. Walaupun banyak warga yang senang dengan pertahanan keamanan yang baru, tapi ini merugikanku. Lalu setelah semua selesai, aku mengajak Belinda makan daerah pertokoan Jetsetter Residence. Aku memesan salad dengan saus mayo-blood dan minumannya jus melon-blood. Sepeertinya belida tidak bernafsu makan. Lalu aku bertanya padanya, “Kau kenapa?”
“Ada yang menerorku, dengan surat merah jambu, bertinta putih, membuatku susah membacanya, dan hali itu cukup menyiksaku.” Terangnya, aku mendengarkan ocehannya dengan kegiatan memakan makananku, lalu ia berkata lagi, “Dia bilang, jaga temanmu baik – baik atau hal buruk akan terjadi padanya. Berarti Kevin dalam bahanya!!!” Katanya. Aku kaget dan tersedak, lalu segera minum – minumanku, sepertinya yang dimaksud peneror itu aku, bukan Kevin. Kurasa dia tidak bisa kuandalakan saat ini, lalu aku berkata padanya, “Kau tidak perlu mengantarku, aku jalan kaki saja, sudahlah, ini, bayar ya nanti.” Lalu setelah berkata begitu aku langsung pergi. Aku berlari sekencang mungkin menuju rumah Xavier, aku tidak mau direpotkan oleh Belinda yang cerewet itu, mungkin lain kali kau bisa memanfaatkan Jena untuk jadi partner baruku dan Belinda melayani vampire Paris yang entah siapa yang dikorbankan untuk pertukaran. Lalu setelah beberapa lama aku sampai juga, memang capek berlari dengan jarak yang cukup lumayan. Lalu aku membuka pintu pagarnya dan menuju pintu masuknya. Lalu aku mengetuk pintunya, tidak ada respon, huh, Xavier ini vampire macam apa, masa tidak ada bel pintu dirumahnya. Lalu aku mengitari rumahnya, sepertinya ada jendela yang terbuka, lalu aku melompat saja kejendela itu dan masuk. Tidak ada tanda – tanda kehidupan sepertinya, kamarnya juga gelap. Lalu kudengar ada seseorang, siapa itu? Tapak kakinya terasa sekali. “HUAAAAA!!!” Teriaknya, ternyata Xavier. “Kau kenapa, seperti melihat setan saja.” Protesku santai.
“Kita memang setan, Natalie, kenapa kau masuk kerumah orang tidak permisi dulu, aku kan malu.” Katanya sambil memakai kemejanya. Ya, saat bertemu dengannya, di hanya memakai jeans panjang, lalu rambutnya basah, sepertinya habis mandi.
“Minimal aku setan paling cantik, kau ini berlebihan sekali.” Lanjutku lagi.
“Hah, dasar kau ini, tidak ada malunya. Jangan mentang – mentang perumahan ini milikmu jadi bisa masuk seenaknya, sertifikat rumahku ini hak milik tahu.” Katanya, lalu kancing terakhir dikaitkan, ya dia sudah selesai memakai kemejanya. “Okay, aku minta maaf. Bisakah kau menolongku?” kataku dengan nada santai.
“Apa?”
“Tidurlah dikamarku. Kenapa tempatnya gelap? Kau lupa membayar listrik ya?” Kataku sambil melihat – lihat, dan aku duduk ditempat tidurnya.
“Apa? Enak saja, aku belum sempat mengganti lampunya. Dan aku tidak mau. Kau ini bukan siapa – siapaku, kenapa aku harus tidur dikamarmu?” Jawab Xavier, kenapa reaksinya aneh? Sepertinya dia jadi sedikit gugup, lalu aku melanjutkan perkataanku, “Hey, memangnya kenapa, aku butuh penjagaan, anggaplah kau anjingku. Ya sudah, kalau kau tidak mau tidur dikamarku, aku akan tidur disini saja.” Lalu aku merebahkan badanku ditempat tidurnya. “Hey, jangan ayo bangun.” Lalu ia menghampiriku dan menarik tanganku sampai aku berdiri. Dan akhirnya, aku bangun dan berdiri tepat diwajahnya, maksudku, wajah kami sangat dekat. Wajahku sangat sinis, tapi wajahnya seperti vampire bodoh. “Baiklah, aku akan menemanimu.” Keputusan akhirnya.
“Bagus, sekarang dengarkan aku, prajurit, sebenarnya…”
“Mungkin lebih baik kita duduk, kau tahu, posisinya terlalu sempit.” Xavier memotong pembicaraanku, entah apa maksudnya. Tanpa basa – basi, aku duduk lagi dikasurnya, dan ia duduk disampingku. “Ada yang mau menculikku. Kupikir karena rumahku tidak ada penghuni, maksudku, mama dan nenek tidak ada, aku merasa tidak aman.” Terangku.
“Lalu, kau merasa aman didekatku?” Tanya Xavier. Aku hanya menganggukan kepala tidak pasti, lalu aku berkata, “Bisakah kita pulang sekarang?”
“Okay, mungkin sebaiknya kau menggunakan pintu.” Katanya, aku hanya menganggukan kepala. Lalu kami keluar kamar dan menuju pintu keluar. Lalu kami berjalan keluar, dan Xavier menyalakan mesin motor sport-nya. Lalu kami berangkat menuju rumahku, rambutku terkibas – kibas terkena angin malam. Sepertinya tidak akan lama perjalanan kami. Tak lama kami sampai, pengawalku membukakan pintu gerbang, lalu Xaivier memarkirkan motornya didepan pintu masuk, setelah itu, kubilang pada Xavier biarkan saja motornya disitu saat kulihat sepertinya ia ingin memarkirkan motornya. Lalu kami masuk, dan para pelayanku menyambut, “Selamat datang, Nyonya Muda.” Lalu aku diam saja dan berjalan. Sepertinya mereka heran kenapa malam ini aku membawa seekor pria. Lalu aku berjalan menuju kamarku, dan Xavier mengikutiku, dari ekspresi wajahnya, sepertinya ia tidak biasa dengan atmosphere para pelayanku yang siap melayaniku setiap saat ini. Lalu begitu sampai didepan pintu kamarku, aku membuka pintu, lalu kami masuk. “Well, welcome to my room, Mr. Nara. Kau vampire kedua yang bukan anggota rumah tapi sudah masuk kesini.” Kataku, sepertinya nadaku tadi tertengar seperti wanita berkuasa. Dilihat dari tampangnya, sepertinya Xavier tidak terlalu terkejut, dia hanya menganggukan kepalanya. “Aku tidur dimana, Nyonya Muda?” Tanya Xavier.
“Disitu, tentunya diamana lagi.” Lalu aku menunjuk kearah tempat tidurku. “Kau yakin, aku bisa tidur disini.” Katanya sambil menunjuk kearah sofa. “Tidak mau, tidur disampingku, bagaimana kalau penculiknya lebih cepat darimu?” Jawabku, sepertinya nada bicaraku seperti pengecut, whatever. “Aku ganti baju tidur dulu, kau tinggu disini.” Lanjutku lalu menuju kearah lemariku yang besar sekali. Setelah beberapa lama, aku kembali, tentunya setelah aku mencuci muka dan menggosok gigi. Aku melihatnya duduk di sofa. “Lepas sepatumu, aku tidak mau tempat tidurku kotor.” Sapaku padanya, ia lalu melepas sepatu dan kaus kakinya. Lalu aku menuju tempat tidurku karena aku lelah sekali. Dia hanya melihatku dari sofa, “Apa, ayo kemari.” Protesku. Lalu ia mendatangiku dan duduk berselonjor serta senderan didinding, tempat tidurku memang menempel didinding posisinya. “Pakailah selimut.” Kataku lagi, lalu ia memasukan setengah badannya keselimut dan tetap senderan sambil menatapku yang sudah diposisi tidur, lalu kuberkata lagi, “Kau ini kenapa?”
“Kenapa kau meminta bantuanku? Bukankah tenagamu, selayaknya Hercules, Natalie?”
“Well, tertulis dibuku, manusia adalah makhluk sosial, kupikir vampire juga begitu, lagi pula tertulis juga dibuku, bersama lebih baik dari pada sendiri.” Jawabku santai.
“Hahaha, kau ini lucu sekali, ya sudah, aku akan menjagamu disini, tidurlah nyenyak – nyenyak.” Katanya, aku tidak menjawab. Aku tahu, satu ranjang dengan pria memang beresiko, itu kata artikel koran yang pernah kubaca yang bercerita tentang ‘Married By Accident In Vampire Teenage Life’. Sudahlah, toh aku memang tidak macam – macam. Lalu aku tertidur pulas, yang kuharapkan, aku bisa tidur nyenyak, itu saja.
Keesokan harinya…
Huaa, aku bangun dari tidurku, lalu aku lihat kesampngku, Xavier tertidur pada posisinya semalam, bersender. Kemarin saat sebelum aku berganti baju, aku menelepon Fiona agar tidak membangunkanku pagi ini. Melihatnya tertidur lucu juga. Lalu aku bangkit dari tempat tidurku dan mandi, ya melakukan ritual pagi seperti biasa, kebetulan hari ini aku libur, jadi aku punya waktu bersantai. Setelah semua selesai, aku duduk disamping Xavier dan membangunkannya, “Hey, pemalas, bangun.” Kataku sambil menepuk – nepuk pipnya. Plak, tangannya memegang tanganku, lalu ia berkata sambil menutup matanya, “Aku sudah bangun, kau mau apa lagi, Nyonya Muda.” Lalu ia membuka matanya. Kenapa aku jadi merasa aneh begini. Ia menatapku, tapi aku diam saja. Lalu aku tersadar dari lamunanku, “Lepaskan tanganku.”
“Baik, Nyonya. Kau merasa aman sekarang?” Tanya Xavier. “Tidak juga. Jadi kau merasa tidak senang membantuku? By the way, terima kash karena rela bermalam denganku.”
“Sama – sama, Natalie. Aku libur hari ini, mungkin ada yang bisa kubantu lagi.”
“Hmm, aku juga libur, ayo sarapan dulu, hmm, setelah itu, aku akan mengantarmu kekamar tamu untuk mandi, oh ya, disana ada pakaian yang mungkin bisa kau pakai, aku sudah menyiapakan semuanya.” Kataku. Lalu aku bangun dan ia bangkit dari tempat tidurnya, kami segera menuju ruang makan, disana kami sarapan pagi bersama. Aku duduk kursi pertama lalu kupersihalkan Xavier duduk disisi kananku. “Hmm, apa makanannya enak?”
“Kau bercanda Natalie, ini enak sekali. Ada yang ingin kutanyakan padamu.” Xavier sepertinya kelaparan, ia makan dengan lahap tetapi tidak kampungan. “Mengapa kau memilihku? Maksudku, kenapa harus aku yang menemanimu?” Tanya Xavier kemudian. “Entahlah, kupikir kau bisa diandalkan. Kau juga posisinya dekat, aku mencoba mempercayai seseorang, mungkin kau bisa jadi eksperimen percobaanku.”
“Apa kau normal? Kepercayaan tumbuh dengan sendirinya, bukan sebuah eksperimen.”
“Kalau kubilang tidak bagaimana? Aku tidak pernah percaya pada sesama 100%, jangankan 100%, 50% -pun tidak, termasuk keluargaku, dan vampire yang ada disekelilingku.” Jawabku santai.
“Kenapa? Kenapa aku kelinci percobaannya?”
“Karena kau laki – laki.”
“Hubungannya?”
“Bisakah kita makan dengan tenang? Cepat habiskan makananmu lalu mandi!” Setelah berkata begitu, kami segera mengahbiskan sarapan kami, lalu Xavier bangkit dari kursinya, melihat ia bangkit aku langsung berkata pada Fiona, “Antar dia menuju kamar tamu.” Lalu kulihat ia menurut saja. Aku sendiri bingung dengan diriku sendiri, mengapa aku seperti ini? Lalu aku keruang seni dan bermain piano disana. Mungkin akan membantuku menghilangkan stress, entah apa yang dilakukan orang tuaku sampai seperti ini, aku tidak tahu apa – apa, kenapa ada yang mau menculikku? Kulantunkan lagu ‘The Sound Of Music’ dengan piano. Huh, rasanya kepalaku mau pecah. Mungkin memang aku harus mulai mempercayai seseorang, aku lupa, restoranku belum ada manager-nya. Bagaimana ini? Tunggu sebentar, Lucie, ya, mungkin sebaiknya kutelepon dia, lalu aku mengeluarkan ponsel dari sakuku, lalu menelepon Lucie, lalu ia mengankat teleponya, “Hallo? Natalie, ada apa?”
“Kau dimana, paranorlmal?”
“Di Lasagna, ada apa? Situasi restoran aman kok, pembeli puas dengan hasil karyamu.”
“Benarkah? Syukurlah, aku yakin nilai akutansimu bagus, makanya strateginya lancar. Sampai nanti.”
“Eh, tunggu, Natalie…” lalu aku menutup teleponnya, lalu berteriak, “Keluar kau!!! Siapa disana???”
“Ini aku, Nat ada apa?” Ternyata Xavier, kukira penculikku, maksudku bukan berarti kupunya penculik pribadi, tapi sudahlah, aku memang paranoid. “Aku tadi mencarimu, ternyata disini.”
“Mau apa kau mencariku?”
“Kau ini, kau yang membawaku kesini, berarti semuanya berdasarkan kau, sekarang apa lagi yang bisa kubantu?” Lalu ia mendekatiku. Aku sendiri bingung apa yang harus kulakukan. “Bisakah aku menghajarmu?”
“Natalie, apa yang kau bicarakan? Kau ini kenapa?” Lalu ia bertekuk lutut, seperti sedang berbicara pada anak kecil yang posisinya lebih rendah. “Aku sendiri bingung, aku tidak punya siapa – siapa. Entahlah, aku bingung, bisakah kau memberiku kegiatan, kupikir tadi aku ingin ke Evangels untuk memukul sesuatu, apa kau ada ide?”
“Okay, kau mau kemana? Kebun binatang? Kuyakin penculiknya tidak akan menyangka kau disana.”
“Tempatnya bau, aku tidak suka. Aku ingin ke Russia, ikut kegiatan militer, agar aku ada kegiatan.”
“Hah? Menyeramkan sekali. Kau ini lucu ya.” Lalu ia mengelus rambutku.
“Hey, aku bukan anjing.”
“Memang bukan, kau kan setan.”
“Mengelus rambutku? Itu kan hal yang dilakukan untuk memanjakan anjing.”
“Kau benar – benar abnormal, sudahlah, wanita lucu, kalau kau ingin membunuh, kita berburu saja mau?”
“Ide bagus, aku akan menyiapkan senapan. Ayo ikut aku.” Lalu aku menarik tangannya menuju keruang persenjataan bawah tanah. Aku membawa sniper, lalu ia kupinjamkan siper juga. Setelah itu, aku berangkat dengan mobil Hammer-ku. Lalu tak lama kami sampai dikawasan hutan. “Kau yakin tidak ingin berburu dengan kuku dan taringmu?”
“Tenanglah, aku punya izin berburu, ayo.” Lalu kami turun dan mulai mencari mangsa. Biasanya daging buruannya kujual atau kusumbangkan, aku tidak membutuhkannya, aku hanya ingin kepuasan tersendiri, mungkin terdengar kejam, tapi mau bagaimana lagi. Biasanya aku mengincar domba gunung, babi hutan (karena aku benci melihat binatang yang menjinjikan itu, makanya khusus daging babi, aku tidak memakannya), dan burung dara, atau burung yang bisa dimakan. Lalu aku melihat burung melintas, cantik sekali, sayang dia elang, sesama buas, aku tidak ingin memburu. Lalu aku menuju tempat diamana babi hutan bersarang. Bagus, mangsaan banyak, lalu aku mencoba menembak, dan kena, haha, lalu aku disindir oleh Xavier, “Tembakan bagus, tapi beranikah kau berkubang dilumpur dan mencakarnya?”
“Kau bercanda, itu menjijikan.”
“Kalau begitu, aku yang maju.” Lalu Xavier meletakan senapannya dan mendekat, ia mengejar babi yang lari degan lincah lalu menerkamya, hmm, aku jadi iri akan itu, lalu aku mencoba seoerti itu, tapi percayalah, ini bukan pertama kalinya aku begini, pada saat kecil, aku diberi pelatihan oleh Alessandro Wynn (bukan berarti karena marganya ‘Wynn’ ia buronan) mengenai berburu di Moscow. Dia guruku. Lalu dalam sekejap aku menangkap seekor babi dengan cakarku, lalu menusuknya, tepat dibagian jantung dan lehernya agar ia tidak tersiksa lama – lama dan langsung mati. Lalu Xavier tepuk tangan dan berkata, “Marvelous, tak kusangka kau bisa juga, dan caranya indah.” Aku diam saja, lalu berbalik mengambil senapan, aku tidak sudi meminum darah kotor babi. Tapi sepertinya Xavier juga tidak menghisap darahnya, lalu aku kembali kemobil dan menaruh senapan, kuputuskan khusus hari ini, aku berbiri dengan kuku dan taringku. “Oh ya, sebelum itu, aku ingin mengajakmu kesuatu tempat, ayo.” Lalu aku mengendarai mobilku menuju suatu pos, disana ada penjaganya, ya lalu aku menuju garasi yang ada disitu, dan tebak, big foot. Aku tertawa jahat, lalu mengendarai big foot tersebut, Xavier hanya menggelengkan kepalanya. Yi ha… kita berangkat menulusuri hutan. Aku mungkin seperti kerasukan setan, padahal setannya aku sendiri (sadar keadaan diri sendiri). Kami berpetualang gila – gilaan, lalu ketika aku sampai disarang para babi hutan, kami turun dan membunuh mereka tanpa menghisap darah mereka. Ada 6 ekor, ya kira- kira segitu, lalu aku menyuruh Xavier mengangkat mereka dan mengikat ke atap big foot. Setelah selesai dan hari sepertinya hampir senja, lalu aku memutuskan untuk pulang, dalam perjalanan, tak duduga aku melihat seseorang, eh tidak dua orang tertusuk dan menempel dipohon, hampir saja aku tabrak, tunggu, mereka, Vikki dan Eden??? Lalu aku segera turun dan menolong mereka, aku mengecek denyut nadi Vikki, dan Xavier mengecek Eden, dan ternyata Vikki tewas, tetapi Eden masih hidup. Aku mencabut belati yang menancap dijantung Vikki dan Xavier mencabut belati yang menancap pada Eden. “Oh brother, dia mati.” Kataku sambil merangkul Vikki, lalu Xavier menjawab, “Pria ini hidup, belatinya hampir saja mengenai jatungnya, dia beruntung, posisi belatinya tidak mengenai jantungnya, keadaannya kritis.” Tanpa banyak bicara, kami mengankut mereka ke kursi belakang (untung ada kursi belakang untuk big foot yang ku punya ini walaupun memang sangat sempit) lalu dengan kecepatan penuh, kami melaju ke pos yang tadi, dan berganti kendaraan, lalu menuju VHO Hospital. Dan menyerahkan mereka pada dokter setempat, lalu aku menelepon Katherine, sudah kuduga tanggapannya pasti menyalahkanku sebelum kujelaskan. Tak lama, Katherine datang bersama Kurt, tentu ia ingin melihat kakaknya untuk yang terakhir kalinya, “Kau membunuh sekeretarisku, Natalie. Bahkan pacar Vikki-pun kau bunuh.” Tuduh Katherine. Oh ya, katanya Vikki punya hubungan dengan Eden.
“Kat, percayalah, bukan aku, well, kurang suka pada pribadi Vikki, tapi ini bukan perbuatanku, lihat saja sendiri mayatnya didalam.” Jawabku santai sambil menunjuk kekamar mayat yang berada tepat dibelakangku. Katherine dan Kurt langsung masuk, lalu kubertanya pada Xavier, “Menurutmu ini perbuatan siapa?”
“Entahlah, tunggu Eden siuman, baru bisa menyimpulkan, tapi sepertinya, hmm, Luster dan Amanda Ernesto.”
“Siapa mereka?”
“Eh, tidak, aku pernah bertemu mereka, dan mereka masuk dalam daftar buronanku. Mereka suka membunuh dengan cara cantik dan menancapkan korbannya didinding, atau pohon.”
Kenapa aku tidak tahu tentang mereka? Hmm, oh ya, “Xavier, kau tahu Gordon Silver?”
“Tahu dari mana kau nama itu? Ya aku tahu, dia adalah orang tua yang tampangnya tanpa dosa, berbadan besar, dan sangat kalem, tapi dia berbahaya.”
“Claudio Ernesto, dia yang memberitahuku.” Dilihat dari tampangnya, ia sepertinya banyak tahu, apa aku harus mengorek info darinya? Lalu aku bertanya lagi, “Apa kau tahu gadis bernama Savanna?” Setelah bertanya begitu, mukanya langsung pucat, “Aku tahu aku tidak bisa berbohong padamau, tapi ya aku tahu.”
“Siapa dia?” Muka Xavier seperti menyimpan sesuatu? “Dia… hmm, bagaimana menjelaskannya ya? Hmm…”
“Tidak perlu dijelaskan!!! Natalie, kau tega sekali membunuh Vikki.” Katherine memotong perkataan Xavier, menggangu saja wanita ini. “Berapa kali harus kujelaskan bahwa aku tidak membunuhnya, kau gila atau apa?” Jawabku ketus.
“Dia tidak membunuhnya, tapi sepertinya ini ulah Amanda dan Luster.” Xavier membelaku. “Kau yakin mereka?” Respon Katherine, sepertinya ia mulai tenang, lalu Kurt menyahut, “Siapa mereka?”
“Hmm, mereka yang jelas criminal vampires, tapi kau tenang saja, mereka akan kutangkap, kau pasti sedih karena kakakmu terbunuh.” Jelas Xavier.
“Dimana kalian menemukan Vikki?” Tanya Katherine kemudian.
“Hutan? Apa kau masih curiga padaku?” Jawabku, sepertinya ia mengabaikanku, dan beralih pada Xavier, “Biar kutebak, tertancap dipohon besar?”
“Ya, seperti biasa, dengan belati khasnya, hmm, ini dia.” Lalu Xavier mengeluarkan belati yang sudah dimasukan kedalam plastik yang biasa digunakan polisi untuk membungukus barang bukti dari saku mantelnya, kapan ia membungkus kedua benda ini? Lalu benda itu diambil Katherine dan ia memperhatikannya, lalu memasukan benda itu kedalam tasnya. Mencurigakan sekali mereka, sedangkan aku tidak tahu apa – apa, sungguh menyedihkan. “Eden Lee, dimana dia?” Tanya Kurt.
“Ruang ICU, dia kritis sekali, kita hanya bisa melihatnya dari luar.” Setelah kujawab begitu, Kurt menuju ruang ICU, lalu kami mengikutinya. Lalu kami masuk dan menggunakan pakaina hijau aneh, maksudku pakaian higienis aneh itu, dan melihat Eden dari kaca. Untuk bernafas saja ia dibantu oksigen, benar – benar menyedihkan. Lalu Katherine berbicara pada suster yang ada disitu, kebetulan, “Jaga Mr. Lee dengan baik, dia saksi penting, aku sudah menghubungi pengawal untuk bertugas menjaganya, mungkin sebentar lagi datang, persiapkan segalnya dengan baik.” Susternya hanya menjawab dengan anggukan kepala dan kata - kata, “Baik, Miss Clearwater.” Lalu aku keluar ruangan, dan Xavier mengikutiku, aku mencopot pakaian aneh berwarna hijau ini, aku berjalan dengan cepat, lalu Xavier berlari mengejarku, “Natalie kau mau kemana?”
“Pulang, mau kemana lagi?” Lalu Xavier berusaha mengikuti langkahku, dan akhirnya kami berjalan bersama dengan kompak, kurasa, “Huh, kau pulang denganku, kan? Xavier?”
“Kalau kau ingin begitu ya sudah, tidak masalah.” Lalu aku segera menuju mobilku dan pulang, kali ini aku meinta Xavier untuk menyetir, karena aku sudah capek, lalu tak lama kami sudah berada dirumahku, bahkan sudah ada dikamarku. Lalu aku duduk disofa, dan menyuruh Nina untuk membawakan minuman hangat dan beberapa kue. Setelah minuman dan kuenya datang, aku mulai berbicara, “Siapa Luster dan Amanda Ernesto, Mr. Nara?”
“Wanita jahat dan licik, haruskah kau mengintrogasiku? Nyonya Muda?”
“Satu kesatuan dengan Patricio dan Claudio?”
“Secara teknis, mereka satu marga, tapi, secara keakuran, mereka kurang akrab. Lagi pula, Amanda dan Luster istilahnya lebih most wanted then Patricio and Claudio.”
“Benarkah? Haruskah aku terkejut?”
“Terserah. Boleh kuminum?” Xavier menunjuk kearah cangkir dan kue – kue.
“Silahkan, sesuka hatimu.” Setelah berkata begitu, lalu ia makan dan minum, aku juga meminum, hmm, teh manis ini, lalu berkata lagi, “Boleh kulihat foto mereka?”
“Andai aku punya, tapi aku akan memberitahukan ciri – ciri mereka, setelah aku mnghabiskan ini.” Setelah itu, aku menghabiskan tehku, dan meningglaknnya untuk berganti pakaian. Mencurigakan, kenapa ia lebih tahu daripadaku? Setelah beberapa lama lalu aku selesai, dan menghampirinya lagi, dia masih disofa, membaca majalah yang ada disitu. “Xavier?”
“Oh, Nat, hey, hmm…”
Lalu aku duduk disampingnya, “Apa yang ingin kau jelaskan?”
“Oh, ya, Amanda Ernesto, dia lebih tua dari Luster, 2 tahun, dia tidak terlalu tinggi atau pendek, tapi lebih pendek sedikit darimu, putih, dan rambutnya hitam.”
“Apa dia lebih cantik dariku?”
“Pertanyaan konyol, lalu Luster Ernesto, dia sedikit lebih pendek dari Amanda, dia berambut hitam agak coklat, tubuhnya mungil. Mereka selalu berdua, kemana – mana, entah ada dimana mereka, mereka memang tidak terlihat berbahaya, tapi, percayalah, mereka sesungguhnya berbahaya.” Jelasnya, apa juga maksudnya itu pertanyaan konyol, kan aku hanya bertanya.
“Apa kau punya data tentang mereka?”
“Entahlah, nanti kucarikan untukmu.”
“Okay, terima kasih, hmm, aku sudah mengantuk, ayo tidur.”
“Duluan saja, tenang, aku akan menjagamu, Nyonya Muda.” Lalu ia melanjutka membaca majalahnya. Dan aku tidur duluan.
“Yes, so?” Aku bingung.
“Giovanni Diaz. You know what? Dia tampan sekali walaupun sudah tua. Hmm, maksudku sudah bapak – bapak. But, I love him.” Kata Belinda sambil memeluk foto buronan kelas kakap itu.
“Belle, dia buronan.”
“So what? Dan lihat Wolfgang, kau tahu, ia juga tak kalah tampan dengan Xavier, walaupun ia ayahnya sendiri.”
“Coba kulihat fotonya.” Kataku sambil merebut foto buronan itu. Lalu Belinda menyerahkan fotonya dan aku melihat – lihat, entah dari mana ia dapat fotonya. Kalau diperhatikan, Giovanni dan Wolfgang memang tampan, gagah, ya sempurna. Hmm, Elena juga cantik, Helena, walau sudah tua tetap gagah. Tunggu, kenapa foto Megan, dan Alessandra tidak ada? Tunggu, kalu tidak salah, tidak ada yang tahu keberadaan mereka, disini hanya tertera foto saat remaja mereka saja. Dan Trisha dan Edmund Silver? Mereka juga tidak jelas. Aku rasa ada yang aneh dari foto Giovanni ini? Apa ya? “Sudah belum melihat – lihatnya?” Tanya Belinda.
Lalu aku menerahkan foto – foto itu. Aku merasa ada ikatan batin pada Giovanni. Perasaan macam apa ini? “Natalie, apa yang kau pikirkan, kenapa tampangmu seram begitu?” Belinda mengejutkan lamunanku.
“Eh, nothing.” Jawabku.
3 hari kemudian.
“Hmm, kerja bagus.” Komentarku pada para pekerja. Ya, restorannya sudah jadi. Dan tebak, dibelakangku sudah ada pasukan penghabis a.k.a pasukan tong sampah makanan karena ini launching restoranku. ‘The Lasagna.’ Ya, kemarin mama bilang jangan menggunakan nama ‘Supernova’ karena terdengar kejam, entah apa maksudnya, lalu aku berfikir makanan kesukaanku, ya lasagna. Aku merenovasinya dengan model berbeda. Nuansa classic nan artistic untuk lantai satu dan dua. Lantai dua bisa digunakan untuk acara – acara, seperti meeting, birthday party, gathering, dan lainnya, sedangkan lantai tiga, adalah sebuah salsa’s place, nuansanya futuristic, gothic but, comfortable, dan cocok untuk berkumpul. Tentunya aku menaikan tarif makanan 0.5%.
Lalu para pasukan gila yang kubawa menyerbu dan memborong makanan. Lalu aku naik ke balkon lantai dua, lantai tiga masih ada beberapa renovasi, jadi kelantai dua saja. Huh, lelahnya, sekarang sudah jam 05.00 pm, pemandangan petang yang menyenangkan. “Apa masih ada sisa makanan untukku?” Tanya seseorang dibelakangku, hey, kenapa aku tak merasakan hawanya, dan sepertinya aku kenal, lalu aku berbalik badan. “Xavier, sejak kapan kau ada disini?”
“Baru datang.” Katanya lalu ia mendekat dan berdiri disampingku, apa maunya?
“Apa maumu? Maaf, tapi untukmu tak ada diskon.” Kataku.
“HAHAHA… tenang saja akan kubayar penuh.” Dia tertawa? Apanya yang lucu?
“Ada yang lucu?”
“Tidak, kau ini hebat, masih muda bisnisnya lancar, sayangnya pelit.”
“Kurang ajar.” Mukaku sinis.
“Tenang, aku hanya bercanda.”
“Apa tujuanmu untuk menyerahkan ayahmu, Wolfgang untuk kupenggal kepalanya?” Pertanyaanku sepertinya terdengar kejam.
“Tidak tentunya. Sudahlah, aku ingin memesan makanan, ayo.”
“Ayo?”
“Kebawah, kau tidak mau menikmati makan malam? Ayo.” Ajaknya kebawah. Lalu aku turun bersamanya. Aneh, dia muncul tanpa sebab. Lalu ia duduk dan memesan makanan. Anehnya kenapa aku mau duduk satu meja dengannya? Sebentar, ada yang mengawasiku? Siapa, aku melihat keadaan, semua makan dengan tenang. Sudahlah. Lalu tak lama makanan kami datang. Aku berusaha makan dengan tenang, lalu tak lama mama datang dengan Jena. Jena Ron? Bukankah ia asisten Melinda, oh ya, katanya Melinda ingin pindah, kapan tapi pindahnya? Lalu mama duduk satu meja dengan Katherine. Dan sepertinya melihat fenomena aneh yang terjadi padaku, yaitu satu meja dengan Xavier. “Hey, kau terlihat tidak berselera, apa ada yang mengganggumu?” Tanya Xavier, ku yakin ia heran dengan sikapku.
“Nothing.”
“You know what? Aku heran padamu, kau akutansi saja tidak bagus tapi, usahamu sukses.”
“Tahu dari mana? Ya, bagian itu memang aku malas mempelajarinya walau penting, aku lebih berminat pada sejarahnya. Tapi aku tidak mendalami ilmu itu.”
“Kau lupa, bertahun – tahun kita satu sekolah?”
“Apa iya? Entahlah, hmm, apa kau sudah bertemu ayahmu lagi?”
“Belum, aku tinggal sendiri, well, tentu aku punya pelayan, tapi aku sendirian.” Jawabnya, lalu iya melanjutkan makannya, kalau kulihat, sepertinya iya tidak bohong. Lalu aku juga mulai memakan makananku.
“Kau tinggal dimana?” Tanyaku lagi.
“Jetsetter Residence, kau ini bagaimana. Sama sepertimu, hanya berbeda lokasi saja.” Jawabnya lagi, oh ya, seluruh vampire yang tinggal di Inggris terutama perkotaanya tinggal di Jetsetter.
“Oh ya, kau belum mengatakan kenapa kau bisa sukses.” Lanjutnya lagi.
“Aku pintar meyakinkan dan pintar bicara. Kau tinggal dibagian mana?”
“Kau kan di Forbidden Hills, aku di Cleopatra City, No. 1, hmm, jangan – jangan kau tak tahu kerjaku di markas bagian apa? Dan untuk perkataanmu yang pintar meyakinkan aku mengerti akan hal itu.” Tanya Xavier lagi. Aku hanya menggelengkan kepala sambil memakan makananku. “Memangnya apa yang kau mengerti?” Lalu ia tidak melanjutkan tetapi malah memakan makanannya sambil tersenyum.
“Memang dibagian apa?” Tanyaku.
“Patroli, makanya kau tidak pernah melihatku kan?” Katanya, aku hanya nyengir tanpa dosa dengan tampang tidak ikhlas.
“Kau naik apa kesini?” Aku bertanya lagi.
“Bus.”
“Bus? Kendaraan manusia itu? Payah.”
“Kau ini menghina saja. Lalu maumu apa?”
“Karena aku tidak tahu rumahmu, aku akan mengantarmu. Dan, sebagai rasa bersalahku karena tidak menganggapmu, makanan ini biar aku yang bayar, makanlah sepuas hati.” Kataku. Sepertinya, dari tampangnya ia puas sekali karena makan gratis. Dasar pria. Lalu tak lama, setelah kami semua selesai makan, mama mengucapkan terima kasih atas kehadiran pasukan lapar yang datang kesini dan menutup acara makan massal ini. Padahal aku yang membuka acar, siapa juga yang mengijinkannya menutup acaraku. Sudahlah. Lalu kami semua pulang, dan aku menuju ke parkiran dan Xavier mengikutiku dari belakang. “Biar aku yang menyetir, anggaplah sebgai rasa terima kasih atas traktiranmu.” Katanya, aku hanya menganggukkan kepala dan melemparkan kunci mobil padanya. Kali ini aku naik mobil sport, Nissan Skyline. Lalu kami naik kemobil, lalu pergi menuju kerumah pria ini. Lalu aku menyetel musik, hmm, mungkin lagu Jonas Brothers.
“Jonas Brothers – That’s Just The Way We Roll? Kau suka itu? Ini lagu yang bagus.” Tanya Xavier.
“Mereka keren menurutku.”
“Lebih tampan mana dia denganku?”
“Eh? Pertanyaan bodoh, memangnya kau kenapa? Sudahlah, kendarai saja mobil ini dengan benar.” Kataku ketus. Dia hanya tersenyum licik. “Apa senyum – senyum?“ Tanyaku ketus lagi.
“When You Look Me In The Eyes, aku suka lagi yang ini. Kau ini galak sekali.” Sepertinya ia protes tapi nadanya tidak begitu, dan seenaknya saja mengganti lagunya. Aku diam saja. Lalu sepertinya aku melihat sosok aneh, siapa itu? Tidak mungkin setan kan? Aku tidak pernah percaya akan itu. Siapa yang membuntutiku? Sekarang aku lebih paranoid, aku tidak ingin seperti itu. “Tampangmu seram sekali ada apa?” Tanya Xavier.
“Tidak. Kenapa kita berhenti?”
“Sudah sampai. Apa kau tidak menyadarinya.”
“Cepat sekali.”
“Tidak juga, tadikan jalanan sedikit macet, kau tadi tertidur. Kalau kau tidak macet, mungkin 30 minute sudah sampai. Ini, 1 jam lebih lama.” Jelasnya, ini bukan rumahku, ini rumahnya? Cukup besar tetapi lebih sederhana. “Ini rumahmu?” Sepertinya pertanyaanku terdengar bodoh. Dia hanya menganggukan kepala, lalu berkata, “Mau masuk?”
“Kapan – kapan saja, terima kasih.” Jawabku, lalu ia turun dan aku segera berpindah tempat kekursi kemudi. Lalu ia melambaikan tangan dan aku menanggapi lambaiannya. Lalu aku pulang, jaraknya tidak terlalu jauh. Setelah sampai dirumah, aku mencari ibuku yang ternyata ada didekat kolam renang, tidak persis dipinggirannya, karena sebelum memasuki kolam renang, ada meja billiard dan mama sedang main billiard dengan Melinda dan Jena. “Hmm, ada tamu rupanya, apa ini malam terakhir kalian di London?” Tanyaku pada Melinda dan Jena.
“Sejujurnya secara teknis, ya ini malam terakhirku bersenang – senang di London karena aku akan pindah ke Paris, tetapi Jena tidak ikut, hanya aku saja, kadi seharusnya kau memakai kata – kata ‘kau’ bukan ‘kalian’.” Terang Melinda sambil memperhatikan bola – bola itu, lalu kujawab, “Okay, selamat bersenang – senang, dan aku ingin tidur, sampai jumpa.” Kataku lalu berbalik badan. “Hey, Natalie, besok temani mama ke bandara untuk mengantar mereka okay, dengan jet pribadi mama, maksudku mama ingin berlibur ke Paris, karena sudah memasuki musim gugur sepertinya, pemandangannya pasti bagus. Tapi tenang, kau tidak perlu ikut.” Terang mama, lalu aku berjalan kekamarku, sedah memasuki musim gugur rupanya, pantas saja agak berangin dan dingin, okay. Aku lalu menuju kekamar, sikat gigi, cuci muka, dan berganti pakaian lalu tidur.
Keesokan harinya…
Hari ini aku mengantar mama, secara teknis menemani mama, kali ini aku berangkat dengan supir pribadi. Setelah hal rutin dipagi hari, yakni sarapan, mandi dan kawan – kawannya selesai, aku berangkat dengan mama. Lalu sambil menunggu sampai ke bandara, aku mendengarkan musik di i-Pod, hmm, aku mencoba memejamkan mata agar tidak melihat keluar. Tentu aku masih trauma karena peristiwa akhir – akhir ini. Mama hanya sibuk dengan majalah fashion ya baru terbit untuk sesi autumn. Lalu tanpa diduga, aku tertidur.
Beberapa lama kemudian…
“Bangun, dasar tukang tidur, Natalie!!!” Teriak mama diakhir kata dengan nada yang sedikit ditekkan.
“Eh, sudah sampaikah?” Aku kaget.
“Kau tidak ingin melihat aku ya? Aku sengaja mengajakmu agar aku bisa mengucapkan salam perpisahan, tidak seperti saat nenekmu berangkat.” Omel mama. Lalu kami turun dari mobil. Dan kulihat pesawat jet didepan mata, jadi kami mamng masuk bandara, ya seperti biasanya, kenapa aku ling-lung? Mungkin karena baru bangun tidur, lalu setelah ritual perpisahan maksudku, salam perpisahan selesai, aku merasa ada hal yang aneh akan terjadi, seperti firasat. Lalu aku masuk mobil bersama Jena. Ya, tidak lucu kalau kita satu arah tapi Jena kuterlantarkan disini dan menunggu serta menaiki alat transportasi manusia. Lalu kami berangkat, ditengah perjalanan aku bertanya pada Jena, “Apa kau merasa aneh selama perjalanan, Jen?”
“Tidak juga, ada apa memangnya?”
“Tidak. Mungkin firasatku saja. Bagaimana Melinda itu orangnya?”
“Seperti yang kau ketahui, agak manja, suka mengeluh, memangnya kenapa?“
“Tidak. Mungkin saja dia berbeda bila bersamamu.”
“Sama saja, oh ya, terima kasih atas voucher makannya. Enak sekali, aku pernah kesana sebelum namanya bernubah jadi ‘Lasagna’, yang ini lebih enak. Lalu siapa manager restorannya?”
“Entahlah, saat diperjalanan tadi, mama mengusulkan ide gila yang akhirnya aku terima yaitu, Lucie.” Terangku, lalu aku langsung mengingat peristiwa saat dimobil tadi, mama cerewet sekali sampai aku tertidur.
“Pasti alasannya karena ia punya firasat – firasat jitu.”
“Ya, dan hebatnya, kata mama, sekarang ia sudah ada disana. Kurasa ini alasan mengapa mama pulang lebih lama dariku, walau aku yang sampai belakangan dirumah.” Disaat mukaku tertekuk saat berbicara dengannya, ia malah tertawa. Kukira hanya Xavier yang seperti itu, ternyata itu memang sikap natural. Aku sepertinya harus mulai membiasakan hal ini. Bertahun – tahun aku di Moscow yang isinya para vampire siap tempur, saat pulang ke London, malah yang kuterima sikap vampire yang berselera humor. Mana kutahu akan hal ini, sepertinya aku harus banyak belajar. Lalu setelah beberapa lama, kami sampai juga. Aku dan Jena keluar dari mobil di pintu masuk lobby utama dan segera menuju ruangan. Tidak ada yang special hari ini, lalu giliranku berpatroli. Aku berpatroli menggunakan mobil Belinda, hebatnya hari ini ada kasus pencurian toko didaerah Jetsetter Residence. Hali ini jarang terjadi, biasanya para pemberontak vampire mencuri toko – toko besar di kota, sayangnya saat kami sampai, pencurinya sudah diringkus dikeamanan setempat dan sisanya, selayaknya polisi aku yang menanganinya. Ternyata pencurinya adalah buronan, kenapa harus sudah tertangkap sih? Kan lumayan ada mainan, sebelum kumasukan kemobil patroli yang ada dibelakangku tentunya, aku menendang perutnya dengan dengkulku lalu aku memukul wajahnya sampai memar. Lalu setelah itu, ada rumah yang kebakaran, lalu team pemadam kebakaran vampire menanganinya lalu aku juga yang menangani kasusnya, tentunya bersama Belinda. Belinda kali ini tidak banyak bicara. Aku jadi curiga. Sampai malam kamli mangerjakan kasus. Aku ingin membunuh apa salahnya sih? Memang pertahanan perumahan ini kuperketat tetapi malah tidak seru. Kalau sudah tahu begitu seharusnya kubiarkan saja sistim keamanan yang lama. Walaupun banyak warga yang senang dengan pertahanan keamanan yang baru, tapi ini merugikanku. Lalu setelah semua selesai, aku mengajak Belinda makan daerah pertokoan Jetsetter Residence. Aku memesan salad dengan saus mayo-blood dan minumannya jus melon-blood. Sepeertinya belida tidak bernafsu makan. Lalu aku bertanya padanya, “Kau kenapa?”
“Ada yang menerorku, dengan surat merah jambu, bertinta putih, membuatku susah membacanya, dan hali itu cukup menyiksaku.” Terangnya, aku mendengarkan ocehannya dengan kegiatan memakan makananku, lalu ia berkata lagi, “Dia bilang, jaga temanmu baik – baik atau hal buruk akan terjadi padanya. Berarti Kevin dalam bahanya!!!” Katanya. Aku kaget dan tersedak, lalu segera minum – minumanku, sepertinya yang dimaksud peneror itu aku, bukan Kevin. Kurasa dia tidak bisa kuandalakan saat ini, lalu aku berkata padanya, “Kau tidak perlu mengantarku, aku jalan kaki saja, sudahlah, ini, bayar ya nanti.” Lalu setelah berkata begitu aku langsung pergi. Aku berlari sekencang mungkin menuju rumah Xavier, aku tidak mau direpotkan oleh Belinda yang cerewet itu, mungkin lain kali kau bisa memanfaatkan Jena untuk jadi partner baruku dan Belinda melayani vampire Paris yang entah siapa yang dikorbankan untuk pertukaran. Lalu setelah beberapa lama aku sampai juga, memang capek berlari dengan jarak yang cukup lumayan. Lalu aku membuka pintu pagarnya dan menuju pintu masuknya. Lalu aku mengetuk pintunya, tidak ada respon, huh, Xavier ini vampire macam apa, masa tidak ada bel pintu dirumahnya. Lalu aku mengitari rumahnya, sepertinya ada jendela yang terbuka, lalu aku melompat saja kejendela itu dan masuk. Tidak ada tanda – tanda kehidupan sepertinya, kamarnya juga gelap. Lalu kudengar ada seseorang, siapa itu? Tapak kakinya terasa sekali. “HUAAAAA!!!” Teriaknya, ternyata Xavier. “Kau kenapa, seperti melihat setan saja.” Protesku santai.
“Kita memang setan, Natalie, kenapa kau masuk kerumah orang tidak permisi dulu, aku kan malu.” Katanya sambil memakai kemejanya. Ya, saat bertemu dengannya, di hanya memakai jeans panjang, lalu rambutnya basah, sepertinya habis mandi.
“Minimal aku setan paling cantik, kau ini berlebihan sekali.” Lanjutku lagi.
“Hah, dasar kau ini, tidak ada malunya. Jangan mentang – mentang perumahan ini milikmu jadi bisa masuk seenaknya, sertifikat rumahku ini hak milik tahu.” Katanya, lalu kancing terakhir dikaitkan, ya dia sudah selesai memakai kemejanya. “Okay, aku minta maaf. Bisakah kau menolongku?” kataku dengan nada santai.
“Apa?”
“Tidurlah dikamarku. Kenapa tempatnya gelap? Kau lupa membayar listrik ya?” Kataku sambil melihat – lihat, dan aku duduk ditempat tidurnya.
“Apa? Enak saja, aku belum sempat mengganti lampunya. Dan aku tidak mau. Kau ini bukan siapa – siapaku, kenapa aku harus tidur dikamarmu?” Jawab Xavier, kenapa reaksinya aneh? Sepertinya dia jadi sedikit gugup, lalu aku melanjutkan perkataanku, “Hey, memangnya kenapa, aku butuh penjagaan, anggaplah kau anjingku. Ya sudah, kalau kau tidak mau tidur dikamarku, aku akan tidur disini saja.” Lalu aku merebahkan badanku ditempat tidurnya. “Hey, jangan ayo bangun.” Lalu ia menghampiriku dan menarik tanganku sampai aku berdiri. Dan akhirnya, aku bangun dan berdiri tepat diwajahnya, maksudku, wajah kami sangat dekat. Wajahku sangat sinis, tapi wajahnya seperti vampire bodoh. “Baiklah, aku akan menemanimu.” Keputusan akhirnya.
“Bagus, sekarang dengarkan aku, prajurit, sebenarnya…”
“Mungkin lebih baik kita duduk, kau tahu, posisinya terlalu sempit.” Xavier memotong pembicaraanku, entah apa maksudnya. Tanpa basa – basi, aku duduk lagi dikasurnya, dan ia duduk disampingku. “Ada yang mau menculikku. Kupikir karena rumahku tidak ada penghuni, maksudku, mama dan nenek tidak ada, aku merasa tidak aman.” Terangku.
“Lalu, kau merasa aman didekatku?” Tanya Xavier. Aku hanya menganggukan kepala tidak pasti, lalu aku berkata, “Bisakah kita pulang sekarang?”
“Okay, mungkin sebaiknya kau menggunakan pintu.” Katanya, aku hanya menganggukan kepala. Lalu kami keluar kamar dan menuju pintu keluar. Lalu kami berjalan keluar, dan Xavier menyalakan mesin motor sport-nya. Lalu kami berangkat menuju rumahku, rambutku terkibas – kibas terkena angin malam. Sepertinya tidak akan lama perjalanan kami. Tak lama kami sampai, pengawalku membukakan pintu gerbang, lalu Xaivier memarkirkan motornya didepan pintu masuk, setelah itu, kubilang pada Xavier biarkan saja motornya disitu saat kulihat sepertinya ia ingin memarkirkan motornya. Lalu kami masuk, dan para pelayanku menyambut, “Selamat datang, Nyonya Muda.” Lalu aku diam saja dan berjalan. Sepertinya mereka heran kenapa malam ini aku membawa seekor pria. Lalu aku berjalan menuju kamarku, dan Xavier mengikutiku, dari ekspresi wajahnya, sepertinya ia tidak biasa dengan atmosphere para pelayanku yang siap melayaniku setiap saat ini. Lalu begitu sampai didepan pintu kamarku, aku membuka pintu, lalu kami masuk. “Well, welcome to my room, Mr. Nara. Kau vampire kedua yang bukan anggota rumah tapi sudah masuk kesini.” Kataku, sepertinya nadaku tadi tertengar seperti wanita berkuasa. Dilihat dari tampangnya, sepertinya Xavier tidak terlalu terkejut, dia hanya menganggukan kepalanya. “Aku tidur dimana, Nyonya Muda?” Tanya Xavier.
“Disitu, tentunya diamana lagi.” Lalu aku menunjuk kearah tempat tidurku. “Kau yakin, aku bisa tidur disini.” Katanya sambil menunjuk kearah sofa. “Tidak mau, tidur disampingku, bagaimana kalau penculiknya lebih cepat darimu?” Jawabku, sepertinya nada bicaraku seperti pengecut, whatever. “Aku ganti baju tidur dulu, kau tinggu disini.” Lanjutku lalu menuju kearah lemariku yang besar sekali. Setelah beberapa lama, aku kembali, tentunya setelah aku mencuci muka dan menggosok gigi. Aku melihatnya duduk di sofa. “Lepas sepatumu, aku tidak mau tempat tidurku kotor.” Sapaku padanya, ia lalu melepas sepatu dan kaus kakinya. Lalu aku menuju tempat tidurku karena aku lelah sekali. Dia hanya melihatku dari sofa, “Apa, ayo kemari.” Protesku. Lalu ia mendatangiku dan duduk berselonjor serta senderan didinding, tempat tidurku memang menempel didinding posisinya. “Pakailah selimut.” Kataku lagi, lalu ia memasukan setengah badannya keselimut dan tetap senderan sambil menatapku yang sudah diposisi tidur, lalu kuberkata lagi, “Kau ini kenapa?”
“Kenapa kau meminta bantuanku? Bukankah tenagamu, selayaknya Hercules, Natalie?”
“Well, tertulis dibuku, manusia adalah makhluk sosial, kupikir vampire juga begitu, lagi pula tertulis juga dibuku, bersama lebih baik dari pada sendiri.” Jawabku santai.
“Hahaha, kau ini lucu sekali, ya sudah, aku akan menjagamu disini, tidurlah nyenyak – nyenyak.” Katanya, aku tidak menjawab. Aku tahu, satu ranjang dengan pria memang beresiko, itu kata artikel koran yang pernah kubaca yang bercerita tentang ‘Married By Accident In Vampire Teenage Life’. Sudahlah, toh aku memang tidak macam – macam. Lalu aku tertidur pulas, yang kuharapkan, aku bisa tidur nyenyak, itu saja.
Keesokan harinya…
Huaa, aku bangun dari tidurku, lalu aku lihat kesampngku, Xavier tertidur pada posisinya semalam, bersender. Kemarin saat sebelum aku berganti baju, aku menelepon Fiona agar tidak membangunkanku pagi ini. Melihatnya tertidur lucu juga. Lalu aku bangkit dari tempat tidurku dan mandi, ya melakukan ritual pagi seperti biasa, kebetulan hari ini aku libur, jadi aku punya waktu bersantai. Setelah semua selesai, aku duduk disamping Xavier dan membangunkannya, “Hey, pemalas, bangun.” Kataku sambil menepuk – nepuk pipnya. Plak, tangannya memegang tanganku, lalu ia berkata sambil menutup matanya, “Aku sudah bangun, kau mau apa lagi, Nyonya Muda.” Lalu ia membuka matanya. Kenapa aku jadi merasa aneh begini. Ia menatapku, tapi aku diam saja. Lalu aku tersadar dari lamunanku, “Lepaskan tanganku.”
“Baik, Nyonya. Kau merasa aman sekarang?” Tanya Xavier. “Tidak juga. Jadi kau merasa tidak senang membantuku? By the way, terima kash karena rela bermalam denganku.”
“Sama – sama, Natalie. Aku libur hari ini, mungkin ada yang bisa kubantu lagi.”
“Hmm, aku juga libur, ayo sarapan dulu, hmm, setelah itu, aku akan mengantarmu kekamar tamu untuk mandi, oh ya, disana ada pakaian yang mungkin bisa kau pakai, aku sudah menyiapakan semuanya.” Kataku. Lalu aku bangun dan ia bangkit dari tempat tidurnya, kami segera menuju ruang makan, disana kami sarapan pagi bersama. Aku duduk kursi pertama lalu kupersihalkan Xavier duduk disisi kananku. “Hmm, apa makanannya enak?”
“Kau bercanda Natalie, ini enak sekali. Ada yang ingin kutanyakan padamu.” Xavier sepertinya kelaparan, ia makan dengan lahap tetapi tidak kampungan. “Mengapa kau memilihku? Maksudku, kenapa harus aku yang menemanimu?” Tanya Xavier kemudian. “Entahlah, kupikir kau bisa diandalkan. Kau juga posisinya dekat, aku mencoba mempercayai seseorang, mungkin kau bisa jadi eksperimen percobaanku.”
“Apa kau normal? Kepercayaan tumbuh dengan sendirinya, bukan sebuah eksperimen.”
“Kalau kubilang tidak bagaimana? Aku tidak pernah percaya pada sesama 100%, jangankan 100%, 50% -pun tidak, termasuk keluargaku, dan vampire yang ada disekelilingku.” Jawabku santai.
“Kenapa? Kenapa aku kelinci percobaannya?”
“Karena kau laki – laki.”
“Hubungannya?”
“Bisakah kita makan dengan tenang? Cepat habiskan makananmu lalu mandi!” Setelah berkata begitu, kami segera mengahbiskan sarapan kami, lalu Xavier bangkit dari kursinya, melihat ia bangkit aku langsung berkata pada Fiona, “Antar dia menuju kamar tamu.” Lalu kulihat ia menurut saja. Aku sendiri bingung dengan diriku sendiri, mengapa aku seperti ini? Lalu aku keruang seni dan bermain piano disana. Mungkin akan membantuku menghilangkan stress, entah apa yang dilakukan orang tuaku sampai seperti ini, aku tidak tahu apa – apa, kenapa ada yang mau menculikku? Kulantunkan lagu ‘The Sound Of Music’ dengan piano. Huh, rasanya kepalaku mau pecah. Mungkin memang aku harus mulai mempercayai seseorang, aku lupa, restoranku belum ada manager-nya. Bagaimana ini? Tunggu sebentar, Lucie, ya, mungkin sebaiknya kutelepon dia, lalu aku mengeluarkan ponsel dari sakuku, lalu menelepon Lucie, lalu ia mengankat teleponya, “Hallo? Natalie, ada apa?”
“Kau dimana, paranorlmal?”
“Di Lasagna, ada apa? Situasi restoran aman kok, pembeli puas dengan hasil karyamu.”
“Benarkah? Syukurlah, aku yakin nilai akutansimu bagus, makanya strateginya lancar. Sampai nanti.”
“Eh, tunggu, Natalie…” lalu aku menutup teleponnya, lalu berteriak, “Keluar kau!!! Siapa disana???”
“Ini aku, Nat ada apa?” Ternyata Xavier, kukira penculikku, maksudku bukan berarti kupunya penculik pribadi, tapi sudahlah, aku memang paranoid. “Aku tadi mencarimu, ternyata disini.”
“Mau apa kau mencariku?”
“Kau ini, kau yang membawaku kesini, berarti semuanya berdasarkan kau, sekarang apa lagi yang bisa kubantu?” Lalu ia mendekatiku. Aku sendiri bingung apa yang harus kulakukan. “Bisakah aku menghajarmu?”
“Natalie, apa yang kau bicarakan? Kau ini kenapa?” Lalu ia bertekuk lutut, seperti sedang berbicara pada anak kecil yang posisinya lebih rendah. “Aku sendiri bingung, aku tidak punya siapa – siapa. Entahlah, aku bingung, bisakah kau memberiku kegiatan, kupikir tadi aku ingin ke Evangels untuk memukul sesuatu, apa kau ada ide?”
“Okay, kau mau kemana? Kebun binatang? Kuyakin penculiknya tidak akan menyangka kau disana.”
“Tempatnya bau, aku tidak suka. Aku ingin ke Russia, ikut kegiatan militer, agar aku ada kegiatan.”
“Hah? Menyeramkan sekali. Kau ini lucu ya.” Lalu ia mengelus rambutku.
“Hey, aku bukan anjing.”
“Memang bukan, kau kan setan.”
“Mengelus rambutku? Itu kan hal yang dilakukan untuk memanjakan anjing.”
“Kau benar – benar abnormal, sudahlah, wanita lucu, kalau kau ingin membunuh, kita berburu saja mau?”
“Ide bagus, aku akan menyiapkan senapan. Ayo ikut aku.” Lalu aku menarik tangannya menuju keruang persenjataan bawah tanah. Aku membawa sniper, lalu ia kupinjamkan siper juga. Setelah itu, aku berangkat dengan mobil Hammer-ku. Lalu tak lama kami sampai dikawasan hutan. “Kau yakin tidak ingin berburu dengan kuku dan taringmu?”
“Tenanglah, aku punya izin berburu, ayo.” Lalu kami turun dan mulai mencari mangsa. Biasanya daging buruannya kujual atau kusumbangkan, aku tidak membutuhkannya, aku hanya ingin kepuasan tersendiri, mungkin terdengar kejam, tapi mau bagaimana lagi. Biasanya aku mengincar domba gunung, babi hutan (karena aku benci melihat binatang yang menjinjikan itu, makanya khusus daging babi, aku tidak memakannya), dan burung dara, atau burung yang bisa dimakan. Lalu aku melihat burung melintas, cantik sekali, sayang dia elang, sesama buas, aku tidak ingin memburu. Lalu aku menuju tempat diamana babi hutan bersarang. Bagus, mangsaan banyak, lalu aku mencoba menembak, dan kena, haha, lalu aku disindir oleh Xavier, “Tembakan bagus, tapi beranikah kau berkubang dilumpur dan mencakarnya?”
“Kau bercanda, itu menjijikan.”
“Kalau begitu, aku yang maju.” Lalu Xavier meletakan senapannya dan mendekat, ia mengejar babi yang lari degan lincah lalu menerkamya, hmm, aku jadi iri akan itu, lalu aku mencoba seoerti itu, tapi percayalah, ini bukan pertama kalinya aku begini, pada saat kecil, aku diberi pelatihan oleh Alessandro Wynn (bukan berarti karena marganya ‘Wynn’ ia buronan) mengenai berburu di Moscow. Dia guruku. Lalu dalam sekejap aku menangkap seekor babi dengan cakarku, lalu menusuknya, tepat dibagian jantung dan lehernya agar ia tidak tersiksa lama – lama dan langsung mati. Lalu Xavier tepuk tangan dan berkata, “Marvelous, tak kusangka kau bisa juga, dan caranya indah.” Aku diam saja, lalu berbalik mengambil senapan, aku tidak sudi meminum darah kotor babi. Tapi sepertinya Xavier juga tidak menghisap darahnya, lalu aku kembali kemobil dan menaruh senapan, kuputuskan khusus hari ini, aku berbiri dengan kuku dan taringku. “Oh ya, sebelum itu, aku ingin mengajakmu kesuatu tempat, ayo.” Lalu aku mengendarai mobilku menuju suatu pos, disana ada penjaganya, ya lalu aku menuju garasi yang ada disitu, dan tebak, big foot. Aku tertawa jahat, lalu mengendarai big foot tersebut, Xavier hanya menggelengkan kepalanya. Yi ha… kita berangkat menulusuri hutan. Aku mungkin seperti kerasukan setan, padahal setannya aku sendiri (sadar keadaan diri sendiri). Kami berpetualang gila – gilaan, lalu ketika aku sampai disarang para babi hutan, kami turun dan membunuh mereka tanpa menghisap darah mereka. Ada 6 ekor, ya kira- kira segitu, lalu aku menyuruh Xavier mengangkat mereka dan mengikat ke atap big foot. Setelah selesai dan hari sepertinya hampir senja, lalu aku memutuskan untuk pulang, dalam perjalanan, tak duduga aku melihat seseorang, eh tidak dua orang tertusuk dan menempel dipohon, hampir saja aku tabrak, tunggu, mereka, Vikki dan Eden??? Lalu aku segera turun dan menolong mereka, aku mengecek denyut nadi Vikki, dan Xavier mengecek Eden, dan ternyata Vikki tewas, tetapi Eden masih hidup. Aku mencabut belati yang menancap dijantung Vikki dan Xavier mencabut belati yang menancap pada Eden. “Oh brother, dia mati.” Kataku sambil merangkul Vikki, lalu Xavier menjawab, “Pria ini hidup, belatinya hampir saja mengenai jatungnya, dia beruntung, posisi belatinya tidak mengenai jantungnya, keadaannya kritis.” Tanpa banyak bicara, kami mengankut mereka ke kursi belakang (untung ada kursi belakang untuk big foot yang ku punya ini walaupun memang sangat sempit) lalu dengan kecepatan penuh, kami melaju ke pos yang tadi, dan berganti kendaraan, lalu menuju VHO Hospital. Dan menyerahkan mereka pada dokter setempat, lalu aku menelepon Katherine, sudah kuduga tanggapannya pasti menyalahkanku sebelum kujelaskan. Tak lama, Katherine datang bersama Kurt, tentu ia ingin melihat kakaknya untuk yang terakhir kalinya, “Kau membunuh sekeretarisku, Natalie. Bahkan pacar Vikki-pun kau bunuh.” Tuduh Katherine. Oh ya, katanya Vikki punya hubungan dengan Eden.
“Kat, percayalah, bukan aku, well, kurang suka pada pribadi Vikki, tapi ini bukan perbuatanku, lihat saja sendiri mayatnya didalam.” Jawabku santai sambil menunjuk kekamar mayat yang berada tepat dibelakangku. Katherine dan Kurt langsung masuk, lalu kubertanya pada Xavier, “Menurutmu ini perbuatan siapa?”
“Entahlah, tunggu Eden siuman, baru bisa menyimpulkan, tapi sepertinya, hmm, Luster dan Amanda Ernesto.”
“Siapa mereka?”
“Eh, tidak, aku pernah bertemu mereka, dan mereka masuk dalam daftar buronanku. Mereka suka membunuh dengan cara cantik dan menancapkan korbannya didinding, atau pohon.”
Kenapa aku tidak tahu tentang mereka? Hmm, oh ya, “Xavier, kau tahu Gordon Silver?”
“Tahu dari mana kau nama itu? Ya aku tahu, dia adalah orang tua yang tampangnya tanpa dosa, berbadan besar, dan sangat kalem, tapi dia berbahaya.”
“Claudio Ernesto, dia yang memberitahuku.” Dilihat dari tampangnya, ia sepertinya banyak tahu, apa aku harus mengorek info darinya? Lalu aku bertanya lagi, “Apa kau tahu gadis bernama Savanna?” Setelah bertanya begitu, mukanya langsung pucat, “Aku tahu aku tidak bisa berbohong padamau, tapi ya aku tahu.”
“Siapa dia?” Muka Xavier seperti menyimpan sesuatu? “Dia… hmm, bagaimana menjelaskannya ya? Hmm…”
“Tidak perlu dijelaskan!!! Natalie, kau tega sekali membunuh Vikki.” Katherine memotong perkataan Xavier, menggangu saja wanita ini. “Berapa kali harus kujelaskan bahwa aku tidak membunuhnya, kau gila atau apa?” Jawabku ketus.
“Dia tidak membunuhnya, tapi sepertinya ini ulah Amanda dan Luster.” Xavier membelaku. “Kau yakin mereka?” Respon Katherine, sepertinya ia mulai tenang, lalu Kurt menyahut, “Siapa mereka?”
“Hmm, mereka yang jelas criminal vampires, tapi kau tenang saja, mereka akan kutangkap, kau pasti sedih karena kakakmu terbunuh.” Jelas Xavier.
“Dimana kalian menemukan Vikki?” Tanya Katherine kemudian.
“Hutan? Apa kau masih curiga padaku?” Jawabku, sepertinya ia mengabaikanku, dan beralih pada Xavier, “Biar kutebak, tertancap dipohon besar?”
“Ya, seperti biasa, dengan belati khasnya, hmm, ini dia.” Lalu Xavier mengeluarkan belati yang sudah dimasukan kedalam plastik yang biasa digunakan polisi untuk membungukus barang bukti dari saku mantelnya, kapan ia membungkus kedua benda ini? Lalu benda itu diambil Katherine dan ia memperhatikannya, lalu memasukan benda itu kedalam tasnya. Mencurigakan sekali mereka, sedangkan aku tidak tahu apa – apa, sungguh menyedihkan. “Eden Lee, dimana dia?” Tanya Kurt.
“Ruang ICU, dia kritis sekali, kita hanya bisa melihatnya dari luar.” Setelah kujawab begitu, Kurt menuju ruang ICU, lalu kami mengikutinya. Lalu kami masuk dan menggunakan pakaina hijau aneh, maksudku pakaian higienis aneh itu, dan melihat Eden dari kaca. Untuk bernafas saja ia dibantu oksigen, benar – benar menyedihkan. Lalu Katherine berbicara pada suster yang ada disitu, kebetulan, “Jaga Mr. Lee dengan baik, dia saksi penting, aku sudah menghubungi pengawal untuk bertugas menjaganya, mungkin sebentar lagi datang, persiapkan segalnya dengan baik.” Susternya hanya menjawab dengan anggukan kepala dan kata - kata, “Baik, Miss Clearwater.” Lalu aku keluar ruangan, dan Xavier mengikutiku, aku mencopot pakaian aneh berwarna hijau ini, aku berjalan dengan cepat, lalu Xavier berlari mengejarku, “Natalie kau mau kemana?”
“Pulang, mau kemana lagi?” Lalu Xavier berusaha mengikuti langkahku, dan akhirnya kami berjalan bersama dengan kompak, kurasa, “Huh, kau pulang denganku, kan? Xavier?”
“Kalau kau ingin begitu ya sudah, tidak masalah.” Lalu aku segera menuju mobilku dan pulang, kali ini aku meinta Xavier untuk menyetir, karena aku sudah capek, lalu tak lama kami sudah berada dirumahku, bahkan sudah ada dikamarku. Lalu aku duduk disofa, dan menyuruh Nina untuk membawakan minuman hangat dan beberapa kue. Setelah minuman dan kuenya datang, aku mulai berbicara, “Siapa Luster dan Amanda Ernesto, Mr. Nara?”
“Wanita jahat dan licik, haruskah kau mengintrogasiku? Nyonya Muda?”
“Satu kesatuan dengan Patricio dan Claudio?”
“Secara teknis, mereka satu marga, tapi, secara keakuran, mereka kurang akrab. Lagi pula, Amanda dan Luster istilahnya lebih most wanted then Patricio and Claudio.”
“Benarkah? Haruskah aku terkejut?”
“Terserah. Boleh kuminum?” Xavier menunjuk kearah cangkir dan kue – kue.
“Silahkan, sesuka hatimu.” Setelah berkata begitu, lalu ia makan dan minum, aku juga meminum, hmm, teh manis ini, lalu berkata lagi, “Boleh kulihat foto mereka?”
“Andai aku punya, tapi aku akan memberitahukan ciri – ciri mereka, setelah aku mnghabiskan ini.” Setelah itu, aku menghabiskan tehku, dan meningglaknnya untuk berganti pakaian. Mencurigakan, kenapa ia lebih tahu daripadaku? Setelah beberapa lama lalu aku selesai, dan menghampirinya lagi, dia masih disofa, membaca majalah yang ada disitu. “Xavier?”
“Oh, Nat, hey, hmm…”
Lalu aku duduk disampingnya, “Apa yang ingin kau jelaskan?”
“Oh, ya, Amanda Ernesto, dia lebih tua dari Luster, 2 tahun, dia tidak terlalu tinggi atau pendek, tapi lebih pendek sedikit darimu, putih, dan rambutnya hitam.”
“Apa dia lebih cantik dariku?”
“Pertanyaan konyol, lalu Luster Ernesto, dia sedikit lebih pendek dari Amanda, dia berambut hitam agak coklat, tubuhnya mungil. Mereka selalu berdua, kemana – mana, entah ada dimana mereka, mereka memang tidak terlihat berbahaya, tapi, percayalah, mereka sesungguhnya berbahaya.” Jelasnya, apa juga maksudnya itu pertanyaan konyol, kan aku hanya bertanya.
“Apa kau punya data tentang mereka?”
“Entahlah, nanti kucarikan untukmu.”
“Okay, terima kasih, hmm, aku sudah mengantuk, ayo tidur.”
“Duluan saja, tenang, aku akan menjagamu, Nyonya Muda.” Lalu ia melanjutka membaca majalahnya. Dan aku tidur duluan.
7. Welocome to Evangels
7. Welcome to Evangels.
Keesokan harinya aku bersiap – siap mengunjungi Evangels. Ya karena aku mengunjungi pulau, aku memakai sneakers, tank top, and hot pants, serta gesper untuk dikaitkan dengan pakaianku. Dan katanya mama ingin ikut. Okay, setelah semua siap, kami berangkat dengan supir karena aku malas menyetir dan segera menuju pelabuhan Devilamonita. Ya, itu pelabuhan yang sengaja kami buat khusus untuk akses ke Evangels Jail. Lalu setelah sampai di pelabuhan, kami naik kapal pribadi dan segera melaju ke Evangels dengan berakselerasi. Karena ini laut, tentu aku memakai kacamata hitam untuk menghindari melihat matahari yang mengerikan. Hanya 30 menit kami sampai. Bangunan penjaranya seolah – olah kastil Rapunzel yang tinggi dan mengerikan. Lalu kami masuk dan segera menuju ruang besuk dan bertemu Claudio. Lalu setelah Claudio muncul. Lalu kami duduk dan introgasi dimulai. “Well, Claudio, katakan siapa mereka, vampire yang bersamamu itu, laporan terakhir, saat vampire suruhanku mengejar mereka, mereka kehilangan jejak, bayangkan, seharian mengejar, tetapi gagal.” Kataku memulai pembicaraan. Claudio hanya diam.
“Apa yang kalian rencanakan?” Tanya mama kemudian. Mama sangat serius sepertinya, hmm, anggun juga, dan mengerikan.
“Haha, kau tahu, kalian dalam masalah besar, terutama seorang gadis kecil bernama Savanna, akan terkena sialnya.” Jawaban Claudio yang tidak memuaskan, mama hanya memutar matanya dan terlihat dari raut wajahnya, ia ingin membunuh Claudio.
“Savanna? Siapa pula dia, jangan main – main kau, vampire tong sampah, aku tahu kau dipungut dari tong sampah, menyedihkan sekali hidup sialmu itu.” Kataku dengan nada kejam mengejeknya.
“Sepertinya kau seperti bersumpah pada seorang vampire, siapa?” Tanya mama lag, dia terus bungkam, harus kugunakan caraku. Sudah kuduga, harusnya persidangan kemarin, hal ini harus ditanyakan, dari pada sepanjang persidangan hanya mengungkit kejahatannya dan Patricio. Lalu aku berdiri dan mendekat padanya, langsung mendorong dan mengangkat kerahnya, menguncinya ketembok dengan posisi dengkulku menekan perutnya dan tanganku dilehernya. “Nah, Claudio, katakana apa yang kemi mau, atau kakiku berpindah kelehermu dan merobeknya? Bagaimana?” Kataku pelan tetapi mengerikan. Dia tetap diam. “Apa ada jaminan untukku?” Tanya Claudio.
“Jaminan?” Mama bingung dan menjawab pertanyaan Claudio dari tempat duduknya.
“Ruang penjara VIP? Aku ingin privacy dipenjaraku.” Katanya.
“Akan kukabulkan.” Kataku.
“Huh, okay, pria gemuk itu adalah Lucifer Sandy, kau tahu, ia hampir mati karena diduga berkhianat, huh, Swiss, akan dapat masalah.” Katanya, lalu ia menghela nafas dan melanjutkan, “Dan pria satunya, hehehe…” ia tersenyum, “Siapa?” Kataku dengan penuh penekanan. “Gordon, Gordon Silver, kau tahu nama itu?” Tanya Claudio. Aku merasakan aura mama sedikit berbeda, dan aku sedikit menoleh kearah mama, dan benar saja, ia seperti vampire yang ketakutan. “Siapa Gordon?” Tanyaku penasaran. “Cukup, terima kasih Claudio, hmm, penjaga penjara…” Potong mama tiba – tiba. Lalu penjaga penjara datang, “Kabulkan keinginan Claudio. Dan, Natalie, lepaskan pria kering tak berdaging itu.” Katanya. Lalu aku melepasnya. Aku hanya diam, lalu mama mengajakku pulang, ditengah perjalanan, betapa terkejutnya aku, Silvia, ia ada disini, sepertinya tahanan yang baru datang. “Silvia Fe? Itu kau kan?” Tanya mama.
“Mirabella, aku…” Katanya memelas.
Lalu mama mendorong Silvia ketembok, tidak sepertiku yang melakukannya secara kejam pada Claudio, mama meletakan kedua tangannya pada bahu Silvia. “Para petugas, kumohon, tinggalkan kami, dan kalau ada yang menguping, kalian akan kuhabisi, mungkin jasad kalian akan hilang dilaut, dan kau juga Natalie, tunggu mama dikapal.” Perintah mama. Entah apa yang dilakukannya tapi aku menurut saja dan tidak mencoba ingin tahu. Lalu aku kembali kekapal dan menunggu mama disana. Ada sekitar 30 menit aku mengunggu lalu mama kembali dengan wajah tanpa dosa. Tanpa banyak bicara mama menuruh nahkoda kapal untuk kembali ke pelabuhan. Mama diam saja, tanpa bicara, hmm, pasti ada yang disembunyikan, lagi – lagi rahasia. Lalu tak lama kami kembali kedaratan dan segera naik mobil. Setelah kami masuk mobil, mama memerintahkan agar kami segera kembali kerumah. “Hey, mama, apa tak perlu kekantor dulu, mom?” Tanyaku.
“Tidak perlu.” Kata mama datar.
“So? Ada apa mama? Kau tidak seperti biasanya, apakah ada sesuatu yang mengganjal pikirannmu?” Aku mulai penasaran, entah apa, mama mengunci pikirannya dan terlihat dari tanpangnya sedang memikirkan seseatu.
Sementara disisi Mirabella.
45 menit yang lalu…
“Ayo duduk dulu, tak apalah jika duduk dilantai, hmm.” Kata Mirabella pada Silvia.
Lalu mereka duduk dilantai.
“Mirabella, maafkan aku, tapi…” Silvia mulai berbicara.
“Apa, kau adalah senior yang, well, cukup baik, kenapa kau bisa seperti ini?” Tanggap Mirabella.
“Mira, aku terjebak, aku teripu, aku bukanlah Silvia Fe yang kalian banggakan.”
“Apa kau diperalat?”
“Ya, oleh Trisha. She hypnotized me. I don’t know, aku bingung dengan keadaanku.”
“Oh, no, aku tahu Trisha, kemampuan ia menghipnotis lawannya, bisa berakibat sangat buruk. Apa kau melawannya?”
“Dia sempat menghapus ingatanku, dia menyamar menjadi seseorang. Menjadi, oh please, menjadi siapa ya? Aku lupa, ah…” Silvia kesal.
“Hmm, lalu kenapa kau bisa masuk kepenjara?”
“Berkas – berkas percobaan pemberontakan ternyata ia menyatat dan menyimpannya, well, ia melaporkanku dengan bukti – bukti yang ia setting sendiri. Cerdas. Dia lupa akan satu hal, kalau kau masih hidup, kau bisa menjebloskannya, toh buktinya dia pegang. Dan mengkambing hitamkanku atas itu.”
“Okay, jadi kau selama ini melindungi penjahat? Hebat. Aku akan membebaskamu suatu hari. Membebaskan wanita sepertimu, menarik sekali.”
“Kau tahu aku diperalat, kan?”
“Kau mau ikut progam perlindungan saksi?”
“Ayolah, kita bukan tergabung dalam organisasi hebat seperti FBI, or CIA, or whatever. Tidak perlu, aku bukanlah vampire lemah.”
“Kesaksianmu kuperlukan, akan kubawa Prof. Clearwater untuk memeriksamu, mungkin ia bisa membantumu, well, aku harus pergi, akan kubawa Prof. Clearwater untuk menanganimu.” Setelah berkata begitu, Mirabella memanggil penjaga untuk memenjarakan Silvia, “Oh, aku lupa, Silvia, bagaimana dengan anakmu? Silvanna?” Tanya Mirabella lagi, lalu sambil dipegangi penjaga penjara Silvia hanya berkata santai, “Aku tidak punya anak, Mira.”
Lalu setelah itu, Mirabella merasa mendengar suara Natalie dalam pikirannya.
“Mama? Mama? MAMA!!” Kata Natalie berteriak.
Natalie…
“Mama apa yang kau pikirkan?” Tanyaku.
“Eh, Nat, tidak ada apa – apa.” Respon mama kaget.
“Mama, kau mengacuhkanku, apa ada yang mau kau sampaikankan?”
“Tidak anakku, tidak ada, eh, tolong ke restoran dulu pak, saya lapar.” Kata mama, hmm, aneh. Aku semakin curiga pada mama, lalu aku berbicara lagi. “Mama, aku lupa, dimana Chantal?”
“Chantal? Dia kan ikut sarapan tadi pagi, apa kau lupa?” Respon mama.
“Bukan begitu, well, aku memang lupa tapi salama ini, dia tidak kelihatan?”
“Dia seharian diruang kerja mama dirumah, ya ada urusan yang tidak akan menarik bagimu, memang kenapa?”
“Tidak, hanya, hmm, ada yang ingin kutanyakan.”
“Apa? My dear?”
“Apa tanggapan manusia tentang berdirinya kantor department vampire ditengah kota London, maksudku, apa mereka tidak aneh?”
“Dengan wujud kantor kita yang seperti istana nan megah? Tentu tidak, mereka menganggap bahwa kami perusahaan koran yang sukses, aku tahu kau tidak pernah membaca koran pagi kecuali edisi ‘Married By Accident in Vampire Teenage Life’ haha, kau tahu tidak?”
“Tidak.”
“Huh, kita juga menerbitkan edisi untuk pembaca manusia, dengan judul ‘Daily Castle’ dan khusus vampire judul korannya ‘Dracula Daily’.” Jelas mama. Kok aku tidak pernah tahu ya?
“Kenapa? Kau bingung kenapa kau tidak tahu?” Tanya mama lagi. Aku hanya geleng – geleng kepala.
“Dasar introvert.” Kata mama sambil mengelus rambutku, lalu ternyata kita sudah sampai direstorannya. Lalu kami masuk dan duduk, lalu memesan makanan, memesan makanan di restoran manusia, ini hal yang jarang kulakukan, dan sering dilakukan mama dan nenek. Lalu mama memesan asparagus soup and blackberry juice. Aku memesan fettuccini and root beer float. Untuk dessert, kami memesan banana pudding and ice cream. Dan appetizer, fried potato. Ya, lalu kami menunggu makanan dengan tenang. Mama mengatakan bahwa restoran ini ingin dibelinya. “Memangnya apa nama restoran ini?” Tanyaku sambil menunggu makanan. “Eat and Pay Restaurant and Buffet.” Kata mama tenang. Aku hanya bingung, kenapa manusia suka memberi nama – nama aneh untuk tempat usaha mereka, makan dan bayar? Lalu, appetizer datang, lalu hidangan utama, dan dessert.
Setelah kenyang, kami pulang, harga direstoran tadi cukup ‘wow’, maksudku, tidak terlalu mahal, hmm, tampilan restorannya yang kurasa sederhana, tetapi kualitas makanannya memang jempolan, kurasa aku haru mendukung mama dengan membeli restoran ini. “Supernova.” Kataku.
“Apa?” Respon mama.
“Nama baru restoran itu, aku mendukungmu membelinya, hmm, dan karena aku bosan dengan kantor, aku ingin turun tangan dalam proyek ini.”
“Itu yang mama suka darimu, otakmu selain kejam, tapi penuh dengan ide dalam mengembangkan ladang bisnis.” Kata mama sambil mengangkat kedua jempol tangannya. Aku hanya cengo’. Lalu kami pulang kerumah. Lalu tak lama kami sampai, sepanjang perjalanan baik aku atau mama hanya diam, seperti berfikir akan masalah masing – masing. Setelah sampai rumah, sepertinya aku harus me-refreshing otakku. Lalu aku segera merubah kostum menjadi baju renang. Dan, aku berenang, air kolam yang dingin sepertinya mampu menyegarkan pikiranku. Ketika memasuki air, rambutku yang agak keriting maksudku, rumbutku itu memang keriting tapi volume ‘curls’ rembutku besar, dan hanya bagian bawah rambut saja, dan yang anehnya, rambutku terdiri atas paduan blonde and black walaupun blonde yang lebih dominan. Well, itu tidak penting, lalu aku terus berenang sampai otakku jernih. Huh, lalu aku naik dan mengenakan baju handukku dan beralih kekolam air panas, disitu aku bisa berfikir. Lalu setelah aku sampai dan berendam kekolam air panas, aku mulai mengurutkan kejadiannya. Hmm, keanehan saat surat misterius dari The Swan. Hmm, entah apa maksudnya. Lalu kemunculan Xavier Nara yang tiba – tiba menolongku, walau kata kebanyakan rekanku, menolong orang tak perlu alasan, tapi aku tidak pernah percaya pada semua kebaikan yang ditunjukan vampire lain kepadaku, ini perlu dicurigai. Lalu kenyataan Chantal dan keluarga Gill bukan vampire melainkan manusia, dan wanita bernama Savanna, hmm, mengapa aku tidak tahu? Belum lagi, Lucifer Sandy yang telah menjadi buronan Swiss yang entah dimana adanya, Edmund dan Trisha Silver, dan yang terakhir, Silvia Fe, yang masuk ke Evangels secara mengejutkan. Bombastic. Sepertinya aku harus mulai mencaritahu, seperti ada rahasia terpendam. Lalu tiba – tiba, Nina masuk dan memberi tahu, bahwa Melinda ingin berbicara. Lalu kubilang “Suruh ia masuk, Nina.” Tak lama kemudian, Melinda masuk. “Natalie, apa aku menggangumu?” Tanya Melinda.
“Linda, hey, ada apa? Maaf aku harus menemuimu dengan menggunakan bikini dan dalam keadaan berendam seperti ini, duduklah.” Kataku, untung disini disediakan sofa. “Well, nenekku, Silvia, masuk kedalam penjara, kudengar kau ke Evangels hari ini, ya aku tahu berdasarkan berita dari mama.”
“Ya, aku bertemu dengan Silvia, tapi, hmm, well, aku tidak berbicara dengannya, mama yang berbircara padanya.” Jelasku.
“Huh, apa kau hal apa yang dibicarakan mereka?”
“Tidak, Linda, memangnya ada apa? Kenapa kau seperti merasa lega?”
“Tidak, terima kasih, mamaku, Silvanna sangat khawatir. Dan rencananya aku akan pindah ke Paris.”
“Apa ini pertukaran pegawai?”
“Ya, aku ingin menemani mama.” Terang Melinda, hmm, kalau begitu…
“Patricia Spring. Tukar dengan dia ya. Bisa?”
“Eh, aku tak peduli tukar dengan siapa, memang siapa dia?”
“Hmm, dia kerjanya bagus dan tidak banyak bicara, talk less, do more, aku yakin dia pekerja yang baik.”
“Okay, akan kulaporkan pada Katherine, Kat akan mengerti pasti.”
“Okay, apa ada lagi yang ingin kau bicarakan?” Tanyaku karena aku ingin sendiri.
“Cukup, sekian dan terima kasih. Oh ya, soal Belinda, gadis itu mendapat masalah, ia dihukum oleh Kat. Bersama Kevin, harus membersihkan kolam berenang lantai 6.”
“Hah? Ahaha, itu kolam yang extra besar, biarkanlah.”
“Sudah ya, terima kasih atas waktumu. Aku permisi dulu.” Kata Melinda pamit, lalu ia pergi, hmm, lucu juga membayangkan Belinda dan Kevin, dua sejoli yang kurasa cocok sebagai duo partner cleaning service. Huh, kurasa mereka pantas mendapatkannya, tapi, kenapa ya mereka seperti itu? Tidak masuk akal dan logika, seharusnya kalau sudah diberi SP, mereka sadar, tetapi kenapa? Abnormal, tidak sesuai perhitunganku. Sudahlah, pikiranku runyam, lebih baik aku ke perpustakaan rumahku mungkin ada hal yang dapat menjelaskan hal diluar nalar ini? Lalu aku segera mengeringkan diri dan memakai pakain dan menuju perpustakaan. Lalu aku mulai mencari buku tentang apalah itu, hmm, sebentar, kalau tidak salah, hal yang berbau cinta, ya itu. Hmm, lalu aku mulai membaca beberapa buku tentang sikap dan sifat, hmm, mulai dari Xavier, pria yang aku tidak terlalu dekat tapi mau menolong tanpa dimintai tolong, lalu, sikap aneh Belinda dan Kevin, aku mulai mempelajari dan membaca, bahkan dari William Shakespeare yang ku yakin karyanya memang jempolan. Berjam – jam aku di perpustakaan. Tak lama otakku menyimpulkan, semua teori dibuku ini memang ilmiah, secara teknis, tapi tetap tidak bisa kumengerti, tidak masuk akal, kosong, nihil. Buku – buku ini menyimpulkan tentang rasa percaya, apa coba? Aneh, mengapa mereka mudah mempercayai sesama? Konyol jika mau dibodohi. Huh, pegal mataku membaca ini. Tidak ada yang bisa memberiku penjelasan. “Mama, mengapa kau mengawasiku? Sepertinya kau menyimpulkan sesuatu.” Kataku pada mama, aku tahu mama ada dibelakangku.
“Apa aku ketahuan? Tidak ada, tidak biasanya kau membaca sebegitu seriusnya.” Kata mama.
“Well, aku memang mencari sesuatu yang, hmm, sudahlah lupakan.” Kataku sambil bangkit dari kursi dan pergi keruang makan karena sudah waktunya makan malam. Lalu aku duduk dikursi dan memakan makanan yang dihidangkan dimeja makan. Semua makan dengan tenang termasuk Chantal. “Mira, sepertinya memang sudah waktunya aku pergi. Hmm, besok pagi mungkin.” Kata Chantal. Aku diam dan tetap makan dengan tenang dan berwibawa.
“Well, kalau itu maumu, tak masalah.” Kata mama. Aku melihat nenek asik dengan makanannya lalu nenek berkata, “Aku juga mau ke Paris, kau tahu.” Kata nenek.
“Mother, kau serius akan ingin ikut Chantal? Aku akan menyiapkan jet pribadimu.” Kata mama.
“Terima kasih anakku, kurasa, Paris akan membutuhkanku untuk sementara.” Kata nenek.
“Ada masalah apa disana?” Tanyaku yang ingin tahu.
“Hmm, tidak, hanya sedikit kacau saja, apa kau mau ikut juga?” Tanya mama. Aku hanya menggelengkan kepala. Lalu kami makan dengan tenang, setelah selesai aku menuju kamar dan tidur. Ada sesuatu, tidak mungkin nenek pergi begitu saja, nenek memang tidak hobby belanja tapi sudahlah. Lalu aku tidur untuk mempersiapkan diri besok.
Keesokan harinya…
Hmm, aku mulai bangun dan mengucek – ucek mata. Lalu kudengar Fiona mengetuk pintu dan masuk mengantarkan sarapan pagi. Lalu sepeti pagi – pagi biasanya, aku sarapan dan meminum Prodemons. Mandi dan selesai mandi, aku mengoleskan krim Prodemons, lalu berangkat. Aku kekantor kali ini dengan mobil Peugeot 406. Memang mobil lama tapi aku suka dan aku sudah memodifikasi mesinnya, dan tampilannya menjadi lebih mewah dengan warna hitam yang mulus dan mengkilat. Lalu aku berangkat. Ya, tanpa panjang lebar aku tancap gas, dan sampai dengan hanya butuh waktu 15 minute. Lalu aku segera menuju pintu masuk lobby utama dan menyuruh petugas memarkirkan mobilku. Lalu aku masuk dan menuju lift ke lantai 7. Setelah sampai dilantai 7, aku menuju ruanganku dan melihat Kurt sedang mengintip melaliu celah pintu diruangan manager keuangan alias ruangan Lena. “Kurt?” Tanyaku penasaran.
“Natalie, hey.” Kurt terlihat panik.
“Apa yang kau lakukan? Mengintip?”
“Sssttt…” Kurt meletakan telunjuk kanannya kebibirnya. Lalu aku melihat, Lena sedang duduk dipangkuan Delano, dan terlihat seperti sedang memberi nafas buatan, entah apa maksudnya, Kurt sepertinya terpukul akan peristiwa itu, terlihat dari wajahnya. Kalau tidak salah, hal seperti itu tertulis dibuku yang kubaca kemarin, namanya apa ya?
“Kurt kenapa kau sedih?”
“Natalie, aku tahu kau vampire yang bisa dipercaya, kurasa aku ketahuan kalau aku menyukai Lena, tapi kau jangan bilang siapa – siapa ya, janji?” Kata Kurt dengan penuh keseriusan serta keprihatinan.
“Whoa, aku tidak mengerti, tapi baiklah, kenapa kau tidak masuk? Dan kenapa kau tidak bilang saja sama Lena?” Tanyaku.
“Tidak semudah itu Natalie, Lena sudah punya Delano.” Kata Kurt dengan penuh keprihatinan.
“Kau singkirkan saja Delano, kau harus menang bersaing.” Kataku menyemangati, mungkin aku melakukan hal yang benar, kata buku yang kubaca, menyemangati adalah hal yang benar bila teman kita sedih.
“Mudah bagimu mengatakannya, tapi, aku tidak percaya diri.”
“Kau ini, payah sekali, ayo masuk dan menyatakan perasaanmu.” Kataku sambil menarik tangannya.
“Hey, mereka sedang pacaran, jangan diganggu.” Kurt menghetikan langkahku.
“Persetan dengan pacaran, mereka kan belum menikah, nah menurut buku yang kubaca, hal itu sah – sah saja.” Kataku tidak mau kalah.
“Maksudmu bersaing? Kau tahu, Delano itu tinggi, berambut merah, tampan, dan gagah, mana mungkin aku menang darinya. Sedangkan aku?” Kurt mulai pesimis.
“Pendek, dengan tinggi hanya 169.5 cm, huh tinggimu tanggung sekali, berambut hitam, ceroboh dan selalu ditindas mereka? Aku membaca pikiranmu Kurt, kau pikir hal itu dapat menghalangimu dan kau tidak cocok dengan Lena? Kau salah besar.” Kataku meyakinkan Kurt. Tapi sepertinya Kurt malah semakin merasa pendek melihatku memakai heels yang tingginya hanya 5cm.
“Kau ini, memangnya bisa memberiku saran tentang cinta?” Tanya Kurt.
“Tidak, tapi psikolog bisa.” Kataku polos.
“Kau ini tidak mengerti, cinta butuh pengorbanan, harus ada yang mengalah satu sama lain agar yang lain bahagia.” Kata Kurt, tapi kali ini. gaya bicaranya seperti penyair.
“Menyedihkan sekali, untuk apa berkorban kalau untuk disakiti? Seperti kata pepatah, cinta itu lebih kejam dari pembunuhan.” Tanggapku.
“Percuma, kau tidak mengerti.”
“Hah, kau ini, hanya takut bersaing dengan Delano, mengaku saja kau.” Setelah mendengar perkataanku, Kurt menganggukan kepalanya. Dasar. Tanpa mempedulikannya, aku pergi keruanganku. Lalu aku melihat Belinda dibelai – belai rambutnya oleh Kevin, seperti anjing saja, tapi hal ini juga ada dibuku. Hmm?????
“Hmm.” Kataku sambil bertolak pinggang.
“Natalie, okay, aku akan pergi.” Kata Kevin, lalu Kevin pergi. Aku duduk, dan Belinda hanya berdandan. Aku masih bingung, bukankah membelai rambut itu, hal dilakukan pada anjing atau kucing peliharaan? Lalu aku mulai mengecek komputer, tentang perkembangan kriminalitas, bulan ini aku belum menangkap vampire kriminal kecuali Patricio dan Claudio. Hmm, memang akhir – akhir ini London aman. Mungkin bulan ini aku harus istirahat dan menahan nafsu membunuh. “Apa ada laporan kejahatan semisal perampokan atau apa?” Tanyaku pada Belinda.
“Tidak, aku justru heran, London akhir – akhir ini aman. Kau sudah mendengar isu – isu terbaru?” Tanya Belinda. Aku hanya menggelengkan kepala.
“Wolfgang Nara, dan Giovanni Diaz kembali, serta pemberontak lainnya.” Kata Belinda.
Aku hanya diam, Giovanni Diaz, untung namanya bukan Giovanni Clyde, pasti kita sudah semarga. Hmm, kalau tidak salah, ia pemberontak yang selamat dan mengerikan. Wolfgang dan Elena Nara, Helena Clearwater, Megan Diaz, dan Giovanni Diaz, mereka yang masih aktif. Oh ya, satu lagi Alessandra Wynn, dia juga. Dan setahuku yang sudah tewas Nikka Campbell, Edmund Silver dan Trisha Venn Silver. Kalau dikurangi Megan, berarti ada 5 vampire. Karena Megan simpang siur kabarnya. Bagaimana ini? Firasatku semakin hari semakin aneh, tidak buruk tidak baik. Apa yang akan kulakukan? Hasrat haus darahku tak sekental biasanya. Bola mataku semakin tajam. Sesuatu akan menimpaku, tapi apa? Apa ada hubungannya dengan kejadian akhir – akhir ini? Tidak ini berbeda, seperti sudah diatur oleh sesuatu. “Natalie? Kau tidak apa – apa?” Tanya Belinda, sepertinya ia khawatir.
“Tidak, aku hanya pusing.”
“By the way, surat lagi untukmu.”
Surat lagi????? Lalu kubuka isinya.
I’m Kidnapper.
Hah? Penculik? Mau menculikku? Canggih sekali dia. Apa ini ancaman? Ditulis dengan tinta merah dikertas ungu? Kenapa tidak dikertas hitam yang lebih keren? Pasti asal menculik, memangnya aku janda apa, warna ungu. Pasangan saja belum punya, tapi ancaman abnormal ini akan kuanggap serius. “Kenapa Natalie, surat dari pemuja rahasiamu ya?” Tanya Belinda.
“Tidak, kenapa kau menuduh begitu?”
“Kau kan berbeda, bila vampire normal aka kegirangan mendapat surat cinta, kalau kau pasti akan kebingungan kan?” Kata Belinda sambil memoles kuku dengan pewarna kuku.
“Hey kau, bukan kok.”
“Oh, keajaiban kalau kau dapat surat cinta, tapi aku suka warna kertasnya, baby purple warna yang bagus.” Kata Belinda santai.
“Eh, surat cinta itu apa?”
“Hah… sudahlah.” Katanya seperti malas menjelaskan. Aku hanya menggaruk kepalaku menandakan bingung. Ya lalu setelah itu, kujalani hidup seperti biasa, memantau keadaan lewat komputer, lalu bergantian jadwal patroli. Aku saja sampai lupa ke bandara untuk mengantar nenek dan Chantal. Sudahlah, toh perjalanan ke Paris semudah membalikan telapak tangan bagiku. Lalu sekitar jam 12.00pm, mama muncul, sepertinya baru kembali dari bandara tentunya mampir – mampir dulu. Lalu saat ia lewat mama meletakan jus darah kemejaku tanpa menyapaku. Mungkin mama masih trauma karena gagal mengagetkanku. Lalu aku meminum jus itu, hmm, yoghurt banana. Enak juga, darahnya segar. Hmm, hari ini aku bosan, toh kalau aku bolos bekerja, tak akan ada yang memarahiku. Mungkin aku harus memulai menego untuk membeli restoran itu? Hmm, aku harus keruangan mama. Lalu aku bangkit dari bangku dan pergi menuju ruangan mama. Begitu sampai, aku mengetuk pintunya dan mama menyuruhku masuk. “Mama, boleh aku minta bantuanmu?” Aku memulai topik pembicaraan. Lalu aku berjalan mendekati mama dan duduk dikursi depan meja kerjanya.
“Okay. Apa?” Jawab mama sambil membaca suatu dokumen.
“Bosan sekali hidupku, malas iya, mati tak mau, hmm, aku ingin bernegoisasi.”
“Dengan pemilik restoran itu? Okay, sendiri saja. Aku percaya kau tidak akan macam – macam.” Lalu mama meletakan berkas itu, melihatku dan menekuk tangannya.
“Okay, aku berangkat dulu, boleh kuminta proposal yang biasa kita lakukan dalam berbisnis?”
“Hmm, ya tentu, ini.” Lalu mama membuka laci dan memberiku seberkas file.
“Terima kasih mama, aku suka bisnis keluarga kita.” Lalu aku menerima file itu dan pergi. Ya, khusus untuk bekerja sama dengan manusia, proposal yang kami buat disesuaikan, dan kami sudah biasa melakukan perdagangan dengan mereka. Hal ini diluar tanggung jawab Katherine, karena ini bisnis murni keluargaku. Department vampire hanya bertanggung jawab atas keamanan dan rumah sakit, selebihnya seperti hotel, spa, mall, dan sebagainya milik keluargaku.
Lalu aku menuju tempat parkir dan mengendarai mobil Peugeot 406 ku dan segera menuju ke restoran tersebut. Tak lama kemudian, aku sampai dan memarkirkan mobil. Kalau aku sudah membeli restoran ini, akan kusediakan parkir VIP dengan tarif parkir yang ganda. Lalu aku masuk dan bertemu manager restorannya. “Hmm, maaf nona, ada apa menemui saya? Apa anda ingin komplain dengan pelayanan yang ada? Oh ya, perkenalkan, saya Kenneth Tan, maneger restoran ini.” Katanya.
“Senang bertemu dengan anda Mr. Tan, saya Natalie Clyde, sebenarnya saya ingin melakukan penawaran kecil.” Kataku. Lalu Kenneth mempersilahkanku duduk.
“Okay, hmm, Miss Clyde, benar? Apa yang bisa saya bantu?” Tanya Kenneth.
“Aku ingin melakukan bisnis akan restoran ini, melihat lokasinya yang strategis dan peminatnya yang banyak, saya ingin membeli restoran anda dengan harga penuh. Tapi anda jangan khawatir, setengah saham restorannya milik anda. Ini proposal yang mungkin anda bisa melihatnya.” Lalu aku menyerahkan proposal.
“Sebesar ini anda akan membayanya nona? Apa tidak terlalu mahal?” Katanya ragu.
“Ya, saya bersungguh – sungguh. Saya akan memodali dan merenovasi menjadi lebih baik, dan gaji pegawai lebih sejahtera, maksudku, mereka akan tetap bekerja dan diberi pelatihan kepribadian agar dapat melayani dengan hasil paling memuaskan, bagaimana?” aku meyakinkan.
“Untungnya anda datang, kebetulan karena usia saya sudah lanjut, dan saya tidak punya penerus yang sesuai, saya ingin menjualnya, untuk hari tua saya, semua saham restoran ini milik anda, menurut saya, dengan harga semahal ini, sangat tepatlah.” Katanya.
“Anda yakin?”
“Ya, saya sudah tua, cukup menikmati dana hari tua saja sudah cukup bagi saya.”
Ya, memang kondisi fisik Kenneth sudah tua dan seharusnya tidak bekerja, kecuali dia vampire yang bisa hidup ratusan tahun.
“Deal?” Aku lalu mengajaknya bersalaman.
“Deal.” Katanya lalu kami bersalaman. Tentu aku sudah melakukan persiapan, aku lalu tepuk tangan 2 kali lalu para pelayanku membawa 3 koper yang berisi uang cash.
“Mr. Tan, aku tidak menggunakan check untuk meyakinkan anda, ini bayarannya, kalau anda kurang yakin, anda bisa membawa uang – uang ini ke bank dan mengecek keasliannya.” Kataku dengan penuh wibawa.
“Saya akan menyiapakan semuanya, berkas – berkas penting restoran ini.” Katanya lalu masuk keruangan. Lucu juga aku melakukan transaksi dikursi para pembeli, ada yang lagi makan lalu ketika koper dibuka langsung bereaksi dan melihat kearah uang, ada yang asik dengan makanannya, dan lain – lain. Tak lama Kenneth kembali lalu kami melakukan transaksi. Setelah itu, Kenneth mengenalkan para pegawainya, mereka ramah, walau aku tetap harus memberi pengajaran soal kepribadian. Kenneth menjelaskan, rata – rata mereka dari desa. Hmm, setelah melakukan perbincangan lalu aku pergi dan kembali ke markas. Aku lalu menjelaskan pada mama tentang transaksi. “Murah sekali kau membelinya.” Komentar mama.
“Huh, manager itu saja sudah sangat bersyukur dan terkaget – kaget dengan harga segitu.” Kataku santai.
“Okay, mungkin kau akan bolos besok. Bina restoran itu, okay? Sebijaksana mungkin, jangan seesaknya kau menaikan harga menu makanannya, ingat konsep, ini bukan restoran bintang 7 yang biasa kau kunjungi.” Ceramah mama. Aku hanya mengangguk, aku sadar harus melihat situasi. Lalu perasaan itu muncul. Sebenarnya saat direstoran tadi, aku merasa ada yang mengawasi, dan sekarang aku merasakan hal itu lagi. Siapa ya? Sudahlah. Setelah aku berbincang – bincang dengan mama, aku lalu pergi makan ke restoran lantai 3. Bukannya aku lapar, tapi aku menuju dapur untunk mengetahui kualitas makanan, maklum ini pertama kalinya aku terjun sendiri dalam bisnis yang biasanya ditemani mama. Lalu aku minta koki andalanku untuk menjelaskan semuanya. Mulai dari tips, cara menyajikan, dan rahasia – rahasia lainnya, karena dari semua restoran vampire yang ada, restoran ini berserta cabangnya yang paling enak. Ada mungkin 2 jam aku belajar semuanya tak terasa aku lapar, lalu aku masak makannanku sendiri. Aku duduk dikursi pengunjung, jadi tidak makan didapur, saat aku makan dengan tenang, tak lama kemudian, teman – temanku datang, ada Belinda, Melinda, Delano, Kurt, Lena, Romeo, dan bahkan Elisa, hah? Elisa? Bukannya di pergi ke, ah sudahlah.
“Hmm, teman – teman, kita harus tenang dan membiarkan Natalie makan dengan tenang.” Kata Melinda.
“Ada apa ini?” Kataku.
“Hmm, mungkin kau sudah tahu pikiran kami.” Kata Romeo, aku baru mendengar suaranya lagi sejak sekian lama.
“Ingin voucher discount direstoran baruku? Okay, hanya kalian yang akan kuberikan.” Kataku santai, mungkin mereka senang.
“HURRAY!!!!” Kata mereka kompak, ada yang saling tos, ada yang ekspresinya senang sekali, dan lainnya. Dasar, urusan makan, cepat sekali tanggapannya, sudah kuduga, mereka tahu dari saluran gossip, saat mama bilang ke Katherine, Kat langsung mengumumkan, ini sudah biasa. Mereka berusaha dapat diskon sebelum membayar dengan harga aslinya yang menguras kantong, padahal kan, harga di restoran baru itu tidak akan extravaganza. Lalu mereka pergi, dan aku melanjutkan makanku, tunggu, ada yang mengawasiku, lalu aku melihat kesekeliling. Mencurigakan sekali. Setelah kulihat jam ditanganku, sudah jam 04.00pm, ya setelah selesai makan aku pulang. Saat mengendarai mobilku, aku menelepon kaki tanganku untuk merenovasi restoran itu besok. Lalu aku pulang. Dalam perjalanan tidak ada yng menggangguku, aku pulang dengan keadaan lancar. Tak lama sampailah dirumah. Lalu aku masuk dan mandi, makan malam, lalu aku main catur dengan mama di gazebo. “Hmm, kau ini pintar sekali, Natalie.” Kata mama yang sedang berfikir keras karena sudah diujung tanduk nasib pion – pion caturnya. “Mama, apa akhir – akhir ini, kau merasa aneh?” Tanyaku padanya.
“Jangan berisik! Hmm, tidak sih.” Mama ingin memajukan pion kuda, tapi tidak jadi, benteng, juga tidak, mau mama memang memajukan apa? Selama permainan kami tentu tidak membaca pikiran. Apa mungkin hanya perasaanku saja, aku tidak punya body guard untuk mengawasiku, atau apapun, tapi sepertinya ada yang melihatku dari jauh. “Kau kenapa memang? Ada yang menggangu?” Tanya mama kemudian.
“Tidak.” Jawabku.
“Sudah, aku menyerah. Berjalan kemanapun, pasti kalah juga.” Kata mama. Aku hanya tersenyum licik. Sudahlah, toh bila kutanya, mama tidak akan menjawab. Lalu aku bangun dari kursi dan kembali kekamar. Aku lelah ingin tidur. Huh, lalu aku masuk kamar dan merebahkan badanku dikasur. Tak lama mataku tertutp dan aku tidur.
Keesokan harinya…
Tak terasa sudah pagi lalu aku bangun. Lalu kudengar suara ketukan pintu seperti biasanya, dan kali ini, Nina yang mengantarkan sarapan. Seperti kegiatan pagi sebelumnya, sarapan, minum vitamin, mandi, melulurkan krim, dan lainnya. Lalu aku melihat jadwal, hari ini tanggal 21, artinya saatnya pergi ke spa untuk luluran, facial, dan mempercantik diri. Aku walaupun sadis, setiap pulang kerumah, selalu mencuci muka, terkadang memakai masker di akhir pekan. Lalu kali ini aku memakai celana jeans ¾, sneakers, dan tank top serta bolero. Lalu aku berangkat, kali ini aku mengendarai Mercedes Benz Tiger. Memang mobil lama, tapi klasik, aku suka. Rata – rata mobil koleksiku mobil tua semua, mobil sport yang kupunya tidak banyak. Ferrari, Lamborghini, Porche, BMW, Mercedes Benz, hmm, beberapa buatan Jepang, entahlah, aku tidak hapal. Hobby, yang kupunya salah satunya mengkoleksi mobil, aku punya museum mobil sendiri, dan montir khusus untuk merawatnya. Tapi sudahlah, lalu aku langsung menuju restoran tersebut. Ya, para pekerjanya sudah siap, arsiteknya juga ada, tapi nanti rancangannya aku sendiri yang membuat. Lalu aku parkir dan menyuruh agar mereka menutupi seluruh bangunan dengan kain, karena kerja manusia dan vampire 2 kali lebih. 2 – 3 hari kutargetkan sudah selesai, mungkin kalau manusia, butuh sebulan lebih. Lalu aku menyuruh mereka mengeluarkan seluruh barang – barang seperti kursi, meja, dan lainnya, untuk dijual, dan hasilnya untuk tambahan bayaran bagi para tukang bangunannya. Lalu mereka mulai mengkerok cat dilantai satu, dan membokar lantai dilantai dua. Lalu aku memberikan gambaranku tentang design restoran yang kuinginkan. Setelah urusanku selesai, aku menuju spa yang tentunya milikku. Entah mengapa, aku sedang tidak bersemangat, seharusnya, saat membunuh Patricio, aku memenggal kepalanya saja. Mungkin aku akan senang dari pada merobek jantung dan ususnya. Lalu sekitar 15 menit aku sampai. Aku lalu memulai treatment dengan memanjakan tubuhku, lalu memanjakan wajahku, dan terakhir perawatan rambut. Sekitar 3 – 4 jam aku selesai. Setelah itu baru kekantor. Bahagianya diriku karena bisa masuk keluar kekantor sesuka hati. Saat berada diruangan, lalu Belinda bertanya padaku, “Dari mana? Spa?” Tanya Belinda. Aku hanya mengaggukkan kepala. Lalu aku melihat hal yang terjadi hari ini dikomputer, lagi – lagi tidak ada yang bisa kuhajar, semua damai dan tentram. Bosan sekali, paling hanya kerusuhan di Evangels, dan perampokan kecil, dan aku malas menanganinya. “Hmm, Natalie, surat lagi.” Kata Belinda sambil menyerahkan lembaran kertas berwarna lembayung??? Kemarin ungu, sekarang lembayung??? Lalu aku membaca isinya yang ditulis dengan tinta hitam.
Dear Natalie
Aku datang lagi, bukan untuk menakutimu, tapi aku selalu mengawasimu, mungkin kau akan terkejut tapi kita akan bertemu. Untuk kedua kalinya aku memberimu surat.
Aku akan datang, menghampirimu, dan menculikmu.
Kidnapper.
Lalu aku melihat kesekitarku. Tidak ada siapa – siapa. “Sebenarnya kau dapat dari mana surat ini?” Aku bertanya pada Belinda.
“Hmm, kutemukan saja didepan rumahku, ada tulisan tolong berikan pada Natalie. Begitu.” Jelas Belinda.
“Hmm, mencurigakan, akan kuperiksa lagi keamanan Jetsetter Residence. Akan kutelepon bagian keamanannya.” Lalu aku segera menelepon bagian keamanan. Dan setelah bertanya pada kepala keamanannya, akhir – akhir ini tidak ada apa – apa dan aman. Lalu kuperintahkan untuk memperketat penjagaan. Setelah menelepon lalu Belinda bertanya padaku, “Memangnya apa isi suratnya?” Tanya Belinda penasaran, lalu aku duduk dan menjawab, “Bukan hal penting, kau tak perlu cemas.”
“Bohong. Iya kan?” Belinda tetap berusaha ingin tahu. Aku diam saja dan mengecek komputerku untuk melihat kemungkinan yang terjadi tentang siapa yang mengancamku.
“Hey, Natalie, coba lihat ini.” Belinda lalu memperlihatkan foto padaku. Aku diam saja dan sepertinya mengenali siapa yang ada difoto itu. “Tampan bukan?” Kata Belinda.
Keesokan harinya aku bersiap – siap mengunjungi Evangels. Ya karena aku mengunjungi pulau, aku memakai sneakers, tank top, and hot pants, serta gesper untuk dikaitkan dengan pakaianku. Dan katanya mama ingin ikut. Okay, setelah semua siap, kami berangkat dengan supir karena aku malas menyetir dan segera menuju pelabuhan Devilamonita. Ya, itu pelabuhan yang sengaja kami buat khusus untuk akses ke Evangels Jail. Lalu setelah sampai di pelabuhan, kami naik kapal pribadi dan segera melaju ke Evangels dengan berakselerasi. Karena ini laut, tentu aku memakai kacamata hitam untuk menghindari melihat matahari yang mengerikan. Hanya 30 menit kami sampai. Bangunan penjaranya seolah – olah kastil Rapunzel yang tinggi dan mengerikan. Lalu kami masuk dan segera menuju ruang besuk dan bertemu Claudio. Lalu setelah Claudio muncul. Lalu kami duduk dan introgasi dimulai. “Well, Claudio, katakan siapa mereka, vampire yang bersamamu itu, laporan terakhir, saat vampire suruhanku mengejar mereka, mereka kehilangan jejak, bayangkan, seharian mengejar, tetapi gagal.” Kataku memulai pembicaraan. Claudio hanya diam.
“Apa yang kalian rencanakan?” Tanya mama kemudian. Mama sangat serius sepertinya, hmm, anggun juga, dan mengerikan.
“Haha, kau tahu, kalian dalam masalah besar, terutama seorang gadis kecil bernama Savanna, akan terkena sialnya.” Jawaban Claudio yang tidak memuaskan, mama hanya memutar matanya dan terlihat dari raut wajahnya, ia ingin membunuh Claudio.
“Savanna? Siapa pula dia, jangan main – main kau, vampire tong sampah, aku tahu kau dipungut dari tong sampah, menyedihkan sekali hidup sialmu itu.” Kataku dengan nada kejam mengejeknya.
“Sepertinya kau seperti bersumpah pada seorang vampire, siapa?” Tanya mama lag, dia terus bungkam, harus kugunakan caraku. Sudah kuduga, harusnya persidangan kemarin, hal ini harus ditanyakan, dari pada sepanjang persidangan hanya mengungkit kejahatannya dan Patricio. Lalu aku berdiri dan mendekat padanya, langsung mendorong dan mengangkat kerahnya, menguncinya ketembok dengan posisi dengkulku menekan perutnya dan tanganku dilehernya. “Nah, Claudio, katakana apa yang kemi mau, atau kakiku berpindah kelehermu dan merobeknya? Bagaimana?” Kataku pelan tetapi mengerikan. Dia tetap diam. “Apa ada jaminan untukku?” Tanya Claudio.
“Jaminan?” Mama bingung dan menjawab pertanyaan Claudio dari tempat duduknya.
“Ruang penjara VIP? Aku ingin privacy dipenjaraku.” Katanya.
“Akan kukabulkan.” Kataku.
“Huh, okay, pria gemuk itu adalah Lucifer Sandy, kau tahu, ia hampir mati karena diduga berkhianat, huh, Swiss, akan dapat masalah.” Katanya, lalu ia menghela nafas dan melanjutkan, “Dan pria satunya, hehehe…” ia tersenyum, “Siapa?” Kataku dengan penuh penekanan. “Gordon, Gordon Silver, kau tahu nama itu?” Tanya Claudio. Aku merasakan aura mama sedikit berbeda, dan aku sedikit menoleh kearah mama, dan benar saja, ia seperti vampire yang ketakutan. “Siapa Gordon?” Tanyaku penasaran. “Cukup, terima kasih Claudio, hmm, penjaga penjara…” Potong mama tiba – tiba. Lalu penjaga penjara datang, “Kabulkan keinginan Claudio. Dan, Natalie, lepaskan pria kering tak berdaging itu.” Katanya. Lalu aku melepasnya. Aku hanya diam, lalu mama mengajakku pulang, ditengah perjalanan, betapa terkejutnya aku, Silvia, ia ada disini, sepertinya tahanan yang baru datang. “Silvia Fe? Itu kau kan?” Tanya mama.
“Mirabella, aku…” Katanya memelas.
Lalu mama mendorong Silvia ketembok, tidak sepertiku yang melakukannya secara kejam pada Claudio, mama meletakan kedua tangannya pada bahu Silvia. “Para petugas, kumohon, tinggalkan kami, dan kalau ada yang menguping, kalian akan kuhabisi, mungkin jasad kalian akan hilang dilaut, dan kau juga Natalie, tunggu mama dikapal.” Perintah mama. Entah apa yang dilakukannya tapi aku menurut saja dan tidak mencoba ingin tahu. Lalu aku kembali kekapal dan menunggu mama disana. Ada sekitar 30 menit aku mengunggu lalu mama kembali dengan wajah tanpa dosa. Tanpa banyak bicara mama menuruh nahkoda kapal untuk kembali ke pelabuhan. Mama diam saja, tanpa bicara, hmm, pasti ada yang disembunyikan, lagi – lagi rahasia. Lalu tak lama kami kembali kedaratan dan segera naik mobil. Setelah kami masuk mobil, mama memerintahkan agar kami segera kembali kerumah. “Hey, mama, apa tak perlu kekantor dulu, mom?” Tanyaku.
“Tidak perlu.” Kata mama datar.
“So? Ada apa mama? Kau tidak seperti biasanya, apakah ada sesuatu yang mengganjal pikirannmu?” Aku mulai penasaran, entah apa, mama mengunci pikirannya dan terlihat dari tanpangnya sedang memikirkan seseatu.
Sementara disisi Mirabella.
45 menit yang lalu…
“Ayo duduk dulu, tak apalah jika duduk dilantai, hmm.” Kata Mirabella pada Silvia.
Lalu mereka duduk dilantai.
“Mirabella, maafkan aku, tapi…” Silvia mulai berbicara.
“Apa, kau adalah senior yang, well, cukup baik, kenapa kau bisa seperti ini?” Tanggap Mirabella.
“Mira, aku terjebak, aku teripu, aku bukanlah Silvia Fe yang kalian banggakan.”
“Apa kau diperalat?”
“Ya, oleh Trisha. She hypnotized me. I don’t know, aku bingung dengan keadaanku.”
“Oh, no, aku tahu Trisha, kemampuan ia menghipnotis lawannya, bisa berakibat sangat buruk. Apa kau melawannya?”
“Dia sempat menghapus ingatanku, dia menyamar menjadi seseorang. Menjadi, oh please, menjadi siapa ya? Aku lupa, ah…” Silvia kesal.
“Hmm, lalu kenapa kau bisa masuk kepenjara?”
“Berkas – berkas percobaan pemberontakan ternyata ia menyatat dan menyimpannya, well, ia melaporkanku dengan bukti – bukti yang ia setting sendiri. Cerdas. Dia lupa akan satu hal, kalau kau masih hidup, kau bisa menjebloskannya, toh buktinya dia pegang. Dan mengkambing hitamkanku atas itu.”
“Okay, jadi kau selama ini melindungi penjahat? Hebat. Aku akan membebaskamu suatu hari. Membebaskan wanita sepertimu, menarik sekali.”
“Kau tahu aku diperalat, kan?”
“Kau mau ikut progam perlindungan saksi?”
“Ayolah, kita bukan tergabung dalam organisasi hebat seperti FBI, or CIA, or whatever. Tidak perlu, aku bukanlah vampire lemah.”
“Kesaksianmu kuperlukan, akan kubawa Prof. Clearwater untuk memeriksamu, mungkin ia bisa membantumu, well, aku harus pergi, akan kubawa Prof. Clearwater untuk menanganimu.” Setelah berkata begitu, Mirabella memanggil penjaga untuk memenjarakan Silvia, “Oh, aku lupa, Silvia, bagaimana dengan anakmu? Silvanna?” Tanya Mirabella lagi, lalu sambil dipegangi penjaga penjara Silvia hanya berkata santai, “Aku tidak punya anak, Mira.”
Lalu setelah itu, Mirabella merasa mendengar suara Natalie dalam pikirannya.
“Mama? Mama? MAMA!!” Kata Natalie berteriak.
Natalie…
“Mama apa yang kau pikirkan?” Tanyaku.
“Eh, Nat, tidak ada apa – apa.” Respon mama kaget.
“Mama, kau mengacuhkanku, apa ada yang mau kau sampaikankan?”
“Tidak anakku, tidak ada, eh, tolong ke restoran dulu pak, saya lapar.” Kata mama, hmm, aneh. Aku semakin curiga pada mama, lalu aku berbicara lagi. “Mama, aku lupa, dimana Chantal?”
“Chantal? Dia kan ikut sarapan tadi pagi, apa kau lupa?” Respon mama.
“Bukan begitu, well, aku memang lupa tapi salama ini, dia tidak kelihatan?”
“Dia seharian diruang kerja mama dirumah, ya ada urusan yang tidak akan menarik bagimu, memang kenapa?”
“Tidak, hanya, hmm, ada yang ingin kutanyakan.”
“Apa? My dear?”
“Apa tanggapan manusia tentang berdirinya kantor department vampire ditengah kota London, maksudku, apa mereka tidak aneh?”
“Dengan wujud kantor kita yang seperti istana nan megah? Tentu tidak, mereka menganggap bahwa kami perusahaan koran yang sukses, aku tahu kau tidak pernah membaca koran pagi kecuali edisi ‘Married By Accident in Vampire Teenage Life’ haha, kau tahu tidak?”
“Tidak.”
“Huh, kita juga menerbitkan edisi untuk pembaca manusia, dengan judul ‘Daily Castle’ dan khusus vampire judul korannya ‘Dracula Daily’.” Jelas mama. Kok aku tidak pernah tahu ya?
“Kenapa? Kau bingung kenapa kau tidak tahu?” Tanya mama lagi. Aku hanya geleng – geleng kepala.
“Dasar introvert.” Kata mama sambil mengelus rambutku, lalu ternyata kita sudah sampai direstorannya. Lalu kami masuk dan duduk, lalu memesan makanan, memesan makanan di restoran manusia, ini hal yang jarang kulakukan, dan sering dilakukan mama dan nenek. Lalu mama memesan asparagus soup and blackberry juice. Aku memesan fettuccini and root beer float. Untuk dessert, kami memesan banana pudding and ice cream. Dan appetizer, fried potato. Ya, lalu kami menunggu makanan dengan tenang. Mama mengatakan bahwa restoran ini ingin dibelinya. “Memangnya apa nama restoran ini?” Tanyaku sambil menunggu makanan. “Eat and Pay Restaurant and Buffet.” Kata mama tenang. Aku hanya bingung, kenapa manusia suka memberi nama – nama aneh untuk tempat usaha mereka, makan dan bayar? Lalu, appetizer datang, lalu hidangan utama, dan dessert.
Setelah kenyang, kami pulang, harga direstoran tadi cukup ‘wow’, maksudku, tidak terlalu mahal, hmm, tampilan restorannya yang kurasa sederhana, tetapi kualitas makanannya memang jempolan, kurasa aku haru mendukung mama dengan membeli restoran ini. “Supernova.” Kataku.
“Apa?” Respon mama.
“Nama baru restoran itu, aku mendukungmu membelinya, hmm, dan karena aku bosan dengan kantor, aku ingin turun tangan dalam proyek ini.”
“Itu yang mama suka darimu, otakmu selain kejam, tapi penuh dengan ide dalam mengembangkan ladang bisnis.” Kata mama sambil mengangkat kedua jempol tangannya. Aku hanya cengo’. Lalu kami pulang kerumah. Lalu tak lama kami sampai, sepanjang perjalanan baik aku atau mama hanya diam, seperti berfikir akan masalah masing – masing. Setelah sampai rumah, sepertinya aku harus me-refreshing otakku. Lalu aku segera merubah kostum menjadi baju renang. Dan, aku berenang, air kolam yang dingin sepertinya mampu menyegarkan pikiranku. Ketika memasuki air, rambutku yang agak keriting maksudku, rumbutku itu memang keriting tapi volume ‘curls’ rembutku besar, dan hanya bagian bawah rambut saja, dan yang anehnya, rambutku terdiri atas paduan blonde and black walaupun blonde yang lebih dominan. Well, itu tidak penting, lalu aku terus berenang sampai otakku jernih. Huh, lalu aku naik dan mengenakan baju handukku dan beralih kekolam air panas, disitu aku bisa berfikir. Lalu setelah aku sampai dan berendam kekolam air panas, aku mulai mengurutkan kejadiannya. Hmm, keanehan saat surat misterius dari The Swan. Hmm, entah apa maksudnya. Lalu kemunculan Xavier Nara yang tiba – tiba menolongku, walau kata kebanyakan rekanku, menolong orang tak perlu alasan, tapi aku tidak pernah percaya pada semua kebaikan yang ditunjukan vampire lain kepadaku, ini perlu dicurigai. Lalu kenyataan Chantal dan keluarga Gill bukan vampire melainkan manusia, dan wanita bernama Savanna, hmm, mengapa aku tidak tahu? Belum lagi, Lucifer Sandy yang telah menjadi buronan Swiss yang entah dimana adanya, Edmund dan Trisha Silver, dan yang terakhir, Silvia Fe, yang masuk ke Evangels secara mengejutkan. Bombastic. Sepertinya aku harus mulai mencaritahu, seperti ada rahasia terpendam. Lalu tiba – tiba, Nina masuk dan memberi tahu, bahwa Melinda ingin berbicara. Lalu kubilang “Suruh ia masuk, Nina.” Tak lama kemudian, Melinda masuk. “Natalie, apa aku menggangumu?” Tanya Melinda.
“Linda, hey, ada apa? Maaf aku harus menemuimu dengan menggunakan bikini dan dalam keadaan berendam seperti ini, duduklah.” Kataku, untung disini disediakan sofa. “Well, nenekku, Silvia, masuk kedalam penjara, kudengar kau ke Evangels hari ini, ya aku tahu berdasarkan berita dari mama.”
“Ya, aku bertemu dengan Silvia, tapi, hmm, well, aku tidak berbicara dengannya, mama yang berbircara padanya.” Jelasku.
“Huh, apa kau hal apa yang dibicarakan mereka?”
“Tidak, Linda, memangnya ada apa? Kenapa kau seperti merasa lega?”
“Tidak, terima kasih, mamaku, Silvanna sangat khawatir. Dan rencananya aku akan pindah ke Paris.”
“Apa ini pertukaran pegawai?”
“Ya, aku ingin menemani mama.” Terang Melinda, hmm, kalau begitu…
“Patricia Spring. Tukar dengan dia ya. Bisa?”
“Eh, aku tak peduli tukar dengan siapa, memang siapa dia?”
“Hmm, dia kerjanya bagus dan tidak banyak bicara, talk less, do more, aku yakin dia pekerja yang baik.”
“Okay, akan kulaporkan pada Katherine, Kat akan mengerti pasti.”
“Okay, apa ada lagi yang ingin kau bicarakan?” Tanyaku karena aku ingin sendiri.
“Cukup, sekian dan terima kasih. Oh ya, soal Belinda, gadis itu mendapat masalah, ia dihukum oleh Kat. Bersama Kevin, harus membersihkan kolam berenang lantai 6.”
“Hah? Ahaha, itu kolam yang extra besar, biarkanlah.”
“Sudah ya, terima kasih atas waktumu. Aku permisi dulu.” Kata Melinda pamit, lalu ia pergi, hmm, lucu juga membayangkan Belinda dan Kevin, dua sejoli yang kurasa cocok sebagai duo partner cleaning service. Huh, kurasa mereka pantas mendapatkannya, tapi, kenapa ya mereka seperti itu? Tidak masuk akal dan logika, seharusnya kalau sudah diberi SP, mereka sadar, tetapi kenapa? Abnormal, tidak sesuai perhitunganku. Sudahlah, pikiranku runyam, lebih baik aku ke perpustakaan rumahku mungkin ada hal yang dapat menjelaskan hal diluar nalar ini? Lalu aku segera mengeringkan diri dan memakai pakain dan menuju perpustakaan. Lalu aku mulai mencari buku tentang apalah itu, hmm, sebentar, kalau tidak salah, hal yang berbau cinta, ya itu. Hmm, lalu aku mulai membaca beberapa buku tentang sikap dan sifat, hmm, mulai dari Xavier, pria yang aku tidak terlalu dekat tapi mau menolong tanpa dimintai tolong, lalu, sikap aneh Belinda dan Kevin, aku mulai mempelajari dan membaca, bahkan dari William Shakespeare yang ku yakin karyanya memang jempolan. Berjam – jam aku di perpustakaan. Tak lama otakku menyimpulkan, semua teori dibuku ini memang ilmiah, secara teknis, tapi tetap tidak bisa kumengerti, tidak masuk akal, kosong, nihil. Buku – buku ini menyimpulkan tentang rasa percaya, apa coba? Aneh, mengapa mereka mudah mempercayai sesama? Konyol jika mau dibodohi. Huh, pegal mataku membaca ini. Tidak ada yang bisa memberiku penjelasan. “Mama, mengapa kau mengawasiku? Sepertinya kau menyimpulkan sesuatu.” Kataku pada mama, aku tahu mama ada dibelakangku.
“Apa aku ketahuan? Tidak ada, tidak biasanya kau membaca sebegitu seriusnya.” Kata mama.
“Well, aku memang mencari sesuatu yang, hmm, sudahlah lupakan.” Kataku sambil bangkit dari kursi dan pergi keruang makan karena sudah waktunya makan malam. Lalu aku duduk dikursi dan memakan makanan yang dihidangkan dimeja makan. Semua makan dengan tenang termasuk Chantal. “Mira, sepertinya memang sudah waktunya aku pergi. Hmm, besok pagi mungkin.” Kata Chantal. Aku diam dan tetap makan dengan tenang dan berwibawa.
“Well, kalau itu maumu, tak masalah.” Kata mama. Aku melihat nenek asik dengan makanannya lalu nenek berkata, “Aku juga mau ke Paris, kau tahu.” Kata nenek.
“Mother, kau serius akan ingin ikut Chantal? Aku akan menyiapkan jet pribadimu.” Kata mama.
“Terima kasih anakku, kurasa, Paris akan membutuhkanku untuk sementara.” Kata nenek.
“Ada masalah apa disana?” Tanyaku yang ingin tahu.
“Hmm, tidak, hanya sedikit kacau saja, apa kau mau ikut juga?” Tanya mama. Aku hanya menggelengkan kepala. Lalu kami makan dengan tenang, setelah selesai aku menuju kamar dan tidur. Ada sesuatu, tidak mungkin nenek pergi begitu saja, nenek memang tidak hobby belanja tapi sudahlah. Lalu aku tidur untuk mempersiapkan diri besok.
Keesokan harinya…
Hmm, aku mulai bangun dan mengucek – ucek mata. Lalu kudengar Fiona mengetuk pintu dan masuk mengantarkan sarapan pagi. Lalu sepeti pagi – pagi biasanya, aku sarapan dan meminum Prodemons. Mandi dan selesai mandi, aku mengoleskan krim Prodemons, lalu berangkat. Aku kekantor kali ini dengan mobil Peugeot 406. Memang mobil lama tapi aku suka dan aku sudah memodifikasi mesinnya, dan tampilannya menjadi lebih mewah dengan warna hitam yang mulus dan mengkilat. Lalu aku berangkat. Ya, tanpa panjang lebar aku tancap gas, dan sampai dengan hanya butuh waktu 15 minute. Lalu aku segera menuju pintu masuk lobby utama dan menyuruh petugas memarkirkan mobilku. Lalu aku masuk dan menuju lift ke lantai 7. Setelah sampai dilantai 7, aku menuju ruanganku dan melihat Kurt sedang mengintip melaliu celah pintu diruangan manager keuangan alias ruangan Lena. “Kurt?” Tanyaku penasaran.
“Natalie, hey.” Kurt terlihat panik.
“Apa yang kau lakukan? Mengintip?”
“Sssttt…” Kurt meletakan telunjuk kanannya kebibirnya. Lalu aku melihat, Lena sedang duduk dipangkuan Delano, dan terlihat seperti sedang memberi nafas buatan, entah apa maksudnya, Kurt sepertinya terpukul akan peristiwa itu, terlihat dari wajahnya. Kalau tidak salah, hal seperti itu tertulis dibuku yang kubaca kemarin, namanya apa ya?
“Kurt kenapa kau sedih?”
“Natalie, aku tahu kau vampire yang bisa dipercaya, kurasa aku ketahuan kalau aku menyukai Lena, tapi kau jangan bilang siapa – siapa ya, janji?” Kata Kurt dengan penuh keseriusan serta keprihatinan.
“Whoa, aku tidak mengerti, tapi baiklah, kenapa kau tidak masuk? Dan kenapa kau tidak bilang saja sama Lena?” Tanyaku.
“Tidak semudah itu Natalie, Lena sudah punya Delano.” Kata Kurt dengan penuh keprihatinan.
“Kau singkirkan saja Delano, kau harus menang bersaing.” Kataku menyemangati, mungkin aku melakukan hal yang benar, kata buku yang kubaca, menyemangati adalah hal yang benar bila teman kita sedih.
“Mudah bagimu mengatakannya, tapi, aku tidak percaya diri.”
“Kau ini, payah sekali, ayo masuk dan menyatakan perasaanmu.” Kataku sambil menarik tangannya.
“Hey, mereka sedang pacaran, jangan diganggu.” Kurt menghetikan langkahku.
“Persetan dengan pacaran, mereka kan belum menikah, nah menurut buku yang kubaca, hal itu sah – sah saja.” Kataku tidak mau kalah.
“Maksudmu bersaing? Kau tahu, Delano itu tinggi, berambut merah, tampan, dan gagah, mana mungkin aku menang darinya. Sedangkan aku?” Kurt mulai pesimis.
“Pendek, dengan tinggi hanya 169.5 cm, huh tinggimu tanggung sekali, berambut hitam, ceroboh dan selalu ditindas mereka? Aku membaca pikiranmu Kurt, kau pikir hal itu dapat menghalangimu dan kau tidak cocok dengan Lena? Kau salah besar.” Kataku meyakinkan Kurt. Tapi sepertinya Kurt malah semakin merasa pendek melihatku memakai heels yang tingginya hanya 5cm.
“Kau ini, memangnya bisa memberiku saran tentang cinta?” Tanya Kurt.
“Tidak, tapi psikolog bisa.” Kataku polos.
“Kau ini tidak mengerti, cinta butuh pengorbanan, harus ada yang mengalah satu sama lain agar yang lain bahagia.” Kata Kurt, tapi kali ini. gaya bicaranya seperti penyair.
“Menyedihkan sekali, untuk apa berkorban kalau untuk disakiti? Seperti kata pepatah, cinta itu lebih kejam dari pembunuhan.” Tanggapku.
“Percuma, kau tidak mengerti.”
“Hah, kau ini, hanya takut bersaing dengan Delano, mengaku saja kau.” Setelah mendengar perkataanku, Kurt menganggukan kepalanya. Dasar. Tanpa mempedulikannya, aku pergi keruanganku. Lalu aku melihat Belinda dibelai – belai rambutnya oleh Kevin, seperti anjing saja, tapi hal ini juga ada dibuku. Hmm?????
“Hmm.” Kataku sambil bertolak pinggang.
“Natalie, okay, aku akan pergi.” Kata Kevin, lalu Kevin pergi. Aku duduk, dan Belinda hanya berdandan. Aku masih bingung, bukankah membelai rambut itu, hal dilakukan pada anjing atau kucing peliharaan? Lalu aku mulai mengecek komputer, tentang perkembangan kriminalitas, bulan ini aku belum menangkap vampire kriminal kecuali Patricio dan Claudio. Hmm, memang akhir – akhir ini London aman. Mungkin bulan ini aku harus istirahat dan menahan nafsu membunuh. “Apa ada laporan kejahatan semisal perampokan atau apa?” Tanyaku pada Belinda.
“Tidak, aku justru heran, London akhir – akhir ini aman. Kau sudah mendengar isu – isu terbaru?” Tanya Belinda. Aku hanya menggelengkan kepala.
“Wolfgang Nara, dan Giovanni Diaz kembali, serta pemberontak lainnya.” Kata Belinda.
Aku hanya diam, Giovanni Diaz, untung namanya bukan Giovanni Clyde, pasti kita sudah semarga. Hmm, kalau tidak salah, ia pemberontak yang selamat dan mengerikan. Wolfgang dan Elena Nara, Helena Clearwater, Megan Diaz, dan Giovanni Diaz, mereka yang masih aktif. Oh ya, satu lagi Alessandra Wynn, dia juga. Dan setahuku yang sudah tewas Nikka Campbell, Edmund Silver dan Trisha Venn Silver. Kalau dikurangi Megan, berarti ada 5 vampire. Karena Megan simpang siur kabarnya. Bagaimana ini? Firasatku semakin hari semakin aneh, tidak buruk tidak baik. Apa yang akan kulakukan? Hasrat haus darahku tak sekental biasanya. Bola mataku semakin tajam. Sesuatu akan menimpaku, tapi apa? Apa ada hubungannya dengan kejadian akhir – akhir ini? Tidak ini berbeda, seperti sudah diatur oleh sesuatu. “Natalie? Kau tidak apa – apa?” Tanya Belinda, sepertinya ia khawatir.
“Tidak, aku hanya pusing.”
“By the way, surat lagi untukmu.”
Surat lagi????? Lalu kubuka isinya.
I’m Kidnapper.
Hah? Penculik? Mau menculikku? Canggih sekali dia. Apa ini ancaman? Ditulis dengan tinta merah dikertas ungu? Kenapa tidak dikertas hitam yang lebih keren? Pasti asal menculik, memangnya aku janda apa, warna ungu. Pasangan saja belum punya, tapi ancaman abnormal ini akan kuanggap serius. “Kenapa Natalie, surat dari pemuja rahasiamu ya?” Tanya Belinda.
“Tidak, kenapa kau menuduh begitu?”
“Kau kan berbeda, bila vampire normal aka kegirangan mendapat surat cinta, kalau kau pasti akan kebingungan kan?” Kata Belinda sambil memoles kuku dengan pewarna kuku.
“Hey kau, bukan kok.”
“Oh, keajaiban kalau kau dapat surat cinta, tapi aku suka warna kertasnya, baby purple warna yang bagus.” Kata Belinda santai.
“Eh, surat cinta itu apa?”
“Hah… sudahlah.” Katanya seperti malas menjelaskan. Aku hanya menggaruk kepalaku menandakan bingung. Ya lalu setelah itu, kujalani hidup seperti biasa, memantau keadaan lewat komputer, lalu bergantian jadwal patroli. Aku saja sampai lupa ke bandara untuk mengantar nenek dan Chantal. Sudahlah, toh perjalanan ke Paris semudah membalikan telapak tangan bagiku. Lalu sekitar jam 12.00pm, mama muncul, sepertinya baru kembali dari bandara tentunya mampir – mampir dulu. Lalu saat ia lewat mama meletakan jus darah kemejaku tanpa menyapaku. Mungkin mama masih trauma karena gagal mengagetkanku. Lalu aku meminum jus itu, hmm, yoghurt banana. Enak juga, darahnya segar. Hmm, hari ini aku bosan, toh kalau aku bolos bekerja, tak akan ada yang memarahiku. Mungkin aku harus memulai menego untuk membeli restoran itu? Hmm, aku harus keruangan mama. Lalu aku bangkit dari bangku dan pergi menuju ruangan mama. Begitu sampai, aku mengetuk pintunya dan mama menyuruhku masuk. “Mama, boleh aku minta bantuanmu?” Aku memulai topik pembicaraan. Lalu aku berjalan mendekati mama dan duduk dikursi depan meja kerjanya.
“Okay. Apa?” Jawab mama sambil membaca suatu dokumen.
“Bosan sekali hidupku, malas iya, mati tak mau, hmm, aku ingin bernegoisasi.”
“Dengan pemilik restoran itu? Okay, sendiri saja. Aku percaya kau tidak akan macam – macam.” Lalu mama meletakan berkas itu, melihatku dan menekuk tangannya.
“Okay, aku berangkat dulu, boleh kuminta proposal yang biasa kita lakukan dalam berbisnis?”
“Hmm, ya tentu, ini.” Lalu mama membuka laci dan memberiku seberkas file.
“Terima kasih mama, aku suka bisnis keluarga kita.” Lalu aku menerima file itu dan pergi. Ya, khusus untuk bekerja sama dengan manusia, proposal yang kami buat disesuaikan, dan kami sudah biasa melakukan perdagangan dengan mereka. Hal ini diluar tanggung jawab Katherine, karena ini bisnis murni keluargaku. Department vampire hanya bertanggung jawab atas keamanan dan rumah sakit, selebihnya seperti hotel, spa, mall, dan sebagainya milik keluargaku.
Lalu aku menuju tempat parkir dan mengendarai mobil Peugeot 406 ku dan segera menuju ke restoran tersebut. Tak lama kemudian, aku sampai dan memarkirkan mobil. Kalau aku sudah membeli restoran ini, akan kusediakan parkir VIP dengan tarif parkir yang ganda. Lalu aku masuk dan bertemu manager restorannya. “Hmm, maaf nona, ada apa menemui saya? Apa anda ingin komplain dengan pelayanan yang ada? Oh ya, perkenalkan, saya Kenneth Tan, maneger restoran ini.” Katanya.
“Senang bertemu dengan anda Mr. Tan, saya Natalie Clyde, sebenarnya saya ingin melakukan penawaran kecil.” Kataku. Lalu Kenneth mempersilahkanku duduk.
“Okay, hmm, Miss Clyde, benar? Apa yang bisa saya bantu?” Tanya Kenneth.
“Aku ingin melakukan bisnis akan restoran ini, melihat lokasinya yang strategis dan peminatnya yang banyak, saya ingin membeli restoran anda dengan harga penuh. Tapi anda jangan khawatir, setengah saham restorannya milik anda. Ini proposal yang mungkin anda bisa melihatnya.” Lalu aku menyerahkan proposal.
“Sebesar ini anda akan membayanya nona? Apa tidak terlalu mahal?” Katanya ragu.
“Ya, saya bersungguh – sungguh. Saya akan memodali dan merenovasi menjadi lebih baik, dan gaji pegawai lebih sejahtera, maksudku, mereka akan tetap bekerja dan diberi pelatihan kepribadian agar dapat melayani dengan hasil paling memuaskan, bagaimana?” aku meyakinkan.
“Untungnya anda datang, kebetulan karena usia saya sudah lanjut, dan saya tidak punya penerus yang sesuai, saya ingin menjualnya, untuk hari tua saya, semua saham restoran ini milik anda, menurut saya, dengan harga semahal ini, sangat tepatlah.” Katanya.
“Anda yakin?”
“Ya, saya sudah tua, cukup menikmati dana hari tua saja sudah cukup bagi saya.”
Ya, memang kondisi fisik Kenneth sudah tua dan seharusnya tidak bekerja, kecuali dia vampire yang bisa hidup ratusan tahun.
“Deal?” Aku lalu mengajaknya bersalaman.
“Deal.” Katanya lalu kami bersalaman. Tentu aku sudah melakukan persiapan, aku lalu tepuk tangan 2 kali lalu para pelayanku membawa 3 koper yang berisi uang cash.
“Mr. Tan, aku tidak menggunakan check untuk meyakinkan anda, ini bayarannya, kalau anda kurang yakin, anda bisa membawa uang – uang ini ke bank dan mengecek keasliannya.” Kataku dengan penuh wibawa.
“Saya akan menyiapakan semuanya, berkas – berkas penting restoran ini.” Katanya lalu masuk keruangan. Lucu juga aku melakukan transaksi dikursi para pembeli, ada yang lagi makan lalu ketika koper dibuka langsung bereaksi dan melihat kearah uang, ada yang asik dengan makanannya, dan lain – lain. Tak lama Kenneth kembali lalu kami melakukan transaksi. Setelah itu, Kenneth mengenalkan para pegawainya, mereka ramah, walau aku tetap harus memberi pengajaran soal kepribadian. Kenneth menjelaskan, rata – rata mereka dari desa. Hmm, setelah melakukan perbincangan lalu aku pergi dan kembali ke markas. Aku lalu menjelaskan pada mama tentang transaksi. “Murah sekali kau membelinya.” Komentar mama.
“Huh, manager itu saja sudah sangat bersyukur dan terkaget – kaget dengan harga segitu.” Kataku santai.
“Okay, mungkin kau akan bolos besok. Bina restoran itu, okay? Sebijaksana mungkin, jangan seesaknya kau menaikan harga menu makanannya, ingat konsep, ini bukan restoran bintang 7 yang biasa kau kunjungi.” Ceramah mama. Aku hanya mengangguk, aku sadar harus melihat situasi. Lalu perasaan itu muncul. Sebenarnya saat direstoran tadi, aku merasa ada yang mengawasi, dan sekarang aku merasakan hal itu lagi. Siapa ya? Sudahlah. Setelah aku berbincang – bincang dengan mama, aku lalu pergi makan ke restoran lantai 3. Bukannya aku lapar, tapi aku menuju dapur untunk mengetahui kualitas makanan, maklum ini pertama kalinya aku terjun sendiri dalam bisnis yang biasanya ditemani mama. Lalu aku minta koki andalanku untuk menjelaskan semuanya. Mulai dari tips, cara menyajikan, dan rahasia – rahasia lainnya, karena dari semua restoran vampire yang ada, restoran ini berserta cabangnya yang paling enak. Ada mungkin 2 jam aku belajar semuanya tak terasa aku lapar, lalu aku masak makannanku sendiri. Aku duduk dikursi pengunjung, jadi tidak makan didapur, saat aku makan dengan tenang, tak lama kemudian, teman – temanku datang, ada Belinda, Melinda, Delano, Kurt, Lena, Romeo, dan bahkan Elisa, hah? Elisa? Bukannya di pergi ke, ah sudahlah.
“Hmm, teman – teman, kita harus tenang dan membiarkan Natalie makan dengan tenang.” Kata Melinda.
“Ada apa ini?” Kataku.
“Hmm, mungkin kau sudah tahu pikiran kami.” Kata Romeo, aku baru mendengar suaranya lagi sejak sekian lama.
“Ingin voucher discount direstoran baruku? Okay, hanya kalian yang akan kuberikan.” Kataku santai, mungkin mereka senang.
“HURRAY!!!!” Kata mereka kompak, ada yang saling tos, ada yang ekspresinya senang sekali, dan lainnya. Dasar, urusan makan, cepat sekali tanggapannya, sudah kuduga, mereka tahu dari saluran gossip, saat mama bilang ke Katherine, Kat langsung mengumumkan, ini sudah biasa. Mereka berusaha dapat diskon sebelum membayar dengan harga aslinya yang menguras kantong, padahal kan, harga di restoran baru itu tidak akan extravaganza. Lalu mereka pergi, dan aku melanjutkan makanku, tunggu, ada yang mengawasiku, lalu aku melihat kesekeliling. Mencurigakan sekali. Setelah kulihat jam ditanganku, sudah jam 04.00pm, ya setelah selesai makan aku pulang. Saat mengendarai mobilku, aku menelepon kaki tanganku untuk merenovasi restoran itu besok. Lalu aku pulang. Dalam perjalanan tidak ada yng menggangguku, aku pulang dengan keadaan lancar. Tak lama sampailah dirumah. Lalu aku masuk dan mandi, makan malam, lalu aku main catur dengan mama di gazebo. “Hmm, kau ini pintar sekali, Natalie.” Kata mama yang sedang berfikir keras karena sudah diujung tanduk nasib pion – pion caturnya. “Mama, apa akhir – akhir ini, kau merasa aneh?” Tanyaku padanya.
“Jangan berisik! Hmm, tidak sih.” Mama ingin memajukan pion kuda, tapi tidak jadi, benteng, juga tidak, mau mama memang memajukan apa? Selama permainan kami tentu tidak membaca pikiran. Apa mungkin hanya perasaanku saja, aku tidak punya body guard untuk mengawasiku, atau apapun, tapi sepertinya ada yang melihatku dari jauh. “Kau kenapa memang? Ada yang menggangu?” Tanya mama kemudian.
“Tidak.” Jawabku.
“Sudah, aku menyerah. Berjalan kemanapun, pasti kalah juga.” Kata mama. Aku hanya tersenyum licik. Sudahlah, toh bila kutanya, mama tidak akan menjawab. Lalu aku bangun dari kursi dan kembali kekamar. Aku lelah ingin tidur. Huh, lalu aku masuk kamar dan merebahkan badanku dikasur. Tak lama mataku tertutp dan aku tidur.
Keesokan harinya…
Tak terasa sudah pagi lalu aku bangun. Lalu kudengar suara ketukan pintu seperti biasanya, dan kali ini, Nina yang mengantarkan sarapan. Seperti kegiatan pagi sebelumnya, sarapan, minum vitamin, mandi, melulurkan krim, dan lainnya. Lalu aku melihat jadwal, hari ini tanggal 21, artinya saatnya pergi ke spa untuk luluran, facial, dan mempercantik diri. Aku walaupun sadis, setiap pulang kerumah, selalu mencuci muka, terkadang memakai masker di akhir pekan. Lalu kali ini aku memakai celana jeans ¾, sneakers, dan tank top serta bolero. Lalu aku berangkat, kali ini aku mengendarai Mercedes Benz Tiger. Memang mobil lama, tapi klasik, aku suka. Rata – rata mobil koleksiku mobil tua semua, mobil sport yang kupunya tidak banyak. Ferrari, Lamborghini, Porche, BMW, Mercedes Benz, hmm, beberapa buatan Jepang, entahlah, aku tidak hapal. Hobby, yang kupunya salah satunya mengkoleksi mobil, aku punya museum mobil sendiri, dan montir khusus untuk merawatnya. Tapi sudahlah, lalu aku langsung menuju restoran tersebut. Ya, para pekerjanya sudah siap, arsiteknya juga ada, tapi nanti rancangannya aku sendiri yang membuat. Lalu aku parkir dan menyuruh agar mereka menutupi seluruh bangunan dengan kain, karena kerja manusia dan vampire 2 kali lebih. 2 – 3 hari kutargetkan sudah selesai, mungkin kalau manusia, butuh sebulan lebih. Lalu aku menyuruh mereka mengeluarkan seluruh barang – barang seperti kursi, meja, dan lainnya, untuk dijual, dan hasilnya untuk tambahan bayaran bagi para tukang bangunannya. Lalu mereka mulai mengkerok cat dilantai satu, dan membokar lantai dilantai dua. Lalu aku memberikan gambaranku tentang design restoran yang kuinginkan. Setelah urusanku selesai, aku menuju spa yang tentunya milikku. Entah mengapa, aku sedang tidak bersemangat, seharusnya, saat membunuh Patricio, aku memenggal kepalanya saja. Mungkin aku akan senang dari pada merobek jantung dan ususnya. Lalu sekitar 15 menit aku sampai. Aku lalu memulai treatment dengan memanjakan tubuhku, lalu memanjakan wajahku, dan terakhir perawatan rambut. Sekitar 3 – 4 jam aku selesai. Setelah itu baru kekantor. Bahagianya diriku karena bisa masuk keluar kekantor sesuka hati. Saat berada diruangan, lalu Belinda bertanya padaku, “Dari mana? Spa?” Tanya Belinda. Aku hanya mengaggukkan kepala. Lalu aku melihat hal yang terjadi hari ini dikomputer, lagi – lagi tidak ada yang bisa kuhajar, semua damai dan tentram. Bosan sekali, paling hanya kerusuhan di Evangels, dan perampokan kecil, dan aku malas menanganinya. “Hmm, Natalie, surat lagi.” Kata Belinda sambil menyerahkan lembaran kertas berwarna lembayung??? Kemarin ungu, sekarang lembayung??? Lalu aku membaca isinya yang ditulis dengan tinta hitam.
Dear Natalie
Aku datang lagi, bukan untuk menakutimu, tapi aku selalu mengawasimu, mungkin kau akan terkejut tapi kita akan bertemu. Untuk kedua kalinya aku memberimu surat.
Aku akan datang, menghampirimu, dan menculikmu.
Kidnapper.
Lalu aku melihat kesekitarku. Tidak ada siapa – siapa. “Sebenarnya kau dapat dari mana surat ini?” Aku bertanya pada Belinda.
“Hmm, kutemukan saja didepan rumahku, ada tulisan tolong berikan pada Natalie. Begitu.” Jelas Belinda.
“Hmm, mencurigakan, akan kuperiksa lagi keamanan Jetsetter Residence. Akan kutelepon bagian keamanannya.” Lalu aku segera menelepon bagian keamanan. Dan setelah bertanya pada kepala keamanannya, akhir – akhir ini tidak ada apa – apa dan aman. Lalu kuperintahkan untuk memperketat penjagaan. Setelah menelepon lalu Belinda bertanya padaku, “Memangnya apa isi suratnya?” Tanya Belinda penasaran, lalu aku duduk dan menjawab, “Bukan hal penting, kau tak perlu cemas.”
“Bohong. Iya kan?” Belinda tetap berusaha ingin tahu. Aku diam saja dan mengecek komputerku untuk melihat kemungkinan yang terjadi tentang siapa yang mengancamku.
“Hey, Natalie, coba lihat ini.” Belinda lalu memperlihatkan foto padaku. Aku diam saja dan sepertinya mengenali siapa yang ada difoto itu. “Tampan bukan?” Kata Belinda.
6. Treak or Treat
6. Treat or Trick…
Hmm, dasar Katherine, walaupun idenya memalukan tapi aku suka.
Romantis memang bila adegan ini dilakukan disebuah sinetron.
Ha – ha…
“Okay, semuanya, sudah diatur dan semoga lancar, apa kalian sudah paham? Sallie, Shellie?” Tanya Katherine.
Sallie dan Shellie hanya menganggukan kepala.
“Tapi, Patricio, akan susah bukan? Berbeda dengan Claudio, yang tubuhnya belum sempurna.” Celetuk Lucifer tiba – tiba.
“Maksudmu, Luc?” Tanya mama.
“Mirabella, kau tahu kan, mereka meminum darah werewolf?” Celetuk Lucifer lagi.
“Oh, ya lalu? Hmm, sebentar, perasaanku, kita belum membicarakan hal ini bahwa mereka mendapat kekuatan karena meminum darah dan memakan daging werewolf?” Tanya nenek.
“Azalea, kau ini memang pikun atau apa, tadi kan kita membahasnya?” Kali ini Lucifer mulai panik dan mencoba improvisasi, dan hal itu tidak akan berhasil dimataku.
“Data ini memang menjelaskan bahwa mereka meminum darah dan memakan daging werewolf, tapi belum aku bahas. Kau tahu dari mana? Lucifer?” Katherine juga menanyakan hal ini pada Lucifer dengan penuh kecurigaan.
“Aku yang memberi tahunya.” Kataku spontan.
“Ya, Nathalie yang memberi tahuku tadi.” Lalu Lucifer langsung melampiaskannya padaku.
“Hey, Natalie, bukan Nathalie.” Aku protes.
“Sudahlah, apa rapatnya bisa diselesaikan lebih cepat?” Kata Lucie tiba – tiba, yang sepertinya bosan.
“Ya, okay, dengan ini kunyatakan rapat selesai.” Kata Katherine.
Lalu aku menatap Lucifer dengan tatapan tidak bersahabat. Lalu saat semua keluar, aku menarik Lucifer untuk ikut denganku. Lalu aku mengintrogasinya di lorong kantor.
“Natalie, apa yang ingin kau lakukan?” Tanya Lucifer.
“Luc, kau tahu aku tak bermaksud membelamu, sekarang katakan padaku, mengapa kau mengetahui hal ini.” Aku mengancamnya sambil menarik kerah bajunya dan memojokinya didinding.
“Aku, hmm, aku…”
“Lucifer,” Kataku sambil memelototinya tentunya dengan ekstra kepalan tangan yang sudah siap.
“Natalie tolonglah.” Lucifer memelas.
Aku hanya memelototinya, dan ia mengatakan hal aneh.
“Bukan aku, kumohon, bukan aku, ini ulahnya, vampire itu, yang merasuki pikiranku…”
“Siapa? Ayo katakan siapa!!!”
“Ed… Ed… Ed…”
“Ed? Maksudmu?”
“Edmund, dia…”
“Siapa??!!”
“Trish… Trisha…”
“Siapa mereka??!!”
“Pasangan mengerikan itu… maaf aku…”
Lalu ponselku berdering. Huh…
“HALO???” Jawabku ketus.
“Natalie, kau dimana?” Ternyata Belinda.
“Apa maumu? Kenapa kau selalu menyusahkanku??”
“Eh, aku mengganggumu? Kau harus kembali keruanganmu.” Belinda memberi tahu. Lalu aku tutup ponselku dan berkata pada Lucifer, “Urusan kita belum selesai, camkan itu.”
Lalu kau meninggalkannya dalam keadaan ketakutan, lelaki macam apa dia? Kurasa dia hemofrodit.
Lalu aku segera menuju ruanganku.
Sesampainya diruanganku, aku menghampiri Belinda.
“Ada apa Belinda?”
“Natalie, hmm, ini.” Lalu Belinda menyerahkan sepucuk surat berkertas hitam dan tulisan putih, kukira ini karbon, ternyata bukan.
Jangan kau kira urusan kita belum selesai, ingat itu.
Aku bukan peneror atau ingin menerormu, percayalah, kau sudah lulus ujianku, dan surat ini akan sangat berguna dikemudian hari. Aku tidak peduli kau ingin mencerna perkataanku padamu dengan arti yang seperti apa.
Percayalah. The Swan sangat membantumu dikemudian hari.
Salam,
The Swan.
Oh my fuck!!!
Jadi ia belum puas, apa ia merasa cantik sampai menggunakan kata – kata ‘The Swan’? Tapi memang aneh sih, mungkin memang surat ini akan berguna. Ya sudahlah. Lalu aku meletakan surat ini dilaci mejaku.
“Apa kau membacanya, Belinda Adam?” Tanyaku pada Belinda.
“Tentu tidak, aku mana berani membacanya. Apalagi berurusan denganmu.”
“Bagus. Aku tahu kau mengerti, Belle.” Kataku pada Belinda. Lalu ia hanya tersenyum simpul.
Lalu aku duduk dan berfikir sejenak tentang kejadian yang kualami selama ini. Aku menaikkan kakiku keatas meja. Hmm, mulai dari pernyataan Chantal, yang nyatanya ia bukan vampire, bahkan orang – orang dirumahnya, lalu gadis bernama Savanna. Siapa juga gadis itu? Hmm, kemunculan Xavier tiba – tiba, patut dicurigai, ya aku memang tidak pernah percaya pada siapapun termasuk keluargaku. Dan, aku lupa, apa yang dikatakan Lucifer tentang Edmund dan Trisha, kalau yang dimaksud adalah Edmund Silver dan Trisha Venn Silver, berarti mereka adalah pemberontak berbahaya zaman dahulu, setahuku meraka telah mati, ya,pasangan suami istri gila itu. Hmm, ini semakin aneh dan tak wajar. Lalu aku harus bagaimana? Membunuh mereka semua bukan jalan keluar yang tepat. Mungkin aku memang harus fokus pada rencana gila Katherine.
Lalu tiba – tiba, Sallie mendatangiku. ”Natalie, hmm, bisakah menolongku?”
“Sallie, ada apa?”
“Hmm, aku ingin berkeliling kota London.”
“Shellie mana? Kau ingin memperhitungkan strategi dan titik – titik tempat yang bagus untuk penyerangan?” kataku mulai serius.
“Shellie, dia sedang bersama Katherine, untuk membicarakan sesuatu, hmm, bukan itu tujuanku berkeliling kota.”
“So?”
“Aku hanya ingin membeli beberapa souvenir. Ya sekalian begitu juga tidak apa – apa.”
“Lupakanlah, ajak saja asistenku ini,” lalu aku menunjuk pada wanita disampingku yang kebetulan Belinda yang sedang mengaca dan sedikit berdandan, tepatnya mengoleskan lipstick kebibirnya.
“Eh, aku?” Belinda langsung menengok.
“Ya.” Jawabku, “Sal, kau pergilah dengan gadis itu namanya Belinda.” Lanjutku lagi.
Lalu Belinda berdiri dari kursinya, “Selang bertemu denganmu, Miss. Zee. Aku Belinda, Belinda Adam.” Kata Belinda sambil menujulurkan tangannya.
“Hallo, Miss. Adam. Hmm, Thumbelina.” Kata Sallie, saat mereka berjabat tangan.
“Thumbelina?” Belinda bingung. Lalu mereka melapas jabatan tangan mereka.
“Oh, aha, kau seperti Thumbelina maksudku.” Kata Sallie lagi, kali ini ia tersenyum. Aha-ha, Belinda memang pendek, dan kecil, walaupun masih dalam batasan normal, intinya ia pendek.
Belinda hanya terseyum dalam ekspresi jengkel. “Belinda, ajak dia berkeliling kota, ya kurasa kalian akan cepat akrab.” Celetukku. Lalu mereka pergi entah kemana. Ya hari ini kulalui hari kerjaku seperti biasa, mengadili kasus yang ada, berpatroli, dan sebagainya. Ya hari ini aku di kantor sampai jam 07.00pm. Yang biasanya jam 05.00pm, atau jam 06.00pm paling telat, sekarang sedikit lebih lama. Setelah semua pekerjaanku beres, aku pulang dengan mobil BMW Seri 7 punyaku.
Lalu aku pulang ke Forbidden Hills. Dengan speed sedang aku melaju. Lalu tak lama kemudian, aku sampai dipintu gerbang perumahan ‘Jetsetter Residence’. Lalu satpamnya memperbolehkan aku masuk, lalu aku segera menuju daerah kelas teratas dan terelit di ‘Jetsetter Residence’ tepatnya Forbidden Hills. Kalau melihat London yang sekarang, kata mama sangat berbeda, dulu para vampire masih berceceran tinggalnya, sekarang telah dikelompokan, disini. Untung saat itu, mama membangun perumahan ini. Tak lama aku sampai di rumah terbesar No. 1, yakni rumahku. Di Forbidden Hills hanya terdapat lima rumah.
Lalu melihat mobilku datang, pintu gerbang langsung dibuka dan aku langsung kedepan lobby utama rumahku dan turun dari mobil, dan seperti biasa, aku menyuruh pelayanku untuk memarkirkan mobilku. “Nyonya Muda. Ini ada teman anda menunggu diruang tamu anda.” Kata Fiona. Ya dirumah ini, aku, mama dan nenek mempunyai ruang tamu yang berbeda.
“Siapa?”
“Miss Adam, dan ia ditemani Nina saat ini.” Terang Fiona lagi.
“Terima kasih Fiona. Huh…”
Lalu aku menuju ruang tamu. Pasti dia akan menangis tidak jelas lagi, aku sudah capek dan mungkin menyesal punya kenalan seperti dia.
“Nyonya, ini teman anda, hmm, saya tinggal dulu ya.” Kata Nina, dan kulihat minuman Belinda sudah habis, dan dipinggir bibirnya masih ada bekas sisa minumannya, hmm, berarti ia sedang panik.
“Belle? Ada apa?” Tanyaku.
Lalu Belinda berbalik badan dan menangis, lalu ia memelukku. Tetapi aku tidak membalas memeluknya, menurutk itu tidak perlu dan tidak penting.
“Kevin, dia…” Responya sambil menangis.
“Mati? Sudahlah, itu takdir.” Kataku asal tebak tanpa membaca pikiran karena pasti aku akan pusing mendengarnya.
“Bukan, dia…”
“Terluka, cacat, teramputasi? Atau jatuh miskin? Huh nasib itu namanya.”
“Ah, kau ini kejam sekali, dia selingkuh.”
“Oh, itu istilah tenar menyeleweng ya?”
“Huh, kau ini, ya, itu maksudku.”
“Huh, karena minumanmu sudah habis, ayolah kekamarku.” Kataku untuk pertama kalinya mengajak teman kantor ke kamarku. Lalu Belinda melepasku, dan segera menuju kamarku, jujur sebenarnya aku tidak sudi mengajaknya kekamarku, tetapi karena aku sudah lelah, ya mau bagaimana lagi, diperjalanan kekamarku, ia hanya mengusap air matanya. Lalu akhirnya kami sampai dikamar. “Wow, look at you room, it’s bigger than your guess room.” Katanya dengan heboh. Lalu ia melihat – lihat. Sudah kuduga, dia akan norak dan berlebihan, seharusnya memang tidak kuajak kesini. “Kamar mandimu bahkan lebih besar dari ruang tamumu tadi, dan lebih besar dari kamarku. Pasti sangat nyaman mandi disini dengan ‘Jacuzzi’ milikmu. Hmm, nuansa kalsik nan gothic, dipadukan dengan warna hitam, merah dan sedikit ungu, hmm, abu – abu juga, ini luar biasa.” Kata Belinda lagi.
“Sayangnya hal itu tak akan kubiarkan, mama dan nenek saja tidak boleh berendam dibenda itu, apalagi kau, ayo duduk sini.” Lalu kupersilahkan Belinda duduk di sofa depan tempat tidurku. “Jadi, kau kenapa?” Aku mulai bertanya.
“Hmm, pertama, aku benar – benar menginginkan tempat tidurmu yang king size, hmm, pasti nyaman tidur disitu,”
Lalu aku hanya menatap Belinda, dengan tampang menakutkan menandakan agar ia serius.
“Oh, okay, aku melihat Kevin… hiks, hiks, mencium wanita lain… hiks, heu – heu…” Belinda mulai mengis lagi.
“Tunggu, maksudmu apa? Aku tak mengerti, mencium gadis lain, maksudnya ia kanibal menghisap darah orang lain begitu?”
“Oh, Natalie, kau ini, maksudku ketika kedua pasangan pria dan wanita, hmm, bibirnya bertemu satu sama lain, apa kau paham?”
“Entahlah, anggap saja paham walau aku tidak megerti. Begini, kalau kau sakit hati, lebih baik kau lampiaskan kekesalanmu dengan membunuhnya, gampang kan?”
“Gila, aku tidak mau seperti itu. Itu jahat namanya.”
“Hah? Membunuh adalah hal yang mudah. Tapi aku mendapatkan point penting kenapa kau sebegitu sedihnya.”
“Eh, apa?”
“Hmm, alasan kau terlihat lebih gemuk saat ini, kau, hmm, hamil anaknya Kevin?” Tanyaku dengan wajah tak berdosa.
“Hey Natalie! Kau kira aku wanita seperti apa?” Belinda lupa akan tangisannya dan malah emosi, apa kata – kataku tadi menyinggung?
“Tunggu, aku hanya meniru kata – kata Koran tadi pagi. Kebetulan, saat aku sarapan, artikel korannya tentang ‘Pernikahan Hasil Kecelakaan Dikalangan Remaja Vampire’, jadi apa kau seperti itu?” Tanyaku dengan penuh harapan. Entahlah, kenapa aku harus senang bila Belinda terkena musibah. Tapi jujur itu hiburan untukku.
“Kenapa aku berharap seperti itu, hmm, ya aku tidak begitu, kau pikir aku wanita seperti apa? Aku ini bermoral.”
“Lalu, kau memang terlihat lebih gemuk akhir – akhir ini.”
“Aku makan 5 kali sehari, yang biasanya 4 kali, jadi 5.”
“Oh, wajarlah, hmm, tinggi 164.5, berat ya 50kg, hmm ya memang pantas lah kalu dipanggil…”
“Dipanggil apa?”
“Boncel, eh, maksudku, Thumbelina, yang lebih keren lah.”
“Sialan kau.”
“Tapi kata Elisa, di Indonesia segitu ideal lho.”
“Huh, kau ini. Boleh ya aku menginap malam ini.”
“Tidak.”
“Eh kenapa?”
“Karena kau telah bilang ‘sialan’ padaku, dan kau tak boleh menyicipi tempat tidurku, sana pulang!!!” Nada yang kupakai berubah galak.
“Eh, tapi…”
aku hanya menatapnya dengan pandangn tidak bersahabat. Lalu akhirnya ia pulang dengan sendirinya. Lagi pula aku ingin istirahat, karena besok rencana Katherine saat rapat sudah mulai terlaksana. Lalu aku mengganti pakaianku dengan piyama.
Hmm semoga, aku tidak bermimpi aneh lagi…
Keesokan harinya…
TOK-TOK TOK. Aku mendengar ada yang mengetuk pintu. “Nyonya Muda, ini sudah pagi.” Terdengar suara Fiona membangunkanku. Lalu aku mendengar pelayanku itu masuk, aku hanya berpura – pura tidak mendengar. Lalu Fiona menaru sarapanku dimeja dekat tempat tidurku.
“Permisi, Nyonya, maaf, waktunya sarapan.” Kata Fiona lagi.
“Huam… kau ini, mengganggu saja.” Lalu aku bangun dan mulai mengucek mataku.
Lalu Fiona hanya berkata, “Permisi Nyonya,” sambil membungkuk dan hanya pergi. Huh, lalu aku memakan makananku. Hmm, sarapan kali ini, lasagna, dan darah susu. Lalu aku segera menghabiskan sarapanku, lalu mandi dan segera bersiap ke lokasi yang dirapatkan kemarin. Saat aku keluar rumah, moge Harley Davidson milikku sudah siap didepan pintu. Ya kali ini aku naik moge. Lalu aku segera menuju daerah perhutanan England. Didekat sana ada cafĂ© ‘Vegabella; Coffee and Milky’ milik Katherine.
Lalu aku melihat, Sallie dan Shellie, serta Katherine, tanpa si pecundang Lucifer. Huh, aku sangat curiga, aku sudah memperhintungkan hal ini. Hmm, tanpa panjang lebar, aku langsung masuk. “Natalie, hey, kau ini lama sekali datangnya?” Sambut Katherine. Aku hanya tersenyum dan langsung duduk.
Lalu Katherine menjelaskan posisi masing – masing. Seperti biasa, pasti aku lokasinya selalu ditempatkan ditempat berbahaya, barisan terdepan. Lalu aku melihat sekeliling, kupikir yang bekerja hanya wanita, ternyata Katherine juga membawa pasukan patroli. Baguslah, ada Delano, Kurt, dan beberapa pria lain, hebatnya wanitanya hanya kami berempat. Lalu aku dan tiga pasukan pria yang disiapkan untukku berangkat ke hutan, Romeo, Delano dan Kurt. Dan aku mengambil posisi yang bagus untuk mengintai, kabarnya memang, Ernesto Bersaudara itu akan melintas disini, untuk menghindari daerah perkotaan. Aku memanjat pohon besar dan duduk ditangkainya yang tebal, untungnya kali ini aku memakai celana jeans dan sneakers, jadi memanjat lebih mudah. “Natalie, semuanya sudah diposisi masing – masingkah?” Tanya Katherine melalui wireless.
“Ya, semuanya beres. Sallie sudah memasang jebakannya?” Jawabku.
“Semua beres.” Tanggapnya.
Lalu aku hanya menunggu dan waspada. Dari pada memikirkan hal yang tidak – tidak, aku kembali memikirkan kejadian aneh belakangan ini. Hmm, aku berfikir sejenak, sikap keluargaku memang aneh. Huh, ditambah Belinda yang membuat semuanya pusing, aku benar – benar hatus mencari partner baru. Lalu aku merasakan hawa lain, apa mereka datang, whuzz, seperti ada yang lewat, lalu aku langsung melaporkan kejadian ini pada Katherine, “Apa? Okay, kita akan bersiap.” Katherine sepertinya kaget, wajar saja sih, aku saja kaget. Lalu aku dan Delano, tentu yang berbadan besar yang kuajak, menyusul kearah benda yang bergerak cepat tadi, sementara Kurt dan Romeo tetap diposisi. Lalu kami segera berlari cepat dan menemukan Claudio terperangkap didalam jaring laba – laba yang dipersiapkan Katherine. Ya idenya adalah, jaring laba – laba yang entah dari mana Katherine dapatkan dipasang dibeberapa titik yang memungkinkan mereka lewat, lalu kami berjaga hanya untuk mengelabui mereka, dan berhasil, yang jelas Sallie dan Shellie sitangan kreatif yang mengerjakan ini. Dan tentu jarring itu lengketnya luar biasa mungkin Katherine menggunakan lem super atau mungkin ada campuran air liur? Bukan urusanku yang jelas. “Huh, ternyata kerja kami tidak sia – sia, ia kan Shellie?” Tanya Sallie. Shellie hanya tersenyum. Aneh, kemana Patricio? Kenapa Claudio saja, tunggu, kalau tidak salah, aku merasakan hawa yang berbeda, karena aneh sekali kalau mereka tertangkap dengan mudah, ada 3 vampire. Bukan, 4, 4 vampire. Kalau Claudio tertangkap berarti tinggal 3 orang, “Delano, ikut aku.” Perimtahku pada Delano, lalu Delano mengikutiku. “Kita mau kemana?” Tanya Delano.
“Apa kau tidak merasa aneh, Delano Fernando Mustang?”
“Wow, kau hafal dengan namaku, well, ya, memang, aneh rasanya kalau semudah ini.” Kata Delano.
“Aku tahu kau itu pemikir yang pintar, but, sayangnya kau hanya well, tukang berduaan dengan Lena.” Kataku.
“Hah? Tukang berduaan? Bahasamu aneh, hanya megucapkan tukang pacaran saja susah.”
“Eh, pa…, apa?”
“Sudahlah, look, apa itu?” Delano lalu berhenti. Aku melihat ada 3 vampire, hmm, Patricio seperti sedang berbicara dengan seseorang, tunggu siapa itu? Ia membelakangi pengelihatanku dengan melihat punggungnya, badannya besar, sepertinya aku mengenalinya, hmm, atau jangan – jangan dia…
“Natalie, mereka bergerak!” Seru Delano spontan, lalu mereka entah pergi karena merasakan hawa kami atau apa? Lalu kami mengikuti lagi. Lalu mereka berpencar, Patricio sendiri, dan 2 yang lainnya pergi, “Delano, kau ikuti mereka, suruh Romeo dan Kurt juga, okay? Biar Patricio aku yang tangani.” Perintahku. Lalu kami berpencar setelah Delano mengangguk. Lalu aku mengikuti Patricio, mungkin sekitar 2 menit lah, ia berputar – putar menyita waktuku. Lalu ia berhenti. “Natalie, keluar kau.” Katanya, hawa yang kurasakan berbeda, apa inikah Patricio yang sebenarnya?
“Kau lebih kuat ya? Ernesto?” Tanyaku.
“Well Clyde, kau harus tahu, aku bukan yang kau kira.” Katanya sombong.
“Arrogant sekali kau? Okay, kalau kau kalah, itu hal yang memalukan, dan kau membuang Claudio begitu saja, menyedihkan.”
“Ha, ya, dia sudah tidak berguna lagi, apa kau tahu itu, aku hanya bisa memanfaatkannya disaat – saat terakhir.” Katanya santai.
Lalu gigi taringku meruncing selayaknya vampire, dan kukuku memanjang selayaknya pedang, melihat hal itu, Patricio melakukan hal yang sama. Lalu kami mulai saling menyerang, kuku kami beradu selayaknya pedang samurai. “Apa kau tahu Natalie, aku memberi penghargaan padamu karena berhasil mencopot gigiku, untung bukan gigi taring, tetapi gigi disebelah gigi taringku.” Celetuknya.
“Hah, so what?”
“Kalau kau merontokan gigiku, kau dapat voucher diskon.”
“Apa peduliku, aku sudah memiliki semuanya, hanya tinggal membunuhmu.”
Lalu kami saling menyerang lagi, aku menguncinya di pohon dan berniat menusuknya, tapi ia berhasil melepas pengkuncianku, lalu secara spontan aku salto dan mengambil kuda – kuda. Lalu ia mulai menyerang lagi dan kali ini, ia mulai menendang, lalu aku menangkisnya, dan ia berhasil mengunciku kepohon. “Kau mengerikan, ha-ha, bagaimana kalau kau memberikan luka gores kewajahmu?” Ejeknya, lalu ia berusaha menggores wajah mulusku ini. “Tidak… ada… yang boleh… me…rusak… WAJAHKU!!!!” Lalu aku memberontak dan menendang perutnya hingga terpental dan ia terpelanting kepohon besar. “AAA…. Kau wanita gila.” Katanya merintih dan berusaha bagun. Lalu aku menghampirinya dan menginjak lehernya. “Kau pria tak berdaya, jelek.” Ejekku.
“Jadi kau ingin membalas ejekanku, huh.” Katanya tetap sombong, lalu aku jongkok, dan berkata, “Bagaimana kalau aku membunuhmu?”
“Hasta la Vista, Baby… Arghh… AAAAA….” Ia berteriak karena aku menusuk jantungnya dengan kukuku, lalu aku menggerakan tanganku kebawah dan merobek jantungnya sampai keusus 12 jari. Dan Patricio tewas oleh tanganku. “Huh, selesai. Seharusnya itu ucapanku, Hasta la Vista, BABY!!!” Lalu aku pergi dan menyuruh Romeo untuk membawa jasadnya, tentu dengan menghubunginya dengan wireless. Dan lalu aku pulang dan membersihkan diri. Aku sudah tidak peduli akan itu semua, dan dengan wajah tanpa dosa aku sudah sampai di rumah dengan bahagia. Lalu aku meminta Fiona untuk melakukan manicure and pedicure agar kukuku tetap bersih tanpa noda darah, lalu aku melakukannya dipinggiran kolam renang mewah di halaman belakang rumahku, ya, Fiona ahli dalam hal ini. Lalu setelah bersiap, aku mulai bersantai dan istirahat.
Keesokan harinya aku ke markas dan menuju lantai 2 dibagian pengadilan. “Selamat datang, Nyonya Muda.” Sambut resepsionisnya, dan seperti biasa aku lupa namanya, walaupun ia memakai tanda pengenal, aku malas membacanya, lalu aku menuju ke pengadilan. “Natalie, kau datang, hmm, Claudio akan dipindahkan ke Evangels Jail.” Kata Lucifer menyambut kedatanganku.
“Evil Angels Jail. Singkatan dari Evangels Jail. Aku suka nama itu.” Kataku, ya, karena aku yang memberi nama Evangels tersebut.
Lalu aku masuk kepengadilan dan duduk sebagai saksi. Lalu kulewati sidang membosankan ini. Dan sampai akhirnya aku berbicara, dan aku hanya mengatakan hal normal, bahwa akulah membunuh Patricio, dan aku hanya mengaatakan pada Caludio bahwa, Patricio hanya memanfaatkanya, tapi ia tidak pecaya, dan sempat memerontak. Ia malah meminta agar aku dibawa ke penjara Evangels. “Dasar kau bodoh, Claudio, tidak ada yang berani memenjarakanku, dan aku bebas membunuh.” Kataku. Akhinya, Claudio hanya diam, lalu setelah 1 jam 30 menit yang membosankan kulewati dan aku tidak mengantarkan Claudio ke Evangels. Evangels Jail terletak di pulau buatan terpencil ditengah laut. Jadi memang kemungkinan untuk kabur hanya 5%. Kecuali ada makhluk bersayap yang menolong. Setelah itu, aku menuju Natalie Restaurant dilantai 3. Ya, restoran itu bernama ‘Natalie’ didepannya karena memang design dekorasinya, makanannya, cara penyadiannya, semuanya adalah sesuai seleraku. Mewah dan berkelas. Lalu mama dan nenek, serta para vampire Swiss makan disitu. Lalu aku memesan udang bakar darah dan minumnya darah segar. Appetizer kami adalah roti sandwich yang ringan agar kami tidak kenyang, lalu untuk dessert, aku memesan pudding blueberry. Setelah semuanya berjalan lancar Lucifer berencana kembali ke Swiss, sedangkan si kembar Sallie dan Shellie, melakukan pertukaran pegawai dan bekerja disini. Entahlah siapa yang dikorbankan ke Swiss. Lalu setelah makan, Lucifer berangkat ke bandara tanpa kuantar, ya datang tanpa dijemput, pulang tak diantar, huh, malas sekali mengantar jemputnya, untuk vampire sekelas Lucifer. Lalu karena jenuh, aku berjalan – jalan dengan mobilku, BMW Seri 7. Mobil hitamku ini sanagat kurawat karena menurutku ini mobil mewah. Lalu aku mengajak Shellie untuk ikut denganku, ya jalan – jalan tidak masalah kan?
Lalu ditengah perjalanan, Shellie bertanya hal yang menurutku aneh.
“Natalie, apa aku boleh bertanya?” Tanya Shellie. Aku hanya mengagguk.
“Apa vampire sepertimu punya sahabat?”
“Apa maksudmu, Shellie?”
“Ya, Belinda, apa dia sahabatmu?”
“Well, katanya dia memang menganggapku begitu, tapi aku tidak.”
“Why?”
“Shellie, Belinda bilang padaku, sahabat adalah yang dimana selalu mengerti, memaafkan, dan menemani serta mendukung bagaimanapun keadaan kita, dan berbagi curahan hati.” Jelasku, lalu aku menghela nafas, “Tapi, ridak ada yang namanya sahabat menurutku.” Lanjutku.
“Why?”
“First, tidak ada jaminan untuk selalu saling setia, dan, tidak akan menjilat ludahnya sendiri, hmm, second, janganlah terlalu percaya, terlalu terbuka akan sesuatu, bila menceritakan masalah, karena, tidak ada jaminan untuk menyumpal mulutnya bila ia keceplosan. Apa kau puas dengan jawabanku, Shellie?” Shellie, hanya tersenyum mendengar jawabanku. Ia seperi berfikir, tapi pikirannya kosong. Lalu saat melewati sebuah taman, aku melihat Belinda sedang bermesraan dengan Kevin, bukannya mereka sedang bertengkar?
“Natalie, look, bukankah, itu Belinda?” Tanya Shellie.
“Ya, itu buktinya, ia malah bolos bekerja padahal waktu istirahat telah habis, dan ia menjilat ludahnya sendiri.”
“Eh? Tapi kau berkeluyuran denganku?”
“Tidak ada yang mengaturku akan ini. Dan aku tidak akan dihukum akan ini, hmm, kau telepon Katherine, lewat via video call, perlihatkan hal ini.” Perintahku, lalu Shellie segera melakukan hal yang kusuruh, dan Katherine meliahat hal ini, dan saat kami kembali ke kantor, aku langsung melihat memberikan surat peringatan pada Belinda dan Kevin. Ya, Belinda yang menyadari mobilku langsung melarikan diri ke kantor bersama Kevin. Setelah keluar dari ruangan Katherine, Belinda langsung menghampiriku. “Jahatnya kau, jadi ini arti persahabatan kita? Kenapa kau mengadukanku?” Protes Belinda.
“Apa peduliku? Asal kau tahu, kau menjilat ludahmu sendiri saat kau bilang makna sahabat, akhir – akhir ini, kau tidak menemaniku berpatroli, kau hanya bermesraan saja, dan aku tidak pernah menganggapmu sahabat, Adam.”
“Hey, Natalie, kau ini, apa kau tidak pernah menikmati masa pacaran? Aku kasihan padamu yang tidak punya pacar.”
“Pacaran? Pacar? Huh, kau mau kubunuh?” Lalu kukuku memajang. Dan Belinda lalu diam dan berlutut, “Maaf.” Katanya. Lalu aku diam dan pergi, dasar wanita memalukan. Lalu aku berjalan pulang, memikirkan kata – kata Belinda. Lalu tanpa sadar aku ngebut dalam membawa mobil, dan mengerem mendadak dilampu merah. Lalu hujan turun. TOK- TOK- TOK. Ada yang mengetu jendela mobilku.
“Xavier?” Aku kaget dan membuka kunci pintu. Lalu ia masuk.
“Kau ini, hampir menerobos lampu merah dan hampir mati.” Katanya.
“Apa pedulimu dan urusanmu?”
“Menurutmu? Kudengar kau membunuh Patricio?”
“Ya, tapi saat itu…” Lalu aku teringat peristiwa saat Patricio tewas, seperti ada yang mengawasiku dan memberiku tepuk tangan.
“Saat itu apa?” Xavier curiga.
“Tidak. Sepertinya ada yang mengawasiku.” Lalu lampu merah berubah menjadi hijau dan aku kemudian mengijak gas. “Pelan – pelan.” Katanya.
“Huh, lalu apa perlunya denganmu, apa kau mau berbaik hati mengantarkan aku keayahmu dan membiarkanku membunuhnya?”
“Hey, aku dipihak kalian, sebenarnya aku tidak tahu dimana ayahku.”
“Walau kau dipihak kami, tapi keluargamu itu, daftar buronan.” Kataku ketus. Anehnya, dia hanya terseyum. Lalu aku lupa akan tujuanku dan menjadi berkeliling London, aku diam saja, dan Xavier sepertinya menikmati perjalanan, lalu ia membaca majalah yang entah dari mana dia dapatkan, dan itu berlangsung sampai malam.
“Xavier, sebenarnya kau mau kemana?” Tanyaku.
“Haha, entahlah, turunkan aku disana saja.” Katanya sambil menunju kearah tortoar. Lalu aku segera minggir.
“Huh, sudah. Okay, sampai jumpa.” Kataku.
“Hati – hati lain kali, Natalie.”
“Ya, tak usah menghawatirkanku, aku bukan anak kecil, you know?”
“Hmm, mungkin kau bisa pergi ke Evangels, kau tahu, koreklah info dari Claudio, ya kurasa kau mengerti caranya, sampai nanti.” Lalu ia turun dari mobil dan pergi begitu saja.
“Hey, Xavier… Huh, percuma aku berbicara, dia tidak akan mendengar.” Gerutuku.
Hmm, Evangels, okay, lalu kau menelepon Nina agar bisa menyiapkan kapal kesana, tentunya bukan kapal pesiarku, terlalu bagus kalau untuk mengunjungi penjara.
Hmm, dasar Katherine, walaupun idenya memalukan tapi aku suka.
Romantis memang bila adegan ini dilakukan disebuah sinetron.
Ha – ha…
“Okay, semuanya, sudah diatur dan semoga lancar, apa kalian sudah paham? Sallie, Shellie?” Tanya Katherine.
Sallie dan Shellie hanya menganggukan kepala.
“Tapi, Patricio, akan susah bukan? Berbeda dengan Claudio, yang tubuhnya belum sempurna.” Celetuk Lucifer tiba – tiba.
“Maksudmu, Luc?” Tanya mama.
“Mirabella, kau tahu kan, mereka meminum darah werewolf?” Celetuk Lucifer lagi.
“Oh, ya lalu? Hmm, sebentar, perasaanku, kita belum membicarakan hal ini bahwa mereka mendapat kekuatan karena meminum darah dan memakan daging werewolf?” Tanya nenek.
“Azalea, kau ini memang pikun atau apa, tadi kan kita membahasnya?” Kali ini Lucifer mulai panik dan mencoba improvisasi, dan hal itu tidak akan berhasil dimataku.
“Data ini memang menjelaskan bahwa mereka meminum darah dan memakan daging werewolf, tapi belum aku bahas. Kau tahu dari mana? Lucifer?” Katherine juga menanyakan hal ini pada Lucifer dengan penuh kecurigaan.
“Aku yang memberi tahunya.” Kataku spontan.
“Ya, Nathalie yang memberi tahuku tadi.” Lalu Lucifer langsung melampiaskannya padaku.
“Hey, Natalie, bukan Nathalie.” Aku protes.
“Sudahlah, apa rapatnya bisa diselesaikan lebih cepat?” Kata Lucie tiba – tiba, yang sepertinya bosan.
“Ya, okay, dengan ini kunyatakan rapat selesai.” Kata Katherine.
Lalu aku menatap Lucifer dengan tatapan tidak bersahabat. Lalu saat semua keluar, aku menarik Lucifer untuk ikut denganku. Lalu aku mengintrogasinya di lorong kantor.
“Natalie, apa yang ingin kau lakukan?” Tanya Lucifer.
“Luc, kau tahu aku tak bermaksud membelamu, sekarang katakan padaku, mengapa kau mengetahui hal ini.” Aku mengancamnya sambil menarik kerah bajunya dan memojokinya didinding.
“Aku, hmm, aku…”
“Lucifer,” Kataku sambil memelototinya tentunya dengan ekstra kepalan tangan yang sudah siap.
“Natalie tolonglah.” Lucifer memelas.
Aku hanya memelototinya, dan ia mengatakan hal aneh.
“Bukan aku, kumohon, bukan aku, ini ulahnya, vampire itu, yang merasuki pikiranku…”
“Siapa? Ayo katakan siapa!!!”
“Ed… Ed… Ed…”
“Ed? Maksudmu?”
“Edmund, dia…”
“Siapa??!!”
“Trish… Trisha…”
“Siapa mereka??!!”
“Pasangan mengerikan itu… maaf aku…”
Lalu ponselku berdering. Huh…
“HALO???” Jawabku ketus.
“Natalie, kau dimana?” Ternyata Belinda.
“Apa maumu? Kenapa kau selalu menyusahkanku??”
“Eh, aku mengganggumu? Kau harus kembali keruanganmu.” Belinda memberi tahu. Lalu aku tutup ponselku dan berkata pada Lucifer, “Urusan kita belum selesai, camkan itu.”
Lalu kau meninggalkannya dalam keadaan ketakutan, lelaki macam apa dia? Kurasa dia hemofrodit.
Lalu aku segera menuju ruanganku.
Sesampainya diruanganku, aku menghampiri Belinda.
“Ada apa Belinda?”
“Natalie, hmm, ini.” Lalu Belinda menyerahkan sepucuk surat berkertas hitam dan tulisan putih, kukira ini karbon, ternyata bukan.
Jangan kau kira urusan kita belum selesai, ingat itu.
Aku bukan peneror atau ingin menerormu, percayalah, kau sudah lulus ujianku, dan surat ini akan sangat berguna dikemudian hari. Aku tidak peduli kau ingin mencerna perkataanku padamu dengan arti yang seperti apa.
Percayalah. The Swan sangat membantumu dikemudian hari.
Salam,
The Swan.
Oh my fuck!!!
Jadi ia belum puas, apa ia merasa cantik sampai menggunakan kata – kata ‘The Swan’? Tapi memang aneh sih, mungkin memang surat ini akan berguna. Ya sudahlah. Lalu aku meletakan surat ini dilaci mejaku.
“Apa kau membacanya, Belinda Adam?” Tanyaku pada Belinda.
“Tentu tidak, aku mana berani membacanya. Apalagi berurusan denganmu.”
“Bagus. Aku tahu kau mengerti, Belle.” Kataku pada Belinda. Lalu ia hanya tersenyum simpul.
Lalu aku duduk dan berfikir sejenak tentang kejadian yang kualami selama ini. Aku menaikkan kakiku keatas meja. Hmm, mulai dari pernyataan Chantal, yang nyatanya ia bukan vampire, bahkan orang – orang dirumahnya, lalu gadis bernama Savanna. Siapa juga gadis itu? Hmm, kemunculan Xavier tiba – tiba, patut dicurigai, ya aku memang tidak pernah percaya pada siapapun termasuk keluargaku. Dan, aku lupa, apa yang dikatakan Lucifer tentang Edmund dan Trisha, kalau yang dimaksud adalah Edmund Silver dan Trisha Venn Silver, berarti mereka adalah pemberontak berbahaya zaman dahulu, setahuku meraka telah mati, ya,pasangan suami istri gila itu. Hmm, ini semakin aneh dan tak wajar. Lalu aku harus bagaimana? Membunuh mereka semua bukan jalan keluar yang tepat. Mungkin aku memang harus fokus pada rencana gila Katherine.
Lalu tiba – tiba, Sallie mendatangiku. ”Natalie, hmm, bisakah menolongku?”
“Sallie, ada apa?”
“Hmm, aku ingin berkeliling kota London.”
“Shellie mana? Kau ingin memperhitungkan strategi dan titik – titik tempat yang bagus untuk penyerangan?” kataku mulai serius.
“Shellie, dia sedang bersama Katherine, untuk membicarakan sesuatu, hmm, bukan itu tujuanku berkeliling kota.”
“So?”
“Aku hanya ingin membeli beberapa souvenir. Ya sekalian begitu juga tidak apa – apa.”
“Lupakanlah, ajak saja asistenku ini,” lalu aku menunjuk pada wanita disampingku yang kebetulan Belinda yang sedang mengaca dan sedikit berdandan, tepatnya mengoleskan lipstick kebibirnya.
“Eh, aku?” Belinda langsung menengok.
“Ya.” Jawabku, “Sal, kau pergilah dengan gadis itu namanya Belinda.” Lanjutku lagi.
Lalu Belinda berdiri dari kursinya, “Selang bertemu denganmu, Miss. Zee. Aku Belinda, Belinda Adam.” Kata Belinda sambil menujulurkan tangannya.
“Hallo, Miss. Adam. Hmm, Thumbelina.” Kata Sallie, saat mereka berjabat tangan.
“Thumbelina?” Belinda bingung. Lalu mereka melapas jabatan tangan mereka.
“Oh, aha, kau seperti Thumbelina maksudku.” Kata Sallie lagi, kali ini ia tersenyum. Aha-ha, Belinda memang pendek, dan kecil, walaupun masih dalam batasan normal, intinya ia pendek.
Belinda hanya terseyum dalam ekspresi jengkel. “Belinda, ajak dia berkeliling kota, ya kurasa kalian akan cepat akrab.” Celetukku. Lalu mereka pergi entah kemana. Ya hari ini kulalui hari kerjaku seperti biasa, mengadili kasus yang ada, berpatroli, dan sebagainya. Ya hari ini aku di kantor sampai jam 07.00pm. Yang biasanya jam 05.00pm, atau jam 06.00pm paling telat, sekarang sedikit lebih lama. Setelah semua pekerjaanku beres, aku pulang dengan mobil BMW Seri 7 punyaku.
Lalu aku pulang ke Forbidden Hills. Dengan speed sedang aku melaju. Lalu tak lama kemudian, aku sampai dipintu gerbang perumahan ‘Jetsetter Residence’. Lalu satpamnya memperbolehkan aku masuk, lalu aku segera menuju daerah kelas teratas dan terelit di ‘Jetsetter Residence’ tepatnya Forbidden Hills. Kalau melihat London yang sekarang, kata mama sangat berbeda, dulu para vampire masih berceceran tinggalnya, sekarang telah dikelompokan, disini. Untung saat itu, mama membangun perumahan ini. Tak lama aku sampai di rumah terbesar No. 1, yakni rumahku. Di Forbidden Hills hanya terdapat lima rumah.
Lalu melihat mobilku datang, pintu gerbang langsung dibuka dan aku langsung kedepan lobby utama rumahku dan turun dari mobil, dan seperti biasa, aku menyuruh pelayanku untuk memarkirkan mobilku. “Nyonya Muda. Ini ada teman anda menunggu diruang tamu anda.” Kata Fiona. Ya dirumah ini, aku, mama dan nenek mempunyai ruang tamu yang berbeda.
“Siapa?”
“Miss Adam, dan ia ditemani Nina saat ini.” Terang Fiona lagi.
“Terima kasih Fiona. Huh…”
Lalu aku menuju ruang tamu. Pasti dia akan menangis tidak jelas lagi, aku sudah capek dan mungkin menyesal punya kenalan seperti dia.
“Nyonya, ini teman anda, hmm, saya tinggal dulu ya.” Kata Nina, dan kulihat minuman Belinda sudah habis, dan dipinggir bibirnya masih ada bekas sisa minumannya, hmm, berarti ia sedang panik.
“Belle? Ada apa?” Tanyaku.
Lalu Belinda berbalik badan dan menangis, lalu ia memelukku. Tetapi aku tidak membalas memeluknya, menurutk itu tidak perlu dan tidak penting.
“Kevin, dia…” Responya sambil menangis.
“Mati? Sudahlah, itu takdir.” Kataku asal tebak tanpa membaca pikiran karena pasti aku akan pusing mendengarnya.
“Bukan, dia…”
“Terluka, cacat, teramputasi? Atau jatuh miskin? Huh nasib itu namanya.”
“Ah, kau ini kejam sekali, dia selingkuh.”
“Oh, itu istilah tenar menyeleweng ya?”
“Huh, kau ini, ya, itu maksudku.”
“Huh, karena minumanmu sudah habis, ayolah kekamarku.” Kataku untuk pertama kalinya mengajak teman kantor ke kamarku. Lalu Belinda melepasku, dan segera menuju kamarku, jujur sebenarnya aku tidak sudi mengajaknya kekamarku, tetapi karena aku sudah lelah, ya mau bagaimana lagi, diperjalanan kekamarku, ia hanya mengusap air matanya. Lalu akhirnya kami sampai dikamar. “Wow, look at you room, it’s bigger than your guess room.” Katanya dengan heboh. Lalu ia melihat – lihat. Sudah kuduga, dia akan norak dan berlebihan, seharusnya memang tidak kuajak kesini. “Kamar mandimu bahkan lebih besar dari ruang tamumu tadi, dan lebih besar dari kamarku. Pasti sangat nyaman mandi disini dengan ‘Jacuzzi’ milikmu. Hmm, nuansa kalsik nan gothic, dipadukan dengan warna hitam, merah dan sedikit ungu, hmm, abu – abu juga, ini luar biasa.” Kata Belinda lagi.
“Sayangnya hal itu tak akan kubiarkan, mama dan nenek saja tidak boleh berendam dibenda itu, apalagi kau, ayo duduk sini.” Lalu kupersilahkan Belinda duduk di sofa depan tempat tidurku. “Jadi, kau kenapa?” Aku mulai bertanya.
“Hmm, pertama, aku benar – benar menginginkan tempat tidurmu yang king size, hmm, pasti nyaman tidur disitu,”
Lalu aku hanya menatap Belinda, dengan tampang menakutkan menandakan agar ia serius.
“Oh, okay, aku melihat Kevin… hiks, hiks, mencium wanita lain… hiks, heu – heu…” Belinda mulai mengis lagi.
“Tunggu, maksudmu apa? Aku tak mengerti, mencium gadis lain, maksudnya ia kanibal menghisap darah orang lain begitu?”
“Oh, Natalie, kau ini, maksudku ketika kedua pasangan pria dan wanita, hmm, bibirnya bertemu satu sama lain, apa kau paham?”
“Entahlah, anggap saja paham walau aku tidak megerti. Begini, kalau kau sakit hati, lebih baik kau lampiaskan kekesalanmu dengan membunuhnya, gampang kan?”
“Gila, aku tidak mau seperti itu. Itu jahat namanya.”
“Hah? Membunuh adalah hal yang mudah. Tapi aku mendapatkan point penting kenapa kau sebegitu sedihnya.”
“Eh, apa?”
“Hmm, alasan kau terlihat lebih gemuk saat ini, kau, hmm, hamil anaknya Kevin?” Tanyaku dengan wajah tak berdosa.
“Hey Natalie! Kau kira aku wanita seperti apa?” Belinda lupa akan tangisannya dan malah emosi, apa kata – kataku tadi menyinggung?
“Tunggu, aku hanya meniru kata – kata Koran tadi pagi. Kebetulan, saat aku sarapan, artikel korannya tentang ‘Pernikahan Hasil Kecelakaan Dikalangan Remaja Vampire’, jadi apa kau seperti itu?” Tanyaku dengan penuh harapan. Entahlah, kenapa aku harus senang bila Belinda terkena musibah. Tapi jujur itu hiburan untukku.
“Kenapa aku berharap seperti itu, hmm, ya aku tidak begitu, kau pikir aku wanita seperti apa? Aku ini bermoral.”
“Lalu, kau memang terlihat lebih gemuk akhir – akhir ini.”
“Aku makan 5 kali sehari, yang biasanya 4 kali, jadi 5.”
“Oh, wajarlah, hmm, tinggi 164.5, berat ya 50kg, hmm ya memang pantas lah kalu dipanggil…”
“Dipanggil apa?”
“Boncel, eh, maksudku, Thumbelina, yang lebih keren lah.”
“Sialan kau.”
“Tapi kata Elisa, di Indonesia segitu ideal lho.”
“Huh, kau ini. Boleh ya aku menginap malam ini.”
“Tidak.”
“Eh kenapa?”
“Karena kau telah bilang ‘sialan’ padaku, dan kau tak boleh menyicipi tempat tidurku, sana pulang!!!” Nada yang kupakai berubah galak.
“Eh, tapi…”
aku hanya menatapnya dengan pandangn tidak bersahabat. Lalu akhirnya ia pulang dengan sendirinya. Lagi pula aku ingin istirahat, karena besok rencana Katherine saat rapat sudah mulai terlaksana. Lalu aku mengganti pakaianku dengan piyama.
Hmm semoga, aku tidak bermimpi aneh lagi…
Keesokan harinya…
TOK-TOK TOK. Aku mendengar ada yang mengetuk pintu. “Nyonya Muda, ini sudah pagi.” Terdengar suara Fiona membangunkanku. Lalu aku mendengar pelayanku itu masuk, aku hanya berpura – pura tidak mendengar. Lalu Fiona menaru sarapanku dimeja dekat tempat tidurku.
“Permisi, Nyonya, maaf, waktunya sarapan.” Kata Fiona lagi.
“Huam… kau ini, mengganggu saja.” Lalu aku bangun dan mulai mengucek mataku.
Lalu Fiona hanya berkata, “Permisi Nyonya,” sambil membungkuk dan hanya pergi. Huh, lalu aku memakan makananku. Hmm, sarapan kali ini, lasagna, dan darah susu. Lalu aku segera menghabiskan sarapanku, lalu mandi dan segera bersiap ke lokasi yang dirapatkan kemarin. Saat aku keluar rumah, moge Harley Davidson milikku sudah siap didepan pintu. Ya kali ini aku naik moge. Lalu aku segera menuju daerah perhutanan England. Didekat sana ada cafĂ© ‘Vegabella; Coffee and Milky’ milik Katherine.
Lalu aku melihat, Sallie dan Shellie, serta Katherine, tanpa si pecundang Lucifer. Huh, aku sangat curiga, aku sudah memperhintungkan hal ini. Hmm, tanpa panjang lebar, aku langsung masuk. “Natalie, hey, kau ini lama sekali datangnya?” Sambut Katherine. Aku hanya tersenyum dan langsung duduk.
Lalu Katherine menjelaskan posisi masing – masing. Seperti biasa, pasti aku lokasinya selalu ditempatkan ditempat berbahaya, barisan terdepan. Lalu aku melihat sekeliling, kupikir yang bekerja hanya wanita, ternyata Katherine juga membawa pasukan patroli. Baguslah, ada Delano, Kurt, dan beberapa pria lain, hebatnya wanitanya hanya kami berempat. Lalu aku dan tiga pasukan pria yang disiapkan untukku berangkat ke hutan, Romeo, Delano dan Kurt. Dan aku mengambil posisi yang bagus untuk mengintai, kabarnya memang, Ernesto Bersaudara itu akan melintas disini, untuk menghindari daerah perkotaan. Aku memanjat pohon besar dan duduk ditangkainya yang tebal, untungnya kali ini aku memakai celana jeans dan sneakers, jadi memanjat lebih mudah. “Natalie, semuanya sudah diposisi masing – masingkah?” Tanya Katherine melalui wireless.
“Ya, semuanya beres. Sallie sudah memasang jebakannya?” Jawabku.
“Semua beres.” Tanggapnya.
Lalu aku hanya menunggu dan waspada. Dari pada memikirkan hal yang tidak – tidak, aku kembali memikirkan kejadian aneh belakangan ini. Hmm, aku berfikir sejenak, sikap keluargaku memang aneh. Huh, ditambah Belinda yang membuat semuanya pusing, aku benar – benar hatus mencari partner baru. Lalu aku merasakan hawa lain, apa mereka datang, whuzz, seperti ada yang lewat, lalu aku langsung melaporkan kejadian ini pada Katherine, “Apa? Okay, kita akan bersiap.” Katherine sepertinya kaget, wajar saja sih, aku saja kaget. Lalu aku dan Delano, tentu yang berbadan besar yang kuajak, menyusul kearah benda yang bergerak cepat tadi, sementara Kurt dan Romeo tetap diposisi. Lalu kami segera berlari cepat dan menemukan Claudio terperangkap didalam jaring laba – laba yang dipersiapkan Katherine. Ya idenya adalah, jaring laba – laba yang entah dari mana Katherine dapatkan dipasang dibeberapa titik yang memungkinkan mereka lewat, lalu kami berjaga hanya untuk mengelabui mereka, dan berhasil, yang jelas Sallie dan Shellie sitangan kreatif yang mengerjakan ini. Dan tentu jarring itu lengketnya luar biasa mungkin Katherine menggunakan lem super atau mungkin ada campuran air liur? Bukan urusanku yang jelas. “Huh, ternyata kerja kami tidak sia – sia, ia kan Shellie?” Tanya Sallie. Shellie hanya tersenyum. Aneh, kemana Patricio? Kenapa Claudio saja, tunggu, kalau tidak salah, aku merasakan hawa yang berbeda, karena aneh sekali kalau mereka tertangkap dengan mudah, ada 3 vampire. Bukan, 4, 4 vampire. Kalau Claudio tertangkap berarti tinggal 3 orang, “Delano, ikut aku.” Perimtahku pada Delano, lalu Delano mengikutiku. “Kita mau kemana?” Tanya Delano.
“Apa kau tidak merasa aneh, Delano Fernando Mustang?”
“Wow, kau hafal dengan namaku, well, ya, memang, aneh rasanya kalau semudah ini.” Kata Delano.
“Aku tahu kau itu pemikir yang pintar, but, sayangnya kau hanya well, tukang berduaan dengan Lena.” Kataku.
“Hah? Tukang berduaan? Bahasamu aneh, hanya megucapkan tukang pacaran saja susah.”
“Eh, pa…, apa?”
“Sudahlah, look, apa itu?” Delano lalu berhenti. Aku melihat ada 3 vampire, hmm, Patricio seperti sedang berbicara dengan seseorang, tunggu siapa itu? Ia membelakangi pengelihatanku dengan melihat punggungnya, badannya besar, sepertinya aku mengenalinya, hmm, atau jangan – jangan dia…
“Natalie, mereka bergerak!” Seru Delano spontan, lalu mereka entah pergi karena merasakan hawa kami atau apa? Lalu kami mengikuti lagi. Lalu mereka berpencar, Patricio sendiri, dan 2 yang lainnya pergi, “Delano, kau ikuti mereka, suruh Romeo dan Kurt juga, okay? Biar Patricio aku yang tangani.” Perintahku. Lalu kami berpencar setelah Delano mengangguk. Lalu aku mengikuti Patricio, mungkin sekitar 2 menit lah, ia berputar – putar menyita waktuku. Lalu ia berhenti. “Natalie, keluar kau.” Katanya, hawa yang kurasakan berbeda, apa inikah Patricio yang sebenarnya?
“Kau lebih kuat ya? Ernesto?” Tanyaku.
“Well Clyde, kau harus tahu, aku bukan yang kau kira.” Katanya sombong.
“Arrogant sekali kau? Okay, kalau kau kalah, itu hal yang memalukan, dan kau membuang Claudio begitu saja, menyedihkan.”
“Ha, ya, dia sudah tidak berguna lagi, apa kau tahu itu, aku hanya bisa memanfaatkannya disaat – saat terakhir.” Katanya santai.
Lalu gigi taringku meruncing selayaknya vampire, dan kukuku memanjang selayaknya pedang, melihat hal itu, Patricio melakukan hal yang sama. Lalu kami mulai saling menyerang, kuku kami beradu selayaknya pedang samurai. “Apa kau tahu Natalie, aku memberi penghargaan padamu karena berhasil mencopot gigiku, untung bukan gigi taring, tetapi gigi disebelah gigi taringku.” Celetuknya.
“Hah, so what?”
“Kalau kau merontokan gigiku, kau dapat voucher diskon.”
“Apa peduliku, aku sudah memiliki semuanya, hanya tinggal membunuhmu.”
Lalu kami saling menyerang lagi, aku menguncinya di pohon dan berniat menusuknya, tapi ia berhasil melepas pengkuncianku, lalu secara spontan aku salto dan mengambil kuda – kuda. Lalu ia mulai menyerang lagi dan kali ini, ia mulai menendang, lalu aku menangkisnya, dan ia berhasil mengunciku kepohon. “Kau mengerikan, ha-ha, bagaimana kalau kau memberikan luka gores kewajahmu?” Ejeknya, lalu ia berusaha menggores wajah mulusku ini. “Tidak… ada… yang boleh… me…rusak… WAJAHKU!!!!” Lalu aku memberontak dan menendang perutnya hingga terpental dan ia terpelanting kepohon besar. “AAA…. Kau wanita gila.” Katanya merintih dan berusaha bagun. Lalu aku menghampirinya dan menginjak lehernya. “Kau pria tak berdaya, jelek.” Ejekku.
“Jadi kau ingin membalas ejekanku, huh.” Katanya tetap sombong, lalu aku jongkok, dan berkata, “Bagaimana kalau aku membunuhmu?”
“Hasta la Vista, Baby… Arghh… AAAAA….” Ia berteriak karena aku menusuk jantungnya dengan kukuku, lalu aku menggerakan tanganku kebawah dan merobek jantungnya sampai keusus 12 jari. Dan Patricio tewas oleh tanganku. “Huh, selesai. Seharusnya itu ucapanku, Hasta la Vista, BABY!!!” Lalu aku pergi dan menyuruh Romeo untuk membawa jasadnya, tentu dengan menghubunginya dengan wireless. Dan lalu aku pulang dan membersihkan diri. Aku sudah tidak peduli akan itu semua, dan dengan wajah tanpa dosa aku sudah sampai di rumah dengan bahagia. Lalu aku meminta Fiona untuk melakukan manicure and pedicure agar kukuku tetap bersih tanpa noda darah, lalu aku melakukannya dipinggiran kolam renang mewah di halaman belakang rumahku, ya, Fiona ahli dalam hal ini. Lalu setelah bersiap, aku mulai bersantai dan istirahat.
Keesokan harinya aku ke markas dan menuju lantai 2 dibagian pengadilan. “Selamat datang, Nyonya Muda.” Sambut resepsionisnya, dan seperti biasa aku lupa namanya, walaupun ia memakai tanda pengenal, aku malas membacanya, lalu aku menuju ke pengadilan. “Natalie, kau datang, hmm, Claudio akan dipindahkan ke Evangels Jail.” Kata Lucifer menyambut kedatanganku.
“Evil Angels Jail. Singkatan dari Evangels Jail. Aku suka nama itu.” Kataku, ya, karena aku yang memberi nama Evangels tersebut.
Lalu aku masuk kepengadilan dan duduk sebagai saksi. Lalu kulewati sidang membosankan ini. Dan sampai akhirnya aku berbicara, dan aku hanya mengatakan hal normal, bahwa akulah membunuh Patricio, dan aku hanya mengaatakan pada Caludio bahwa, Patricio hanya memanfaatkanya, tapi ia tidak pecaya, dan sempat memerontak. Ia malah meminta agar aku dibawa ke penjara Evangels. “Dasar kau bodoh, Claudio, tidak ada yang berani memenjarakanku, dan aku bebas membunuh.” Kataku. Akhinya, Claudio hanya diam, lalu setelah 1 jam 30 menit yang membosankan kulewati dan aku tidak mengantarkan Claudio ke Evangels. Evangels Jail terletak di pulau buatan terpencil ditengah laut. Jadi memang kemungkinan untuk kabur hanya 5%. Kecuali ada makhluk bersayap yang menolong. Setelah itu, aku menuju Natalie Restaurant dilantai 3. Ya, restoran itu bernama ‘Natalie’ didepannya karena memang design dekorasinya, makanannya, cara penyadiannya, semuanya adalah sesuai seleraku. Mewah dan berkelas. Lalu mama dan nenek, serta para vampire Swiss makan disitu. Lalu aku memesan udang bakar darah dan minumnya darah segar. Appetizer kami adalah roti sandwich yang ringan agar kami tidak kenyang, lalu untuk dessert, aku memesan pudding blueberry. Setelah semuanya berjalan lancar Lucifer berencana kembali ke Swiss, sedangkan si kembar Sallie dan Shellie, melakukan pertukaran pegawai dan bekerja disini. Entahlah siapa yang dikorbankan ke Swiss. Lalu setelah makan, Lucifer berangkat ke bandara tanpa kuantar, ya datang tanpa dijemput, pulang tak diantar, huh, malas sekali mengantar jemputnya, untuk vampire sekelas Lucifer. Lalu karena jenuh, aku berjalan – jalan dengan mobilku, BMW Seri 7. Mobil hitamku ini sanagat kurawat karena menurutku ini mobil mewah. Lalu aku mengajak Shellie untuk ikut denganku, ya jalan – jalan tidak masalah kan?
Lalu ditengah perjalanan, Shellie bertanya hal yang menurutku aneh.
“Natalie, apa aku boleh bertanya?” Tanya Shellie. Aku hanya mengagguk.
“Apa vampire sepertimu punya sahabat?”
“Apa maksudmu, Shellie?”
“Ya, Belinda, apa dia sahabatmu?”
“Well, katanya dia memang menganggapku begitu, tapi aku tidak.”
“Why?”
“Shellie, Belinda bilang padaku, sahabat adalah yang dimana selalu mengerti, memaafkan, dan menemani serta mendukung bagaimanapun keadaan kita, dan berbagi curahan hati.” Jelasku, lalu aku menghela nafas, “Tapi, ridak ada yang namanya sahabat menurutku.” Lanjutku.
“Why?”
“First, tidak ada jaminan untuk selalu saling setia, dan, tidak akan menjilat ludahnya sendiri, hmm, second, janganlah terlalu percaya, terlalu terbuka akan sesuatu, bila menceritakan masalah, karena, tidak ada jaminan untuk menyumpal mulutnya bila ia keceplosan. Apa kau puas dengan jawabanku, Shellie?” Shellie, hanya tersenyum mendengar jawabanku. Ia seperi berfikir, tapi pikirannya kosong. Lalu saat melewati sebuah taman, aku melihat Belinda sedang bermesraan dengan Kevin, bukannya mereka sedang bertengkar?
“Natalie, look, bukankah, itu Belinda?” Tanya Shellie.
“Ya, itu buktinya, ia malah bolos bekerja padahal waktu istirahat telah habis, dan ia menjilat ludahnya sendiri.”
“Eh? Tapi kau berkeluyuran denganku?”
“Tidak ada yang mengaturku akan ini. Dan aku tidak akan dihukum akan ini, hmm, kau telepon Katherine, lewat via video call, perlihatkan hal ini.” Perintahku, lalu Shellie segera melakukan hal yang kusuruh, dan Katherine meliahat hal ini, dan saat kami kembali ke kantor, aku langsung melihat memberikan surat peringatan pada Belinda dan Kevin. Ya, Belinda yang menyadari mobilku langsung melarikan diri ke kantor bersama Kevin. Setelah keluar dari ruangan Katherine, Belinda langsung menghampiriku. “Jahatnya kau, jadi ini arti persahabatan kita? Kenapa kau mengadukanku?” Protes Belinda.
“Apa peduliku? Asal kau tahu, kau menjilat ludahmu sendiri saat kau bilang makna sahabat, akhir – akhir ini, kau tidak menemaniku berpatroli, kau hanya bermesraan saja, dan aku tidak pernah menganggapmu sahabat, Adam.”
“Hey, Natalie, kau ini, apa kau tidak pernah menikmati masa pacaran? Aku kasihan padamu yang tidak punya pacar.”
“Pacaran? Pacar? Huh, kau mau kubunuh?” Lalu kukuku memajang. Dan Belinda lalu diam dan berlutut, “Maaf.” Katanya. Lalu aku diam dan pergi, dasar wanita memalukan. Lalu aku berjalan pulang, memikirkan kata – kata Belinda. Lalu tanpa sadar aku ngebut dalam membawa mobil, dan mengerem mendadak dilampu merah. Lalu hujan turun. TOK- TOK- TOK. Ada yang mengetu jendela mobilku.
“Xavier?” Aku kaget dan membuka kunci pintu. Lalu ia masuk.
“Kau ini, hampir menerobos lampu merah dan hampir mati.” Katanya.
“Apa pedulimu dan urusanmu?”
“Menurutmu? Kudengar kau membunuh Patricio?”
“Ya, tapi saat itu…” Lalu aku teringat peristiwa saat Patricio tewas, seperti ada yang mengawasiku dan memberiku tepuk tangan.
“Saat itu apa?” Xavier curiga.
“Tidak. Sepertinya ada yang mengawasiku.” Lalu lampu merah berubah menjadi hijau dan aku kemudian mengijak gas. “Pelan – pelan.” Katanya.
“Huh, lalu apa perlunya denganmu, apa kau mau berbaik hati mengantarkan aku keayahmu dan membiarkanku membunuhnya?”
“Hey, aku dipihak kalian, sebenarnya aku tidak tahu dimana ayahku.”
“Walau kau dipihak kami, tapi keluargamu itu, daftar buronan.” Kataku ketus. Anehnya, dia hanya terseyum. Lalu aku lupa akan tujuanku dan menjadi berkeliling London, aku diam saja, dan Xavier sepertinya menikmati perjalanan, lalu ia membaca majalah yang entah dari mana dia dapatkan, dan itu berlangsung sampai malam.
“Xavier, sebenarnya kau mau kemana?” Tanyaku.
“Haha, entahlah, turunkan aku disana saja.” Katanya sambil menunju kearah tortoar. Lalu aku segera minggir.
“Huh, sudah. Okay, sampai jumpa.” Kataku.
“Hati – hati lain kali, Natalie.”
“Ya, tak usah menghawatirkanku, aku bukan anak kecil, you know?”
“Hmm, mungkin kau bisa pergi ke Evangels, kau tahu, koreklah info dari Claudio, ya kurasa kau mengerti caranya, sampai nanti.” Lalu ia turun dari mobil dan pergi begitu saja.
“Hey, Xavier… Huh, percuma aku berbicara, dia tidak akan mendengar.” Gerutuku.
Hmm, Evangels, okay, lalu kau menelepon Nina agar bisa menyiapkan kapal kesana, tentunya bukan kapal pesiarku, terlalu bagus kalau untuk mengunjungi penjara.
Subscribe to:
Posts (Atom)